Tuesday, February 15, 2011

Oberstleutnant Hans-Joachim Jabs (1917-2003), Pilot Tempur Siang dan Malam Yang Sama Jagonya!


Messerschmitt Bf 110C yang diterbangkan oleh Oberleutnant Hans-Joachim Jabs di medan perang Prancis musim panas tahun 1940


Bagian penampang senapan mesin dari Messerschmitt Bf 110G NJG1 (G9+AA) WNr140655 milik Hans-Joachim Jabs


Messerschmitt Bf 110G NJG1 (G9+AA) WNr140655 milik Hans-Joachim Jabs


Adolf Hitler bertemu secara pribadi bersama para jagoan Luftwaffe tak lama setelah acara penganugerahan medali di Berghof, dimana Jabs termasuk salah seorang peraihnya. Foto ini, saya suka banget (makanya dijadikan background judul blog!) dan memperlihatkan, dari kiri ke kanan: Oberst Werner Streib, Major Gerhard Barkhorn, Generalmajor Erich Walther, Oberstleutnant Kurt Bühligen, Oberstleutnant Hans-Joachim Jabs, Oberstleutnant Bernhard Jope, Major Reinhard Seiler, Major Erich Hartmann ( tertutup badan Hitler), Major Horst Ademeit, Major Johannes Wiese, Wachtmeister Fritz Petersen, Major Dr. Maximilian Otte dan Hauptmann Walter Krupinski. Pangkat yang saya sebutkan di depan nama masing-masing bukanlah pangkat pada saat foto ini diambil, melainkan pangkat terakhir mereka!


Foto berwarna Hans-Joachim Jabs


Hans-Joachim Jabs sebagai Major dengan medali Eichenlaub


Hans-Joachim Jabs sebagai Major dengan medali Eichenlaub, difoto di Belanda tanggal 7 Agustus 1944


Hans-Joachim Jabs sebagai Oberstleutnant dengan medali Eichenlaub dan Nahkampfspange der Luftwaffe di dada. Kalau yang belum tahu, Nahkampfspange itu adalah medali untuk pilot yang sudah melakukan duel di udara (atau "dog fight", atau bertempur di angkasa)


Salah satu aksi Hans-Joachim Jabs yang paling dikenang adalah saat ia seorang diri menghadapi enam buah Spitfire milik RAF Inggris. Hebatnya, ia berhasil menembak jatuh tiga di antaranya dan keluar hidup-hidup dari pertempuran tersebut! Foto atas adalah momen yang spesial, dimana Jabs (kiri) menemui salah seorang pilot Inggris yang menjadi korbannya, J.J. Caulton, dan berbincang-bincang dengan santainya mengenai pertempuran yang baru saja terjadi! Tampak disini kepala Caulton diperban, mungkin terluka saat ia mendarat darurat di pangkalan udara yang dikuasai Jerman. Setelah perang kedua orang mantan seteru ini malah menjadi teman baik!


Hans-Joachim Jabs (tengah) bersama anak buahnya. Salah satunya adalah jago tempur malam paling top sepanjang sejarah, Heinz-Wolfgang Schnaufer (kiri)


Oleh : Alif Rafik Khan

Hans-Joachim Jabs (Bacanya Yabs bukan Jabs!) dilahirkan di Lübeck tanggal 14 November 1917, dan bergabung dengan Luftwaffe tahun 1937. Pada awalnya dia dilatih sebagai pilot pesawat tempur Messerschmitt Bf 109, tapi kemudian malah "dilemparkan" ke Zerstörergeschwader 76 (ZG 76) "Grup Hiu" untuk menerbangkan pesawat bermesin ganda Messerschmitt Bf 110 bulan Maret 1940.

Sebagai seorang anggota II./ZG 76, Jabs beroperasi di udara Prancis pada pertengahan tahun 1940, dan mengklaim empat kemenangan atas pesawat-pesawat tempur RAF dan Prancis. Dia kemudian ikut pula berseliweran di atas Inggris dalam "Battle of Britain" yang terkenal.

OK, disini saya perlu berhenti dulu. Tampaknya sejauh ini tidak ada yang special pake telor kacingcalang kan? Tapi sekarang saya akan mengajukan sebuah fakta yang menarik: Bf 110 bukanlah sebuah pesawat tempur "khusus" seperti Bf 109 yang kecil dan akrobatis, juga performanya jelas lebih lambat dibandingkan pesawat tempur Inggris semacam Spitfire atau Hurricane. Dia biasa ditugaskan untuk mengawal bomber-bomber Jerman, dan biasanya akan kewalahan menghadapi pesawat-pesawat musuh.

Hans-Joachim Jabs adalah pengecualiannya. Dalam Battle of Britain, dimana pihak Jerman mengalami banyak kehilangan pilot berpengalaman dan pesawat, Jabs malah makin moncer dengan kembali menambah jumlah kemenangannya dengan 12 lagi! Delapan Spitfire dan empat Hurricane menjadi mangsanya, dan pada akhir tahun 1940 Jabs mencatatkan namanya sebagai pilot Zestörer (penghancur) paling top dengan 16 kemenangan! Atas prestasinya dalam Pertempuran Britania, Jabs dianugerahi Ritterkreuz bulan Oktober 1940. Hanya sedikit yang bisa sepertinya, dan menembak jatuh begitu banyak pesawat Spitfire dan Hurricane musuh yang lebih superior di udara dengan menggunakan pesawat "berat" semacam Bf 110 dianggap sebagai pencapaian terbesar seorang pilot tempur sejati!

Pada tahun 1941 mayoritas dari unit-unit Bf 110 ditarik dari pertempuran siang hari (karena emang kelabakan kalo harus ngelawan musuh-musuhnya yang lebih cepat dan ringan!), dan Jabs pun dipindahtugaskan untuk menjadi pilot tempur malam dalam tugas pertahanan negara. Dia dilatih kembali pada bulan Oktober 1941, dan kemudian bergabung dengan Nachtjagdgeschwader 3 yang berpangkalan di Hamburg. Tugasnya adalah melindungi pelabuhan dan properti Kriegsmarine yang berada di sana. Kesempatan untuk menambah skor tentu saja berkurang karena ini bukanlah medan perang yang aktif, apalagi dengan kondisi Jabs yang masih belum terbiasa dengan tugas barunya (makanya dalam beberapa bulan dia hanya bisa menambah satu kemenangan saja yang dibukukannya pada bulan Juni 1942!). Sempat untuk sementara dia kembali bertugas di siang hari karena harus mengawal kapal-kapal perang Jerman seperti Prinz Eugen dalam "Channel Dash" yang terkenal itu.

Pada bulan November 1942 dia dipindahkan ke IV./NJG 1 yang beroperasi di Belanda. Unit ini dilengkapi dengan varian terbaru Bf 110 yang mempunyai teknologi radar lebih baik dan persenjataan lebih berat. Jumlah angka kemenangan Jabs menanjak kembali, dengan kebanyakan korbannya adalah pesawat-pesawat pembom RAF. Pada bulan Januari 1944 dia telah mempunyai 45 kemenangan yang terkonfirmasi, dan di bulan Maret 1944 menjadi Geschwaderkommodore dari NJG 1. Meskipun sudah menjadi seorang komodor, tapi dia tetap ikut terbang bertempur di udara malam bersama orang-orang di bawah komandonya. Salah seorang anak buahnya yang terkenal adalah Major Heinz-Wolfgang Schnaufer, pilot tempur malam terbaik sepanjang masa dengan 121 kemenangan.

Pada tanggal 29 April 1944 skill Jabs mendapat ujian lagi: Bf 110 khusus tempur malam yang dipilotinya dipaksa harus menghadapi serbuan enam Spitfire DI SIANG HARI saat dia baru saja bersiap untuk pulang dari misinya! Spitfire-Spitfire sialan itu berasal dari No. 132 Squadron RAF yang dipimpin oleh komandan skuadron berpengalaman, Geoffrey Page (15 kemenangan). Setelah menembak jatuh satu Spitfire dengan kanon jarak panjangnya, salah satu Spitfire lain datang dengan kecepatan terlalu tinggi sehingga tembakannya lolos di atas pesawat Jabs. Kini giliran jagoan Jerman itu yang menyerang, dan ia berhasil menembak jatuh Spitfire yang dipiloti oleh P/O R.B. Pullin, yang kemudian hancur dalam kobaran api dan sang pilot terbunuh. F/O J.J. Caulton kini giliran menyerang Jabs dan pesawat mereka pun saling berhadap-hadapan mendekat dengan kecepatan tinggi. Tabrakan tidak dapat dihindarkan! Disinilah keunggulan besarnya pesawat Jabs, karena ia berhasil membuat si Spitfire limbung, sayapnya patah dan terpaksa buru-buru balik untuk mendarat tanpa roda di pangkalan udara Deelen yang terdekat (yang dikuasai Jerman). Jabs sendiri sadar kini masih ada empat Spitfire lain yang bernafsu balas-dendam untuk menghajarnya, dan dengan kondisi pesawatnya yang baru "adu-domba" dan penuh lubang pelor, sangat tidak mungkin untuk melanjutkan pertempuran. Dia secara tidak terduga berhasil selamat dengan buru-buru mendarat di daratan landai terdekat, cepat-cepat mampret keluar dari pesawatnya, yang kemudian memang hancur berkeping-keping setelah mendapat berondongan tembakan dari musuhnya di atas.

Hans-Joachim Jabs dianugerahi Eichenlaub untuk tambahan Ritterkreuz yang telah diperolehnya tanggal 24 Maret 1944. Kemenangan terakhir diperolehnya pada malam tanggal 21 Februari 1945, ketika dia menghancurkan dua buah Lancaster.

Total kemenangan udaranya adalah 50 yang diraih dalam 710 misi tempur. 22 dibukukannya di siang hari, dan 28 di malam hari (semuanya diraih dengan menggunakan Bf 110). Ini membuktikan bahwa dia adalah pilot yang jempolan dalam bertempur di kedua medan yang sangat berbeda tersebut (siang hari mengandalkan mata, malam hari lebih mengandalkan radar)!

Setelah perang usai dia menjadi seorang pengusaha juga pelayan masyarakat dan tinggal di Westphalia. Dia sendiri menikah pada tahun 1940 dan mempunyai dua orang anak. Hans-Joachim Jabs meninggal dunia tanggal 26 Oktober 2003 pada usia 85 tahun.

Tambahan:
Tampaknya memang Jabs mempunyai indera keenam dalam pertempuran. Dia menggunakan sebaik-baiknya kemampuan terbang tinggi dan menukik Bf 110 yang dipilotinya, selalu menghindari "adu cepat" dengan lawannya yang lebih baik. Dia tidak pernah memaksakan bertempur kalau memang dirasanya lawan tak dapat ditundukkannya. Sebisa mungkin dia akan menjaga jarak yang aman dengan lawannya sebelum dirasa tiba waktunya untuk memuntahkan rentetan tembakan yang menghancurkan (yang merupakan salah satu kelebihan Bf 110). So, dia adalah pilot yang efisien, sabar dan... tentunya, JAGO!

Medali dan penghargaan:
* Ehrenpokal der Luftwaffe (23 Maret 1943)
* German Cross in Gold (31 Agustus 1943)
* Iron Cross (1939) kelas pertama dan kedua
* Knight's Cross of the Iron Cross with Oak Leaves
Knight's Cross tanggal 1 Oktober 1940 sebagai Oberleutnant dan pilot di 2./ZG 76
Oak Leaves #430 tanggal 24 Maret 1944 sebagai Hauptmann dan Gruppenkommandeur dari IV./NJG 1


Sumber :
www.arcforums.com
www.asisbiz.com
www.corgi.co.uk
www.en.wikipedia.org
www.forum.axishistory.com
www.military-art.com


No comments: