Tuesday, April 19, 2011

Foto Scherenfernrohr (Teropong Gunting)

 Pengamat artileri Wehrmacht. Mereka menggunakan teropong observasi S.F. 14Z Scherenfernrohr standar yang dalam foto ini sudut penyesuaiannya disetting horizontal penuh menghadap ke depan (sementara kita biasa melihatnya dalam posisi "telinga kelinci" yang ditegakkan ke atas). Posisi horizontal memungkinkan Scherenfernrohr memperluas jangkauan mata penggunanya lebih luas lagi, sehingga seakan-akan menempatkan mata pemakainya menonjol keluar dari batangnya (bayangkan hiu martil!) dan sekaligus mengoptimalkan pandangan tiga dimensi yang diberikan oleh lensa optiknya. Dengan cara ini si pengguna mampu melihat pemandangan di sekitarnya dalam kualitas tinggi dan lebih menonjol dari biasanya sehingga memudahkan dalam mengestimasi ukuran dari obyek di kejauhan terhadap tanda pengukur skala silang berbentuk jala yang terdapat dalam teropong


Seorang pengamat depan dari sebuah baterai artileri Wehrmacht mengawasi pergerakan musuh menggunakan Scherenfernrohr Sf.14Z 6x30 (teropong gunting) dari paritnya. Pengamat depan ditempatkan pada setiap baterai artileri untuk menjalankan pos pengintaian di antara unit-unit infanteri di front depan. Komunikasi antara pos-pos observasi dan baterai artileri biasanya digunakan melalui telepon lapangan, meskipun kadang digunakan juga peralatan radio. Biasanya target dibombardir oleh sebuah batalyon artileri, dengan pengamat depan mengkoreksi ketepatan penembakan mereka. Foto diambil pada saat berlangsungnya invasi Jerman ke Rusia musim panas 1941


Seorang Vorwärtser Beobachter (Pengamat Depan/Forward Observer) sebuah baterai artileri sedang mengamati posisi pertahanan musuh di pinggir rel kereta api melalui teropong gunting Scherenfernrohr Sf.14Z 6x30, Front Timur tahun 1941. Vorwärtser Beobachter biasanya ditempatkan pada setiap baterai artileri untuk mengisi pos observasi yang terletak diantara unit-unit infanteri terdepan. Komunikasi antara pos observasi dengan meriam penembak biasanya dilakukan melalui telepon lapangan atau radio. Target kemudian akan dibombardir oleh seluruh detasemen yang terdiri dari beberapa baterai artileri, dengan Vorwärtser Beobachter bertugas untuk mengkoreksi ketepatan tembakan mereka


 Pada akhir tahun 1941, Leibstandarte SS Adolf Hitler (motorisiert) telah bergerak maju di Front Timur sejauh 1.600km hanya dalam waktu empat bulan lebih! Meskipun kemudian mereka mampu menguasai wilayah Rostov/Don, tapi jalur suplai yang terlalu panjang ditambah dengan perlawanan serta serangan balasan pihak Soviet yang makin gencar membuat divisi SS pimpinan Sepp Dietrich ini terpaksa melepaskan kembali kota yang telah mereka rebut. Bagi Leibstandarte sendiri, pertempuran defensif musim dingin yang panjang dan melelahkan di wilayah Cekungan Donets telah menanti mereka. Foto ini memperlihatkan seorang perwira Leibstandarte sedang ngintip pergerakan musuh melalui "teropong gunting" Scherenfernrohr Sf.14Z 6x30


 Gebirgsjäger di puncak Gunung Elbrus (Kaukasus) tahun 1942. Mereka menggunakan Scherenfernrohr (Teropong Gunting) untuk membantu mengintip orang mandi. Dalam Pertempuran Kaukasus di Perang Dunia II, Wehrmacht menguasai wilayah sekitar gunung dari bulan Agustus 1942 sampai Januari 1943 dengan 10.000 orang Gebirgsjäger dari 1. Gebirgs-Division. . Gunung Elbrus sendiri adalah gunung tertinggi di Rusia dengan tinggi 4.741 meter di atas permukaan empang


Pengamat artileri garis depan mencoba untuk menemukan lokasi pertahanan Rusia di sepanjang pinggiran timur sungai Volga, akhir musim panas 1942. Mereka menggunakan Scherenfernrohr Sf.14Z 6x30 (teropong gunting). Tabung panjang horizontal yang dipasang di Scherenfernrohr maksudnya adalah untuk mengeliminasi pantulan cahaya yang mungkin timbul sehingga membongkar keberadaan mereka, tapi alat semacam ini mempunyai kelemahan dalam hal terbatasnya penglihatan bagi orang yang ngintip. Observer garis depan ditempatkan pada setiap baterai artileri dan biasa mendirikan sebuah pos observasi di antara unit-unit infanteri terdepan. Komunikasi yang dijalin antara pos observasi dengan baterai artileri dilakukan menggunakan telepon lapangan. Operator teleponnya biasa dijuluki sebagai Strippenzieher (tukang colok sambungan), dan berbicara melalui telepon lapangan dari jenis Feldfernsprecher 33


Dua buah Panzerkampfwagen V Panther Ausf.A dari SS-Panzer-Regiment 5 / 5.SS-Panzer-Division "Wiking" dilihat melalui lensa "teropong gunting" Scherenfernrohr SF14Z dari Panther lainnya, musim panas 1944. Pada saat itu Divisi SS Wiking bertempur mati-matian demi menjaga front yang runtuh dimana-mana sekaligus menahan serangan bertubi-tubi Tentara Merah yang datang tak henti-hentinya. Di musim panas itu Uni Soviet melancarkan ofensif massalnya yang diberi nama sebagai "Operasi Bagration"

--------------------------------------------------------------------------------

Major Erich Bärenfänger (Kommandeur III.Bataillon / Grenadier-Regiment 123 / 50.Infanterie-Division) bersama dengan sesama Ritterkreuzträger yang diduga sebagai Leutnant der Reserve Walter Lippolt - dari Panzerjäger-Abteilung 240 / 170.Infanterie-Division - di medan perang Krimea, Rusia. Di sebelah kanan seorang prajurit Heer yang memakai ushanka (topi bulu khas rusia) memeriksa kondisi lapangan sekitar menggunakan scherenfernrohr (teropong gunting)


 Foto ini memperlihatkan Major Erich Bärenfänger (Kommandeur III.Bataillon / Grenadier-Regiment 123 / 50.Infanterie-Division) bersama dengan dua orang perwiranya sedang berbincang-bincang di dekat sebuah scherenfernrohr (teropong gunting) di wilayah Kaukasus akhir tahun 1943. Sebuah peta kecil diselipkan di manset lengan ledermantel (jaket kulit) yang dikenakan oleh sang Bataillonskommandeur (yang memakai einheitsfeldmütze M43 berhiaskan Totenkopf di kepalanya). Di sebelah kanan adalah Oberleutnant Ernst Mertens yang merupakan ajudan dari Bärenfänger. Mertens nantinya akan meraih Deutsches Kreuz in Gold tanggal 27 Januari 1944. Dalam foto ini, Bärenfänger dan Mertens sama-sama mengenakan Krimschild


 Generalfeldmarschall Fedor von Bock (Oberbefehlshaber Heeresgruppe Süd) mengintip front terdepan pertempuran di Semenanjung Kerch (Krim) menggunakan teropong gunting yang mempunyai nama resmi "Scherenfernrohr", sementara di sebelahnya berdiri Generalmajor Fritz Lindemann (Kommandeur 132. Infanterie-Division). Foto diambil pada bulan Mei 1942 di Front Timur


 
SS-Gruppenführer und Generalleutnant der Waffen-SS Herbert-Otto Gille (Kommandeur 5. SS-Panzer-Division "Wiking") meninjau front depan di Kovel yang terkepung. Pada akhir bulan Februari 1944, Divisi "Wiking" mendapati diri mereka berada di wilayah antara Chelm dan Lublin di Polandia tak lama setelah selamat dari pengepungan di Cherkassy. Belum lagi beristirahat, pada tanggal 12 Maret 1944 datang kawat dari Führer yang memerintahkan Wiking untuk membantu pertahanan Jerman di wilayah Kovel (timur Polandia) yang saat itu mendapat tekanan berat dari kekuatan besar Soviet. Di waktu yang sama, di Chelm terjadi saling bantai antara etnis Ukraina dan Polandia akibat dendam lama yang meletup kembali. Pada pagi tanggal 16 Maret 1944, SS-Panzergrenadier-Regiment "Germania" dan "Westland" diangkut menuju Kovel menggunakan kereta api, sementara komandan divisi Herbert Otto Gille memilih untuk berangkat duluan dari Lublin menggunakan pesawat ringan Fieseler Fi 156 "Storch". Dia datang kesana sesuai rencana dan langsung mendirikan pos komando sekaligus menyusun pertahanan berlapis demi mempersiapkan diri dalam menghadapi serangan musuh. Usahanya seakan berpacu dengan waktu yang terus mendesak. Terdapat dua ribu orang yang luka-luka yang dirawat seadanya, sementara Gille sendiri ragu-ragu apakah sisa pasukannya yang berangkat menggunakan kereta api akan datang tepat pada waktunya. Unit pertama yang tiba adalah 16 Panther dari 8.Kompanie / SS-Panzer-regiment 5 "Wiking" di bawah pimpinan SS-Obersturmführer Karl Nicolussi-Leck yang pemberani, veteran dari pertempuran di Kaukasus. Tak lama datang pula III.[schwere] Bataillon / SS-Panzergrenadier-Regiment 9 "Germania" di bawah komando SS-Sturmbannführer Franz Hack untuk membantu penyerangan. Pada tanggal 10 April 1944 kepungan Soviet di Kovel akhirnya berhasil dipatahkan dan Divisi "Wiking" ditarik keluar untuk melakukan penyegaran



Oberstleutnant Erich Freiherr von Seckendorff (21 Juni 1897 - 23 September 1944), Komandan Schützen-Regiment 114/6.Panzer-Division/XXXXI.Armeekorps/4.Panzergruppe/Heeresgruppe Nord, mengamati medan pertempuran menggunakan scherenfernrohr (scissor-scope/teropong gunting) dari atas sebuah tank komando Panzerkampfwagen III dengan turmnummer (nomor turet) '1107'. Foto diambil di stasiun Iamkino di dekat Leningrad bulan Juli 1941


Generalleutnant August Wittmann (komandan 1.(Volks.) Gebirgs-Division) di front Drina, akhir Agustus 1944


Di pos komando depan, dari kiri ke kanan: SS-Hauptsturmführer Walter Schmidt (Ib Quartiermeister 7. SS-Freiwilligen-Gebirgs-Division "Prinz Eugen"), SS-Obergruppenführer und General der Waffen-SS Artur Phleps (Kommandeur 7. SS-Freiwilligen-Gebirgs-Division "Prinz Eugen"), SS-Untersturmführer Kirchner (Ic Dritter Generalstabsoffizier 7. SS-Freiwilligen-Gebirgs-Division "Prinz Eugen"), SS-Standartenführer Michael Broser (Kommandeur SS-Freiwilligen-Gebirgsjäger-Regiment 13 "Arthur Phleps"), dan SS-Standartenführer der Reserve Stefan Hedrich (terpotong, Infanterie Führer 7. SS-Freiwilligen-Gebirgs-Division "Prinz Eugen")


1. Norbert Holm (pangkat terakhir: Generalmajor), 2. Wilhelm "Willifrank" Ochsner (pangkat terakhir: Generalleutnant), dan 3. Eugen Ritter von Schobert (pangkat terakhir: Generaloberst)



Scherenfernrohr dan Stielhandgranaten di parit yang terkamuflase



Seorang Leutnant Heer menggunakan Scherenfernrohr



Seorang perwira Wehrmacht berpangkat Oberleutnant sedang memegang Scherenfernrohr di atas atap gerbong kereta api di musim dingin 1942. Dia dipastikan berasal dari unit artileri, dengan melihat piping merah di dienstanzug (seragam), feldmütze (topi lapangan), kragenspiegel (kerah) serta schulterklappen-nya (tanda pangkat bahu)



Pos pengamatan artileri anti serangan udara Jerman di front Italia. Untuk menyamarkan lokasi ini, digunakan jaring kamuflase



Scherenfernrohr dengan bantalan khusus yang ditempelkan ke batang pohon. Foto diambil bulan Mei 1943



Leutnant Afrikakorps dengan Scherenfernrohr



Komandan unit pengintai Major der Reserve Willy Marienfeld (pangkat terakhir Oberstleutnant der Reserve) sedang memperhatikan front di Kuban, bulan Mei 1943



Infanteri Jerman mengamati posisi Soviet dengan teropong di Tanah Genting Perekop bulan Oktober 1941. Salah satunya menggunakan Scherenfernrohr



Seorang Kriegsberichter (koresponden perang) Kriegsmarine bernama Horst Grund (kanan) sedang berbincang-bincang dengan sekelompok Gebirgsjäger (pasukan gunung) di Krim, Rusia, tahun 1941



Heinrich Himmler mencoba Scherenfernrohr dalam kunjungan ke front Rusia di bulan September 1942. Di sebelah kanan adalah SS-Sturmbannführer August Dieckmann



Dua orang prajurit dengan Scherenfernrohr di kendaraan mereka yang telah dikamuflase di Prancis bulan Juni 1944



Prajurit dengan jaket kamuflase musim dingin di parit di Rusia bulan Januari 1944



Panglima 18.Armee Generalfeldmarschall Georg von Küchler (tengah) bersama dengan panglima Heeresgruppe Nord Generalfeldmarschall Wilhelm Ritter von Leeb (kanan) dalam kunjungan ke front observasi terdepan artileri bulan Oktober 1941



Scherenfernrohr bisa pula dipasang di kendaraan, dan sedikit berbeda versinya dengan yang biasa dalam hal adanya bantalan standar untuk pelindung kepala pengamat di kendaraan. Dalam foto di atas adalah sebagai contohnya dimana Scherenfernrohr dipasangkan di sebuah Sturmgeschütz III, dan seorang Feldwebel (Sersan-Mayor) dengan tulisan 667 di pundak nongkrong di sebelahnya. Lokasinya adalah di Smolensk (Rusia) bulan April 1943


Seorang prajurit Jerman dengan Scherenfernrohr di kendaraan lapis bajanya di kota Acireale (Italia) tahun 1944


Jalan kereta api Aiviekste di Latvia, Juni 1941. Di sebelah kiri adalah Panzer III sementara di kejauhan adalah Schützenpanzer (SdKfz 251). Lah, mana Scherenfernrohr-nya? Coba anda perhatikan dua "tanduk" di SdKfz 251, itulah dia!


Contoh lain dari penggunaan Scherenfernrohr di kendaraan: Para prajurit Heer sedang berusaha memindahkan sebuah Scherenfernrohr dari Schützenpanzer (SdKfz 250) ke Sturmgeschütz III. Smolensk (Rusia) bulan Maret 1943



Seorang prajurit Afrikakorps sedang mengamati medan dengan menggunakan scherenfernrohr, sementara wajahnya tertutupi oleh jaring anti serangga



Fallschirmjäger di Monte Cassino



Seorang tentara Divisi Polizei Waffen-SS dengan teropong-gunting (scherenfernrohr)



Scherenfernrohr di medan berparit



Penggunaan Scherenfernrohr dalam pertempuran malam di Rusia (1943). Seorang Oberleutnant tampak sedang mengarahkan Scherenfernrohr-nya, sementara operator radio yang memakai zeltbahn sibuk ngadu huntu di feldtelefon



Warsawa 4 Oktober 1939. Di latar depan adalah Scherenfernrohr yang terkamuflase, sementara di latar belakang adalah kendaraan militer menjadi target dan terbakar



Prajurit Wehrmacht di depan Scherenfernrohr mereka di Ostpreußen tahun 1940



General der Panzertruppe Hasso von Manteuffel dengan Scherenfernrohr (teropong gunting)



 Adolf Hitler (Führer und Oberster Befehlshaber der Wehrmacht) melihat melalui Scherenfernrohr (teropong gunting) saat prajurit-prajurit Jerman dari 3. Infanterie-Division menyeberangi Sungai Vistula (Weichsel) di sebelah selatan Kulm, 4 September 1939. Di belakangnya tampak memperhatikan SS-Gruppenführer Reinhard Heydrich (Chef Sicherheitsdienst), diikuti oleh SS-Gruppenführer Julius Schaub (Adjutant der SS beim Führer und Oberster Befehlshaber der Wehrmacht) lebih ke belakangnya lagi. Ini adalah hari pertama tur Hitler di Polandia, dan di hari itu sang Führer mempunyai jadwal sebagai berikut: pukul 09.30 pagi berada di Komierowo (Pos Komando 4. Armee), lalu dilanjutkan ke Prusziz (Pos Komando II. Armeekorps), dan diakhiri ke wilayah operasi 3. Infanterie-Division di Vistula. Foto ini sendiri pertama kali dipublikasikan dalam buku "Mit Hitler in Polen" (Bersama Hitler di Polandia) karya fotografer pribadi sang Führer, Heinrich Hoffmann, dengan caption asli berbunyi: "Unter den Augen des Führers gehen unsere Divisionen über die Weichsel" (Di bawah tatapan mata Führer, divisi kita menyeberangi sungai Vistula)







Pada tanggal 22 September 1939 Adolf Hitler (Führer und Oberster Befehlshaber der Wehrmacht) mengunjungi wilayah terluar Warsawa untuk melihat perkembangan terakhir pengepungan Jerman atas ibukota Polandia tersebut. Di hari yang sama dia kembali ke Zoppot (Sopot) dan tinggal disana selama beberapa hari selanjutnya. Foto hasil karya Heinrich Hoffmann ini memperlihatkan saat sang Führer berada di wilayah Praga yang berada di pinggiran Warsawa. Melalui Scherenfernrohr (teropong gunting), dia memperhatikan aksi pemboman oleh meriam-meriam artileri dari I. Armeekorps. Identifikasi untuk foto paling bawah: perwira Heer yang memakai kacamata di sebelah Hitler adalah Generalleutnant Walter Petzel (Kommandierender General I. Armeekorps); perwira Luftwaffe di belakang Hitler adalah Generalmajor Karl-Heinrich Bodenschatz (Verbindungsoffizier zwischen dem Oberbefehlshaber der Luftwaffe und dem Führerhauptquartier); muka hampir seluruhnya tertutup oleh Hitler adalah General der Artillerie Georg von Küchler (Oberbefehlshaber 3. Armee); perwira SS yang memakai ledermantel di belakang adalah SS-Gruppenführer Dr.rer.pol. Otto Dietrich (Reichspressechef der NSDAP und Staatssekretär im Reichsministerium für Volksaufklärung und Propaganda); dan yang paling kanan adalah Generaloberst Wilhelm Keitel (Chef der Oberkommando der Wehrmacht). Keitel masih ingat mengenai momen dalam foto ini: "Kami tiba di bandara, dan lalu melanjutkan perjalanan menuju pos komandan artileri I. Armeekorps yang berada di utara Warsawa dengan menggunakan mobil melewati jembatan ponton yang melintasi sungai Vistula. Dengan mengambil tempat di menara sebuah gereja yang berada di timur-laut Praga, sebuah wilayah di pinggiran Warsawa yang terletak di tepi timur Sungai Vistula, Hitler memerintahkan bombardir artileri terhadap pertahanan terluar Warsawa. Disinilah sang Führer menerima berita tentang gugurnya Generaloberst Werner Freiherr von Fritsch (mantan Panglima Angkatan darat Jerman) dalam pertempuran di pagi hari di markas komandan infanteri saat berlangsungnya gerak maju oleh Artillerie-Regiment 12." Dengan ini, Fritsch tercatat sebagai jenderal kedua Jerman yang terbunuh dalam Perang Dunia II. Yang pertama adalah SS-Brigadeführer und Generalmajor der Ordnungspolizei Wilhelm Fritz von Roettig yang tewas tanggal 10 September 1939 di dekat Opoczno (Jenderal kedua - dari semua pihak yang berperang - yang terbunuh dalam Perang Dunia II tercatat atas nama Józef Kustroń, Brigadir-Jenderal Polandia yang gugur tanggal 16 September 1939 di Ulazow)


Pada tanggal 25 September 1939, Adolf Hitler terbang dari Zoppot menuju wilayah sekitar Warsawa, Polandia. Dia melakukan kunjungan ke 8. Armee (General der Infanterie Johannes Blaskowitz) dan 10. Armee (General der Artillerie Walther von Reichenau), serta markas pasukan Jerman di Grodjisk Mazowieki. Setelahnya dia kembali ke Godentow-Lanz menggunakan pesawat terbang. Keesokan harinya (26 September 1939 pukul 09:30), Hitler pulang ke Berlin menggunakan Führersonderzug "Amerika". Dia tiba di ibukota Jerman tersebut pukul 17:05 di sore harinya. Sang Führer baru kembali ke Polandia pada tanggal 5 Oktober 1939 untuk mengikuti parade kemenangan pasukan Jerman. Foto ini diambil pada tanggal 25 September di wilayah 10. Armee yang berada diantara Bzura dan Sungai Vistula (menghadap barat Warsawa) dan memperlihatkan saat Hitler dan para petinggi Wehrmacht lainnya sedang mengawasi kondisi terakhir kota Warsawa yang terkepung melalui fernglas (teropong) dan scherenfernrohr (teropong gunting). Dari kiri ke kanan: Reichsleiter Martin Bormann (Persönlicher Sekretär bzw. Stabsleiter des Stellvertreters des Führers Rudolf Hess), Adolf Hitler (Führer und Oberster Befehlshaber der Wehrmacht), Generalmajor Erwin Rommel (Kommandeur Führer-Begleit-Kommando), General der Artillerie Walther von Reichenau (Oberbefehlshaber 10. Armee), dan Generalmajor Friedrich Paulus (Chef des Generalstabes 10. Armee). Foto jepretan Kriegsberichter Kliem dari Propaganda-Kompanie 637 (Ost). Mereka sedang melihat kondisi kota Warsawa ((Polandia) yang terkepung oleh pasukan Jerman melalui fernglas (teropong) dan Scherenfernrohr (teropong gunting)


 General der Artillerie Walther von Reichenau (Oberbefehlshaber 10. Armee) melihat kondisi kota Warsawa yang terkepung melalui Scherenfernrohr (teropong gunting), sementara Adolf Hitler (Führer und Oberster Befehlshaber der Wehrmacht) berdiri memperhatikan. Tertutup oleh Reichenau adalah muka dari Generaloberst Wilhelm Keitel (Chef der Oberkommando der Wehrmacht), dan diantara Reichenau dan Hitler adalah Generalleutnant Erich von Manstein (Chef des Generalstabes of Heeresgruppe Süd). Foto ini diambil pada tanggal 25 September 1939 di wilayah 10. Armee yang berada diantara Bzura dan Sungai Vistula (menghadap barat Warsawa)


 Dengan latar depan sebuah Scherenfernrohr (teropong gunting), para petinggi Wehrmacht berdiskusi mengenai situasi militer terakhir di Polandia. Dari kiri ke kanan: Generalleutnant Erich von Manstein (Chef des Generalstabes of Heeresgruppe Süd), Reichsleiter Martin Bormann (Persönlicher Sekretär bzw. Stabsleiter des Stellvertreters des Führers Rudolf Hess), Generaloberst Gerd von Rundstedt (Oberbefehlshaber Heeresgruppe Süd), Generaloberst Wilhelm Keitel (Chef der Oberkommando der Wehrmacht), Adolf Hitler (Führer und Oberster Befehlshaber der Wehrmacht), General der Artillerie Walther von Reichenau (Oberbefehlshaber 10. Armee), dan Generalmajor Friedrich Paulus (Chef des Generalstabes 10. Armee). Foto ini diambil pada tanggal 25 September 1939 di wilayah 10. Armee yang berada diantara Bzura dan Sungai Vistula (menghadap barat Warsawa)


 Dari kiri ke kanan: Generaloberst Gerd von Rundstedt (Oberbefehlshaber Heeresgruppe Süd), Adolf Hitler (Führer und Oberster Befehlshaber der Wehrmacht), dan Generalmajor Friedrich Paulus (Chef des Generalstabes 10. Armee). Foto ini diambil pada tanggal 25 September 1939 di wilayah 10. Armee yang berada diantara Bzura dan Sungai Vistula (menghadap barat Warsawa). Di tempat tersebut Hitler dan para petinggi Wehrmacht lainnya mengawasi kondisi terakhir kota Warsawa yang terkepung melalui fernglas (teropong) dan scherenfernrohr (teropong gunting)


 
Kotak penyimpan Scherenfernrohr untuk bepergian



Sumber :

Buku "Soldat (1) The German Soldier on the Eastern Front 1941-43" karya Gordon Rottman dan Stephen Andrews
Buku "Stalingrad Inferno: The Infantryman's War" karya Gordon Rottman dan Ronald Volstad
Buku "The 6th Panzer Division: 1937-45" karya Oberst a.D. Helmut Ritgen
Buku "Vorwärts Prinz Eugen" karya Otto Kumm
Foto koleksi Bundesarchiv Jerman
Foto koleksi Hugo Jaeger
Foto koleksi pribadi Akira Takiguchi
www.5sswiking.tumblr.com
www.afrika-korps.de
www.audiovis.nac.gov.pl
www.commons.wikimedia.org
www.fieldgear.org
www.forum.axishistory.com

www.life.com
www.panzerlehr.mojeforum.net
www.rommel-lebt.com
www.wehrmacht-awards.com

1 comment:

Irfan Rawker said...

kayaknya teropong gunting "Scherenfernrohr" cocok dipake untuk ngintip yg lg 'mandi'.