Thursday, November 3, 2011

Kapan Hitler Kalah Perang


Oleh : Alif Rafik Khan

Kapan Adolf Hiter kehilangan kesempatan untuk memenangkan Perang Dunia II?

Kapankah waktu yang begitu menentukan, dimana sebelumnya dia masih mungkin untuk memenangkan perang, dan setelahnya kekalahan hanya tinggal menunggu waktu? (dan perang yang masih berlangsung untuk bertahun-tahun lagi dengan mengorbankan begitu banyak nyawa).

Kapankah itu? Seberapa awal atau akhirnya dia?

Bagaimana kalau kita memulai dari masa-masa akhir, dimana kita yakin bahwa kekalahan Hitler hanya tinggal menunggu waktu, dan kemudian balik ke masa dimana perubahan tersebut telah ditandai, yang bermula dari saat Adolf Hitler kehilangan kesempatan untuk memenangkan perang yang telah dia mulai sebelumnya? Ok, mari kita berangkut, beibeh...

Pada musim panas 1944, dengan pasukan Sekutu yang melaju tak tertahankan dari Barat dan pasukan Rusia yang menggedor-gedor dari Timur; dengan pemboman massal terus-menerus (baik taktis maupun strategis) yang tak dapat dihentikan oleh Luftwaffe yang sudah kepayahan; dan dengan kapal-kapal selamnya yang kini berbalik dari pemburu menjadi yang diburu, telah kelihatan jelas bahwa Hitler telah kalah perang. Ini juga adalah titik awal kita. Sekarang kita balik ke masa sebelumnya.

Saat itu adalah pertengahan tahun 1944, sebelum D-Day. Rusia telah begitu tak tertahankan, bahkan sebelum Sekutu grasa-grusu di Normandia. Tentunya peranan Sekutu pun tidak kalah pentingnya, karena ancaman invasi membuat Jerman “menyimpan” banyak divisinya di Barat. Belum lagi perang udara yang sedikit demi sedikit membuat Luftwaffe ‘impoten’ dan sangat menghambat upaya perang Jerman; juga bantuan tanpa henti Sekutu Barat untuk Rusia. Semuanya ini merupakan faktor yang sangat penting dalam kejatuhan Nazi. Tapi saya yakin bahwa pertengahan tahun 1944 Jerman sebenarnya telah kalah perang, karena meskipun dia telah bertempur dengan begitu sengitnya, tapi tetap saja tidak mampu menahan gerak maju pasukan kolosal Rusia yang merangsek di seluruh Eropa Timur dengan tujuan utamanya adalah Berlin.

Bila kita balik lagi ke waktu sebelumnya, maka kita dapat dengan aman mengatakan bahwa melalui kegagalan upaya utamanya yang terakhir di Kursk pertengahan tahun 1943, maka Jerman sudah tak mampu lagi mengalahkan Rusia.

Tapi sebenarnya, bila kita melihat lebih dalam ke detail situasi yang terjadi, kita dapat mengatakan bahwa meskipun Kursk adalah upaya utama terakhir Jerman - dan dia telah habis-habisan demi mencobanya - Jerman sebenarnya sudah tak punya harapan lagi bahkan di waktu sebelumnya. Bila kita melihat rincian kampanye di Kursk dan di Pertempuran Stalingrad, maka kita dapat balik ke kampanye Stalingrad di akhir tahun 1942 dan mengatakan bahwa ketika pasukan Soviet memulai serangan balik massalnya dan kemudian mengepung ratusan ribu tentara Jerman di dalam Staingrad, maka sebenarnya Jerman telah kehilangan inisiatif strategis dan kemampuannya untuk mengalahkan Rusia.

Tapi bahkan bila Jerman mampu menguasai Stalingrad secara cepat atau melewatinya di musim panas tahun 1942, lalu kemudian tetap bergerak maju dengan cepat jauh ke wilayah timur dan selatan dengan melintasi padang rumput yang tak habis-habisnya sampai ke laut Kaspia, apakah itu akan mengubah hasil akhirnya? Nope! Dia hanya akan MEMPERLAMBATNYA, karena hasil akhir peperangan telah ditentukan sebelumnya!

Dalam bukunya “Modern Times”, Paul Johnson dengan jelas telah menandai titik dimana hasil akhir peperangan telah ditentukan. Analisisnya kemudian diamini oleh banyak pengarang top lainnya, dan juga mendapat justifikasi dari Winston Churchill pada saat dimana peristiwa tersebut terjadi. Laporan-laporan masa perang yang masih tersisa dari para jenderal Jerman kini membuat kita dapat melihat dari sudut pandang militer negara tersebut.

Sudah jelas bahwa Hitler telah mempertaruhkan segalanya dengan menginvasi Rusia. Dengan menyerbu negara yang luasnya bikin mencret tersebut dan kemudian gagal mengalahkannya hanya berarti satu hal: Jerman akan kalah!

Ketika invasi Jerman atas Rusia dimulai bulan Juni 1941, sebenarnya Jerman berpotensi mengalahkan Rusia dan kemudian memenangkan perang. Kemenangan-kemenangan pertama yang diraihnya sungguh menggetarkan. Kehilangan yang diderita Rusia dalam hal manusia, peralatan dan wilayah luar biasa besarnya. Tapi ingat sodara-sodara! Rusia adalah negara yang luasnya AMIT-AMIT, dengan sumber daya yang seakan tak terbatas, prajurit-prajurit yang tangguh, dan musim dingin yang terkenal kejam bagi siapa saja yang tidak siap menghadapinya. Saat masuk ke Rusia, Wehrmacht TIDAK dipersiapkan untuk menghadapi musim dingin di Rusia, dan mereka tahu itu.

Tapi di minggu-minggu pertama invasi, kesuksesan Jerman begitu menakjubkannya sehingga Hitler yang over PD memutuskan untuk menguasai Ukraina yang kaya sumber daya alam di di selatan, bahkan sebelum dia menguasai Moskow, jantungnya Rusia! Untuk mewujudkan niatnya, dia menghentikan pergerakan Armeegruppe Mitte, yang sedang semangat-semangatnya melaju menuju Moskow, dan ‘mempreteli’ dua Panzerarmee mereka untuk dibagikan ke Armeegruppe Süd dan Nord. Ini mungkin adalah kesalahan terbesar yang dibuat oleh Hitler, dan para jenderalnya yang sewot protes keras berusaha menggagalkan rencana Führernya, tapi sia-sia belaka.

Setelah menghabiskan waktu lebih dari satu bulan dalam gerakan peralihan ini, tanggal 6 September 1944 Hitler akhirnya menyadari bahwa dia telah kehabisan waktu dalam upayanya menghabiskan Rusia sebelum musim dingin tiba, yang dalam rencana perangnya merupakan suatu kondisi utama yang tidak bisa ditawar-tawar lagi.

Dia lalu memerintahkan untuk mengkonsentrasikan semuanya dalam upaya kuasai-atau-tidak-sama-sekali untuk menduduki Moskow “dalam waktu yang terbatas sebelum musim dingin”. Armeegruppe Mitte mendapat dua Panzerarmee-nya kembali, plus Panzerarmee ketiga dan tambahan unit-unit udara. Pada tanggal 2 Oktober 1941 militer Jerman memulai pergerakan terakhirnya menuju Moskow. Pada minggu kedua bulan Oktober Jerman sudah begitu yakinnya akan menang sehingga dalam pengumuman radio yang disiarkannya mereka mengatakan bahwa hasil akhir peperangan sudah ditentukan dan Rusia sudah binasa!

Tapi kemudian musim dingin yang ditakuti itu datang juga.

Hujan deras dan lumpur yang begitu dalamnya sangat menghambat pergerakan mesin-mesin perang Jerman sampai pada tahap macet total (emangnya Jakarta?). Gerak maju akhirnya bisa dimulai sebulan kemudian saat salju-salju pertama membuat jalan menjadi keras dan lumpur-lumpur membeku oleh suhu yang drop secara drastis. Di kota-kota Jerman diadakan upaya-upaya massal untuk mengumpulkan perlengkapan musim dingin (terutama pakaian) untuk prajurit-prajurit mereka yang malang di Rusia, yang masih bertempur menggunakan seragam musim panas!

Di akhir bulan November 1941, pasukan lapis baja Jerman tinggal berjarak 27km dari pusat kota Moskow, tapi mereka sudah tak sanggup bergerak lebih jauh lagi karena kuatnya perlawanan Rusia dan turunnya suhu sampai mencapai -34°C! Pasukan terdepan Jerman dapat melihat puncak menara Kremlin, tapi kemudian Generaloberst Erich Hoepner, komandan Panzergruppe 4 yang berada paling depan, melaporkan bahwa pasukannya “sudah mencapai batas kemampuannya, dan sekarang menderita kelelahan luar biasa baik fisik maupun mental, kekurangan parah sumber daya manusia yang tak tergantikan, dan tak adanya pakaian musim dingin”.

Jenderal Wagner, perwira logistik nomor 1 Angkatan Darat Jerman, juga menulis sebuah laporan yang kemudian disimpulkan oleh Kepala Staff sebagai “kami telah mencapai batas terakhir yang kami bisa dalam hal personil dan peralatan”.

Dan kemudian, tanggal 6 Desember 1941, pasukan Rusia melakukan serangan balik yang menghantam lawan mereka yang sudah kepayahan. Serangan ini dilakukan oleh pasukan bala bantuan yang masih segar yang didatangkan dari Siberia dan Timur Jauh, dan memaksa pasukan Jerman untuk mundur dari tempat yang baru saja mereka duduki... untuk pertama kalinya.

Keesokan harinya, tanggal 7 Desember 1941, agen berita Soviet mengumumkan kekalahan pertama Jerman sejak invasi dimulai. Pada hari yang sama Jepang menyerbu pangkalan Angkatan Laut Amerika Serikat di pearl Harbor sehingga membuat Amerika, yang mempunyai sumber daya yang begitu besar dan tak tersentuh, bergabung dengan barisan Sekutu. Pada hari itu pula Hitler memerintahkan dihentikannya serangan dan beralih ke strategi bertahan.

Seminggu kemudian, jenderal Hoepner melaporkan “22 divisiku harus menghadapi 43 divisi Rusia, dan tak ada satupun dari divisiku yang saat ini mampu untuk menyerang atau bertahan dalam menghadapi musuh yang berkekuatan jauh lebih besar. Semua posisiku berada dalam bahaya. Tak ada bahan bakar, tak ada rumput untuk kuda-kuda, sementara para prajuritku tidur sambil berdiri. Semuanya membeku. Tanah tertutup oleh salju sampai semeter dalamnya, sehingga mustahil untuk menggali.”

Seperti yang ditulis oleh Paul Johnson, “pada tahap ini sudah jelas bahwa Operasi Barbarossa berakhir dengan kegagalan. Sebuah strategi baru yang berbeda total sangat diperlukan”. Yang kemudian terjadi adalah suatu ironi. Hitler, sang diktator Jerman dan mantan Kopral dalam Perang Dunia Pertama, menunjuk dirinya sebagai panglima Angkatan Bersenjata Jerman yang baru, dan sejak itu dia secara pribadi mulai memantau perkembangan perang secara harian. Dia tak lagi mempercayai jenderal-jenderalnya yang sangat berbakat, orang-orang yang sangat profesional di bidangnya dan merupakan mesin militer paling efektif di dunia, untuk memenangkan perang bagi dirinya. Hitler beranggapan bahwa dia akan berhasil dalam hal dimana jenderal-jenderalnya telah gagal, dan sejak saat itu tak lagi menganggap sebagian besar saran mereka. Dia secara total melarang satu senti pun gerak mundur, suatu kebijakan yang membuat militer Jerman kehilangan hampir sepertiga kekuatannya di Rusia sebelum musim dingin berakhir! Generaloberst Franz Halder menulis, “Pandangan menganggap rendah Hitler terhadap musuh semakin menjadi-jadi.”

Pada tahun 1941 Rusia selamat dari suatu hantaman dahsyat. Nyaris, juga dengan menderita korban besar, tapi dia selamat darinya, dan dari sejak saat itu menjadi lebih kuat dari sebelumnya. Di lain pihak, Jerman telah mengeluarkan seluruh batas kemampuannya dan lebih lagi, tapi bahkan itu pun tidak cukup. Dia masih mempunyai kekuatan untuk menyerang lagi setelah musim dingin berakhir, dan lagi selepas musim dingin berikutnya, tapi itu semua sudah terlambat. Militer Jerman yang sudah lemah tak mampu lagi mencapai apa yang gagal diraihnya tahun 1941.

Pada bulan Desember 1941 Jerman telah kalah perang saat dia tak berhasil dalam upaya habis-habisannya mengalahkan Rusia sebelum musim dingin tiba. Seakan belum cukup, tepat pada saat kegagalannya Amerika masuk medan laga dengan membawa seluruh potensi perangnya sehingga semakin menambah kepastian kalahnya Jerman.

Kita dapat saja beranggapan bahwa Jerman telah kalah perang dalam masa sebelumnya, sebagai contoh saat dia gagal mengalahkan Inggris dengan pesawat dan kapal selamnya sehingga membuat Inggris menjadi pangkalan utama Amerika di masa depan dan tempat diluncurkannya front kedua. Atau bisa juga kekalahan Jerman dimulai saat hari penyerangan ke Rusia. Jawaban dari hal itu adalah negatif! Selama dia tidak berperang dengan Rusia, Hitler masih mempunyai pilihan dan kemungkinan untuk memenangkan perang. Bahkan saat dia menginvasi Rusia dia masih bisa melakukan hal secara berbeda, seperti misalnya dari awal berkonsentrasi untuk menduduki Moskow, menyerbu lebih awal dari tanggal 22 Juni 1941, atau bersikap lemah-lembut terhadap rakyat Rusia sehingga membuat mereka berbalik menentang rezim Stalin yang kejam. Tapi itu tidak dilakukannya. Dia telah turut campur terhadap jalannya perang dari sejak permulaan, dan perlakuannya yang kejam terhadap rakyat Rusia membuat mereka tak punya pilihan lain selain bangkit menghadapi musuhnya yang terberat, dan menggunakan secara maksimal sumber daya besar yang mereka punyai. Menghadapi hal ini, di lain pihak Hitler tak punya pilihan lain selain memenangkan perang secara cepat dan tuntas. Kita semua tahu seperti apa akhir dari usahanya tersebut.

Dan di bulan Desember 1941 di pintu gerbang Moskow, Hitler telah kalah. Dibutuhkan tiga setengah tahun lagi untuk mengakhirinya, dan semuanya berkat kemampuan bertempur luar biasa dan kesetiaan tanpa syarat prajurit Jerman terhadap Führernya.