Thursday, September 30, 2010

SS-Obergruppenführer und General der Polizei Reinhard Heydrich (1904-1942), Orang Paling Ditakuti Lingkaran Dalam Nazi!


Untuk album foto terbaik Reinhard Heydrich bisa dilihat DISINI.


Nama lengkap: Reinhard Tristan Eugen Heydrich
Panggilan: The Hangman, The Butcher of Prague, The Blond Beast, Young Evil God of Death

Lahir: 7 Maret 1904 di Halle an der Saale, Leipzig (Jerman)
Meninggal: 4 Juni 1942 di rumah sakit Praha (Cekoslowakia)

Agama: Dibesarkan sebagai seorang Katolik, tapi kemudian menjadi Ásatrú
Tinggi: 185cm
Nomor keanggotaan NSDAP: 544916
Nomor keanggotaan SS: 10120

Orangtua: Richard Bruno Heydrich (23 Februari 1862 – 24 Agustus 1938) dan Elisabeth Anna Maria Amalia Krantz (1871 - ? )
Saudara: Maria Heydrich dan Heinz Siegfried Heydrich (29 September 1905 – 19 November 1944)
Istri: Lina Mathilde von Osten (1911 - 1985) (menikah 26 Desember 1931)
Anak: Klaus Heydrich (17 Juni 1933 – 24 Oktober 1943), Heider Heydrich (23 Desember 1934 - 3 Juli 2007), Silke Heydrich (9 April 1939), dan Marte Heydrich (23 Juli 1942)

Beförderungen (Promosi)
30 Maret 1922 Seekadett

1 April 1923 Seeoffiziersanwärter
1 April 1924 Fähnrich zur See
1926 Oberfähnrich zur See
1 Oktober 1926 Leutnant zur See
1 Juli 1928 Oberleutnant zur See
14 Juli 1931 SS-Mann
10 Agustus 1931 SS-Sturmführer
11 Desember 1931 SS-Sturmhauptführer (mit Wirkung vom 01.12.1931)
18 Desember 1931 SS-Sturmbannführer (mit Wirkung vom 25.12.1931)
2 Agustus 1932 SS-Standartenführer (mit Wirkung vom 29.07.1932)
5 April 1933 SS-Oberführer (mit Wirkung vom 21.03.1933)
15 November 1933 SS-Brigadeführer (mit Wirkung vom 09.11.1933)
30 Juni 1934 SS-Gruppenführer
1939 Oberleutnant der Reserve (Luftwaffe)
1940 Hauptmann der Reserve (Luftwaffe)
1941 Major der Reserve (Luftwaffe)
24 September 1941 SS-Obergruppenführer und General der Polizei

Karriere (Karir)
 - 1919 - 1920, Anggota Freikorps

- 1921, menjadi salah satu pendiri Deutschen volkischen Jugendschaft
- 1922, bergabung dengan Reichsmarine
- 30 April 1931, dipecat dari Reichsmarine oleh Dewan Kehormatan AL
- Juli 1932, Chef der Sicherheitsdienstes
- Maret 1933, Leiter der Politischen Abteilung der Polizeidirektion München
- 27 September 1939, Chef SD-Hauptamt (redesignated Reichssicherheitshauptamt (RSHA)
- Oktober 1941 - 4 Juni 1942, Stellvertreter Reichsprotektor Böhmen und Mahren

Auszeichnungen (Medali/Penghargaan)

Totenkopfring der SS (24 Desember 1933)
Ehrenwinkel der Alten Kämpfer (Februari 1934)
Julleuchter der SS (16 Desember 1935) 
Deutsche Olympia-Ehrenzeichen 1. Klasse (1936)
Medaille zur Erinnerung an den 13. März 1938 (1938)
Medaille zur Erinnerung an den 1. Oktober 1938 (1938)
Spange "Prager Burg" zur Medaille zur Erinnerung an den 1. Oktober 1938 (1938)
Goldenes Parteiabzeichen (30 Januari 1939)Medaille zur Erinnerung an die Heimkerhr des Memellandes 22. März 1939  (1939)
SS-Dienstauszeichnung (8 Jahre)  (1939)
Deutsches Schutzwall-Ehrenzeichen (1939)
Danzig Kreuz 1. Klasse (1939)
Ehrenzeichen des Deutschen Roten Kreuzes I. Klasse 
Deutsches Reichssportabzeichen in Silber  
SA-Sportabzeichen in Gold 
Ehrenzeichen für Deutsche Volkspflege
Ehrendegen des Reichsführer-SS
Leistungs und Meisterschaftsabzeichen des Deutschen Reichsbundes für Leibesübungen
1939 Eisernes Kreuz II. Klasse (Mei 1940)
1939 Eisernes Kreuz I. Klasse (Juli 1941)
Dienstauszeichnung der NSDAP in Bronze (10 jahre)
Polizei-Dienstauszeichnung 3. Stufe (8 jahre)
Gemeinsames Flugzeugführer- und Beobachter-Abzeichen in Gold mit Brillanten (1941)
Frontflugspange für Tagjäger in Bronze (1941)
Frontflugspange für Tagjäger in Silber (Juli 1941)
Flugzeugführerabzeichen
Deutsches Reiterabzeichen
Commendatore dell’Ordine dei Santi Maurizio e. Lazzaro (29 September 1937)
Grande Ufficiale dell’Ordine della Corona d’Italia (29 September 1937)
Grande Ufficiale dell’Ordine dei Santi Maurizio e. Lazzaro (18 Oktober 1938)
Cavaliere di Gran Croce dell’Ordine della Corona d’Italia (18 Oktober 1938)
Grand Cross of the Order of the Military Order of Savoy with Star Italia (18 Oktober 1938) 
Pilot's Badge of the Royal Air Force of Italy (Regia Aeronautica)
Honor Dagger of the Fascist Militia Italia (19 Oktober 1937)
Königlischen Jugoslawische Orden des Sweti Sawa I. Klasse (18 Oktober 1938)
Blutorden (anumerta, 9 Juni 1942)  
Kriegsverdienstkreuz I. Klasse mit Schwertern (anumerta, 9 Juni 1942)
Verwundetenabzeichen in Gold (anumerta, 9 Juni 1942)
Deutscher Orden des Grossdeutschen Reiches, I. Klasse, Goldenes Kreuz mit Eichenlaub und Schwertern (anumerta, Juni 1942)

Oleh : Alif Rafik Khan

Reinhard Tristan Eugen Heydrich dilahirkan tanggal 7 Maret 1904 di Halle an der Saale dari pasangan komposer Richard Bruno Heydrich dan istrinya Elisabeth Anna Maria Amalia Kranz. Kakeknya dari pihak ibu adalah Hofrat Kranz, pendiri Konservatorium Dresden. dua nama pertama Heydrich juga diambil dari sesuatu yang ‘berbau’ musik: “Reinhard” dari Amen, sebuah opera yang ditulis oleh ayahnya dan berasal dari salah satu adegan berjudul “Kejahatan Reinhard”, sedangkan “Tristan” diambil dari karya komponis besar Jerman Richard Wagner berjudul Tristan und Isolde. Nama ketiganya kemungkinan terinspirasi dari pahlawan perang Prinz Eugene von Savoy. Dia lahir dari kalangan keluarga Katolik berada, dan musik adalah bagian penting dari kehidupan sehari-harinya semasa kecil; ayahnya adalah juga penyanyi opera dan pendiri Konservatorium Musik Halle. Dari semua alat musik yang dia pelajari, Heydrich muda terutama sangat tertarik terhadap biola. Dia kemudian menjadi pemain biola yang sangat berbakat, dan kelak setelah menjadi tentara pun dia sering memukau para penonton dengan permainannya yang mengagumkan!

Ayahnya adalah juga seorang nasionalis Jerman yang tak jemu menanamkan ide-ide patriotik kepada pikiran ketiga anaknya. Kehidupan keluarga Heydrich sangat keras dan disiplin sangat dipegang teguh. Sebagai seorang remaja, Heydrich biasa bermain anggar kayu melawan saudaranya yang lebih muda, Heinz, sehingga dia kemudian mengembangkan pula bakat bermain anggar yang sama mengagumkannya dengan bakat musiknya. Heydrich mempunyai otak encer dan berhasil menamatkan sekolahnya di Reform-Realgymnasium dengan hasil yang memuaskan. Dia juga menyenangi olahraga dan menjadi atlet yang berbakat di bidang renang dan anggar. Di pihak lain, dia pun terkenal sebagai anak yang sangat pemalu dan tertutup. Dia terutama malu karena pita suaranya yang melengking tinggi seperti perempuan dan juga karena dia berasal dari keluarga Katolik, sesuatu yang membuat dia sering menjadi bulan-bulanan anak yang lebih kuat di sekolah (saat itu komunitasnya kebanyakan adalah Protestan). Ada juga isu yang menyebutkan bahwa dia masih mempunyai keturunan Yahudi, karena suami kedua neneknya mempunyai nama yang berbau-bau Yahudi. Meskipun rumor ini sulit dibuktikan kebenarannya, tapi kemudian hal ini digunakan secara cerdik sekali oleh atasan-atasan Heydrich di partai Nazi kelak agar mereka bisa memegang kontrol dan dia tidak cem-maacem.

Ketika Perang Dunia I pecah tahun 1914, Heydrich yang saat itu baru berusia 10 tahun masih terlalu muda untuk mendaftar menjadi anggota militer. Meskipun masih bocah cilik, ghirah patriotismenya sudah membumbung tinggi dan dia kemudian bergabung dengan Sukarelawan Rifle Maercker (unit Freikorps pertama yang dibentuk atas perintah dari Menteri Pertahanan Gustav Noske), sebuah grup semi-militer sayap kanan yang terutama sekali dibuat untuk melawan kaum Komunis yang sedang naik daun di Jerman saat itu. Dia juga menjadi anggota Deutschvölkischer Schutz und Trutzbund (Liga Perlindungan dan Penampungan Nasional Jerman), sebuah organisasi anti-Yahudi. Pada tahun 1918 perang berakhir dengan kekalahan Jerman. Terutama karena hasil dari Perjanjian Versailles yang berat sebelah, inflasi menyebar di seantero Jerman sehingga banyak keluarga-keluarga berkcukupan – termasuk keluarga Heydrich – kehilangan hartanya.

Pada tahun 1922 dia bergabung dengan Angkatan Laut. Alasannya sih sederhana saja: mereka menawarkan pendidikan tambahan dan pensiun yang besar! Dia menjadi kadet pelaut di pangkalan utama Angkatan Laut Jerman di Kiel, dan lalu menjadi orang yang kurang disenangi oleh rekan-rekan seangkatannya terutama setelah isu keturunan Yahudi kembali menyeruak. Tapi karir Heydrich maju terus. Pada tahun 1926 pangkatnya sudah menjadi Leutnant zur See dan ditugaskan sebagai perwira sandi di kapal perang Schleswig-Holstein. Disini Heydrich terkejut kegirangan ketika menjumpai bahwa beberapa perwira bawahannya adalah orang yang dulu biasa mempermainkannya di sekolah, dan dia melakukan pembalasan secara meyakinkan dengan memperlakukan mereka seperti pelaut rendahan!

Meskipun mempunyai suara yang “kebencong-bencongan”, rupanya Heydrich tak mempunyai masalah dalam hal berhubungan dengan wanita (bahkan kemudian dia terkenal sebagai playboy cap Gajah Boker dengan segudang affair!). Suatu malam di tahun 1930, dia menghadiri pesta dansa klub dayung dan bertemu dengan Lina von Osten. Kedua orang tersebut lalu saling jatuh cinta dan tak lama kemudian telah mengumumkan pertunangan mereka. Ternyata kisah romansa mereka bukannya tanpa masalah. Mantan pacar Heydrich yang merupakan putri dari direktur sebuah galangan kapal begitu murka ketika mengetahui Heydrich akan kawin dengan wanita lain. Dia kemudian mengadu kepada ayahnya, yang ternyata adalah teman dari Admiral Erich Raeder (Panglima Angkatan Laut). Sebuah peringatan resmi dikeluarkan terhadap Heydrich yang dituduh telah menodai kehormatan seorang wanita muda. Dia dianggap “tidak pantas menjadi seorang perwira dan lelaki jantan”, dan investigasi pun dilakukan terhadapnya. Dia dipanggil ke Dewan Kehormatan untuk memberikan penjelasan. Tentu saja Heydrich mengaku tidak bersalah terhadap semua tuduhan yang diajukan terhadapnya, dan berbalik menuduh si wanita mantannya telah berbohong. Meskipun kemudian dia terbukti tidak bersalah, banyak perwira-perwira Angkatan Laut yang meminta dia untuk dipecat karena dianggap “tidak pantas menjadi seorang perwira dan lelaki jantan” seperti telah disebutkan sebelumnya. Pada bulan April 1931, Raeder akhirnya memutuskan bahwa Heydrich “dibebastugaskan karena ketidakpantasan yang telah dilakukannya”. Jelas Heydrich frustasi berat, tapi dia tetap meneruskan pertunangannya dengan Lina von Osten. Dia sekarang menghadapi masa depan yang tidak pasti karena baru saja kehilangan pekerjaan yang selama ini diandalkannya.

Pada tahun yang sama (1931), Heinrich Himmler sedang giat-giatnya membangun unit kontra-intelijen dalam tubuh SS. Atas saran dari rekannya Karl von Eberstein - yang merupakan teman dari Lina von Osten - dia pun lalu menginterview Heydrich. Konon dalam wawancara tersebut Himmler begitu terkesan atas kemampuan Heydrich dan langsung mengerjakannya saat itu juga! Bayarannya adalah 180 Reichsmark perbulan (40 dollar). Dengan begitu Heydrich sekaligus juga bergabung dengan Partai Nazi dan kemudian akan menerima Totenkopfring atas dedikasinya dalam tugas.

Untuk memulai pekerjaannya, Heydrich mendirikan kantor di Brown House, markas besar partai Nazi di Münich. Dia akan mendirikan sebuah unit kontra-intelijen yang kelak begitu ditakuti keberadaannya oleh dedengkot-dedengkot partai lainnya!

Pada saat ini dia bukanlah siapa-siapa di tubuh partai, tapi dengan berani dia membangun jaringan mata-mata independen dan menugaskan mereka untuk mencari setiap informasi berharga dengan cara apapun: pemerasan, kekerasan dan sebagainya. Sasarannya? Jangan terkejut: para penentang partai Nazi sekaligus tokoh-tokoh dalam partai itu sendiri!

Pada bulan Desember 1931, Heydrich dan von Osten menikah. Pada tahun yang sama pula, dia dipromosikan menjadi SS-Sturmbannführer (Mayor). Bahkan dari sejak tahun pertamanya bergabung, Heydrich telah menjelma menjadi salah satu orang paling berbahaya dalam tubuh partai Nazi. Dengan modal data segudang yang dikumpulkannya dengan gigih, takdir para oposan Nazi tergantung dari belas kasihannya!

Tapi Heydrich pun kena batunya langsung dari tangan Adolf Hitler, dan itu terjadi pada tahun 1932. beberapa orang musuh politik Heydrich telah menemukan isu lama tentang kemungkinan garis keturunannya yang Yahudi, dan kemudian menyebarkannya. Dalam tubuh partai Nazi yang sangat anti-Yahudi, tentu saja hal ini adalah “aib” besar, bahkan bagi seorang kepala unit kontra-intelijen! Sebuah investigasi segera dilakukan oleh pakar ras partai Nazi Dr. Achim Gercke yang meneliti silsilah keturunan Heydrich. Dr. Gercke melaporkan bahwa Heydrich “merupakan asli keturunan Jerman dan bersih dari setiap kemungkinan tercampurnya oleh darah ras berwarna atau Yahudi”. Meskipun begitu, Himmler rada khawatir juga dengan kemungkinan adanya seseorang dengan darah “tercemar” menduduki posisi tinggi dalam organisasinya. Pada tahun 1942 Himmler curhat pada Felix Kersten, tukang pijat pribadinya, tentang masalah ini. Dia berkata bahwa Hitler kemudian mewawancarai Heydrich dan menemukan fakta bahwa dia “adalah orang yang sangat berbakat juga sangat berbahaya. Tapi bakatnya terlalu besar untuk dikesampingkan oleh partai Nazi”. Himmler berkata kepada Kersten bahwa Hitler beranggapan bahwa Heydrich yang mempunyai keturunan non-Arya sebenarnya “sangat berguna, karena selamanya dia akan berterimakasih kepada kita karena mempekerjakannya dan bukannya membuangnya. Dia akan taqlid buta pada kita”. Himmler melanjutkan ceritanya pada Kersten, dan menyebutkan bahwa intuisi Hitler terbukti akurat, karena memang Heydrich benar-benar setia kepada tuannya. Tapi kemudian pengakuan Kersten ini dibantah oleh sejarawan Max Williams, yang mengatakan bahwa apa yang disebutkannya tentang curhat Himmler dan wawancara Hitler bisa “diragukan kebenarannya dan harus ditanggapi dengan hati-hati”.

Pada bulan Juli 1932, pelayanan kontra-intelijen Heydrich telah berkembang pesat menjadi sebuah mesin teror dan intimidasi. Dengan popularitas Hitler yang makin naik dan ambisinya untuk menduduki kursi kekuasaan, Himmler dan Heydrich berkeinginan untuk mengendalikan semua kekuatan politik di seluruh 17 negara bagian Jerman, dan mereka memulainya dengan Bavaria. Pada tahun 1933, Heydrich mengumpulkan beberapa orang anakbuahnya dari SD dan bersama-sama mereka lalu menyerbu kantor polisi di Münich. Sebegitu mudahnya pengambilalihan kekuasaan di masa kacau seperti ini! Mereka menguasai kepolisian menggunakan taktik intimidasi. Himmler lalu menjadi komandan polisi politik Bavaria dan Heydrich menjadi wakilnya. Dari sana, duo ini melanjutkan strategi yang sama ke sisa 16 negara bagian Jerman lainnya. Dengan 15 wilayah berada di bawah pengaruh mereka, tampaknya kini mereka menemui tembok tebal untuk dapat menguasai kepolisian Prusia. Memang siapa kepala polisinya pada saat itu? Tidak lain dan tidak bukan.. Hermann Göring.

Göring memegang kendali polisi politik Prusia, dan dia membenci Himmler dan Heydrich. Göring sendiri berkeinginan agar pasukan polisinya akan berdiri terpisah dari organisasi polisi lainnya dan para anggotanya hanya akan menuruti perintahnya, apapun itu. Dia menamakan organisasinya dengan Geheime Staatspolizei (Polisi Rahasia Negara). Dalam rangka memudahkan dalam membuat cap untuk perangko, seorang petugas pos menyingkat namanya menjadi Gestapo. Göring bertujuan memisahkan mereka dari markas kepolisian dan memberikan pusat komando tersendiri yang bebas dari pengaruh orang lain.

Pada tahun 1933, Hitler menjadi Kanselir Jerman yang baru. Dia kini telah menjadi penguasa Jerman, tapi masih belum mempunyai kekuasaan absolut seperti yang dia idam-idamkan. Dalam rangka menambah kekuasaannya, dia menekan Presiden Paul von Hindenburg untuk menandatangani beberapa surat keputusan yang akan membatasi peran partai-partai oposisi seperti Komunis dan Sosialis. Dengan SK ini, polisi mempunyai kewenangan untuk melakukan penggeledahan, menyita properti, dan menangkap serta menahan orang tanpa pengadilan. Disinilah peran Heydrich begitu kentara dengan kartu daftar orang-orang black-list yang dipunyainya. Dia mensuplai SS dan SA dengan daftar nama orang-orang yang dianggap “pantas” untuk diciduk. Karena daftar nama yang Heydrich punya jumlahnya ribuan, tak lama kemudian penghuni penjara telah melebihi kapasitas yang disediakannya! Akhirnya didirikanlah kamp konsentrasi pertama yang pada awalnya dibuat untuk mengatasi kelebihan napi.

Tanggal 20 April 1934, Göring dan Himmler menyimpan semua perbedaan di antara mereka dan berdamai (kemungkinan besar karena mereka sama-sama tidak menyukai makin membesarnya peran Sturmabteilung atau SA di bawah pimpinan Ernst Röhm). Göring memindahkan kekuasaannya atas Gestapo ke tangan Himmler, yang saat itu telah menjadi kepala seluruh kepolisian Jerman di luar Prusia. Pada tanggal 22 April 1934 Himmler menunjuk Heydrich sebagai kepala Gestapo. Setelah organisasi tersebut berada di bawah kontrol mereka, inilah saatnya untuk menggunakannya bersama-sama dengan SS demi menghancurkan ancaman SA!

Heydrich membuat sebuah plot palsu seakan-akan pemimpin SA Röhm bermaksud untuk menggulingkan Hitler. Himmler memberi peran tambahan dengan menyarankan pada Hitler untuk mendahului bertindak menghukum Röhm dan para pemimpin SA yang dicurigai. Dengan cepat Heydrich, Himmler, Göring, dan Viktor Lutze (atas perintah Hitler) menyusun daftar nama siapa-siapa yang harus disingkirkan, yang dimulai dari tujuh pejabat tinggi SA dan berakhir dengan banyak lagi yang lainnya. Tanggal 30 Juni 1934, SS dan Gestapo bergerak secara terkoordinasi untuk melakukan penangkapan massal yang berlanjut terus selama seminggu penuh. Röhm sendiri menemui ajalnya ditembak (tanpa disidangkan terlebih dahulu) ketika ia sedang asyik main bo’ol bersama teman homonya. Peristiwa “pembersihan” lingkaran dalam partai Nazi ini kemudian terkenal ke seluruh dunia dengan nama Night of the Long Knives (Malam Pisau Panjang).

Dengan SA kini nyuksruk, Heydrich sekarang mempunyai wewenang penuh untuk membentuk Gestapo menjadi sebuah instrumen yang menakutkan. Dia mengimprovisasi sistem kartu daftarnya yang selama ini sangat membantu dalam pekerjaan tangkap-menangkapnya. Karena kini lebih banyak lagi daftar nama baru yang masuk index, dia kini membuat kartu-kartunya berwarna-warni dan berkode yang disesuaikan dengan porsi “kesalahan” orang-orang tersebut. Kini Gestapo mempunyai kewenangan untuk menangkap setiap warga negara hanya dengan berdasarkan kecurigaan bahwa mereka akan melakukan suatu kejahatan! Hitler sendiri berpandangan bahwa organisasi ini “boleh melakukan apa saja walaupun tindakannya berada di luar hukum yang berlaku, selama mereka bertujuan untuk terus melayani Führer”. Di seantero Jerman, orang-orang mulai menghilang secara misterius dan tidak pernah terlihat lagi. Biasanya beberapa waktu kemudian keluarganya akan menerima sebuah guci yang berisi abu jenazah mereka! Di bawah Himmler dan Heydrich, Jerman menjadi sebuah negara polisi. Lebih jauh lagi, Himmler berkeinginan agar orang-orang mempunyai “agama Jerman” dan anggota-anggota SS meninggalkan keanggotaan gereja mereka. Pada musim panas 1936, Heydrich meninggalkan keanggotaannya di gereja Katolik, sementara istrinya Lina telah melakukannya setahun sebelumnya. Heydrich tak hanya merasa bahwa kini dia tak lagi bisa menjadi anggota, tapi juga berkeyakinan bahwa pengaruh politik gereja dapat menjadi sesuatu yang membahayakan bagi eksistensi negara.

Tanggal 17 Juni 1936, seluruh organisasi kepolisian di Jerman dipersatukan dengan Himmler sebagai kepalanya. Tanggal 26 Juni, Himmler membagi polisi menjadi dua grup:

- Ordnungspolizei (OrPo) yang terdiri dari polisi berseragam biasa dan polisi kotapraja.

- Sicherheitspolizei (SiPo) yang terdiri dari Gestapo dan KriPo atau Kriminalpolizei (polisi kriminal).

Heydrich diangkat sebagai kepala SiPo, Gestapo, KriPo dan SD, sementara Heinrich Müller menjadi kepala operasi Gestapo. Tugas pertama Heydrich adalah menekan setiap gerakan-gerakan yang dianggap berpotensi mengganggu keamanan negara sebelum dan selama berlangsungnya Olimpiade Berlin 1936. Seperti tugas-tugas sebelumnya, ini pun dia kerjakan dengan dingin tanpa ampun dan sistematis sehingga membuat dia dianugerahi Deutsches Olympiaehrenzeichen atau German Olympia Honour Badge (1st class).

Pada bulan September 1939, SD dan SiPo (yang terdiri dari Gestapo dan KriPo) dipersatukan di bawah satu atap, yaitu Kantor Keamanan Utama Reich atau RSHA (dengan ketuanya, siapa lagi kalau bukan Jojon eh Heydrich!). pada saat itu, gelarnya adalah "Chef der Sicherheitspolizei und des SD" (Kepala Polisi Rahasia dan SD), atau disingkat dengan CSSD. Tanggal 24 Agustus 1940, Heydrich juga menjadi Presiden Interpol (Polisi Internasional). Karenanya, markas besar Interpol pun dipindahkan ke Berlin. Dia dipromosikan menjadi SS-Obergruppenführer und General der Polizei tanggal 24 September 1941.

Pada tahun 1936, SD menerima informasi bahwa beberapa perwira tinggi Soviet telah merencanakan kudeta demi menggulingkan Joseph Stalin. Heydrich langsung mengendus kesempatan untuk memberikan pukulan telak, baik kepada Angkatan Bersenjata Soviet dan juga organisasi Abwehr (saingan RSHA, Cuma ini bentukan Wehrmacht) di bawah pimpinan Admiral Wilhelm Canaris. Dia lalu memutuskan bahwa para perencana kudeta tersebut harus “dibuka topengnya”. Dia mendiskusikan masalah ini dengan Himmler, dan lalu mereka berdua membicarakannya dengan Hitler langsung. Yang tak Heydrich ketahui adalah: sebenarnya “informasi” yang dia terima mengenai plot para perwira tersebut diinisiasikan langsung oleh Stalin sendiri demi melancarkan jalannya menyingkarkan orang-orang yang dianggap tidak sehaluan dengannya! Stalin memerintahkan salah satu agen NKVD terbaiknya, Jenderal Nikolai Skoblin, untuk “menyuapi” Heydrich dengan informasi palsu tentang adanya rencana mengkudeta Stalin yang datang dari Marsekal Mikhail Tukhachevsky bersama dengan jenderal-jenderal Soviet lainnya. Heydrich akhirnya menerima izin dari Hitler untuk bertindak. Segera dia memberi perintah kepada SD untuk membuat dokumen-dokumen dan surat-surat korespondensi (yang semuanya palsu) yang seakan-akan dibuat oleh Tukhachevsky dan komandan Tentara Merah lainnya. Dokumen-dokumen tersebut lalu diserahkan kepada NKVD. Stalin langsung “murka” dan memerintahkan pembersihan besar-besaran di tubuh Tentara Merah. Akibat “bersih-bersih” ini, tak kurang dari 35.000 orang perwira tinggi dan rendah dihukum mati atas perintah langsung dari Stalin! Heydrich percaya benar bahwa dia telah sukses dalam misinya mengecoh Stalin, meskipun kemudian para sejarawan berbeda pendapat mengenai peran penting sang SS-Obergruppenführer dalam masalah ini. Yang jelas, adalah fakta bahwa dokumen-dokumen yang diserahkan oleh Heydrich sama sekali tak digunakan oleh para penuntut militer Soviet dalam persidangan rahasia mereka terhadap para jenderal yang dituduh berkhianat. Sebaliknya, mereka kebanyakan mendasarkan tuduhannya dari pengakuan palsu dan interogasi brutal terhadap tertuduh! Yang jelas, pembersihan ini untuk sementara waktu membuat Angkatan Besenjata Uni Soviet menjadi lumpuh karena banyak putra-putra terbaiknya yang dikirim ke akherat.

Pada akhir tahun 1940, pasukan bersenjata Hitler telah menguasai hampir seluruh Eropa Barat. Hitler kemudian kecewa berat ketika mengetahui bahwa organisasi perlawanan rahasia anti-Nazi malah berkembang pesat di negara-negara yang didudukinya, terutama di Norwegia, Prancis, Belanda dan Belgia. Pada tahun 1941, SD diberi tanggungjawab untuk melaksanakan isi dari surat perintah Nacht und Nebel (Malam dan Kabut), yang ditujukan untuk menghancurkan setiap perlawanan. Berdasarkan peraturan baru tersebut, setiap orang yang dicurigai harus ditangkap secara rahasia semaksimal mungkin dalam “perlindungan malam dan kabut”. Orang-orang mulai hilang tanpa jejak dan tak ada seorangpun yang tahu nasib mereka atau keberadaannya kini. Untuk setiap tawanan, SD mewajibkan mereka untuk mengisikan sebuah formulir yang berisi informasi pribadi, kebangsaan, dan detail dari kejahatan yang telah mereka lakukan terhadap Third Reich. Formulir ini kemudian dimasukkan ke dalam amplop dengan cap bertulisan “Nacht und Nebel” dan dikirimkan ke kantor pusat RSHA. Dalam kamp tawanan tempat mereka dikurung, mereka dberikan WVHA (File Penghuni Pusat) dan kode khusus yang membedakan mereka dari tawanan kriminal biasa, Yahudi, Gipsi, dan lain-lain. Operasi “Nacht und Nebel” sendiri tetap dilakukan setelah meninggalnya Heydrich. Tak pernah diketahi angka pasti berapa tepatnya orang-orang yang menghilang akibat operasi ini, yang jelas berkisar di angka 7.000.

Tanggal 27 September 1941 Heydrich ditunjuk sebagai Stellvertretender Reichsprotektor di Protektorat Bohemia dan Moravia (bagian dari Cekoslowakia yang dianeksasi oleh Third Reich tanggal 15 Maret 1939). Dia rencananya akan memegang kendali penuh pemerintahan atas wilayah tersebut karena sebelumnya Himmler merasa bahwa Konstantin von Neurath (pendahulu Heydrich) terlalu lembek dalam menghadapi orang-orang Ceko yang sebagian besar mempunyai sentimen anti-Jerman dan sering melakukan demo serta sabotase. Heydrich datang ke Praha untuk “memperkuat kebijakan Jerman dan menangkal setiap perlawanan”. Selain itu, dia juga diberi tanggungjawab untuk mempertahankan quota produksi kendaraan bermotor dan senjata Cekoslowakia yang selama ini memegang peranan penting dalam usaha perang yang dilakukan Jerman.

Sebagai Gubernur Bohemia dan Moravia, Heydrich menerapkan kebijakan “carrot-and-stick” (wortel dan tongkat). Pasar gelap diberangus, penjatahan makanan dan pensiun ditingkatkan, dan asuransi untuk pengangguran diadakan untuk pertamakalinya! Siapa-siapa saja yang dianggap berhubungan dengan pasar gelap langsung disiksa atau dieksekusi. Pemakaian kata yang digunakannya di media massa untuk mendeskripsikan mereka yang menentang sebagai “kriminal ekonomi” dan “musuh masyarakat” telah membantunya mendapatkan dukungan yang diperlukan. Di bawah Heydrich, kondisi di Praha dan wilayah Cekoslowakia lainnya relatif damai dan industri pun bekerja dengan penuh semangat.

Heydrich, dalam segala bentuknya, adalah diktator militer Bohemia dan Moravia. Perubahan yang dilakukannya terhadap struktur pemerintahan lokal membuat Presiden Emil Hacha dan kabinetnya secara kasat mata tidak mempunyai kekuasaan. Heydrich begitu percaya bahwa dia telah menarik simpati rakyat Cekoslowakia sehingga dengan PD-nya dia menolak untuk mendapat pengawalan ketat saat bepergian dengan mobil atap terbukanya! Hal tersebut juga sebagai perlambang bahwa dia benar-benar telah menguasai Cekoslowakia dalam segala bentuknya.

Tanpa Heydrich sadari, di London (yang merupakan tempat bercokolnya pemerintah Cekoslowakia dalam pembuangan atau Prozatímní státní zřízení) sedang direncanakan suatu upaya pembunuhan terhadap dirinya. Dua orang, yaitu Jan Kubiš dan Jozef Gabčík, telah dipilih oleh SOE (Special Operations Executive) Inggris untuk melaksanakan tugas tersebut. Setelah menerima pelatihan yang diperlukan dari Inggris, mereka diterbangkan menggunakan Halifax milik 138 Squadron RAF secara diam-diam ke Cekoslowakia dan mendarat di negara tersebut dengan parasut tanggal 28 Desember 1941.

Tanggal 27 Mei 1942, Heydrich rencananya akan menghadiri pertemuan bersama dengan Hitler di Berlin. Di jalan pulang dari kantor ke rumahnya, dia harus melalui sebuah persimpangan di pinggiran Praha bernama Libeň dimana jalan Dresden-Praha menyatu dengan jalan menuju jembatan Troja. Persimpangan tersebut membentuk belokan huruf U yang tajam sehingga mau tidak mau setiap mobil yang melaju disana harus melambatkan kendaraannya. Disinilah lokasi yang dipilih oleh para pembunuh Heydrich untuk melaksanakan aksinya. Serangan tersebut terjadi tanggal 27 Mei. Pada tanggal tersebut, kendaraan atap terbuka yang Heydrich tumpangi disergap saat dia berbelok dengan pelan. Saat itu, tidak ada pengawal satu pun yang mengiringinya dan hanya supir pribadi sekaligus pengawalnya. Gabčík secara tiba-tiba datang dari samping dan mencoba menembak dengan senapan mesinnya, tapi ternyata macet! Heydrich begitu kaget akan serangan berani tersebut sehingga bukannya kabur, dia malah menyuruh supirnya untuk memberhentikan mobil demi membuat perhitungan dengan Gabčík yang dianggap menyerang seorang diri. Melihat rekannya malah panik sambil menceklak ceklek senapan yang sudah jelas-jelas modar, Kubiš datang membantu dan dalam jarak dekat melemparkan granat yang dibawanya ke bagian belakang mobil. Ledakan yang terjadi kemudian melukai Heydrich dan juga Kubiš sendiri (karena saking dekatnya)!

Ketika asap dari ledakan mereda, Heydrich bangkit dari rongsokan mobil dengan pistol masih di tangannya dan kemurkaan luar biasa! Kubiš begitu ngerinya sehingga dia langsung mampret melarikan diri. Heydrich tidak menginginkan musuhnya melarikan diri, dan dia pun lalu berusaha mengejar sambil menembakkan pistolnya, tapi ternyata senjatanya tersebut tidak diisi peluru! Dia lari sejauh setengah blok, lalu pengaruh dari ledakan mulai menguasai dan dia pun terduduk lemah. Di saat yang bersamaan, supirnya yang bernama Klein ikut-ikutan mengejar Gabčík. Dalam baku tembak yang kemudian terjadi, Gabčík berhasil menembak Klein di kakinya dan berhasil lolos. Heydrich sendiri tampaknya tidak mengalami luka serius.

Salah satu versi menyebutkan bahwa seorang wanita Ceko datang menolong Heydrich dan berusaha menyetop sebuah truk lewat yang membawa cairan penggosok lantai. Pertama, Heydrich ditempatkan di kursi belakang, tapi setelah komplain karena tersiksa tiap truk tersebut melindas jalan jelek, maka dia pun dipindahkan ke bagian belakang truk, dengan berbaring tengkurap! Dia dibawa ke Rumah Sakit Bulovka. Setelah diperiksa, ketahuan bahwa dia telah mengalami luka parah di bagian kiri tubuhnya, terutama di bagian rongga badan antara dada dan perut, limpa, dan paru-paru (Jangan dilupakan pula tulang rusuknya yang patah). Dokter segera melakukan operasi dan, meskipun dia mengalami demam ringan, tampaknya penyembuhannya berjalan dengan baik. Tanggal 2 Juni 1942, ketika Himmler datang membesuknya, Heydrich membandingkan peristiwa yang menimpanya dengan mengutip salah satu bagian dari opera buatan ayahnya:

“Dunia hanyalah sebuah organ gereja yang telah diserahkan oleh Tuhan langsung. Kita semua harus mengikuti nadanya yang telah tersedia pada drum.”

Tak lama setelah kunjungan Himmler, secara tidak terduga Heydrich mengalami koma dan tak pernah sadar kembali untuk selamanya. Dia meninggal jam 4:30 subuh tanggal 4 Juni 1942 di usia 38 tahun. Otopsi yang dilakukan terhadapnya menyimpulkan bahwa penyebab kematiannya adalah keracunan darah yang berasal dari serpihan seragamnya yang koyak oleh ledakan granat. Satu yang perlu diketengahkan disini adalah ekspresi wajah Heydrich ketika dia mati (yang dilihat dari topeng kematiannya) tampak “begitu indahnya dan memancarkan cahaya spiritualitas yang mistik, layaknya kardinal masa Renaissance” – berdasarkan keterangan dari Dr. Bernhard Wehner, seorang petugas polisi yang memeriksa peristiwa pembunuhan terhadapnya.

Ketika mendengar “protektornya” di Cekoslowakia telah dibunuh dengan tidak aci, Hitler langsung murka dan memerintahkan investigasi menyeluruh dengan segera. Intelijen menghubungkan para pembunuhnya dengan sebuah desa bernama Lidice dan Ležáky. Untuk memberi pelajaran agar peristiwa serupa tidak terulang, Hitler memerintahkan eksekusi para penduduk pria Lidice dewasa dan deportasi penduduk wanitanya ke kamp konsentrasi. Anak-anak yang mempunyai rambut pirang dan mata biru dipisahkan dari keluarga mereka dan “diadopsi” oleh keluarga-keluarga Jerman.

Heydrich sendiri dikuburkan di pemakaman militer Invalidenfriedhof Berlin dengan upacara penghormatan yang megah. Lokasi kuburannya sendiri saat ini tidak bisa dipastikan, meskipun kemungkinan berada di antara kuburan dua orang pahlawan perang Jerman, Adolf Karl von Oven dan Gerhard von Scharnhorst (Pemakaman seksi C). Hitler menginginkan agar batu nisan Heydrich dibikin semonumental mungkin, tapi karena kemudian situasi perang yang makin memburuk, rencana tersebut tidak pernah direalisasikan. Pada tahun 1945, penanda makam sementara Heydrich yang terbuat dari kayu menghilang. Penanda tersebut tidak pernah diganti, karena pihak Sekutu dan pemerintahan kotapraja Berlin takut kalau-kalau makam Heydrich nantinya akan menjadi pusat pemujaan kaum Neo-Nazi, seperti halnya makam Rudolf Hess yang terletak di sebuah kota kecil Bavaria bernama Wunsiedel. Ketika pada tahun 1960-an Berlin dipisahkan oleh tembok yang memisahkan bagian barat dan timur, lokasi pemakaman Invalidenfriedhof berada di tengah-tengahnya sehingga ada bagian yang masuk ke wilayah Soviet, dan bagian lainnya ke wilayah Sekutu. Pada saat itu kuburan Heydrich kemungkinan berada di wilayah yang dinamakan “death strip” di tengah-tengah sehingga tak bisa diakses oleh publik, meskipun bisa juga karena seksi C berada di bagian depan Invalidenfriedhof (dekat gerbang masuk Scharnhorststraße), sementara “death strip” berada di bagian belakangnya (barat-daya dari seksi E, F dan G di sepanjang Schiffahrtskanal). Sebuah surat yang dipublikasikan oleh Frankfurter Allgemeine Zeitung di tahun 1992 menyebutkan bahwa kuburan Heydrich sebenarnya berada di seksi A di sebelah General der Infanterie Graf Tauntzien von Wittenberg, yang bertempur melawan Napoleon dalam Perang Koalisi (1813). Keterangan ini diperkuat oleh buku biografi Heydrich yang terbit baru-baru ini, yang juga menyebutkan bahwa kuburannya berada di seksi A.

Kembali kepada respons Hitler setelah mendengar kematian dari Heydrich. Begitu murkanya sang Führer, sehingga langsung memerintahkan eksekusi di tempat kepada siapapun yang dicurigai terlibat dalam pembunuhan. Tapi setelah konsultasi dengan SS-Gruppenführer Karl Hermann Frank (wakil Heydrich), dia mengendurkan ancamannya. Di bawah perintah dari Himmler, pembalasan yang dilakukan Nazi sama brutalnya: sekitar 13.000 orang ditangkap, dideportasi, dipenjara atau dibunuh. Tanggal 10 Juni 1942, semua pria berusia 16 tahun ke atas yang tinggal di desa Lidice (22 km barat-laut Praha) dan Ležáky dibunuh. Rumah-rumah mereka sendiri dibakar dan puing-puingnya diratakan.

Terus bagaimana dengan pembunuh yang sebenarnya dari Heydrich sendiri? Mereka berlindung di ruangan bawah tanah yang berada di Ss. Cyril dan Katedral Methodius, sebuah gereja Ortodoks di Praha. Sebenarnya persembunyian ini dirancang dengan begitu cerdiknya, karena tidak ada seorang pun dari para pencari Nazi yang ribuan jumlahnya akan mengira bahwa duo pembunuh yang mereka cari-cari tengah meringkuk hanya beberapa ratus meter dari markas besar pasukan pendudukan Jerman! Tapi kemudian keberadaan mereka diketahui juga, yang terbongkar berkat pengakuan dari dua orang anggota gerakan perlawanan Cekoslowakia yang membelot ke pihak penguasa. Segera gereja itu dikepung dari segala penjuru, dan pasukan Jerman pun mengultimatum Jan Kubiš dan Jozef Gabčík agar segera menyerah sembari memuntahkan tembakan peringatan. Dua orang ini kemudian lebih memilih untuk membunuh diri daripada ditangkap oleh musuhnya. Tidak puas sampai disana, kepala gereja yaitu Uskup Gorazd yang dianggap telah menyembunyikan mereka ikut kena getahnya dan disiksa sampai tewas. Dia kini ditahbiskan sebagai salah seorang martir gereja Ortodoks.


Sumber :
www.3reich.us
www.en.wikipedia.org
www.forum.axishistory.com
www.geocities.com
www.islandfarm.fsnet.co.uk
www.jirisulc.eu
www.militaryimages.net
www.onesixthnet.yuku.com
www.wehrmacht-awards.com

Tuesday, September 28, 2010

Album Foto Korps Musik Wehrmacht dan Nazi

Korps musik Luftwaffe

Seorang drummer dari Marine-HJ dengan tulisan "Braunschweig" di topi pelautnya. Perhatikan dua tali penahan drum berbeda yang dikenakannya dalam dua foto di atas. Foto atas adalah Trommelhaken, sementara bawahnya Trommelschere


SS-Oberschütze Joz Lauf dari SS-Regiment "Westland". Foto oleh SS Propaganda-Kompanie Jan Buyse


Band musik Angkatan Darat dalam parade di Prancis


acara Allgemeine-SS yang diiringi oleh korps musik


Korps musik Kriegsmarine dalam sebuah upacara


Pemain band DJ (Deutsches Jungvolk)


Kettle drummer dari RAD


RAD Mitglieds-Karte untuk anggota band RAD


Seorang pemain akordeon Hitlerjugend sedang mengadakan konser kecil-kecilan di hadapan rekan-rekannya


WTF? (lihat topinya!)


Pemain akordeon dari Luftwaffe sedang menghibur rekan-rekannya


One man show


Pemain musik belia Hitlerjugend


Anggota korps musik RAD (Reichsarbeitsdienst)


"Platzkonzert" yang ditampilkan oleh Musikkorps dari Schützen-Regiment 115 di Tripoli, Libya, tahun 1941



Parade di wilayah pendudukan Prancis


Paukenschläger (penabuh drum) dari Trompeterkorps dalam tubuh 8. SS-Kavallerie-Division "Florian Geyer". Lebih jauh mengenai kekangnya yang njelimet bisa dilihat DISINI


Korps musik dalam upacara 7. Panzer-Regiment


Anggota korps musik Luftwaffe


Latihan bermain musik di gurun Afrika

Pertunjukan musik militer ini diselenggarakan di Royal Connaught Square, St Anne, Alderney (Kepulauan Channel). Di sebelah kiri adalah markas besar tentara Jerman di pulau tersebut, yang kini menjadi Hotel Royal Connaught

Baik pasukan pendudukan maupun penghuni pulau mendapat kesempatan yang sama untuk menyaksikan konser live di Taman Candie, St Peter Port, Guernsey (Kepulauan Channel)

Band Jerman ini tampaknya mempunyai "penggemar" yang cukup banyak (baik kalangan militer maupun warga sipil) saat melakukan konser di West Park, St Helier (Kepulauan Channel)


Sumber :
Buku "Channel Islands At War: A German Perspective" oleh George Forty
Foto koleksi pribadi Bill T.
Foto koleksi pribadi Henrik Olsen
Majalah "Der Adler" edisi 20 Mei 1941
www.gmic.co.uk
www.military.be
www.warrelics.eu
www.wehrmacht-awards.com

Sunday, September 26, 2010

Remaja-Remaja Pembela Hitler

Foto yang memperlihatkan Hitlerjugend pada tahun 1934 dengan seragam versi awalnya. Perhatikan pita hitam yang dililitkan di pita lengannya, yang kemungkinan besar merupakan tanda turut berdukacita atas meninggalnya Presiden Paul von Hindenburg pada tahun itu


Oleh : Alif Rafik Khan

“Siapapun yang ingin menjadi penguasa Jerman, maka dia harus mampu menarik simpati para remaja.” – Adolf Hitler dalam MEIN KAMPF.

Kaum Nasional-Sosialis benar-benar menerapkan doktrin sang Führer dan menjadikannya salah satu ambisi mereka untuk memimpin para anak muda Jerman serta mendidiknya dalam kepercayaan yang mereka yakini. Pada akhir tahun 1932, anggota Hitlerjugend (Remaja Hitler; disingkat HJ) hanya berjumlah kurang dari 100.000 saja. Pada bulan September 1933 anggotanya sudah ‘meledak’ menjadi 1,5 juta orang! Semua organisasi remaja di Jerman pada saat itu (kecuali remaja Katolik) dilebur ke dalam Hitlerjugend, dan pada tahun 1939 hukum mewajibkan bahwa setiap penduduk Jerman yang berusia 10 sampai dengan 18 tahun wajib menjadi anggota Hitlerjugend.

Pendidikan yang sedianya menjadi tanggungjawab dari orangtua, sekolah, gereja dan negara kini diambil alih sepenuhnya oleh partai. Baldur von Schirah ditugaskan untuk menjadi penanggungjawab utamanya, dan bahkan mempunyai kekuatan untuk “menyingkirkan peran orangtua dan sekolah formal! Akibatnya, Hitler menjadi lebih dari sekedar idola bagi sebagian besar anak muda Jerman, dan muncullah kata-kata populer seperti:

“Mengabdi pada Adolf Hitler, Hitler mengabdi pada Jerman, dan Jerman mengabdi pada Tuhan!”

Pada tahun 1933 organisasi Hitlerjugend masih berbentuk longgar layaknya sebuah organisasi cabang. Tapi tak lama kemudian NSDAP mengubahnya dan menanamkan fondasi struktural bahwa “Remaja harus pula dipimpin oleh remaja”. Disiplin menjadi lebih ketat, dan sangat banyak pelatihan serta keterampilan yang diajarkan pada ABG-ABG tersebut. Semangatnya hampir sama dengan pendiri pramuka Lord Baden Powell, yaitu untuk melakukan satu kebaikan dalam satu hari. Solidaritas, seragam, baris-berbaris dan latihan dasar di luar ruang menjadi kegiatan sehari-hari yang harus diikuti.

Pada usia 10 tahun mereka sudah harus bergabung dengan “Jungvolk” setelah melalui tes. Dalam tes ini si bocah disuruh untuk membacakan doktrin dasar Nasional-Sosialisme, menyanyikan semua versi lagu Horst Wessel, membaca peta, ambil bagian dalam pelatihan di alam terbuka, dan mengumpulkan semua barang-barang yang berharga untuk membantu usaha masa perang (kertas bekas, bahan-bahan metal dan sebagainya). Selain itu jangan pula dilupakan tes fisik yang utama, yaitu berlari sejauh 60 meter dalam 12 detik, melompat sejauh 2,75 meter, dan berbaris selama satu setengah hari! Setelah lulus dari tes ini, si bocah akan menerima sebuah belati sebagai pertanda bahwa dia telah diterima menjadi anggota penuh Hitlerjugend.

Praktek-praktek seperti menembak dan memperbaiki sepeda, sebagai contoh, diajarkan pada bocah-bocah tersebut sampai mereka berusia 14 tahun, sebelum mereka bergabung dengan “Hitlerjugend yang sebenarnya”. Kebanyakan dari remaja-remaja berusia 14-18 tahun tersebut kini telah meninggalkan sekolah untuk menjadi pekerja magang, dan menjadi ‘veteran’ dari latihan bergaya militer dan baris-berbaris yang dilakukannya selama 4 tahun penuh semasa di Jungvolk.

Itu untuk bocah-bocah lelaki, terus bagaimana dengan gadis-gadisnya? Tentu saja ada juga, dan namanya adalah Bund Deutscher Mädel (BDM). Aktivitas dari Jungmädel- Jungmädel berusia 10 sampai dengan 14 tahun ini juga tidak jauh berbeda dengan bocah lelaki. Perbedaannya adalah ditiadakannya pelatihan militer serta menembak, yang digantikan dengan tugas-tugas sosial dan kewanitaan seperti menjahit.

Seorang mantan anggota BDM mengenang: “Nenek telah membawakan rok hitam, blus putih, syal hitam serta dasi simpul coklat terbuat dari kulit – yang melambangkan kehormatan. Syal dan dasi langsung diserahkan, untuk menerimanya kembali dalam acara seremonial. Bendera-bendera berkibar diterpa angin, sementara setiap orang berbaris dalam satu garis lurus sambil mengucapkan sumpah setia. Mereka telah menerimaku sebagai salah satu bagian dari mereka, meskipun bagiku sendiri hal ini tidaklah terlalu berarti. Yang aku ingat adalah begitu banyak suara-suara bising, dan aku tak berminat mengetahui suara-suara apa saja itu. Aku pergi dalam sebuah pertemuan, dan itu adalah pertemuan pertama sekaligus terakhirku. Tak ada seorang pun yang mempertanyakannya. Pada tahun 1940 itu lebih banyak hal penting lain yang perlu dilakukan, bahkan bagi Hitlerjugend sendiri.”

Kesan masyarakat terhadap BDM kebanyakan tidaklah seindah dan semurni seperti halnya yang diinginkan oleh gerakan “Schönheit und Glaube” (sebuah grup tambahan dari BDM untuk gadis usia 17 sampai 20 tahun dimana pesertanya masuk secara sukarela dan bukannya wajib). Sementara pers Jerman di akhir 1930-an gencar mengiklankan gambaran perempuan-perempuan ras Arya ‘murni’ yang cantik dan berambut pirang panjang, timbul pula slogan-slogan ejekan seperti:

BDM = Bald Deutsche Mutter (sebentar lagi jadi ibu-ibu Jerman), atau BDM = Bedarfsartikel Deutscher Männer (komoditas cowok-cowok Jerman)!

Pasti anda bertanya-tanya kenapa BDM reputasinya bisa sejelek itu? Banyak penyebabnya, tapi salah satu contoh di bawah ini bisa menjelaskan mengapa: setelah Reichsparteitag tahun 1936 timbul rumor yang berhembus kencang dan menyebutkan bahwa tidak kurang dari 900 orang gadis BDM berusia 15 sampai dengan 18 tahun kembali ke rumah mereka dengan perut bunting!

Ketika Perang Dunia II pecah pada tahun 1939, kebanyakan remaja Jerman sudah tidak kaget akan hal itu, bahkan sesungguhnya para anggota-anggota belia HJ dan BDM lebih siap sedia dibandingkan dengan orang dewasanya! Para Hitlerjungen dan Jungmädel tak pernah merasakan pahitnya kekalahan seperti yang dialami oleh orangtua mereka dalam Perang Dunia I, sehingga mereka menghadapi Perang Dunia II dengan semangat tinggi sesuai dengan pendidikan yang telah mereka terima sebelumnya. Mereka menganggapnya sebagai sebuah petualangan besar belaka yang menyenangkan, seperti yang tersirat dalam pernyataan dari seorang anggota Hitlerjugend di bawah ini:

“Saat ini aku tak lagi ingin menjadi anggota Hitlerjugend. Tidak, aku ingin menjadi seorang serdadu! Menukik meliuk-liuk dengan Bf 109 seperti Major Mölders, menuju Inggris dengan U-boat seperti Günther Prien, mengendarai panzer menuju pantai utara Prancis seperti Guderian, atau seperti Rommel di Afrika. Biasanya kami membeli komik, tapi sekarang aku dan temanku rutin membeli “Groschenhefte” (novel murah dan sederhana) yang memuat kisah-kisah perang. Horor dari peperangan tidaklah menakutkan kami para remaja, malah menarik kami seperti magnet. Fakta bahwa kebanyakan dari kami mempunyai ayah yang kini berada di medan pertempuran tidaklah membuat kami khawatir, karena mereka telah menjalankan tugas suci untuk negaranya. Datangnya kematian ketika menghadapi musuh merupakan suatu kebanggaan yang tak ternilai, seperti yang selama ini kami pelajari dalam lagu-lagu yang diajarkan oleh Hitlerjugend.”

Kenyataannya, “Kriegseinsatz” (tugas yang diterima oleh para remaja) jauh berbeda dengan mimpi-mimpi heroik yang mereka bayangkan sebelumnya. Sammelaktionen (pengumpulan) adalah salah satu aktifitas dimana Jungvolk dan Jungmädel ikut ambil bagian. Yang mereka lakukan adalah mengumpulkan bahan-bahan metal, tulang, pakaian musim dingin, selimut, buku-buku, peralatan olahraga atau apapun yang diperintahkan oleh partai. Kriegseinsatz yang dibebankan kepada anggota-anggota lebih tua dari HJ dan BDM lebih berbeda, dan kebanyakan merupakan pekerjaan-pekerjaan yang biasanya dilakukan oleh orang dewasa, terutama setelah tahun 1943 dan seterusnya.

Anggota Hitlerjugend bekerja sebagai pembawa berita atau pengawal pejabat partai. Mereka juga bekerja bersama-sama dengan gadis-gadis BDM sebagai pemberi peringatan serangan udara. Pekerjaan lainnya yang mereka lakukan adalah sebagai pemadam kebakaran dan petugas pos, juga pembantu polisi, membagikan kartu ransum, menjadi petugas di stasiun kereta api dan ikut mengawasi pelaksanaan black-out (kegelapan total) di malam hari. Masih kurang? Mereka juga menjadi kurir Wehrmacht, menyambungkan saluran komunikasi yang terputus dan menjadi operator telepon. Bocah lelaki dan perempuan bekerja dalam bisnis pengangkutan makanan sekaligus menjualnya. Ada pula yang bekerja di bagian pelayanan masyarakat sebagai pembersih jalanan dari salju. Para gadis biasanya bertugas di wilayah sosial seperti membantu ibu-ibu dan anaknya di rumah mereka, menjadi guru TK atau melayani para manula. Bidang pekerjaan lain bagi para gadis muda ini adalah menjadi perawat di kamp dan rumah sakit. Pada tahun 1940 jumlah remaja perempuan yang bekerja di rumah adalah 318.782 orang, bekerja di Palang Merah sebanyak 64.106 orang, bekerja di rumah sakit lapangan sebanyak 60.263 orang, dan bekerja di “Kriegsehrendienst” (Pusat Kesejahteraan Kereta Api) sebanyak 107.185 orang. Tugas-tugas mulia di masa sulit ini termasuk pula memberi bantuan secara sukarela terhadap para janda perang, pengungi dan orang yang kehilangan rumahnya.

Tentunya peran serta mereka mendapat apresiasi yang tinggi dari masyarakat dan negara. Pada tahun 1944 mesin propaganda NSDAP mencanangkan tahun 1944 sebagai “Jahr der Kriegsfreiwilligen” (Tahun Sukarelawan Perang). Pada tahun 1945, seluruh murid sekolah dipanggil untuk menjalankan tugas negara secara “sukarela”.

Melitta Maschmann, seorang mantan BDM Führerin, mengingat:

“Aku melihat seorang Flakhelfer yang terbujur mati di sebelah temannya di pinggiran kota Berlin. Serangan udara Sekutu baru saja berhenti. Unit Flak (Anti Serangan Udara) tempat mereka bertugas baru saja dihantam bom dengan telak. Aku lalu pergi ke sebuah barak dimana orang-orang yang selamat dikumpulkan. Disana para bocah lelaki muda duduk di lantai dengan wajah pucat pasi dan pandangan kosong seakan begitu tergoncang atas peristiwa yang baru saja mereka alami sebelumnya. Orang-orang yang terluka ditempatkan di ruang sebelah. Salah satu di antaranya, seorang bocah lelaki dengan wajah bulat kekanak-kanakan berusaha untuk bangkit dengan susah payah demi memberi penghormatan kepada perwira yang berada bersamaku. Ketika si perwira menanyakan apakah dia kesakitan, dia menjawab:

“Iya pak, tapi itu tidak penting lagi buat saya. Yang penting adalah Jerman harus menang!”

SALUT!!


Sumber :
www.bills-bunker.privat.t-online.de
www.wehrmacht-awards.com


Wednesday, September 22, 2010

SS-Standartenführer Joachim 'Jochen' Peiper (1915-1976), Si Komandan Batalion Pembakar!


Oleh : Alif Rafik Khan

Buat album foto Jochen Peiper bisa diLEBOK DISINI!

Joachim Sigismund Albrecht Klaus Arved Detlev “Jochen” Peiper dilahirkan tanggal 30 Januari 1915 dari keluarga kelas menengah di wilayah Silesia yang berada di perbatasan Jerman dan Polandia. Ayahnya adalah seorang perwira di Angkatan Darat Kekaisaran Jerman dan ikut bertempur tahun 1904 di Afrika Timur dimana dia kemudian memperoleh Eisernes Kreuz (Salib Baja/Iron Cross) setelah terluka dalam pertempuran berkali-kali dan terjangkit malaria. Ketika Perang Dunia I pecah, ayahnya kembali bertugas dan dikirimkan ke Turki. Sayangnya, gangguan jantung yang merupakan bawaan dari penyakit malarianya di masa lalu membuat dia terpaksa pensiun dini pada tahun 1915. Setelah perang, Peiper senior bergabung dengan Freikorps dan ikut serta dalam usaha memadamkan pemberontakan kaum Komunis di Silesia.

Jochen mempunyai dua saudara, Hans-Hasso dan Horst. Hans-Hasso pernah mencoba bunuh diri tapi kemudian bertahan hidup dengan hanya memakan tumbuh-tumbuhan (vegetarian) sepanjang sisa umurnya. Dia meninggal tahun 1942 di rumah sakit Berlin akibat serangan tubercolosis. Jochen sendiri mempunyai masa remaja yang normal-normal saja, dan aktif mengejar cita-citanya di bidang akademis. Pada tahun 1926 dia mengikuti jejak saudaranya, Horst, dengan bergabung bersama organisasi kepanduan lokal. Selama masa pelatihannya dengan pramuka inilah Jochen mulai tertarik untuk menjalani karir di bidang militer.

Jochen Peiper baru berusia 18 tahun ketika Adolf Hitler diangkat sebagai Kanselir Jerman yang baru. Pada tahun yang sama, dia dan saudaranya Horst secara sukarela bergabung dengan Hitlerjugend (Anak Muda Hitler) sebelum dia menjadi kewajiban bagi seluruh remaja Jerman.

Peiper menginginkan untuk bergabung dengan Reiterregiment 4, sebuah divisi kavaleri di dalam tubuh Pasukan Pertahanan Jerman. Untuk memperoleh skill dalam berkuda, dia menuruti saran salah seorang sahabat keluarganya, jenderal Walther von Reichenau (nantinya menjadi Generalfeldmarschall), dan kemudian mendaftar di 7. SS Reiterstandarte pada tanggal 12 Oktober 1933. Tanggal 23 Januari 1934 dia dipromosikan menjadi SS-Mann dengan nomor anggota 132.496. Pada tahun 1934, selama berlangsungnya kegiatan rutin rapat akbar partai Nazi di Nürnberg, dia dipromosikan kembali menjadi SS-Sturmmann. Pada tahun yang sama prestasinya menarik perhatian dari Heinrich Himmler langsung, yang kemudian meyakinkannya untuk mendaftarkan diri di SS-Verfügungstruppe. Pada tahun 1935 Peiper menulis dalam resumenya: “Sebagai akibat dari nasihat pribadi Reichsführer-SS Himmler, aku memutuskan untuk mengejar karir sebagai perwira senior aktif di SS.”

Beberapa bulan kemudian Peiper malah mempertimbangkan untuk meninggalkan sekolah sebelum menyelesaikan ujian akhirnya. Pada bulan Januari 1935 dia dikirimkan ke kamp untuk anggota Hitlerjugend, SA dan SS di dekat Jüterbog, yang berdampingan dengan kamp pelatihan reguler Angkatan Darat terbesar Jerman plus sekolah artileri. Peiper mengikuti kursus kepelatihan (yang telah berjalan selama beberapa waktu pada bulan November 1934 itu), dan disokong penuh oleh Himmler dan Sepp Dietrich. Setelah dia menyelesaikan kursusnya, dia dipromosikan menjadi SS-Unterscharführer. Jenjang karir lebih tinggi kini terbuka lebar bagi si anak muda yang penuh ambisi tersebut!

Tanggal 24 April 1935, Peiper menghadiri peresmian sebuah sekolah pelatihan perwira SS yang baru di Braunschweig di bawah komando Paul Hausser. Peiper kemudian menulis bahwa tujuan pembentukan sekolah tersebut bukanlah untuk melatih calon-calon perwira SS, melainkan calon perwira Heer (Angkatan Darat).

Peiper mengambil sumpah setia prajurit SS pada bulan November 1935, dilanjutkan dengan menyelesaikan pendidikannya di Junkerschule pada bulan Januari 1936. pada bulan Februari dan Maret 1936 dia mengikuti pelatihan lanjutan di Kamp Konsentrasi Dachau yang saat itu dijaga oleh SS-Totenkopfverbände. Tanggal 20 April 1936 dia dipromosikan menjadi SS-Unterführer dan, setelah mengambil cuti selama beberapa waktu, kemudian bergabung dengan Leibstandarte SS Adolf Hitler di bawah komando Sepp Dietrich. Dia tetap tinggal di unitnya sampai dengan bulan Juni 1938.

Perlu diketahui bahwa walaupun Peiper aktif sebagai perwira SS, dia TIDAK PERNAH bergabung sebagai anggota Partai Nazi. Daftar resmi dari seluruh perwira SS menengah dan senior (SS-Dienstalterslisten) tidak pernah mencantumkan nama Peiper di dalamnya!

Tanggal 4 Juli 1938, Peiper ditransfer untuk menjalani tugas administratif sebagai ajudan dari Heinrich Himmler di bawah pimpinan Karl Wolff. Himmler selalu menganggap ini sebagai langkah yang diperlukan bagi para perwira berbakat SS untuk menapaki jenjang karir yang lebih tinggi. Peiper menghabiskan sebagian besar waktunya dengan bekerja di kantor SS-Hauptamt yang berlokasi di Prinz-Albrecht-Straße. Sebagai anggota staff Reichsführer-SS, sudah tentu Peiper kemudian berhubungan dekat dengan banyak perwira SS tingkat tinggi. Dia kemudian menjadi ajudan favorit Himmler, dan statusnya naik dengan menjadi staff pribadi Himmler sekaligus menemaninya dalam kunjungan kenegaraan ke Italia.

Peiper dipromosikan menjadi Obersturmführer (Letnan Satu) tepat pada hari ulangtahunnya yang ke-24. Di sekitar saat ini pula dia berkenalan dengan Sigurd (Sigi) Hinrichsen, yang merupakan sekretaris staff pribadi Himmler. Sigurd sendiri merupakan teman dekat dari Hedwig Potthast (nyonya Himmler), dan kedua saudaranya bergabung menjadi anggota SS (yang tertua kemudian meninggal dalam peristiwa tenggelamnya kapal perang Bismarck). Peiper dan Sigurd Hinrichsen menikah pada tanggal 26 Juni 1939 dalam sebuah upacara yang kental nuansa SS-nya. Pasangan suami istri baru ini kemudian memutuskan untuk tinggal di Berlin, sampai kemudian serangan udara Sekutu pertama ke kota tersebut membuat mereka merubah niatnya dan pindah ke Rottach di Bavaria Atas, yang berlokasi di dekat rumah kedua Heinrich Himmler dan beberapa kroninya. Pasangan Peiper dan Sigurd dikaruniai tiga orang anak: Heinrich, Elke dan Silke.

Pada saat yang sama, saudara Peiper yaitu Horst ikut bergabung juga dengan SS, dengan pangkat terakhir sebagai Hauptsturmführer (Kapten). Dia ikut berpartisipasi dalam Pertempuran Prancis (1940) bersama dengan Divisi SS ke-3 “Totenkopf” sebelum kemudian dipindahkan ke Polandia. Tak lama setelahnya Horst meninggal secara tragis dalam sebuah kecelakaan.

Pada tanggal 1 September 1939 Jerman menginvasi Polandia, dan 16 hari kemudian Uni Soviet ikut nimbrung dengan menyerbu dari Timur. Peiper tetap sebagai ajudan dari Himmler dan ikut runtang-runtung dengan menaiki kereta api khusus Reichsführer-SS. Peiper bekerja begitu dekatnya dengan tuannya, dan pada tanggal 20 September ikut serta menjadi “penonton” dari upacara eksekusi 20 orang Polandia. Peiper kemudian menulis bahwa peristiwa tersebut membuat Himmler terguncang dan tak dapat berkata apa-apa selama beberapa hari!

Setelah Polandia nyuksruk, Peiper melanjutkan kerjanya bersama Himmler yang saat itu mengembangkan kebijakan dan rencana untuk populasi Polandia. Peiper menemani Himmler ke upacara peringatan Feldherrnhalle di Münich pada tanggal 9 Oktober 1939, juga ikut menyaksikan penggasan para penghuni rumah sakit jiwa di Poznan. Dalam interogasi pasca perang, Peiper mendeskripsikan pengalamannya tersebut dengan sikap yang santai dan dingin!

Tanggal 17 Mei 1940 Peiper menemani Himmler yang mengikuti pergerakan pasukan Waffen-SS selama berlangsungnya Pertempuran Prancis. Di Hasselt dia mendapat izin untuk bergabung dengan sebuah unit tempur dan menjadi pemimpin peleton di 11. Kompanie dari 1. SS Division Leibstandarte SS Adolf Hitler (LSSAH). Disinilah dia mengalami rasanya alam pertempuran yang sebenarnya. Tak lama Peiper dipromosikan menjadi komandan kompi. Setelah berhasil menduduki sebuah baterai artileri Inggris di bukit Wattenberg, dia dianugerahi Iron Cross dan naik pangkat lagi menjadi Hauptsturmführer.

Tanggal 21 Juni 1940, kurang dari satu bulan kemudian, Peiper kembali ke pekerjaan lamanya sebagai ajudan Himmler. Tanggal 10 Juli 1940 dia menemani Himmler ke Berghof untuk mengikuti pertemuan para pemimpin Reich. Perlawanan Inggris yang keukeuh tidak mau menyerah di bawah pimpinan Winston Churchill telah memberantakkan rencana Hitler.

Setelah bergabung kembali sebagai staff Himmler, Peiper ikut menemaninya dalam kunjungan ke Madrid bulan Oktober 1940 dimana disana sang Reichsführer-SS bertemu dengan diktator Franco. Setelah melewati kota Metz, mereka berhenti di Dax dimana Himmler bertemu dengan Theodor Eicke, komandan Divisi SS Totenkopf. Tak lama kemudian, Peiper ditunjuk sebagai ajudan pertama Himmler tanggal 14 November 1940. Bulan Januari 1941 Peiper ikut menemani Himmler dalam inspeksi ke kamp konsentrasi Nazi di Ravensbrück dan Dachau. Pada bulan Maret 1941, bersama dengan Karl Wolf dan Fritz Bracht, mereka giliran mengunjungi Auschwitz.
Pada bulan Februari 1941 Himmler memberitahu Peiper tentang rencana invasi Jerman ke Uni Soviet. Himmler dan staffnya “berkelana” ke Norwegia, Austria, Polandia, dan wilayah Balkan di Yunani. Dalam perjalanan ini termasuk pula kunjungan ke Ghetto Lodz dimana Peiper kemudian menulis:

“Benar-benar pemandangan yang menakutkan! Kami menyaksikan bagaimana para polisi Yahudi Ghetto, yang mengenakan topi tanpa pinggiran dan bersenjatakan pemukul dari kayu, sibuk memberi jalan untuk kami. Para tetua Yahudi juga memberi persembahan sebuah buket bunga untuk Himmler.”

Operasi Barbarossa dimulai pada tanggal 22 Juni 1941. Einsatzgruppen yang berada di bawah kontrol SS-Reichssicherheitshauptamt (Kantor Keamanan Utama Reich) mengadakan perang tersendiri di garis belakang, dengan target utamanya adalah pada Untermensch yang terdiri dari partisan, komunis dan Yahudi. Tugas Peiper sebagai ajudan pertama termasuk pula memberikan data-data “prestasi” Einsatzgruppen di Front Timur kepada Himmler.

Selama musim panas tahun 1941, Peiper mendelegasikan tugasnya sebagai ajudan pertama Himmler ke Werner Grothmann. Kenapa? Ternyata Himmler menginginkan Peiper untuk bertugas di unit tempur seperti keinginannya selama ini, selain juga untuk melindungi ajudan kesayangannya dari rumor tentang meninggalnya saudaranya juga desas-desus bahwa saudaranya itu adalah seorang maho alias homoseks. Tapi meskipun kini tidak lagi berdekatan, Peiper tetap berhubungan erat dengan Himmler, dan dalam surat menyurat rutin di antara mereka sampai berakhirnya perang, Himmler selalu menyebut Peiper sebagai “my dear Jochen”. Sadaaap...

Peiper sekarang bukan lagi ajudan pertama Himmler, tapi ia tetap rutin menulis di catatan harian Himmler sampai dengan pertengahan September 1941. Mungkin saja Peiper telah ditransfer ke 1. SS Division Leibstandarte SS Adolf Hitler lebih awal sebagai observer untuk Reichsführer-SS, tapi dokumen yang tersedia menyebutkan bahwa ia secara resmi dipindahkan ke divisi tersebut sebelum Oktober 1941. Ketika ia bergabung dengan unitnya yang baru, saat itu Leibstandarte sedang sibuk bertempur melawan pasukan Rusia di dekat Laut Hitam. Pada awalnya Peiper ditempatkan di markas besar untuk menangani urusan administrasi, tapi kemudian Kesempatan untuknya beraksi datang ketika seorang komandan unit yang cedera membuatnya ditugaskan untuk mengambil alih komando dari 11. Kompanie.

11. Kompanie berjibaku di Mariupol dan Rostov-on-Don. Bisa dibilang, pada awalnya anggota pasukannya tidak terlalu “antusias” untuk menerima komandan barunya yang hanya sedikit saja mempunyai pengalaman tempur sebelumnya. Tapi kemudian mereka tercengang! Peiper langsung memberi semangat bertempur baru yang tidak pernah ditanamkan oleh komandan terdahulu, dan unitnya menarik perhatian Sepp Dietrich sang komandan divisi ketika mereka berubah menjadi unit tempur yang SANGAT agresif mengobrak-abrik musuh! Tentu saja hal ini berujung pula pada tingginya angka korban perang yang diderita oleh unit tersebut. Kompi Peiper tercatat telah membunuh beberapa tawanan perang, suatu praktek yang umum dilakukan oleh pihak Jerman dan Soviet di medan perang Front Timur yang brutal saat itu.

Pada bulan Mei 1942 Peiper akhirnya mengetahui kabar yang sebelumnya berusaha ditutup-tutupi ole Himmler: meninggalnya kakak tercintanya Hans Hasso. Hatinya tentu saja hancur mendengar berita yang menyesakkan tersebut, meskipun ia berusaha tetap tegar di depan anakbuahnya. Pada bulan itu juga Leibstandarte ditarik pulang ke Prancis untuk menjalani istirahat dan pemulihan. Dalam perjalanan pulang dari Rusia, Peiper meninggalkan unitnya dan bertemu dengan Himmler di markas besarnya tanggal 1 Juni. Dalam pertemuan reuni tersebut hadir pula Rudolf Brandt (sekretaris Reichsführer-SS) dan Heinz Lammerding (anggota staff markas Divisi SS “Totenkopf”). Peiper kembali bertemu dengan Himmler bulan Juli 1942 dan tidak bergabung dengan batalionnya sampai dengan bulan Agustus 1942.

Selama masa tinggalnya di Prancis, Leibstandarte direorganisasi menjadi sebuah divisi Panzergrenadier (infanteri bermotor). Peiper ikut naik pangkat menjadi komandan dari 3. Battailon, dan dia memanfaatkan masa istirahat ini dengan menanamkan disiplin tinggi pada anakbuahnya, agar mereka mempunyai semangat tempur dan motivasi yang sama seperti dia.

Pada akhir tahun 1942, Peiper menerima izin untuk mengunjungi keluarganya. Tanggal 30 Januari 1943 dia dipromosikan menjadi SS-Sturmbannführer (Mayor).

Sementara itu, di Front Timur situasi makin kurang menguntungkan bagi pasukan Jerman yang bertempur disana, terutama dalam Pertempuran Stalingrad yang sedang terjadi. Batalion Peiper meninggalkan markasnya yang damai di Prancis tanggal 31 Januari 1943 dan tiba di wilayah Lyubotin, dekat Kharkov, dan langsung diterjunkan ke front pertemuran. Seluruh pasukan Jerman kini terlibat dalam perang pertahanan diri, bukan lagi ofensif seperti sebelumnya.

Selama berlangsungnya Pertempuran Kharkov, Peiper memimpin 3. Battailon dari 2. Panzergrenadier Regiment dengan keberanian yang mengagumkan: ia berhasil menerobos sejauh 48 kilometer (30 mil) ke wilayah musuh untuk menyelamatkan 320. Infanterie-Division yang terjebak dan telah mempunyai korban 1.500 orang. Ia memimpin langsung ambulans-ambulans yang segera balik kembali ke wilayah yang diduduki Jerman. Ketika ia menemukan bahwa jembatan yang melintasi sungai Udy telah dihancurkan oleh sebuah batalion ski Soviet (yang kini mengambil posisi bertahan di rumah-rumah yang berada di pinggir sungai), Peiper bukannya berpikir pragmatis balik badan untuk mencari jalan lainnya. No sir! Sifat agresifnya tidak mengizinkan hal tersebut. Ia langsung memerintahkan pasukannya untuk tetap maju terus, menduduki satu demi satu rumah yang diduduki musuh, sambil di lain pihak pasukan zeninya sibuk bekerja keras membetulkan jembatan demi mengamankan jalan keluar bagi ambulans-ambulans yang membawa pasukan yang terluka. Sayangnya, jembatan yang dibikin terburu-buru tersebut tidak dapat menampung kendaraan berat lapis baja yang ikut bersamanya. Peiper segera memerintahkan pasukannya untuk kembali ke wilayah Soviet untuk mencari jalan keluar lain. Akhirnya mereka berhasil sampai ke wilayah Jerman dengan korban yang sedikit saja! Pihak Soviet langsung grasa-grusu, dan menuduh bahwa selama penyerbuan “barbarnya” tersebut, Peiper telah membakar dua buah desa dan membantai penghuninya!

Atas pencapaiannya di bulan Februari 1943 ini, dia dianugerahi oleh Deutsches Kreuz in Gold tanggal 6 Mei 1943. Belajar dari pengalamannya terdahulu, Peiper mengembangkan taktik yang kemudian menjadi ciri khasnya: menyerang sebuah wilayah/desa yang diduduki musuh pada waktu malam dari segala penjuru, sambil menggerakkan halftrack lapis bajanya dengan kecepatan penuh dengan tugas untuk menembaki setiap bangunan. Metode ini membuat rumah-rumah yang ditempati musuh (yang kebanyakan masih sederhana dengan atap alang-alang) cepat tersambar api sehingga membuat panik lawannya. Hasilnya, unit Peiper mendapat julukan sebagai “Batalion Pembakar”. Bukannya tersinggung, Peiper malah bangga dengan julukan ini, dan ia menjadikan simbol sebuah obor (pembakar) sebagai lambang tidak resmi dari unitnya, sekaligus menambahkan simbol tersebut dengan dicat di kendaraan-kendaraan batalionnya. Simbol ini sekaligus juga menunjukkan keteguhan Peiper yang akan tetap bergerak maju menghadapi musrik eh musuh betapapun resiko menghadang di depannya!

Pada tanggal 9 Maret 1943 dia dianugerahi penghargaan tertinggi Jerman, Ritterkreuz (Salib Ksatria/Knight’s Cross). Untuk apa? Mari kita lihat kutipan yang terdapat di dokumen pengiringnya:

“Di Stawerowka, 3. Battailon diperintahkan untuk menduduki wilayah Zigderowka. Misi ini dilaksanakan pada malam hari dengan menghadapi perlawanan yang berat. Hasilnya? Batalion musuh kocar-kacir, sekaligus dirampas dan dihancurkan pula empat buah senjata 7.62, sebuah senjata infanteri, 10 mortir dan banyak senapan mesin dan pistol lainnya. Tidak berhenti sampai disana, Peiper langsung melanjutkan gerakan majunya melalui Kasatschij Maidan. Disana dia menghadapi perlawanan dari batalion musuh yang lain, dan melakukan serangan secara mendadak. Tak lama Kasatschij Maidan telah diduduki dengan kerugian besar di pihak Rusia. Dari sini Peiper mempersiapkan batalionnya untuk serangan terhadap Jeremejewka, melakukannya di waktu subuh dan berhasil mendudukinya pula. Dengan memanfaatkan kepanikan di pihak musuh, batalionnya melanjutkan gerak maju ke Leninskij dan menghancurkan perlawanan terakhir. Dengan sebuah gerakan yang cepat dan taktis, dia telah menimbulkan korban besar pada musuhnya yang langsung blingsatan kabur melalui padang terbuka. Batalionnya berhasil menghancurkan sebuah T-34, enam senjata 7.62, dan merampas 300 kuda. Tiga lajur pasukan ski musuh ikut hancur. Jumlah korban manusia di pihak Rusia adalah antara 800 sampai dengan 900. Dalam semua pertempuran ini, SS-Sturmbannführer Peiper telah menunjukkan kemampuannya yang brilian dalam memimpin batalionnya dengan hasil yang memuaskan, sehingga pantas saja dia sebelumnya telah dianugerahi oleh Deutsches Kreuz in Gold.”

Dalam periode ini, Peiper mulai dikenal luas oleh pers Jerman sebagai seorang pemimpin yang luar biasa. Surat kabar resmi Waffen-SS, Das Schwarze Korps (Korps Hitam) menggambarkan aksi Peiper di Kharkov:

“Dalam persiapan penyerangan Kharkov, atas inisiatifnya sendiri SS-Sturmbannführer Peiper berhasil dua kali menduduki sebuah jembatan yang terbukti memberi peran penting dalam pergerakan pasukannya yang menyerang musuh. [...] mekipun demikian, SS-Sturmbannführer Peiper selalu berhasil menguasai situasi, seburuk apapun keadaannya. [...] setiap perwira dan anggota dari Kampfgruppe Peiper mempunyai perasaan aman dalam diri mereka. Disinilah seorang pria yang akan selalu memikirkan dan mengurusi mereka, yang selalu berpikiran cepat dan memerintahkan pasukannya dengan tindakan yang tepat. Keputusannya kadang kala terlihat gegabah dan tergesa-gesa, tapi pada akhirnya waktu yang membuktikan bahwa ia adalah benar adanya. Dengan begini setiap orang dapat merasakan bahwa mereka dipimpin oleh seorang manusia dengan intelektual tinggi sehingga mereka merasa nyaman di bawah komandonya. Tentu saja, sang komandan sendiri menggantungkan keberhasilannya kepada keberanian dan keberuntungan anak buahnya yang berada di garda terdepan. Kepercayaan yang tak berbatas dari anakbuahnya telah membuat kita berpikir bahwa telah lahir seorang pemimpin yang ditakdirkan, yang selalu merasa bertanggungjawab terhadap setiap jiwa yang dipimpinnya, tapi juga yang bisa bersikap keras apabila diperlukan. Setiap perintah yang datang dari dirinya bukanlah berasal dari kepintaran pertimbangan semata, melainkan datang dari seorang manusia yang hati, pikiran dan tangannya berada pada tempat yang sama.”

Penggambaran skill taktisnya membuat nama Peiper mencuat sebagai salah satu simbol Waffen-SS setelah perang. Mantan anakbuahya di batalion SPW Peiper mempunyai pandangan yang sama terhadap pemimpinnya tersebut. Dia dilihat sebagai orang yang selalu mentaati perintah tanpa perlu membantah atau setidaknya mendiskusikannya terlebih dahulu, dan yang juga mengharapkan hal yang sama dari anakbuahnya sendiri.

Dalam Pertempuran Kharkov ronde ketiga, pihak Jerman pada ujungnya gagal mengambil inisiatif pertempuran. Beberapa bulan kemudian LSSAH terlibat dalam Operasi Zitadelle di wilayah Kursk. Meskipun dalam operasi ini LSSAH tidak berhasil mencapai targetnya, tapi unit yang dipimpin oleh Peiper tetap berhasil menonjolkan dirinya dalam pertempuran yang berlangsung brutal. LSSAH kemudian ditarik dari Front Timur tanggal 17 Juli 1943 dan ditransfer ke Italia Utara di wilayah Cuneo.

Setelah pihak Italia menyerah dini ke tangan Sekutu, LSSAH berkeliling Italia dengan tugas untuk mempreteli persenjataan bekas sekutunya demi mencegah mereka menyerang pasukan Jerman yang ditempatkan disana. Dari bulan Agustus 1943, batalion Peiper ditempatkan di dekat Cuneo. Tanggal 10 September dia mendapat perintah untuk melucuti senjata garnisun-garnisun Italia di Alessandria dan Asti.

Tanggal 19 September para gerilyawan Italia di desa Boves menangkap dua orang anak buah Peiper. Faustino Dolmazzo, salah seorang penasihat kaum gerilyawan tersebut, melaporkan bahwa ketika Peiper tiba di Boves, dia memerintahkan dua orang lokal (salah satunya pendeta di desa tersebut) untuk merundingkan rencana pembebasan kedua orang perwiranya. Peiper berjanji bahwa pihak Jerman tidak akan melakukan pembalasan.

Kedua orang tersebut dibebaskan sekitar jam 15.00, dan kemudian Jerman membakar semua rumah di desa itu dengan api. Pihak Jerman juga membantai 22 orang yang mencoba melarikan diri. Kedua orang negosiator Italia ditemukan di antara jenazah-jenazah yang sudah rusak terbakar. Mereka berhasil diidentifikasi berdasarkan gigi palsu yang dikenakan salah seorang di antaranya dan kunci kamar doa yang ditemukan di tubuh orang kedua.

Peiper bersikeras bahwa unitnya tidak ikut ambil bagian dalam pembantaian kaum sipil di Boves tersebut. Dia mengaku bahwa dia memang mengirimkan anakbuahnya untuk melakukan pencarian terhadap dua orang perwiranya yang diculik oleh para partisan Italia (yang membawanya ke pegunungan Bisalta di dekat situ). Dalam operasi pencarian tersebut, sebuah peleton Jerman disergap oleh gerilyawan. Ketika unit tambahan diterjunkan untuk membantunya, mereka pun mendapat tembakan gencar dari pihak musuh. Artileri Jerman segera bereaksi, yang kemudian memicu terjadinya kebakaran. Peiper melanjutkan bahwa unit atilerinya tetap tinggal di Boves untuk menghancurkan amunisi dan persenjataan lawan yang masih tersisa.

Pada waktu yang sama, kaum Yahudi lokal ditangkapi dan dipersiapkan untuk diberangkatkan ke kamp-kamp konsentrasi. Simon Wiesenthal menuduh Peiper telah membantu penangkapan dan deportasi Yahudi di Italia Utara, suatu tuduhan yang keukeuh disangkal oleh Peiper sampai dengan saat kematiannya. Kebalikannya, Peiper menuduh Wiesenthal telah menghancurkan kehidupan pribadi pasca-perangnya. Peiper mengklaim bahwa di bawah perintahnya langsung, dia sebenarnya telah melepaskan sebuah kelompok Yahudi dari kamp konsentrasi yang dikelola oleh orang Italia. Bukan, bukan karena dia mulai bersimpati pada kaum Yahudi, melainkan karena rabbi pemimpin kelompok tersebut sama-sama berasal dari Berlin seperti dirinya! Cerita Peiper ini tidak bisa dibuktikan kebenarannya. Yang jelas, memang benar ada catatan yang menyebutkan bahwa terdapat sebuah keluarga Yahudi yang berdiam di Cuneo yang berasal dari Berlin. Keluarga ini lalu ditangkap sama seperti keluarga Yahudi lainnya, lalu diberangkatkan ke Drancy sebelum dipindahkan ke Auschwitz. Konon mereka semua menemui ajalnya disana.

Pada akhir masa tinggalnya di Italia, LSSAH di-upgrade statusnya menjadi sebuah divisi panzer. Karena situasi di Front Timur yang makin memburuk saja dari waktu ke waktu, maka LSSAH kembali dikirim kesana.

Awal November 1943 unit Peiper tiba di tempat tujuannya di Rusia, dimana dia langsung turut serta dalam pertempuran seru di wilayah Zhytomyr. Tanggal 20 November Georg Schönberger terbunuh dalam pertempuran, dan Peiper segera mengisi tempatnya sebagai komandan dari 1. SS Panzer Regiment (yang dia jalani sampai dengan akhir perang). Dia telah meninggalkan posisi sebelumnya sebagai komandan sebuah batalion infanteri bermotor untuk menjadi pemimpin sebuah resimen tank, dan pada saat itu usianya baru 28 tahun! Di bawah komandonya, 1. SS Panzer Regiment bertempur tanpa henti melawan pasukan Soviet (yang makin terlatih dari waktu ke waktu) di tengah cuaca musim dingin yang membekukan. Disini Peiper tetap menunjukkan bakat kepemimpinannya yang luar biasa. Berkali-kali unit panzernya memegang peranan penting dalam melumpuhkan ofensif Soviet di wilayah Zhytomyr. Dalam salah satu momen terbaiknya, dia dan pasukannya memutar untuk menyerang balik wilayah belakang pasukan Rusia yang sedang asyik menyerang dan berhasil menduduki empat markas divisi musuh! Untuk aksinya ini dia langsung diganjar dengan Eichenlaub sebagai tambahan untuk Ritterkreuz-nya.

Tapi tentu saja terdapat kekurangan yang kentara dalam gaya kepemimpinannya. Sebagai komandan pasukan infanteri, Peiper biasa memimpin pasukannya di dalam kendaraan lapis baja semacam SdKfz 250 atau 251, dan “hobi”-nya ini terbukti efisien dalam pergerakan prajuritnya saat itu yang kebanyakan merupakan pejalan kaki. Taktik ini tidak berlaku untuk pasukan panzer yang lebih mobil, dan terbukti kemudian strategi perangnya menimbulkan banyak kerugian manusia dan material (walaupun dia dianggap berhasil mencapai tujuannya). Hanya dalam waktu satu bulan setelah Peiper mengambil alih pimpinan 1. SS Panzer Regiment, jumlah panzer di unitnya menyusut begitu drastis sehingga tinggal menyisakan 12 buah saja yang operasional! Tentu saja hal ini membuat beberapa perwira bawahannya menjadi tidak menyukainya. Di pihak lain, pertempuran brutal yang melibatkan unitnya tetap berlanjut: tanggal 5 dan 6 Desember 1943 dia berhasil membunuh 2.280 prajurit Rusia dan hanya mengambil tiga orang tawanan saja! Desa Pekartschina dibakar sampai ludes dengan penyembur api dan penduduknya dibunuh karena dianggap membantu pasukan musuh.

Tanggal 20 Januari 1944 Peiper ditarik dari front dan meninggalkan unitnya. Dia langsung berangkat ke markas besar Hitler untuk menerima medali Eichenlaub barengan dengan beberapa prajurit Wehrmacht lain yang menerima “nasib” yang sama. Tak lama kemudian, di hari ulang tahunnya yang ke-29, Peiper dipromosikan menjadi SS-Obersturmbannführer (Letnan Kolonel).

Ternyata saat itu diketahui bahwa Peiper berada dalam kondisi fisik dan mental yang buruk akibat dari pertempuran nonstop yang terus-menerus dijalaninya. Pemeriksaan medis yang dilakukan oleh dokter SS di Dachau memberi kesimpulan bahwa dia benar-benar membutuhkan istirahat yang cukup. Dia lalu diizinkan untuk menemui istrinya di Bavaria.

Bulan Maret 1944 LSSAH ditarik kembali dari Front Timur, dan proses perpindahan semua unit baru selesai tanggal 24 Mei. Peiper sendiri bergabung dengan unitnya di bulan April. Pertempuran di Front Timur telah menyedot begitu banyak sumber daya manusia dan material dari LSSAH, sementara para rekrutan baru yang ditarik untuk menggantikan korban yang jatuh tidaklah mempunyai kualitas yang sama dengan sukarelawan pendahulunya pada masa sebelum perang yang direkrut berdasarkan kriteria dan pengujian yang ketat. Dalam konteks inilah terjadi sebuah insiden yang patut untuk Om Ganteng ketengahkan:

Lima orang rekrutan baru terbukti bersalah telah merampas makanan, ayam dan daging babi dari penduduk sipil Belgia dimana mereka ditempatkan. Dalam persidangan militer mereka mengaku perbuatannya dan kemudian tanpa ampun langsung dijatuhi hukuman mati! Bisa dianggap bahwa hukuman ini terlalu berat bila dibandingkan dengan kesalahan yang telah mereka perbuat, terutama bila melihat kasus-kasus yang terdahulu dan sejenis. Peiper memerintahkan kelima orang naas ini dieksekusi tanggal 28 Mei 1944 sekaligus memerintahkan para rekrutan muda lainnya untuk berbaris melintasi jenazah mereka! Banyak yang bilang bahwa hukuman mati ini telah menimbulkan kegoncangan dan membuat moral anakbuah Peiper menjadi merosot. Masa tinggal LSSAH di wilayah Limburg (Belgia) kebanyakan diisi dengan latihan dan penambahan persenjataan. Hal ini bukanlah hal yang mudah bila melihat pada saat itu pihak Jerman menderita kekurangan material dan bahan bakar yang parah.

Pendaratan pasukan Sekutu di Normandia membuat LSSAH diperlukan keberadaannya di Front Barat. Tanggal 17 Juni divisi tersebut mulai berangkat dengan tujuan Caen, meskipun beberapa resimen panzernya tetap tinggal di Belgia untuk menanti kedatangan tank-tank baru. Hambatan lain menghadang karena LSSAH harus bergerak dengan hati-hati dan hanya di waktu malam dikarenakan begitu dominannya kekuatan udara musuh. Waktu mulai bergerak pun mereka harus menunggu pula selama beberapa waktu karena kereta yang akan membawa mereka diperintahkan terlebih dahulu untuk mengangkut Yahudi asal Hungaria ke kamp konsentrasi. Seluruh divisi tidak mencapai tujuannya sampai dengan tanggal 6 Juli 1944. tanggal 28 Juni, 1. SS Panzer Regiment di bawah pimpinan Peiper tiba di front dan langsung beraksi di medan pertempuran. Seperti semua unit-unit Jerman lainnya di wilayah tersebut, mereka harus bertempur secara defensif sampai dengan terobosan di Avranches yang berawal di akhir Juli dan berakhir di awal Agustus. LSSAH betempur dengan kekuatan 19.618 orang, dan tak lama mereka sudah kehilangan 25% dari tentara dan panzernya! Sudah tentu kekuatannya menjadi pincang dan tak lagi dianggap mempunyai kapasitas operasional oleh OKW. Dalam susunan kekuatan resmi yang dikeluarkan Wehrmacht tanggal 16 September 1944, LSSAH tidak lagi disebut sebagai divisi melainkan hanya sebuah Kampfgruppe (grup tempur)!

Peiper tidak memegang komando ketika resimen panzernya melakukan beberapa serangan balasan di wilayah Avranches. Seperti yang pernah terjadi sebelumnya, Peiper mengalami kelelahan fisik dan mental yang parah sehingga harus dievakuasi secara hati-hati ke rumah sakit militer yang terletak di wilayah Sées, 70 km dari front depan. Diagnosa resmi dokter menyimpulkan bahwa dia telah terkena penyakit kuning sehingga harus mendapat perawatan lebih intensif di tempat lain yang lebih bonafid. Pada bulan September 1944 Peiper dipindahkan ke rumah sakit militer yang terletak di dekat Tegernsee di Bavaria Atas, tak jauh dari rumah keluarganya. Dia tinggal disana sampai dengan tanggal 7 Oktober.

Selama musim gugur 1944 tersebut pasukan Jerman berusaha mati-matian menahan pasukan Sekutu yang berusaha menerobos benteng pertahanan Westwall, sementara Hitler sendiri sibuk merancang strategi untuk merebut kembali inisiatif serangan di Front Barat. Hasilnya adalah Operasi Wacht am Rhein. Dalam usaha penghabisan untuk mengalahkan Sekutu di Front Barat, rencananya pasukan Jerman akan mencoba melakukan gerakan terobosan melalui wilayah yang dikuasai oleh pasukan Amerika di Ardennes, lalu meneruskan momentum serangan mereka dengan melintasi sungai Meuse dan kemudian menduduki Antwerpen sehingga memecah pasukan Sekutu menjadi dua.

Ujung tombak dari serangan ini adalah 6. Panzer Armee di bawah komando Sepp Dietrich. Dia akan membelah garis Amerika di antara Aachen dan Schnee Eifel, kemudian menduduki jembatan di atas Meuse di kedua bagian kota Liège. Dalam tubuh 6 Panzer Armee sendiri, tugas utama mendobrak pasukan musuh dibebankan kepada 1. SS Panzer Division Leibstandarte Adolf Hitler di bawah komando SS-Oberführer Wilhelm Mohnke. Divisi karatan tersebut dipecah menjadi empat Kampfgruppe dengan Peiper menjadi pimpinan unit yang paling penting karena mencakup semua seksi kendaraan lapis baja dari LSSAH. Tugasnya adalah menerobos garis pertahanan Amerika di sepanjang Rollbahn B melalui Spa, Belgia, dan kemudian merebut jembatan-jembatan yang melintasi sungai Meuse di antara Liège dan Huy.

Jalan yang menjadi rute utama Peiper, yaitu Rollbahn, banyak mempunyai tikungan-tikungan tajam plus naik turun perbukitan yang tentunya sangat menghambat gerak maju pasukannya (yang sudah berjalan lambat karena harus mengangkut artileri dan truk-truk yang memuat bagian jembatan ponton). Seakan belum cukup, kondisi ini diperparah dengan beberapa bagian jalan sempit yang membuat unit-unit Kampfgruppe Peiper harus bergerak dalam satu baris saja dengan saling mengikuti buntut mobil di depannya sehingga membentuk konvoi infanteri dan lapis baja sepanjang 25 kilometer (16 mil)! Tentu saja Peiper dongkol berat dan protes kepada atasannya bahwa jalan yang ia lalui lebih tepat untuk jalan sepeda daripada panzer! Jalan ini menjadi faktor utama tidak jalannya strategi Blitzkrieg (serangan kilat) seperti yang secara sukses telah dipraktekkan oleh pasukan Jerman di awal-awal perang. Fritz Krämer (Kepala Staff 6. Panzer Armee) menjawab gerutuan Peiper dengan sama pedasnya: “Aku tidak peduli apa dan bagaimana kau melakukannya. Yang jelas kau harus cepat-cepat tiba di Meuse apapun yan terjadi, bahkan meskipun kau hanya tinggal mempunyai satu tank ketika kau sampai disana!” Unit Peiper hanya mempunyai cadangan bahan bakar seperempat saja dari yang mereka butuhkan, sehingga rencana utama mereka sangat tergantung dari pendudukan depot-depot bahan bakar Sekutu dan bergerak maju sesuai dengan rencana yang telah ditentukan semula.

Keterlambatan ini memang mengesalkan! Bayangkan saja, Kampfgruppe Peiper telat lebih dari 16 jam sehingga 18 orang musuh dari dari Intelligence and Reconnaissance Platoon, 394th Regiment, 99th Infantry Division yang menghadang dan sedianya akan mereka hancurkan di Lanzerath, Belgia, harus dibereskan oleh unit lain dari 1. Battailon, 9. Fallschimjäger Regiment, 3. Fallschirmjäger Division! Kebanyakan tanggal 16 Desember (tanggal mulai beroperasinya Wacht am Rhein) diisi oleh Peiper dengan mengatur lalulintas bukannya mengatur strategi perang!

Barisan panjang kendaraan perang Peiper tidak berhasil mencapai tujuan hari pertamanya sampai dengan tengah malam di hari yang sama. Sebagai akibatnya, serangan pertama Peiper terjadi di dini hari tanggal 17 Desember 1944, hampir 18 jam kemudian dari jadwal yang direncanakan semula! Dengan cepat dia berhasil menembus garis Amerika dan menduduki Honsfeld. Ikut dirampas pula 190.000 liter bahan bakar dari tangan Amerika untuk kepentingan kendaraan perangnya yang kehausan berat.

Rencananya Peiper akan meneruskan serangannya melalui Loseheimergroben, tapi Divisi Volksgrenadier ke-12 dan 277 tidak berhasil mengalahkan musuh di hari pertama seperti yang direncanakan.

Dia kemudian memutuskan untuk bergerak memutar melalui Büllingen, dengan tetap merencanakan pergerakan semula ke arah timur. Saat itu Peiper sama sekali tidak menyadari bahwa bila saja dia menduduki kota tersebut dan bukannya hanya melewati saja, dia akan memerangkap seluruh divisi ke-2 dan 99 Amerika! Tiba-tiba Peiper bergerak ke arah selatan untuk berkumpul di sekitar Hünningen. Tujuannya tetap tidak berubah: kembali ke jalan utama (Rollbahn) seperti yang diperintahkan kepadanya. Dia harus membelokkan rute kembalinya sebelum mencapai Ligneuville karena jalan yang harus dilalui sudah tidak sanggup lagi menampung konvoy Kampfgruppenya. Jalan pintas ini memaksa dia untuk melalui perlintasan Baugnez dimana unit lapis baja dan halftracknya menghantam sebuah konvoy bersenjata dari pengamat artileri Amerika yang luar biasa terkejut ketika menjumpai pasukan Jerman dalam perjalanan ke front. Konvoy musuh tersebut langsung dihancurkan.

Unit Peiper dikenal luas karena dituduh telah membunuh tawanan perang Amerika di sebuah persimpangan, sebuah peristiwa yang kini dikenal dengan nama ‘Pembantaian Malmedy’. Pasukannya terus bergerak dan melintasi Ligneuville sehingga akhirnya mencapai dataran tinggi Stavelot di pinggir kiri sungai Amblève pada malam hari kedua Operasi Wacht am Rhein. Sebenarnya kalau saja Peiper langsung menyerang kota kecil yang hanya dipertahankan oleh sejumlah kecil pasukan Amerika tersebut, dia bisa saja dengan mudah mendudukinya. Tapi dengan alasan yang tidak diketahui, dia baru menyerang pada subuh keesokan harinya, sehingga membuat hilangnya waktu berharga karena kini Amerika mempunyai kesempatan untuk mengorganisasi pertahanan yang dilakukan dengan buru-buru. Setelah pertempuran yang berat, akhirnya Kampfgruppe Peiper berhasil melintasi jembatan di sungai Amblève, dan dari sana perjalanan yang dilalui semakin sukar saja.

Pasukan Amerika, yang kacau balau dan tidak terorganisasi pada hari-hari pertama serangan, kini berhasil pulih dari keterkejutannya dan memutuskan untuk menyerang balik. Mereka menghancurkan jembatan-jembatan yang melintasi sungai Amblève dan Salm. Jembatan-jembatan tersebut sangat dibutuhkan oleh Peiper demi melanjutkan perjalanannya ke jalan raya yang langsung mengarah ke Meuse. Tanggal 18 Desember, United States Army Corps of Engineers meledakkan jembatan terakhir persis di hadapannya, sehingga membuat Peiper kini terjebak di lembah Amblève yang dalam, yang berada di arah hilir dari Trois-Ponts. Cuaca yang membaik juga memberi kesempatan kepada Angkatan Udara Sekutu untuk beroperasi. Beberapa skuadron P-47 menyerang konvoynya yang membentang sepanjang 20 km (12 mil). Serangan udara ini menghancurkan atau merusakkan sejumlah besar kendaraan Kampfgruppe Peiper, yang otomatis membuat berantakan rencana penyerangan yang telah disusunnya. Peiper juga tidak dapat membagi pasukannya untuk mempertahankan wilayah-wilayah yang telah diduduki, sehingga kini giliran pasukan Amerika yang merebut kembali jembatan Amblève di Stavelot. Santai saja mereka menghancurkan jembatan satu-satunya yang masih tersisa tersebut, sehingga membuat Peiper terputus dari satu-satunya jalur perbekalan dan amunisi yang sangat dibutuhkan oleh pasukannya. Yang paling penting tentu saja adalah persediaan bahan bakar, yang kini begitu menipisnya. Tapi sifat Peiper yang pantang menyerah membuat dia meneruskan perjalanannya dan menghantam setiap pasukan musuh yang menghadang di depan. Setelah melintasi Stoumont, pertahanan Amerika yang kuat memaksa dia untuk mundur kembali ke La Gleize. Dengan bahan bakar yang seadanya, dia mati-matian menahan serangan balik Amerika selama enam hari penuh. Tanpa perbekalan dan tak bisa berhubungan dengan unit-unit Jerman lainnya di belakang dia, akhirnya Peiper memutuskan untuk bersikap realistis bahwa pergerakannya hanya bisa diteruskan sampai disitu saja. Pada tanggal 24 Desember dia dan pasukannya yang masih tersisa meninggalkan semua kendaraan mereka dan secara diam-diam berjalan mundur ke hutan untuk menghindari penangkapan. Hanya tinggal 800 orang anakbuahnya yang masih ada, dan ketika 36 jam kemudian dia berhasil mencapai garis Jerman, pasukannya berkurang menjadi 770 saja. Ini adalah suatu prestasi tersendiri, karena dia dan pasukannya telah menempuh jarak 20 km dengan berjalan kaki di tengah cuaca yang membekukan!

Kampfgruppe Peiper tercatat sebagai pasukan Jerman yang paling jauh menembus pertahanan Sekutu dalam Pertempuran Tonjolan (Battle of Bulge) yang baru terjadi tersebut. Untuk ini, pada bulan Januari 1945 dia dianugerahi dengan Schwerter (Pedang/Swords) sebagai pelengkap dari Ritterkreuz dan Eichenlaub-nya. Proposalnya sendiri diajukan oleh Wilhelm Mohnke. Tak lama kemudian mesin propaganda Goebbels telah mengerek seorang Joachim ‘Jochen’ Peiper menjadi legenda. Perannya sebagai komandan Waffen-SS yang tangguh dan pantang mundur dalam Operasi Wacht am Rhein benar-benar diekspos dengan sebaik-baiknya.

Pada akhir bulan Januari 1945 tersebut Peiper berada di wilayah Berlin. Tanggal 4 Februari dia bertemu untuk terakhir kalinya dengan Heinrich Himmler di markas besar sementaranya. Peiper kemudian pergi ke sekolah Panzergrenadier di Krhanice sampai dengan tanggal 14 Februari. Dari sana dia bergabung kembali dengan unitnya yang berada di sebelah barat daya Farnad. 1. SS Panzer Regiment ikut ambil bagian dalam serangan balik pasukan Jerman di Danau Balaton yang berakhir dengan kegagalan. Dalam serangan ini unit Peiper menderita korban yang besar yang terutama diakibatkan oleh gaya kepemimpinannya yang selalu cenderung ingin menyerang dan menyerang. Dia juga kehilangan banyak dari rekan seperjuangannya.

Tanggal 1 Mei 1945, ketika LSSAH dalam pergerakan mundur ke arah Austria, mereka menerima informasi tentang meninggalnya Adolf Hitler. Beberapa hari kemudian semua unit SS di Front Timur diperintahkan untuk bergerak ke arah barat. Tanggal 8 Mei, 1. SS Panzer Division Leibstandarte Adolf Hitler menerima perintah untuk melintasi sungai Enns dan menyerahkan diri ke tangan Amerika.

Dengan ditemani oleh Paul Guhl, Peiper berusaha menghindari penangkapan oleh pasukan Amerika. Tanggal 28 Mei dia sedang dalam perjalanan ke Rottach ketika tertangkap di dekat Schliersee, yang berada kurang dari 30 kilometer dari rumah tercintanya. Dia kemudian dipenjara di bekas kamp konsentrasi Dachau.

Meskipun pada saat itu dia menjadi buronan nomor satu bagi Amerika (karena tuduhan keterlibatannya dalam Pembantaian Malmedy), tapi dia tidak berhasil diidentifikasi sampai dengan tanggal 21 Agustus 1945! Ini adalah hari ketika dia dipindahkan ke kamp interogasi 3rd US Army di Freising.

Mungkin ada baiknya kalau kita bercerita tentang peristiwa ini sedikit:

Selama pergerakan 1. Panzer Division tanggal 17 Desember 1944, unit lapis baja dan halftrack Peiper berpapasan dengan konvoy dari sekitar 30 kendaraan pasukan Amerika bersenjata ringan di persimpangan Baugnez di dekat Malmedy. Anggotanya yang kebanyakan berasal dari 285th Field Artillery Observation Battalion dengan cepat berhasil dikalahkan dan ditawan. Bersama dengan prajurit Amerika yang telah ditangkap sebelumnya, mereka diperintahkan untuk berdiri di tengah-tengah padang rumput. Tanpa alasan yang diketahui, pihak Jerman langsung memberondong mereka dengan tembakan senapan mesin, yang langsung membunuh 84 orang di antaranya. Mayat mereka ditinggalkan begitu saja di padang rumput. Lalu bagaimana kisah ini bisa tersebar luas dan kini bermunculan di forum-forum bokep? Ternyata ada beberapa orang tawanan yang berhasil selamat dan berpura-pura modar. Mereka berhasil mencapai garis pasukan Amerika di sore harinya dan menceritakan pengalaman mereka.

Berdasarkan beberapa sumber (terserah anda percaya atau tidak), selama pertemuan dengan para perwiranya sebelum operasi dimulai, Peiper telah tegas menekankan bahwa tak boleh ada tawanan yang diambil, dan juga tidak boleh ada belas kasihan terhadap penduduk sipil Belgia yang coba-coba melawan. Berita ini dibantah oleh Lieutenant Colonel Hal McCown, komandan dari 2/119 Infantry yang tertangkap oleh pasukan Peiper tanggal 21 Desember 1944 di Froidcour antara La Gleize dan Stoumont. Dia berkata bahwa dia dan anakbuahnya diperlakukan dengan sangat baik oleh pasukan SS yang menawannya, dan bahkan diperkenankan untuk beraudiensi dengan Peiper langsung. McCown malah berani menegaskan bahwa perlakuan pihak Jerman terhadap tawanan perangnya begitu ramah, dan makanan yang disediakan untuk tawanan Amerika sama baiknya dengan makanan untuk Jerman sendiri!

Sebenarnya bukan hanya di Malmedy saja anakbuah Peiper telah dituduh melakukan kejahatan perang. Tercatat di Honsfeld para prajurit dari Kampfgruppe Peiper didakwa membunuh beberapa tawanan perang Amerika lain, juga di Büllingen, Ligneuville, Stavelot, Cheneux, La Gleize dan Stoumont tanggal 18, 19 dan 20 Desember. Tanggal 19 Desember 1944, di wilayah antara Stavelot dan Trois-Ponts, ketika pasukan Jerman berusaha mengambil alih kontrol jembatan yang melintasi sungai Amblève (yang sangat penting untuk jalur logistik Kampfgruppe), anakbuah Peiper telah membunuh beberapa orang sipil Belgia. Secara keseluruhan, dalam Operasi Wacht am Rhein Kampfgruppe Peiper telah dianggap bertanggungjawab atas kasus pembunuhan 362 tawanan perang dan 111 sipil!

Setelah perang di Eropa usai, pihak Amerika mengadakan pencarian intensif di kamp-kamp tawanan Jerman untuk mencari setiap anggota dari Kampfgruppe Peiper. Amerika mempunyai masalah pribadi yang harus diselesaikan karena tawanan perang yang dituduh telah dibunuh oleh Kampfgruppe tersebut adalah prajurit-prajurit Amerika.

Saat itu Peiper dipenjarakan di Freising di Bavaria Atas, dan dia pun ikut menjalani interogasi sama seperti yang lainnya. Para investigator kemudian menemukan fakta menarik bahwa kebanyakan para prajurit SS (termasuk Peiper), walaupun mereka telah kenyang makan asam garam pertempuran, tapi tidak pernah dilatih untuk bertahan di sebuah interogasi! Beberapa orang langsung memberikan informasi yang diperlukan, sementara yang lainnya harus dipukul, diancam atau diperlihatkan eksekusi bohong-bohongan dulu baru mau baceo! Peiper dengan jantan mengatakan bahwa dia lah yang paling bertanggungjawab atas setiap perbuatan yang telah dilakukan oleh anakbuahnya.

Bulan Desember 1945 Peiper dipindahkan ke penjara di aula Schwäbisch, dimana disana telah dikumpulkan 1.000 orang mantan prajurit Leibstandarte. Beberapa laporan menyebutkan bahwa interogasi yang dilakukan kepada mereka mencakup pula persidangan bohong-bohongan, juga siksaan fisik dan psikis. Peiper dan yang lainnya mengaku bahwa mereka telah menerima pukulan berulang kali selama berangsungnya interogasi, dan diancam juga bahwa keluarga mereka akan diserahkan kepada pihak Rusia untuk dijadikan bala-bala! Tanggal 16 April 1946 sekitar 300 orang tawanan dipindahkan dari aula Schwäbisch ke Dachau, dimana disana mereka langsung diadili.

Persidangan Dachau berlangsung antara 16 Mei sampai 16 Juli 1946 dengan para hakimnya adalah para perwira Amerika yang beroperasi berdasarkan peraturan dari Nuremberg International Military Tribunal.

Ke-74 tertuduh utama termasuk pula SS-Oberstgruppenführer Sepp Dietrich (panglima 6. Panzer Armee), kepala staffnya SS-Brigadeführer Fritz Krämer, SS-Gruppenführer Hermann Prieß (komandan I SS Panzer Korps), dan Joachim Peiper (komandan 1. SS Panzer Regiment).

Sebelum persidangan, pihak yang berwenang telah memisahkan para terdakwa berdasarkan kategori kejahatan terhadap tawanan perang dan terhadap masyarakat sipil. Tuduhan yang diarahkan kepada mereka kebanyakan berdasarkan pengakuan tertulis dari para tawanan Jerman yang diinterogasi sebelumnya di aula Schwäbisch. Untuk menangkal bukti-bukti yang diajukan oleh tim penuntut umum, kepala pembela terdakwa Lieutenant Colonel Willis M. Everett berusaha menunjukkan bahwa bukti-bukti tersebut telah didapat dengan cara yang tidak pantas.

Everett memanggil Lieutenant Colonel Hal McCown untuk bersaksi mengenai perlakuan pasukan Peiper terhadap tawanan perang Amerika di La Gleize. McCown, yang telah ditangkap oleh Peiper di La Gleize bersama dengan seluruh anakbuahnya, bersaksi bahwa tentara Amerika yang terluka telah mendapatkan perawatan yang sama dengan yang diterima oleh prajurit Jerman sendiri. Dia juga berkata bahwa selama pendudukan Peiper atas kota La Gleize, pasukan Jerman selalu bersikap profesional dan terhormat.

Colonel Everett memutuskan bahwa hanya Peiper saja yang akan bersaksi di depan sidang. Tapi kemudian para terdakwa lain, yang didukung oleh pengacara mereka yang sebangsa, juga ingin ikut-ikutan bersaksi. Ini terbukti kemudian menjadi satu kesalahan yang fatal, karena ketika penuntut umum berusaha menanya ulang para terdakwa, mereka bersikap seperti “sekelompok tikus yang tenggelam... yang saling berpegangan kepada yang lainnya”. Berdasarkan keterangan dari Everett, kesaksian ini telah memberi cukup alasan bagi sidang pengadilan untuk menjatuhkan hukuman mati kepada beberapa terdakwa yang dianggap paling bertanggung jawab.

Pengadilan militer tampaknya tidak puas atas kesaksian Peiper tentang pembunuhan tawanan perang yang dilakukan oleh Kampfgruppe-nya. Selama persidangan, beberapa saksi mengaku setidaknya dalam dua kejadian dimana Peiper telah memerintahkan LANGSUNG pembunuhan terhadap tawanan. Ketika ditanyai oleh penuntut umum, Peiper menyangkal kedua tuduhan tersebut, dan menyatakan bahwa dia dibuat berdasarkan keterangan dari saksi yang sudah disiksa terlebih dahulu. Ketika ditanyai tentang pembunuhan terhadap warga sipil Belgia, Peiper bersikeras beralasan bahwa mereka adalah kaum gerilyawan. Meskipun pengadilan tidak dapat membuktikan bahwa Peiper pernah memberikan perintah untuk satu pembunuhan pun, tapi dia tetap dianggap bertanggungjawab atas semua perbuatan anakbuahnya.

Bersama dengan 42 terdakwa lainnya, Joachim Peiper dijatuhi hukuman mati dengan cara digantung yang akan dilaksanakan pada tanggal 16 Juli 1946.

Hukuman yang dianggap tidak adil ini telah menimbulkan kontroversi di kalangan masyarakat Jerman, termasuk juga pihak gereja, sehingga memaksa panglima pasukan pendudukan Amerika di Jerman mengubah beberapa di antaranya menjadi hukuman seumur hidup. Sebagai tambahan, pimpinan tim pembela Jerman di bawah pimpinan Letkol Willis M. Everett telah mengajukan permintaan kepada Mahkamah Teringgi Amerika, bahwa para terdakwa yang dibelanya telah dituduh bersalah berdasarkan atas “pengakuan yang ilegal dan didapat dengan cara yang curang”, juga menjadi subyek dari sidang bohong-bohongan. “Huru-hara” yang kemudian terjadi dan diakibatkan oleh kasus ini memaksa US Secretary of the Army, Kenneth Royall, untuk membentuk sebuah komisi investigasi yang diketuai oleh Hakim Gordon A. Simpson dari Texas. Komisi tersebut terutama meneliti peristiwa Pembantaian Malmedy dan kasus-kasus lainnya yang dipersidangkan di Dachau.

Komisi tersebut tiba di Eropa tanggal 30 Juli 1948 dan mengeluarkan laporannya tanggal 14 September. Dalam laporan ini, mereka menyarankan bahwa keputusan hukuman mati yang masih tetap dijatuhkan terhadap sisa 12 orang terdakwa sama-sama dirubah menjadi hukuman seumur hidup seperti yang lainnya. Komisi tersebut sekaligus membenarkan tuduhan-tuduhan Everett tentang persidangan bohong-bohongan yang dijalankan terhadap terdakwa. Untuk tuduhan bahwa telah terjadi penyiksaan demi memaksa tawanan Jerman supaya mengaku, komisi tersebut tidak membenarkannya dan juga tidak menyangkalnya. Sebagai kesimpulannya, mereka menyatakan bahwa interogasi pra-sidang telah dilaksanakan dengan tidak sepantasnya, sehingga sangat tidak pantas suatu hukuman mati dijatuhkan bila masih ada keraguan yang masih tersisa.

Sebagai responsnya, jenderal Clay merubah embali enam hukuman mati menjadi hukuman seumur hidup. Dia tetap tidak mau merubah enam sisanya, termasuk Peiper, tapi kemudian eksekusi untuk mereka ditunda. Silang-pendapat yang terjadi akibat laporan dari komisi investigasi Royall dan juga artikel yang dibuat oleh hakim Edward L. Van Roden telah membuat senat Amerika turun tangan untuk menyelidiki persidangan yang penuh dengan kebohongan tersebut.

Dalam hasil investigasinya, Senate Committee on Armed Services berkesimpulan bahwa telah terjadi prosedur-prosedur sebelum persidangan yang tidak pantas, termasuk pengadilan bohong-bohongan. Ini (tidak termasuk tuduhan penyiksaan) telah sangat mempengaruhi keputusan persidangan Dachau. Untuk beberapa terdakwa, tak diragukan lagi bahwa mereka memang bersalah atas tuduhan pembantaian massal.

Akhirnya semua hukuman mati dirubah menjadi hukuman seumur hidup, dan kemudian diperingan lagi seiring berjalannya waktu. Peiper sendiri diberi pengampunan dan dilepaskan dari penjara bulan Desember 1956, setelah mendekam selama sebelas tahun setengah.

Jaringan solidaritas mantan prajurit SS yang sebelumnya telah mencarikan pekerjaan untuk istri Peiper di dekat Penjara Landsberg, kini juga bekerja untuk mengusahakan pembebasan bersyarat atas dirinya. Untuk bisa keluar dari penjara, Peiper harus membuktikan bahwa dia akan mempunyai pekerjaan dalam waktu singkat. Dengan bantuan dari Dr. Albert Prinzing, mantan SS-Hauptsturmführer dari Sicherheitsdienst, Peiper akhirnya mendapatkan pekerjaan di perusahaan pembuat angkot, Porsche.

Tanggal 17 Januari 1957 akhirnya dia memulai pekerjaannya sebagai karyawan Porsche di Stuttgart bagian teknis. Dia kemudian mewakili perusahaan tersebut dalam pameran-pameran mobil. Lalu pangkatnya naik sehingga dia menjadi penanggungjawab atas ekspor mobil ke Amerika Serikat. Sayangnya, catatan “kriminal” dia di masa lalu membuat dia tidak bisa mendapatkan visa yang diperlukan demi perjalanannya ke Amerika.

Seiring dengan karirnya yang makin berkembang di Porsche, Peiper mendapat tuduhan dari persatuan pekerja Italia atas keterlibatannya dalam peristiwa Pembantaian Boves selama berlangsungnya Perang Dunia II. Ferry Porsche sudah kadung menyayangi karyawannya yang pekerja keras ini, dan dia langsung turun tangan dengan menjanjikan Peiper posisi manajemen senior. Tawaran ini kemudian mendapat protes keras dari organisasi perdagangan Jerman, yang menolak adanya mantan tertuduh kejahatan perang menduduki posisi manajemen yang penting. Kuatnya antipati terhadap Peiper dan juga fakta bahwa dia kini bekerja di Porsche telah memberi pengaruh negatif terhadap penjualan mobil tersebut di Amerika Serikat. Akibatnya, tak ada jalan lain selain memberhentikan Peiper. Tentu saja Peiper sakit hati karena sebelumnya dia telah dijanjikan posisi yang penting. Dia kemudian mengajukan gugatan pada tanggal 30 Desember 1960 untuk meminta Porsche memenuhi janjinya. Dalam dokumen pengadilan, pembela Peiper menekankan bahwa dia bukanlah penjahat perang, dan pihak Sekutu telah menggunakan persidangan tersebut untuk membuat tercemar nama masyarakat Jerman di dunia luar. Dia juga menambahkan bahwa persidangan Nürnberg dan “Pembantaian Malmedy” sebenarnya hanyalah propaganda belaka. Dengan mengutip dokumen-dokumen yang dipublikasikan oleh sejarawan anti komunis Freda Utley, dia menunjukkan bukti-bukti bahwa para terdakwa kasus Pembantaian Malmedy telah mendapat penyiksaan dari pihak Amerika yang menawannya. Berdasarkan perintah dari pengadilan, Porsche dan Peiper akhirnya sepakat untuk menghapuskan kontrak pekerjaan, dan sebagai kompensasinya Peiper mendapat pesangon enam bulan gaji. Majalah “Der Freiwilige” yang diterbitkan oleh para veteran SS menyoroti benar-benar kasus ini dan mengatakan bahwa Peiper telah “dituduh secara tidak adil” atas kejahatan-kejahatan perang.

Dia kemudian menjadi seorang trainer salesman mobil, dan dengan menggunakan jaringan mantan anggota SS dia lalu menghubungi Max Moritz, bekas mekanik SS. Saat itu Moritz telah menjadi perwakilan penjualan mobil Volkswagen di Jerman.

Sejak dia lepas dari Penjara Landsberg, Peiper memang secara rutin berhubungan dengan mantan-mantan rekan seperjuangannya di SS. Dia selalu menghindari hubungan dengan HIAG atau Order of the Holders of the Knight's Cross (keduanya merupakan perkumpulan para veteran perang Jerman), sementara di pihak lain dia tidak pernah absen dari menghadiri acara-acara pemakaman tokoh-tokoh SS seperti Kurt “Panzer” Meyer, Sepp Dietrich atau Paul Hausser. Dia mempunyai tanggungjawab untuk merehabilitasi nama Waffen-SS dengan mengedepankan prestasi-prestasi militer mereka (bukannya kejahatan perang seperti yang selama ini ditonjolkan) dan menekankan bahwa prajurit SS sama saja seperti prajurit lainnya di dunia. Berdasarkan keterangan dari Westmeier, suatu saat Peiper pernah berkata kepada mantan rekan seperjuangannya:

“Jujur saja, aku rasa setiap usaha untuk memperbaiki nama baik kita di masa sekarang ini bisa dianggap tidak realistis, tapi setidaknya orang bisa tahu kenyataan yang sebenarnya.”

Pada awal tahun 1960-an persepsi masyarakat Jerman yang memandang negatif terhadap para veteran Waffen-SS mulai berubah. Pulihnya ekonomi negara tersebut ‘memaksa’ orang-orang SS keluar dari persembunyiannya, dan dengan memegang jabatan yang tinggi di kehidupan sosial sudah tentu akan membangkitkan pertanyaan-pertanyaan yang ingin dihindari oleh orang-orang seperti Peiper. Persidangan Eichmann dan Auschwitz di pertengahan tahun 1960-an (yang mendapat perhatian luas di Jerman Barat) juga membuka perubahan baru yang signifikan. Kini peradilan diselenggarakan oleh pihak berwenang Jerman Barat dan bukan lagi oleh Sekutu. Di pihak lain, keinginan untuk membuka kembali kasus-kasus lama kejahatan perang yang melibatkan veteran SS membuat orang-orang tersebut merasa tidak nyaman.

Peiper akhirnya dapat gilirannya ketika pada tanggal 23 Juni 1964 dua orang Italia mengajukan tuntutan terhadapnya atas kasus Pembantaian Boves di Kantor Pusat Administrasi Peradilan Negara untuk Investigasi terhadap Kejahatan-Kejahatan Nasional-Sosialis di Ludwigsburg. Penuntut Umum diwakili oleh Robert W. Klempner, yang pernah menjadi anggota dewan penuntut Amerika dalam Pengadilan Nürnberg. Investigasi yang diketuai oleh Jaksa Agung Stuttgart terbukti membawa masalah besar bagi Peiper, karena dia dituduh telah memerintahkan penangkapan Yahudi di Borgo San Dalmazzo dan pendeportasian Yahudi lain di Italia Utara. Tuduhan ini diperkuat oleh bukti-bukti yang dikumpulkan oleh Simon Wiesenthal. Tapi ternyata kemudian, sama seperti terhadap tuduhan-tuduhan lain yang dialamatkan kepada Peiper, dakwaan ini pun tidak mempunyai bukti pendukung yang cukup kuat sehingga akhirnya kasusnya dibatalkan pada tahun 1967.

Sekali lagi Peiper direpotkan oleh “kegiatannya” di masa lalu ketika ia diminta bersaksi dalam persidangan terhadap Werner Best. Peiper tidak pernah menyangkal kedekatan hubungannya dengan Heinrich Himmler, tapi dia membantah mempunyai pengaruh sedikitpun terhadap kejahatan-kejahatan perang skala besar yang dilakukan oleh Nazi.

Pada tahun 1969 dia menjadi penulis free-lance untuk majalah “Auto, Motor und Sport”. Tahun 1972 dia pindah ke properti miliknya di Traves yang masuk wilayah Haute-Saône (Prancis). Pada saat itu dia merupakan bekerja lepas sebagai penterjemah untuk editor Stuttgarter Motor-Buch Verlag, dan juga menjadi penterjemah dari Inggris ke Jerman untuk buku-buku tentang sejarah militer (dengan nama samaran Rainer Buschmann).

Sejak masa tinggalnya di Prancis tersebut, Peiper hidup tenang dan damai tanpa gangguan dari siapapun. Tahun 1974 identitasnya diketahui oleh seorang mantan anggota perlawanan komunis di wilayah itu, yang kemudian melaporkannya ke kantor Partai Komunis Prancis. Pada tahun 1976 seorang sejarawan komunis lain, yang sedang melakukan penelitian arsip-arsip STASI, menemukan file tentang Peiper. Tak lama kemudian, tanggal 21 Juni keluar ikhtisar penolakan terhadap kehadirannya di Traves. Sehari setelahnya, sebuah artikel di penerbitan komunis “L'Humanité” menyebarluaskan berita tentang kehadiran Peiper di Traves, dan dia bersama keluarganya menjadi subyek dari ancaman-ancaman kematian.

Tanggal 14 Juli 1976 Peiper dibunuh ketika rumahnya diserang dan dibakar oleh orang yang tidak dketahui. Diduga keras para pembunuhnya adalah mantan anggota perlawanan Prancis atau kaum Komunis. Saat itu Peiper baru saja menulis sebuah buku yang akan mengungkap fakta-fakta kasus Malmedy dan peristiwa-peristiwa lain yang mengikutinya.

Penutup
Karena pembunuhan-pembunuhan yang dilakukan oleh unitnya di Malmedy dan tempat-tempat lainnya, juga hukuman mati dan pelepasannya dari penjara, Joachim Peiper telah menjadi seorang figur yang kontroversial baik di masa hidupnya ataupun setelah dia meninggal. Dia adalah seorang prajurit yang kompeten dan berani dalam menghadapi musuh sehingga sangat dihormati oleh koleganya. Anakbuahnya luar biasa setia kepadanya, sehingga banyak orang yang mengatakan bahwa dia adalah seorang pemimpin yang berkharisma. Bahkan setelah perang berakhir pun, dia tetap dipandang dengan hormat oleh mantan-mantan rekan seperjuangannya, dan banyak dari mereka berbicara tentang ‘Der Peiper’ dengan penuh hormat dan kekaguman. Hal inilah terutama yang menolong dia lepas dari penjara dan lalu mendapatkan pekerjaan setelahnya.

Kepemimpinannya di batalion half-track lapis baja SdKfz 251 dalam Pertempuran Kharkov Ketiga telah membuat unitnya dinamakan dengan Lötlampenbataillon atau “Batalion Obor/Pembakar”, sementara dia sendiri lalu dianugerahi medali Deustches Kreuz in Gold. Tiga hari setelah aksinya yang berlangsung tanggal 6 Maret 1943, dia dianugerahi medali Ritterkreuz. 12 hari kemudian dia mendemonstrasikan skill militernya ketika memimpin unitnya dengan kecepatan penuh melalui garis pertahanan Rusia dalam sebuah serangan kejutan di Belgorod, yang membuat musuhnya ngibrit melarikan diri. Oberführer Theodor Wisch, komandan divisi Leibstandarte, merekomendasikannya untuk menerima Eichenlaub, yang kemudian diterimanya tanggal 27 Januari 1944.

Karir Militer:
• SS-Anwärter: 16 Oktober 1933
• SS-Mann: 23 Januari 1934
• SS-Sturmmann: 7 September 1934
• SS-Rottenführer: 10 Oktober 1934
• SS-Unterscharführer: 1 Maret 1935
• SS-Standartenjunker: 11 September 1935
• SS-Standartenoberjunker: 5 Maret 1936
• SS-Untersturmführer: 20 April 1936
• SS-Obersturmführer: 30 Januari 1939
• SS-Hauptsturmführer: 6 Juni 1940
• SS-Sturmbannführer: 30 Januari 1943
• SS-Obersturmbannführer: 11 November 1943
• SS-Standartenführer: 20 April 1945

Medali :
• German Equestrian Badge in Bronze (?)
• Iron Cross 2nd (1940) dan 1st (1940) Class
• SS-Honour Ring (?)
• Knight's Cross (1943)
• Oak Leaves (1944)
• Swords (1945)
• German Cross in Gold (1943)
• Infantry Assault Badge in Bronze (1940)
• Eastern Front Medal (1942)
• Sudetenland Medal (1938)
• Prague Castle Bar (1938)
• Anschluss Medal (1938)
• Close Combat Clasp in Bronze (1943)
• Close Combat Clasp in Silver (1943)
• Tank Destruction Badge (1943)
• SA Sports Badge in Bronze (?)
• SS Long Service Award 4 dan 8 tahun (?)
• Dress Formal Dinning Award (?)
• Life Saving Award in Gold (?)
• Tank Badge 50 atau 75. meskipun tidak ada dokumentasi yang menyebutkan bahwa dirinya pernah menerima medali ini, tapi beberapa foto dia masa perang ketika masih menjadi SS- Oberstrumbannfuhrer membuktikan bahwa dia adalah salah satu penerimanya. Salah satu dari seragamnya yang masih tersisa kini terdapat di Virginia War Museum, lengkap dengan medali-medali yang salah satu di antaranya adalah Tank Badge 50. seragam tersebut adalah seragam SS- Oberstrumbannfuhrer, jadi ada kemungkinan kalau Peiper menerima grade yang lebih tinggi sebelum perang berakhir.


Sumber :
www.en.wikipedia.org