Saturday, June 13, 2009

Generaloberst Heinz Guderian (1888-1954), Sang Bapak Strategi Blitzkrieg!

Heinz Guderian muda yang masih berpangkat Leutnant tahun 1908. Wajahnya mirip orang bule ya?


Heinz Guderian bersama dengan para perwiranya


Satu lagi foto Heinz Guderian bersama dengan para perwiranya yang berseragam hitam khas pasukan Panzertruppe. Kali ini di Rusia Operasi Barbarossa, Agustus 1941. Disinilah peran terakhir Guderian sebagai komandan lapangan, karena setelah kegagalan dalam pertempuran musim dingin di sekitar Moskow, Hitler langsung memecat jenderal jenius ini!


Heinz Guderian menganugerahkan medali Nahkampfspange in Gold bagi para prajurit Jerman terpilih dalam suatu upacara bulan Maret 1945. Tak lama Guderian kembali dipecat untuk kedua kalinya oleh Hitler yang tidak puas atas kinerjanya sebagai kepala staff Angkatan Darat. Posisinya digantikan oleh General der Infanterie Hans Krebs. Yang sudah nonton film 'Der Untergang' pasti tahu bagaimana kemudian nasib jenderal pengganti Guderian!


Foto lain Heinz Guderian dalam Operasi Barbarossa. Saya yakin bapak-bapak yang nongol dengan baju hitam di sebelah belakangnya adalah 'Der Panzergraf' Generalleutnant Hyazinth Graf Strachwitz von Gross-Zauche und Camminetz, yang kemudian menjadi salah satu dari hanya 27 prajurit terbaik Jerman yang dianugerahi medali Brillanten!


Heinz Guderian dalam Operasi Fall Gelb (penyerbuan Jerman ke Negara-Negara Bawah dan Prancis bulan Mei dan Juni 1940) yang menjadi puncak keberhasilan strategi Blitzkrieg yang dikembangkannya. Disini dia sedang berada di atas halftrack SdKfz 251/3 bersama dengan para petugas Nachrichtentruppe (signal). Kalau anda perhatikan lebih teliti, kita bisa melihat alat komunikasi rahasia yang terkenal milik Nazi Jerman, Enigma!


Heinz Guderian dalam sampul majalah TIME edisi 7 Agustus 1944


Generaloberst Heinz Wilhelm Guderian dalam foto berwarna


Buku biografi Guderian berjudul 'Panzer General'. Saya beruntung sekali secara tidak sengaja mendapatkan buku ini sewaktu hunting di Palasari, Bandung, yang dilego 'hanya' sebesar 50 ribu Rupiah!


Heinz Guderian menjelaskan kepada Hitler tentang strategi ofensif Jerman terakhir di front Barat yang lebih dikenal dengan nama Operasi Wacht Am Rhein (dan nanti berujung pada pertempuran Bulge). Dalam foto kita bisa lihat ada panglima Luftwaffe, si gendut Hermann Göring. Di belakangnya adalah Generaloberst Günther Korten, sementara yang berwajah rada-rada 'seger' di belakang Hitler adalah SS-Gruppenführer Hermann Fegelein (dalam foto ini masih berpangkat SS-Brigadeführer), suami dari adiknya Eva Braun, cem-cemannya Hitler. Kalau yang di belakang Guderian sih nggak jelas, meskipun bisa dipastikan adalah perwira Luftwaffe. Oh ya, foto ini diambil bulan Oktober 1944 (katanya), tapi bingung juga, soalnya Jenderal Korten meninggal bulan juli 1944. So?


Heinz Wilhelm Guderian dikenal sebagai pionir dari perang lapis baja. Namun siapa sangka, pria kelahiran Prussia ini memulai perjalanan karir militernya justru sebagai projurit infanteri bukan dari unit lapis baja.

Banyak tokoh-tokoh militer semasa PD II merupakan veteran prajurit semasa PD I. Salah satu di antaranya adalah Heinz Wilhelm Guderian. Guderian, begitu biasa disebut, memulai kehidupan militernya dalam unit komunikasi pasukan Jerman selama PD I. Hal ini pula yang lantas menyadarkannya betapa penting unsur komunikasi dalam memenangkan sebuahpertempuran. Ketika pertempuran di Verdun pecah 1916, Guderian masuk sebagai staf di satuan Crown Prince. Pertempuran ini membawa hikmah tersendiri. Baginya pertempuran darat di masa mendatang bakal digelar dengan cara lain. Bukan lagi dalam bentuk perang parit.

Antara PD I dan PD II Guderian betul-betul tekun mempelajari teori pertempuran yang ditulis oleh dua orang Inggris yaitu Liddell Hart dan Fuller. Ia benar-benar terkesan dengan konsep mereka bahwa satuan lapis baja bermotor merupakan unsur utama pasukan darat dan bukan cuma sekedar pendukung gerakan infanteri. Pada masa itu Guderian memangku jabatan sebagai komandan sebuah batalion bermotor AD Jerman. Di sela-sela kesibukannya ia menyempatkan dirt untuk menulis buku berjudul Achtung-Panzer! Isinya tak lain merupakan analisa tentang kesuksesan dan kegagalan Sekutu saat memakai elemen lapis baja dalam PD I.
RUSIA-Guderian (tengah) sedang berbincang-bincang degnan seorang perwira Rusia, Brigadir S. Krivoshein saat menyaksikan parade militer di Bern. Parade ini digelar setelah Jerman menggelar invasi ke Polandia

Ketika Adolf Hitler mulai memegang kekuasaan di Jerman, Guderian dianggap sebagai salah satu orang militer berbakat dan idenya cukup membuat hati sang fuhrer tertarik. Tahun 1935 ia dipromosikan menjadi komandan divisi lapis baja ke-2 AD Jerman 2nd Panzer Division). Promosi ini sekaligus jadi pembuka jalan baginya untuk menerapkan segala ide tentang satuan lapis baja yang ada di kepalanya.

Terobosan-terobosan yang dilakukan dalam membangun unit-unit lapis baja AD Jerman membuat karir militer Guderian melejit makin cepat. Ketika Hitler meme¬rintahkan penyerbuan ke Polandia (1939), ia memimpin korps lapis baja ke-19 AD Turman (XIX Panzer Corps). Satuan lapis baja ini kembali dilibatkan dalam serbuan ke Perancis tahun 1940.

Berbekal semua pengetahuan yang di¬miliki sebelumnya, macam kerapian komunikasi, pelajaran Sekutu semasa PD I plus kecepatan gerak, Jerman berhasil men¬jebol garis pertahanan Sekutu di Perancis. Pasukan lapis baja Guderian bergerak secepat kilat merangsek menyeberangi Sungai Meuse, Sedan tanpa menunggu dukungan jembatan ponton dari satuan-satuan zeni AD Jerman.

Manuver kilat Guderian ini membuat kekuatan darat Sekutu terbelah due den pasukan yang dipimpinnya sudah mencapai garis pantai Perancis hanya dalam tempo delapan hart. Perancis sendiri bisa dikuasai Jerman hanya dalam waktu enam minggu kampanye militer. Sebagai ganjaran etas kehebatannya di lapangan, Hitler kembali mempromosikan pangkat Guderian menjadi Kolonel-Jenderal. Pangkat ini satu tingkat lebih tinggi ketimbang field-mar-shal.

Biarpun sudah menjadi perwira tinggi, Guderian tetap diperintahkan untuk turun langsung ke lapangan. Medan tempur yang dilakoninya kali ini adalah Rusia. Dalam operasi ini ia memegang satu grup dari empat grup Panzer yang dimiliki Jerman. Unit yang dipimpinnya ini mengusung name Panzer-armee Guderian atau kemudian lebih dikenal dengan kode 2,d Panzer Army.
Seperti saat bertugas di Eropa Barat, Guderian juga bermain dengan unsur kecepatan. Dalam waktu singkat pasukan¬nya mampu masuk ribuan kilometer ke dalam wilayah Rusia. Enam minggu kemudian pasukan panzer Guderian sudah sampai 200 km dari ibukota Rusia, Mos¬kow. Gerakan cepat menembus pertahanan lawan yang dilakukan Guderian ini membuat ia kerap dijuluki prajuritnya dengan sebutan “hurry-on Heinz”.
Terganjal Hitler

Kesempatan buat merebut ibukota Rusia rupanya dianggap sepi oleh Hitler. Sang fuhrer berkeinginan untuk menggeser pasukan panzer Guderian ke front Selatan. Guderian kurang setuju dengan keputusan ini. Friksi di antara keduanya memuncak menyusul serangan balik dari Rusia.

Sebagai puncaknya, sejak Februari 1943 Hitler akhirnya memindahkan posisi Guderian tak lebih sebagai inspektor untuk seluruh unit-unit Panzer. Suatu posisi yang otomatis memutus meta rantai Guderian dengan pasukannya. Sejak saat itu hubungan keduanya tak pernah pulih lagi. Upaya Hitler mengangkat Guderian sebagai kepala staff (chief of the general staff) setelah insiden percobaan pembunuhan sang fuhrer pada Juli 1944 tak bisa membangkitkan semangat perang Guderian. Tepat 21 Maret 1945 ia mengun¬durkan dirt dari jabatannya. setelah Jerman jatuh, AS menggiring Guderian sebagai penjahat perang. Namun demikian Sekutu tak pernah menjatuhkan sangsi apapun. Bapak perang tank asal Jerman ini wafat 14 Mei 1954. Selama hayatnya ia sempat melansir tujuh buku tentang taktik perang darat.
“Keep Advancing”

Bisa jadi Heinz Wilhelm Guderian merupakan tipikal orang lapangan sejati. Saat memimpin pasukannya la kerap eradatepat di belakang unit-unit pendobrak. Baginya komunikasi adalah segala-galanya. Dungan demikian make segala informasi, mulai dari markas besar, staf-staf bawahannya, sampai perkembangan situasiterkini bisadidapatnya dengan cepat. Di lapangan Guderian punya sejumlah ciri khas tersendirl. Ke manapun ia bergerak, sebuah kendaraan komunikasi lengkap dengan perangkat Enigma selalu mengikutinya. Bagi anak buahnya, perintah Guderian selalu bisa ditebak. “Keep advanc-ing” (terus maju), begitulah perintah yang biasa meluncur dari mulutnya.


Sumber :
www.sejarahperang.wordpress.com
www.images.google.com
www.motorbooks.com
www.fanblogs.jp
www.matematiksider.dk
www.forum.axishistory.com

1 comment:

Pa Iman said...

Bagus artikelnya. Typo nya sedikit risih