Wednesday, December 9, 2009

Stielhandgranate, Granat Batang Khas Jerman!

Stielhandgranate tanpa bahan peledak yang digunakan khusus untuk latihan


Inilah yang harus dilakukan sebelum Stielhandgranate versi awal (Perang Dunia I) diledakkan, menarik tuas yang menghubungkannya ke sumbu peledak. Model-model kemudian menggunakan sistem pelepasan dengan memutar klepnya, karena dirasa lebih aman bagi prajurit yang membawanya


Dua orang prajurit infanteri yang diperlengkapi dengan Stielhandgranate. Ingat, kalau granat yang itu juga habis, masih ada "granat" lain di balik celana! :)


Stielhandgranate model 24


Seorang tentara Jerman melemparkan "potato masher" ke lubang perlindungan musuhnya. Foto ini sangat terkenal dan diambil ketika penyerbuan Jerman ke Uni Soviet (Operasi Barbarossa) tahun 1941


Last but not least, miniatur prajurit sedang melemparkan Stielhandgranate. Pasti tahu kan dari kesatuan mana model patung ini berasal?


Oleh : Alif Rafik Khan


Stielhandgranate Model 24 adalah granat tangan standar Angkatan Darat Jerman dari akhir Perang Dunia I sampai dengan akhir Perang Dunia II. Bentuknya yang khas lah yang membuat dia dijuluki dengan “granat batang” atau “potato masher” yang merupakan julukan populer kerjaan orang-orang Inggris. Saat ini, Stielhandgranate merupakan salah satu senjata infanteri abad ke-20 yang paling gampang dikenali lewat bentuknya yang khas dan tak ada duanya.


Granat batang ini pertama kali diperkenalkan tahun 1915, dan desainnya berkembang terus sepanjang sisa Perang Dunia I. Penyala gesekan diperkenalkan, suatu metode yang tidak biasa di negara-negara lainnya tapi dipergunakan secara luas di granat-granat Jerman.


Sebuah kawat tarik terhubung dari rongga dalam pegangan menuju ke kepala peledak, mengakhiri sebuah bola porselen yang berada dalam sebuah alas berpenutup yang dapat dilepas. Untuk menggunakan granat ini, cukup dengan melepaskan tutup alas sehingga membuat si bola berkawat terlepas. Sentakan dari pelepasan ini menarik juga si kawat yang “menjalar” di dalam batang besi, dan memantik pemicu yang berada dalam kepala, menimbulkan nyala api yang membuat granat tersebut meledak hanya dalam waktu 5 detik. Waktu yang sebegitu cukuplah digunakan dari pelemparan sampai tibanya ke sasaran.


Granat batang pertama mempunyai kawat tarik permanen yang nongol dari pegangannya di bagian bawah (dan bukan berada di dalam alas pegangan yang dapat dilepas seperti di versi-versi sesudahnya). Kawat tarik yang terekspos ini sering sekali membuat celaka pada prajurit yang membawanya karena kadang suka secara tidak sengaja terkait pada sesuatu ketika sedang dibawa, dan otomatis meledakkan si prajurit sehingga menimbulkan kematian atau luka yang sangat parah. Simpelnya, senjata makan tuan!


Biasanya granat tangan ini disimpan dalam boks khusus ketika dalam proses pengiriman, dan bila telah sampai di tujuan maka si granat dirakit sedikit untuk membuatnya berfungsi (dengan cara menambahkan pemantiknya) sebelum digunakan dalam pertempuran. Untuk mencegah si prajurit lupa akan hal ini, maka suatu tulisan “pengingat” dicantumkan di kepala granat : VOR GEBRAUCH SPRENGKAPSEL EINSETZEN (Masukkan detonator sebelum digunakan).


Tipe granat ini, dengan isi bahan peledak tingkat tinggi yang dilindungi oleh lapisan besi tipis berbentuk silinder, adalah contoh senjata yang lebih pas untuk keperluan “ofensif” (mengandalkan efek ledakan) daripada “defensif” (pecah berkeping-keping). Sebuah klep keping bergigi tajam (Splittering) diadopsi tahun 1942, yang dapat digeser melewati kepala granat. Pecahan dari klep ini akan memicu detonasi, sehingga yang ada adalah, si granat akan lebih efektif lagi digunakan melawan manusia-manusia yang jadi korbannya.


Lalu kenapa pula granat ini dilengkapi dengan batang, dan bukannya berbentuk bundar/oval seperti umumnya granat yang lain? Fungsinya adalah untuk menciptakan sebuah pengungkit sederhana, yang menambah kemungkinan jarak lemparan menjadi lebih jauh lagi. Model 24 dapat dilemparkan dari jarak sampai sejauh 30 atau 40 yard, sementara saingannya dari Inggris, Mills Bomb, hanya mempunyai jarak lemparan maksimal sejauh 15 yard! Desainnya juga meminimalisasi resiko si granat berguling kembali pada pelemparnya ketika digunakan dalam medan berbukit atau di daerah perkotaan dengan loteng-lotengnya.


Granat ini benar-benar sangat berguna untuk membersihkan posisi pertahanan infanteri, meskipun tidak terlalu efektif bila digunakan untuk melawan kendaraan lapis baja atau benteng. Untuk menghadapi kendala ini, diperkenalkanlah sebuah improvisasi yaitu satu buah Stielhandgranate diikatkan dengan enam buah kepala peledak lainnya sehingga membuat efek ledakannya lebih dahsyat lagi. Senjata ini dikenal sebagai Gebalte Ladung (“peledak bola” atau “peledak terkonsentrasi”).


Dalam sejarah hidupnya yang lumayan panjang, Stielhandgranate mempunyai banyak versi, yang beberapa di antaranya dipergunakan dalam Perang Dunia I sebelum desain tetap muncul tahun 1917. Dalam Perang Dunia II, granat ini mempunyai kepala peledak yang lebih kecil dari sebelumnya, dan komponen sabuk penjepit dihilangkan.


Setiap perubahan selalu membuat granat ini menjadi lebih ringan dari sebelumnya, suatu usaha agar si granat lebih mudah digunakan dan ongkos produksinya lebih murah. Pada akhirnya, Model 24 digantikan oleh granat Model 43 meskipun tetap digunakan secara massal sampai perang berakhir.


Seiring dengan akhir-akhir perang ketika sumber daya dan kemampuan produksi Jerman menurun dengan drastis, banyak pengembangan variasi Ersatz dilakukan pula. Selain dari versinya yang biasa, Jerman memperkenalkan pula versi dengan tambahan asap pelindung, yang hadir di model awal dan akhir dan dapat dengan mudah dikenali melalui strip putih di sekitar pegangan dan, untuk model akhir, sebuah pencengkeram tangan yang membuat di pengguna dapat membedakannya dengan granat biasa di malam hari atau ketika kegelapan melanda, cukup dengan menyentuhnya. Di medan perang Rusia yang bercuaca ekstrim, barulah diketahui bahwa hawa dingin dapat membuat Model 24 gagal berfungsi dan tidak meledak sebagaimana yang diharapkan. Untuk mengatasinya, ilmuwan-ilmuwan Jerman menambahkan bubuk peledak istimewa yang hanya digunakan pada granat-granat Front Timur. Granat khusus ini biasanya bertanda “K” (Kalt atau “dingin”) di kalengnya. Versi latihan yang tak berpeledak juga diproduksi.


Ternyata negara-negara lain juga kepincut pada konsep granat yang semacam ini, di antaranya adalah Angkatan Darat Kekaisaran Jepang dan National Revolutionary Army Cina, dua pihak yang saling berseteru dalam Perang Dunia II. Kemudian, pihak komunis Cina juga menggunakan versi produksi lokalnya yang bernama “Tipe 67” untuk keperluan NLF dan People’s Army of Vietnam.


Sama seperti pistol Luger, granat batang Jerman ini juga menjadi salah satu “suvenir” yang banyak diburu oleh prajurit Sekutu dalam Perang Dunia II, sama halnya dengan para kolektor masa sekarang yang ikutan mengejar-ngejar versi orsinilnya. Hadir juga banyak replikanya di pasaran dengan kualitas dan akurasi yang bervariasi, banyak di antaranya yang salah dalam bentuk fundamentalnya atau kurang detail pengerjaannya. Khusus untuk kolektor dari Amerika Serikat, dikenakan peraturan khusus bahwa setiap granat semacam ini yang dikoleksi, maka bahan peledak atau detonatornya harus dihilangkan terlebih dahulu.



Sumber :

www.en.wikipedia.org