Sunday, October 7, 2012

Foto 5. leichte-Division / 21. Panzer-Division

Upacara penganugerahan Ritterkreuz des Eisernen Kreuzes untuk Oberstleutnant Irnfried Freiherr von Wechmar (Kommandeur Aufklärungs-Abteilung 3 (motorisiert) / 5.leichte-Division / Deutsches Afrikakorps) yang diserahkan langsung oleh Generalleutnant Erwin Rommel (Kommandierender General Deutsches Afrikakorps) pada tanggal 13 April 1941. Di belakang terparkir sebuah ranpur komando AEC Dorchester yang merupakan salah satu dari tiga kendaraan sejenis hasil rampasan dari Inggris yang biasa digunakan oleh Rommel sebagai kendaraan komando utamanya saat mengunjungi berbagai front di Afrika. Pasukan Jerman menyebut kendaraan jenis ini sebagai "Mammut", sementara yang biasa dipakai Rommel dinamakan sebagai "Max"


Oberstleutnant Irnfried Freiherr von Wechmar (Kommandeur Aufklärungs-Abteilung 3 (motorisiert) / 5.leichte-Division / Deutsches Afrikakorps) berbincang-bincang dengan para perwiranya di Front Afrika Utara, bulan Mei 1941. Baru sebulan sebelumnya dia dianugerahi medali Ritterkreuz des Eisernen Kreuzes (tepatnya tanggal 13 April 1941) sebagai penghargaan atas kepemimpinan serta keberaniannya di medan tempur menghadapi pihak Inggris. Foto oleh Kriegsberichter Gessl


 

Musim semi 1944 di Saint-Martin-de-Fresnay, setengah jalan antara Lisieux dan Saint-Pierre-sur-Dives, Prancis. Salah satu dari Panzerkampfwagen IV milik Panzer-regiment 22 / 21.Panzer-Division telah berhenti di depan toko grosir Madame Leroy yang merangkap café dan restoran untuk mensuplai kembali persediaan... Camembert! Madame Leroy sendiri melihat begitu bernafsunya para awak panzer ini dari jendela loteng saat pekerjanya yang kikuk menyerahkan "suplai" yang berharga tersebut - yang tak akan berguna apa-apa dalam menahan gerak maju pasukan Sekutu, apalagi dengan dengan tunggangan mereka yang merupakan Panzer IV Ausf.C bermeriam pendek keluaran tahun 1940 yang sudah agak ketinggalan zaman. Panzer tersebut dilaburi cat warna kuning pasir standar tanpa ditambahi marking apa pun, kecuali nama pacar dari si supir, "Hedi" yang tertulis di celah katup pelindung besi untuk melihat. Nama anak perempuan operator-radio, "Elfriede", tidak terlalu terlihat jelas dan nampaknya ditulis menggunakan kapur tulis



Masih dari sesi foto yang sama dengan sebelumnya. Saat para awak panzer muda tersebut sedang mencicipi rasa camembert yang terkenal lezat, beberapa kameraden mereka dari unit infanteri (yang masih memakai sisa-sisa pakaian dari medan Afrika) terlihat baru saja keluar dari café setelah meminum beberapa kendi cider (minuman yang terbuat dari juice hasil perasan apel). Seperti kata pepatah Jerman, para prajurit muda ini hidup "seperti dewa di Prancis" walaupun hal tersebut tak akan berlangsung lebih lama lagi setelah Sekutu mendarat di Normandia hanya beberapa minggu setelahnya, dan kegembiraan mereka akan berubah menjadi ketakutan!


 Sebuah Panzerkampfwagen Ausf.H atau J dari Panzer-regiment 22 / 21.Panzer-Division melintasi sebuah jalan kereta api antara Troan dan Caen di jalan raya RN175, musim panas 1944. Panzer-Regiment 22 merupakan satu-satunya unit lapis baja Wehrmacht yang siap tempur dan berada paling dekat dengan lokasi pendaratan Sekutu di hari pertama D-Day (6 Juni 1944), terutama wilayah Calvados, Manche, dan semenanjung Cotentin. Sebenarnya ada juga yang lebih dekat, yaitu Panzer-Ersatz-und-Ausbildung-Abteilung 100 (Batalyon Pelatihan dan Cadangan Lapis Baja 100) tapi, sesuai namanya, unit tersebut bukanlah unit untuk berperang dan kekuatannya pun hanya dibekali oleh tank-tank Prancis hasil rampasan tahun 1940 yang sudah out-of-order


 Panzerkampfwagen IV Ausf.H di sebuah desa yang berada di wilayah Caen, Normandia (Prancis). Kedua foto ini memperlihatkan sisi yang berbeda dari tank yang sama. Lubang palka di kubahnya dilengkapi dengan senapan mesin MG34 yang difungsikan sebagai anti pesawat udara. Schürzen-nya merupakan tipe pertama yang dipasangkan secara lebih solid dibandingkan tipe kedua. Salah satu platnya hilang entah kemana, sementara di sisi lainnya malah tidak terpasang! Plat di depan atas direkatkan dengan cara dibaut, yang menunjukkan bahwa tank ini merupakan tipe H model paling awal. Awaknya berasal dari Heer dan, menurut salah satu sumber, berasal dari Panzer-regiment 22 / 21.Panzer-Division. Terlihat sebuah sepeda motor BMW R-12 (750 cc) bersespan sedang melintas di sebelahnya. Setidaknya sekitar 16 buah sepeda motor dari jenis tersebut disediakan untuk satu batalyon Panzer IV



 Dua buah Panzerkampfwagen IV dari Panzer-Regiment 22 / 21.Panzer-Division bergerak maju ke front di Caen, Juni 1944. Mereka dilengkapi dengan Schürzen (rok) sebagai pelindung tambahan dari tembakan arah samping, juga ditutupi sebagian oleh dedaunan sebagai kamuflase. Dalam salah satu foto terlihat seorang Kriegsberichter (Koresponden Perang) sedang mengabadikan panzer-panzer tersebut untuk nantinya ditayangkan dalam "Die Deutsche Wochenschau" (Warta Berita Jerman). Fotografer dan kameraman Wehrmacht seringkali bekerja bareng dalam meliput berita yang sama


 Iring-iringan kendaraan perang dari Panzerjäger-Abteilung 200 / 21. Panzer-Division bergerak menuju front di Caen (Normandia), bulan Juni 1944. Disini kita melihat sebuah senjata serang yang unik: Sasisnya adalah Hotchkiss H-39 buatan Prancis yang telah dimodifikasi untuk menciptakan sebuah penghancur tank yang menakjubkan. Sebuah meriam howitzer 10,5 cm (10,5 cm Feldhaubitze 18/40) menjadi senjata andalan utama sasis tersebut. Meriam ini mempunyai jangkauan sampai sejauh 12 km, kecepatan tembak 6-8 peluru per menit dan kecepatan peluru 540 m per detik! Platformnya telah mendapat perlindungan baja tambahan di bagian kokpit. Senjata serang satu ini mendapat nama resmi Panzer-Feldhaubitze 18 auf Sfl. 39H(f), dan 38 buah di antaranya dialokasikan untuk Panzerjäger-Abteilung 200 pimpinan Major Alfred Becker yang merupakan unit penghancur tank milik 21. Panzer-Division. BTW, Major Becker ini, selain sebagai seorang komandan unit setingkat batalyon, juga adalah insinyur jenius yang berada di balik pengalihfungsian mesin-mesin perang rampasan dari Sekutu menjadi mesin perang Jerman sekaligus meng-upgrade kemampuannya berkali-kali lipat! Atas jasa-jasanya dia dianugerahi Ritterkreuz des Kriegsverdienstkreuzes mit Schwertern tanggal 2 April 1945. Sekedar informasi, RK-KvK ini merupakan medali tertinggi yang bisa diberikan oleh Hitler pada orang-orang yang memberi kontribusi LUAR BIASA bagi usaha perang Jerman, di luar dari peran aktif di medan pertempuran


 

Para awak Panzerkampfwagen IV muda yang menunggu perintah untuk beraksi dalam pertempuran di Rouen, pinggir timur sungai Seine, Normandia, tanggal 25 Agustus 1944. Mereka baru saja menyeberangi sungai tersebut. 21. Panzer-Division berkali-kali memblok jalur serangan Sekutu di wilayah Caen sebelum superioritas udara lawan memaksa mereka untuk mundur ke garis pertahanan yang baru. BTW, Leutnant di kiri memakai Knockensack kamuflase hasil modifikasi yang unik, dan tampaknya dia memegang cerutu Kuba di tangannya!


Upacara penganugerahan Ritterkreuz dari 21.Panzer-Division untuk Hauptmann der Reserve Wilhelm "Willi" Kurz (Kommandeur II.Bataillon/Panzergrenadier-Regiment 125) yang diselenggarakan tanggal 20 Oktober 1944. Dari kiri ke kanan: Major Ruprecht Heeringer, Generalleutnant Edgar Feuchtinger, Willi Kurz, Oberstleutnant Hans-Ulrich von Luck und Witten, Major Gerhard Scharnhorst, dan Major Hans-Joachim Liehr. Von Luck (komandan Panzergrenadier-Regiment 125) mengenang bahwa upacara ini telah juga difilmkan! BTW, Kurz sendiri menerima Ritterkreuz atas jasanya menahan musuh yang berusaha menyeberang jembatan sehingga membuat pihak Jerman mampu mengirimkan cadangan peralatan melintasi sungai Seine

----------------------------------------------------------------------------

PERAIH SCHWERTER


Generalmajor Hermann von Oppeln-Bronikowksi (2 Januari 1899 – 19 September 1966) adalah anak seorang perwira AD Kekaisaran Jerman yang ikut bertempur dalam Perang Dunia I sebagai Oberleutnant di Ulan Regiment "Prinz August von Württemberg" No. 10. Di adalah seorang penunggang kuda yang sangat handal, dan meraih medali emas di nomor Dressing (latih) beregu dengan kuda bernama "Gimpel" dalam Olimpiade Berlin tahun 1936. Ketika Perang Dunia II pecah, Major Oppeln-Bronikowski menjadi komandan Aufklärungs-Abteilung 24 / 24.Infanterie-Division. Disini dia mendapat Eisernes Kreuz I.Klasse setelah melakukan serangan dadakan terhadap musuh yang berhasil dengan baik. Dalam Unternehmen Barbarossa dia bertempur bersama Panzer-regiment 35 / 4.Panzer-Division dan di bulan Januari 1942 menjadi komandan resimen tersebut dengan pangkat Oberst. Keberaniannya di medan pertempuran membuatnya dianugerahi Ritterkreuz (1 Januari 1943), Eichenlaub #536 (28 Juli 1944) dan Schwerter #142 (17 April 1945). Oppeln-Bronikowski mengakhiri perang sebagai Kommandeur 20. Panzer-Division (November 1944 - Mei 1945). Setelahnya dia berprofesi sebagai penasihat sipil sekaligus membantu pembentukan Bundeswehr (AB Jerman Barat). Dia juga sempat bekerja di Kanada sebagai instruktur berkuda untuk Olimpiade Musim Panas di Tokyo tahun 1964

----------------------------------------------------------------------------

 PERAIH RITTERKREUZ




Oberstleutnant der Reserve Wilhelm Bach (5 November 1892 – 22 Desember 1942) adalah salah satu karakter yang paling tidak biasa dalam tubuh Afrikakorps. Dia merupakan seorang mantan pastor Lutheran yang juga salah satu komandan batalyon terbaik yang dipunyai Erwin Rommel. Meskipun pangkatnya membuat ia selayaknya dihormati, tapi dia adalah salah satu komandan Jerman yang paling bersahabat, paling cu'ek dan paling santai yang berada di bawah komando si Serigala Rumah Makan Padang eh Padang Pasir Rommel! Ketika Erwin Rommel mencapai Afrika di bulan Februari 1941, dia diperkenalkan kepada para perwira yang menyambutnya. Dia tidak tersenyum atau mencoba bersikap bersahabat. Dia tahu tak ada waktu untuk beramah tamah dan ngadu huntu karena dia harus menguji mereka dalam pertempuran terlebih dahulu. Tapi ada satu orang perwira yang begitu dibenci Rommel pada awalnya: dia adalah Hauptmann Bach, seorang veteran pertempuran Prancis sama seperti Rommel dan peraih medali Eisernes Kreuz I klasse. Bach pernah terluka di lututnya sehingga kemana-mana dia selalu membawa tongkat. Rommel tidak menyukai kenyataan bahwa ada seorang komandan pasukan "tidak sehat" di bawah komandonya, apalagi setelah dia mengetahui bahwa Bach juga adalah seorang pendeta Lutheran. Seorang pendeta bertempur??? Tak pernah terbayangkan! Beberapa bulan kemudian, Rommel berbalik mencintai dan mengagumi Bach. "Si Pincang" ternyata adalah master dari meriam artileri 88mm, sehingga seakan-akan benda tersebut menyatu dalam dirinya. Berkali-kali dia memanfaatkan senjata yang sejatinya ditujukan untuk melawan pesawat udara itu untuk menghantam tank-tank Inggris yang mencoba mengancam posisi Jerman. Bahkan meskipun kapten Bach tidak pernah terlihat memakai seragamnya dengan benar (dan kadangkala tampak culun!), dia begitu dicintai para bawahannya. Wajar saja, karena Bach tidak pernah menjaga jarak sejengkalpun, dan dia menganggap para prajuritnya sebagai anak kandung yang diperlakukan dengan penuh kehangatan. Bach adalah salah satu figur yang paling mudah dikenali di seantero Afrikakorps... Rokok yang selalu menempel di mulutnya, kumis ala Hitler dan kacamata miopik, semuanya telah sama diketahui oleh para penembak artileri DAK. Major Bach pula lah yang berhasil menahan serbuan 20.000 pasukan Inggris dari 12th Corps di Halfaya Pass dengan hanya bermodalkan 4.000 orang saja! Dengan gagah berani dia mempertahankan Halfaya Pass (biasa dinamakan dengan "Hellfire Pass" oleh pihak Sekutu) sampai akhirnya pasokan suplainya terputus dan dia sama sekali terkepung tanggal 17 Januari 1942 sehingga kemudian terpaksa menyerah. Sebagai tawanan perang dia dikirimkan ke Kanada dimana dia meninggal karena kanker (saya tidak mendapat data kanker apa, tapi kemungkinan kanker paru-paru karena hobi merokoknya yang gila-gilaan!) akhir tahun itu juga, tepatnya tanggal 22 Desember 1942. Rasa cinta pasukannya ditunjukkan dengan adanya sebuah tanda peringatan dari kayu yang ditempatkan di sudut pemakaman dan terpisah dari kuburannya. Wilhelm Bach sendiri dikuburkan di Woodland Cemetery yang terletak di Kitchener, Ontario (Kanada). Dia dianugerahi Ritterkreuz des Eisernen Kreuzes tanggal 9 Juli 1941 sebagai Hauptmann der Reserve dan Kommandeur I.Bataillon / Schützen-Regiment 104 / 5.leichte-Division / Deutsches Afrika-Korps (DAK). Medali dan penghargaan lain yang diterimanya: 1914 Eisernes Kreuz II.Klasse (7 Mei 1915) dan I.Klasse (31 Januari 1920); Ehrenkreuz für Frontkämpfer 1914/1918 (24 Oktober 1934); 1939 spange zum 1914 Eisernes Kreuz II.Klasse (12 Juni 1940) dan I.Klasse (17 Juli 1940); Verwundetenabzeichen in Schwarz; serta Infanterie-Sturmabzeichen in Silber

----------------------------------------------------------------------------

Oberleutnant Günther Micklei (8 Oktober 1919 - 27 Mei 1942) yang merupakan perwira sandi (Nachrichtenoffizier) dari II.Abteilung / Panzer-Regiment 5 / 21.Panzer-Division sedang memegang seekor burung merpati yang tampak anteng di tangannya. Micklei gugur dalam pertempuran di Bir el Hamad di samping komandan II.Abteilung, Oberstleutnant Joachim Martin (23 Februari 1906 - 2 Juni 1942), yang terluka parah dan beberapa hari kemudian tewas karena luka-lukanya. Jenazah Micklei dikuburkan di Kriegsgräberstätte Tobruk. Dalam foto di atas, Micklei memakai perpaduan seragam tropis model pertama dengan tropenmütze perwira. Perhatikan pin Totenkopf yang tersemat di kerahnya! Ukurannya lebih besar dari biasanya. Selain itu, pita Eisernes Kreuz II.Klase-nya diikatkan di kancing saku dan bukannya kancing tengah seperti praktek umumnya. terakhir, dia mengenakan daleman pakaian sipil dengan ritsleting


Sumber :
Buku "After the Battle: Panzers in Normandy Then and Now" karya Eric Lefèvre
Buku "Rückmarsch Then and Now: The German Retreat from Normandy" karya Jean-Paul Pallud
Buku "The Panzers and the Battle of Normandy" karya Georges Bernage
www.audiovis.nac.gov.pl
www.beutepanzer.ru

No comments: