Friday, August 20, 2010

Oberst Dietrich 'Dieter' Hrabak (1914-1995), Jagoan Udara Sekaligus Pemimpin Skuadron Udara Luftwaffe Paling Sukses!

Dari kiri ke kanan: Dietrich Hrabak, Erich Hartmann dan Fritz Obleser


Dietrich Hrabak (tengah) tak lama setelah menghadiri upacara penganugerahan Ritterkreuz atas dirinya. Dia masih menjadi perwira di Jagdgeschwader 54, dan kumis tipis masih nongol di wajahnya!



Dua orang Ritterkreuzträger (peraih Ritterkreuz) berpangkat Major sedang berbincang-bincang dengan perwira Kroasia di kiri. Di latar belakang adalah pesawat Messerschmitt Bf 109 milik sukarelawan Kroasia di Luftwaffe. Dari kiri ke kanan: Franjo Džal (15./JG 52) , Hubertus von Bonin dan Dietrich Hrabak


Para jagoan udara Luftwaffe, dari kiri ke kanan: Werner Lucas, Dietrich Hrabak, Kurt-Werner Brändle dan Wolfgang Ewald


Dietrich Hrabak dengan medali Ritterkreuz


Dietrich Hrabak dengan medali Eichenlaub


Dari kiri ke kanan: Hans Stern (RK 15 Juli 1941 sebagai Hauptmann dan Chef 3.Kompanie/Panzer-Regiment 11); Fritz Biermann (RK 31 Agustus 1943 sebagai Oberleutnant dan Führer 3.Kompanie/Panzeraufklärungs-Abteilung 6); Dr.rer.pol. Dietrich Koch (RK 23 Februari 1942 sebagai Feldwebel dan Zugführer 3.Batterie/Panzerjäger-Abteilung 88); Dietrich Hrabak (RK 21 Oktober 1940 sebagai Hauptmann dan Kommandeur II.Gruppe/Jagdgeschwader 54); Gerold Overhoff (RK 10 Desember 1942 sebagai Oberleutnant dan Chef 1.Kompanie/Grenadier-Regiment 11); dan SS-Gruppenführer Alfred Freyberg (Stab SS-Oberabschnitt Elbe)


Dietrich Hrabak (kedua dari kiri) memperhatikan pengisian bahan bakar untuk pesawat skuadronnya


Dari kiri ke kanan: Ernst Bormann (Fliegerführer Krim), Gerhard Barkhorn dan Dietrich Hrabak (keduanya dari Jagdgeschwader 52)


 1944: Oberstleutnant Dietrich "Dieter" Hrabak (Geschwaderkommodore JG 52) sedang berbincang serius melalui telepon sambil memperlihatkan medali yang diraihnya: Eichenlaub zum Ritterkreuz des Eisernen Kreuzes (25 November 1943) serta Frontflugspange in Gold mit Anhänger. Di jarinya dia mengenakan cincin Der Siegelring des Kommodores JG 52 yang khusus dipakai oleh para komandan JG 52


Dietrich Hrabak sebagai Generalmajor Bundesluftwaffe di tahun 1970


Dietrich Hrabak (kanan) bersama dengan veteran Luftwaffe lainnya Adolf Galland


Para bangkotan mantan penerbang zaman Perang Dunia II, dari kiri ke kanan: Dietrich Hrabak, Paul-Werner Hozzel, Adolf Galland, Robert Stanford Tuck (pilot Inggris), dan Hannes Trautloft. Satu lagi yang paling kanan tidak diketahui namanya

Perang Dunia II diwarnai banyak cerita perjuangan yang memunculkan sederet pahlawan dengan jasanya. Bukan hanya kejadian di darat namun juga dari pertempuran di udara. Bermunculanlah nama-nama penerbang populer seperti Erich Hartmann, Gerd Barkhorn atau Johannes Steinhoff yang dikenal dalam Angkatan Udara Jerman (Luftwaffe).
Di zaman Hitler dan Nazi, ada nama seorang penerbang yang mempunyai andil besar bagi negara Jerman dalam peperangan, yakni Dietrich Hrabak.
Sukses pertama pilot tempur ini adalah dengan menembak jatuh pesawat Potez-63 ketika melawan Prancis tahun 1940. Kemudian dalam pertempurannya melawan Inggris, skornya kembali bertambah. 16 pesawat ditembak jatuh, sehingga penghargaan Ritterkreuz dari Battle of Britain diterimanya pada tahun 1940. Sekaligus juga pangkatnya naik menjadi Hauptmann (Kapten).
Bulan November 1943 Hrabak kembali menerima medali yaitu Eichenlaub, yang diperolehnya setelah ia berhasil membukukan kemenangan ke-100. Kepangkatan Oberstleutnant (Letnan Kolonel) disandangnya. Satu tahun kemudian, atas jasanya menembak jatuh 125 pesawat dari total 820 misi penerbangan, Hrabak dianugerahi medali Deutsches Kreuz in Gold.
Menyinggung soal sukses perang udaranya, dia hanya berkomentar, "Aku bukanlah seorang yang jenius dalam pertempuran udara, selebihnya hanyalah sebagai pekerja keras biasa. Memang aku telah merontokkan 125 pesawat musuh dari 800 misi penerbangan, tapi masih sangat jauh bila dibandingkan dengan Hartmann, Barkhorn, atau Marseille. Mereka hanya memerlukan setengah dari jumlah misinya, dan skornya berlipat ganda dari jumlah kemenangannya."
Luftwaffe memang menerapkan pertempuran udara dengan kekuatan taktis (tactical force), bukannya kekuatan strategis. Keberuntungan taktik perang Hrabak diambil dari pengalaman rekannya Major Hannes Trautloft, seorang penempur Jerman yang berpartisipasi dalam Perang Sipil di Spanyol. Mereka sama-sama menyukai cara melumpuhkan musuhnya dengan menembak dari jarak dekat!
Awal kisah gemilang pertempuran udara pertamanya di atas wilayah Jerman pada tanggal 13 Mei 1940 terjadi dengan begitu cepat. Pesawat Bf 110 berbendera Black Crosses milik Jerman sedang dalam tugas melindungi pasukannya yang berada dalam iringan empat kapal Schwarm yang menyusuri sungai Meuse.
Raungan mesin pesawat memecah keheningan sepanjang sungai. Tak ada tanda-tanda sebelumnya, semua dirasa aman. Tanpa disadari, pesawatnya dikagetkan oleh melintasnya sebuah pesawat Prancis, Potez 63 recce. Hrabak terkejut. Segera moncong pesawat berbaling-baling tunggal itu dirubah arahnya untuk mengejar pesawat yang diterbangkan oleh pilot berkebangsaan Prancis. Menyusul kemudian serentetan tembakan dilepaskannya. "Aku dapat menyaksikan pukulan cepat itu karena terlihat kepulan asap keluar dari mesin kiri pesawat." Mesin perang Prancis itu cepat mendarat mendekati kesatuan infanteri Jerman. Tidak ada yang menyangkal kebenaran penembakan tersebut karena semuanya berlangsung begitu cepat dan mendadak.
Tak sabar dirinya ingin tahu kelanjutan nasib Potez sial naas yang terbakar itu, sementara di lain pihak masih harus menanti awaknya yang keluar menyelamatkan diri dari reruntuhan pesawat, Hrabak langsung memberondong kembali pesawat tersebut sampai hancur berantakan dan terbakar.
"Amunisi habis. Aku beritahukan kepada captain-pilot untuk siap menanjak menuju ke arah pangkalan Trier di dekat sungai Moselle. Tiba-tiba kami dilintasi sembilan buah pesawat tempur Curtiss Hawk 75, pesawat berbendera Prancis buatan Amerika. Kami tak dapat berbuat apa-apa, kecuali lari bagaikan dikejar dedemit!"
Apa yang dialaminya pertama kali selalu diingatnya, dan dia berjanji tak akan mengulanginya lagi. Tindakan yang membuatnya berlaku bodoh dengan menghabiskan seluruh amunisi hanya untuk sasaran yang tidak berarti. "Aku harus belajar menggunakan otak dari pengalaman pahit ini," janjinya.
Pengalaman yang paling berkesan didapatnya selama pertempuran brutal di Stalingrad, dimana keadaan yang seenarnya sulit untuk dilukiskan. "Terbang melintasi tragedi yang terpisah dengan skenario adalah pengalaman jiwa yang terbakar dalam ingatanku." Ketika pesawatnya berpapasan dengan Ilyushin Il-2 Stormovik Soviet, dia unggul dalam pertahanan yang paling baik di udara. "Burung besi itu kena batunya," gumamnya.
"Terbang dalam satu formasi empat unit Bf 109. Di antara formasi kami, Il-2 tampak terpencil. Satu persatu para penempur kami menembak habis-habisan ke dalam mesin pesawat Soviet dari jarak titik terdekat. Namun Il-2 terus melanjutkan penerbangannya walaupun diberondong peluru habis-habisan. Aku tentu saja heran luar biasa. Apa yang terjadi dengan pesawat itu? Kembali kepada jawaban klasik yang pernah aku dengar: 'Herr Oberst, anda tak dapat memukulkan landak kepada seekor keledai'. Aku tidak pernah melihat pesawat sejenis lain yang begitu memikat dalam pertempuran, yang tetap dapat terbang dengan anggunnya walaupun dalam keadaan rusak berat!"
Siapa sih sebenarnya Dieter Hrabak yang namanya mencuat sebagai salah satu jagoan udara Luftwaffe paling terkemuka ini? Dia lahir di Groß-Deuben, Saxony, pada tanggal 19 Desember 1914. Usai menamatkan SMA, Hrabak bergabung dengan Angkatan Laut Jerman saat itu, Reichsmarine. Masih sebagai kadet, Hrabak ditransfer ke Luftwaffe pada bulan November 1935. Empat tahun kemudian karirnya mulai kelihatan sebagai komandan skuadron di Wina di dalam kesatuan Gruppe 76.
Setelah misi penerbangan dalam invasi Jerman ke Yunani dan Balkan, Hrabak ikut pula diperbantukan di Jagdgeschwader (Wing Tempur) 54 di Front Timur. Di dalam kesatuan yang terkenal karena simbol hatinya Grunherz (Green Hearts) ini, karir Hrabak makin cemerlang. Pada bulan November 1942 dia dipromosikan menjadi Kommodore untuk Jagdgeschwader 52, kesatuan tempur yang menampung jagoan-jagoan udara paling gila dari Luftwaffe seperti Erich Hartmann, Gerhard Barkhorn, dan Johannes Steinhoff. Pangkat Oberst (Kolonel) diterimanya setelah dua tahun menjadi Komodor JG 52 pada tanggal 1 Oktober 1944.
Sesungguhnya, meskipun dengan pangkat yang sudah tinggi seperti Oberst, Hrabak masih memendam keinginan untuk bekerja seperti ayahnya yang merupakan seorang arsitek. Ketika dia lalu melamar di universitas Tubingen, Hrabak kecewa. "Anda adalah seorang militer. Tidak ada pelajaran yang cocok untuk anda." Walaupun demikian, Hrabak tak lantas diam dan merenungi kekecewaannya. Dia segera kembali ke kesatuan lamanya di JG 52 yang menerimanya dengan tangan terbuka.
Sejumlah pengagumnya seperti Erich Hartmann yang pertama kali bertempur di JG 52 ketika Hrabak menjabat, berkisah tentang komodor tuanya, "Semua orang tahu bahwa Eichenlaub adalah tanda jasa yang diperlukan bagi orang yang memperoleh jumlah kemenangan tertentu. Hrabak adalah orang yang pantas mendapatkannya ketika dia menembak jatuh 120 pesawat lawan."
Hanya beberapa tokoh terkemuka Luftwaffe yang muncul dari dasar pertanyaan yang kontemporer tanpa ada pandangan ekspresi yang negatif. Hrabak mencari bayaran yang dia sesuaikan dengan kekuatan dari lebih andilnya sebagai pimpinan jago udara. Dia adalah salah satu burung besi Luftwaffe yang jarang ditemui!
Erich Hartmann masih mengingat perjumpaan pertamanya dengan Hrabak: Orangnya pendek, sosok manusia dengan rambut pirang yang tipis. Hartmann melanjutkan, "Aku selalu teringat perbedaan antara komandan wing dengan seorang ajudan. Pakaian seragamnya kusut, kotor, dan bernoda oli pada celananya. Sepatu bot-nya berlumuran lumpur kering dan jarang disikat. Dia biasa berkeliaran di area latihan yang berada di basis latihannya, dengan lagak bak dewa yang memakai seragam butut tersebut kemana-mana."
Tapi di balik penampilannya yang cu-ek habis, sebenarnyalah Hrabak merupakan orang yang berpembawaan halus dan tenang. Dengan sorot matanya yang biru, ia melihat langsung penerbang lain yang masih baru. Begitu sigap, kompeten dan profesional.
"Hidup terbit sebagai Luftwaffe," kata Hrabak kepada penerbang baru. "Selalu bertanya untuk suatu pelajaran baru secepat dan setepat mungkin. Lebih dari sekarang ini, seluruh latihan ditegaskan dalam pengendalian pesawat anda dalam operasi. Berjuang hidup di Rusia dan berhasil menjadi seorang penerbang tempur, anda harus tahu cara mengembangkan pikiran. Anda harus selalu bergerak agresif, atau anda tidak akan sukses. Tetapi semangat agresif harus diimbangi dengan kecerdikan dan pemikiran yang cerdas. Terbanglah dengan otakmu, bukan dengan ototmu."
Ketika Erich Hartmann mencapai kemenangan ke-300 dan ke-301 di Rusia, Hrabak bertemu dengannya. Komodor JG 52 itu muncul di sampingnya. Dia duduk di antara dua bayangan Kameraden. Mereka telah menjalin persahabatan ketika Erich tiba di Front Depan. Kemenangan lain telah menjadi Eichenlaub bagi Hrabak. Dengan senyumnya, Hrabak menjangkau tangannya. "Selamat, Bubi, selamat! Führer telah menghadiahimu sebuah Brillanten." Lalu lanjutnya, "Hanya ada tujuh penerbang tempur yang memperoleh Brillanten dalam seluruh peperangan yang telah kita lalui (Werner Mölders, Adolf Galland, Gordon Gollob, Hermann Graf, Walter Nowotny, Hans-Joachim Marseille dan Erich Hartmann)."
Meja di sekeliling kursi telah tersusun. Tanpa bisa menahan diri, mereka semua lalu berkumpul mengelilingi komandan wingnya. Hrabak sendiri duduk santai sambil menikmati toast. Setiap orang ingin mendengarkan sungguh-sungguh pernyataannya dan apa yang diceritakannya pada saat itu.
"Bagaimana menyebut nama anda?"
"Ra-bak (huruf H tidak terdengar)."
"Kapan anda menembak jatuh di Polandia pada hari ketiga peperangan, dan bagaimana keadaannya?"
"Well, itu adalah kali pertama aku melihat semua pesawat Polandia di udara! Kami mendengar dari panggilan telepon bahwa semua pesawat Polandia itu menyerang tentara darat kami dari arah timur, lalu kami segera terbang tanpa sempat mengenakan seragam pilot. Kami ada enam atau sembilan orang, semuanya menerbangkan Messerschmitt Bf 109. Musuh menggunakan P-23 Bomber, dan seperti penerbang tempur lainnya, saya mencoba untuk masuk ke dalam posisinya dan menembak jatuh. Tak terpikirkan kalau mereka akan balas menembak kami dari bagian belakang pesawatnya. Sesuatu yang tidak kami waspadai sebelumnya."
"Apakah dia mempunyai senapan mesin di belakang?"
"Ya, dan aku tahu itu. Aku tunggu sampai mendekati betul, tapi tiba-tiba ada asap dari kabin dan udara menjadi benar-benar panas. Ternyata dia menembak langsung mesin pesawatku dan rasa dingin masuk ke dalam kabin. Yang dapat aku lakukan pada saat itu adalah mendaratkan pesawatku secara darurat di antara posisi pasukan Jerman dengan Polandia."
"Kalau begitu anda ada di daerah perbatasan?"
"Ya."
"Seperti apa bentuk P-23 itu?"
"Bisa dibandingkan dengan pesawat Stuka Jerman Ju 87."
"Berapa jarak anda dengan pesawat itu ketika pesawat anda terbakar?"
"Sangat dekat. Saya hanya ingin menyelamatkan amunisi. Kira-kira 50 sampai 100 meter jaraknya dari belakang."
"Apakah anda lalu dapat melihat jenis senjatanya?"
"Tidak."
Secara pribadi Dieter Hrabak memperoleh penghargaan langsung dari Hitler dan Göring, yang dilaksanakan di markas besar Wolffschanze di akhir November 1943. Waktu itu sudah pasti waktunya bagi Rusia untuk melakukan aksi ofensifnya sebelum musim dingin dimulai. Harapan Hrabak sebelumnya adalah bahwa acara penganugerahan tersebut akan dilaksanakan di Vinnitsa, Ukraina.
Berbicara tentang ke-125 kemenangan yang telah diraihnya, Hrabak melanjutkan lagi ceritanya. "Enam korban pertama dari Angkatan udara Prancis. Yang pertama yaitu Potez 36 pada tanggal 13 Mei 1940, sementara yang lain adalah lima Curtiss P-36. Kesepuluh lainnya aku dapatkan dalam Battle of Britain, antara lain pesawat Supermarine Spitfire Mk. 1 dan Hawker Hurricane Inggris."
"Berapa lama pertempuran yang anda jalani di Britania?"
"Empat bulan, dari 8 Agustus sampai dengan 13 November 1940."
"Selama anda menembak jatuh 10 pesawat, apakah pesawat anda sendiri tertembak dalam Battle of Britain?"
"Ya. Pertama ketika berhadapan dengan Spitfire di Prancis, di atas Dunkirk. Dia menembakku, tapi sebagai komandan skuadron adalah sesuatu yang buruk karena aku kehilangan dua penerbang. Di Rouen, juga di Prancis, Inggris mengebom sebuah tangki minyak. Mereka membakarnya. Ketika pesawatku dalam perjalanan kesana bertemu dengan Spitfire, kembali aku tertembak. Aku masih sempat menyerang pada kesempatan terakhir. Dengan posisi yang baik pada saat itu, namun dia tidak berhasil."
"Berapa kali anda tertembak dalam pertempuran?"
"Saya kira total ada 11 kali."
"Dan tak pernah menghindar?"
"Tidak, karena aku tidak pernah menyelamatkan diri dengan parasut. Aku selalu mendarat darurat, tetapi akibatnya punggungku sedikit retak."
"Kapan anda bertempur di front Rusia?"
"Dari hari pertama, 22 Juni 1941. Kami terbang dari timur Prusia dan langsung menuju Leningrad. Disana kami bertempur dengan seluruh pesawat tempur Rusia yang menghadang."
"Apa pendapat anda tentang penerbang tempur Rusia?"
"Sulit dikatakan, karena selalu tergantung bagaimana dalam pertempuran itu sendiri. Terakhir aku berhasil bertempur dengan Yakovlev-9. Pesawat itu lebih unggul dan pada waktu itu aku tukar Bf 109 dengan Focke-Wulf 190. Sudah 109 pesawat Rusia yang aku tembak jatuh selama perang. Antara lain Lagg-3, Yak-3, dan sejumlah besar pesawat serang darat, Stormovik Il-2."
Mayor Jenderal Dieter Hrabak dalam usianya yang sudah 75 tahun, pensiun pada tahun 1970 dan tinggal di sebuah rumah kecil di Bavaria. Dia berputra tiga orang dari istri keduanya, Marianna.
Hrabak meninggal dunia pada tanggal 15 September 1995 di usianya yang ke-80 di Pfaffenhofen. Ucapannya yang paling terkenal adalah: "I Was no genius, but I was lucky and I survived the war."
Medali dan Penghargaan:
* Ehrenpokal der Luftwaffe (28 September 1940)* Front Flying Clasp of the Luftwaffe for fighter pilots in Gold with pennant* German Cross in Gold (10 Juli 1944)* Iron Cross (1939) 2nd dan 1st class* Knight's Cross with Oak Leaves- Knight's Cross tanggal 21 Oktober 1940 sebagai Hauptmann/Gruppenkommandeur II./JG 54- Oak Leaves #337 tanggal 25 November 1943 sebagai Oberstleutnant dan Geschwaderkommodore dari JG 52* Disebutkan di Wehrmachtbericht tanggal 3 September 1944

Sumber :Buku "Kisah Hebat Di Udara 3" terbitan ANGKASA
Foto koleksi pribadi Phil Nix
www.en.wikipedia.org
www.forum.axishistory.com
www.nostalgicaviation.comwww.snyderstreasures.com
www.wehrmacht-awards.com

No comments: