Monday, November 14, 2011

Sikap Ksatria dan Perbuatan Baik Dalam Perang Dunia II

Jenderal Jerman yang dikenal paling bersikap ksatria adalah Erwin Rommel. Kepada tentara Sekutu yang dia tawan, dia memberikan jatah ransum dan pelayanan medis sama seperti yang dia dan prajuritnya terima. Dia juga tidak mengindahkan perintah Hitler untuk mengeksekusi unit Komando dan tentara Yahudi Inggris yang tertangkap. Tidak hanya itu, diceritakan bahwa dalam sebuah pertempuran melawan pasukan Legiun Asing Prancis yang mempertahankan sebuah benteng di Libya, Rommel memilih untuk tidak menembak mati tentara musuhnya yang tertawan, yang ternyata adalah orang-orang bangsa Jerman juga!


 General der Panzertruppe Erwin Rommel (kanan, Kommandierender General Panzergruppe "Afrika") dan Leutnant Alfred-Ingemar Berndt (Ordonnanzoffizier Kommandierender General Panzergruppe "Afrika") mengadakan kunjungan ke sebuah pemakaman di Libya, dimana prajurit Jerman dan Inggris sama-sama mendapat penghormatan dengan dikuburkan secara berdampingan. Pihak Poros dan Sekutu bertempur secara sportif dan memperlakukan para tawanan mereka dengan penuh perikemanusiaan sehingga medan pertempuran di Afrika dijuluki sebagai "War Without Hate" (Perang Tanpa Kebencian)


Selain Rommel, jagoan Luftwaffe Adolf Galland juga melegenda sikap ksatrianya. Dia sangat percaya terhadap aturan "fair play". Ketika Panglima Luftwaffe Hermann Göring mengeluarkan perintah untuk menembak pilot-pilot Sekutu yang terjun dari pesawatnya yang jatuh dengan menggunakan parasut, Galland langsung meledak dalam kemarahan. "Perintah semacam itu sama saja dengan pembunuhan," katanya, "dan aku akan melakukan segala cara untuk mencegahnya!" Untung saja perintah tersebut batal diberikan. Sayangnya, pihak lawan tidak melakukan hal yang sama. Pilot-pilot pemburu Amerika diperintahkan untuk menembak pilot pesawat Messerschmitt Me 262 Jerman yang keluar dari pesawatnya dengan menggunakan parasut...


Cerita lain yang berkaitan dengan sikap ksatria Galland: Dalam pertempuran udara yang kacau balau di atas Pas de Calais, komandan wing RAF Douglas Bader (yang terkenal karena kakinya yang buntung!) ditembak jatuh bersama beberapa orang rekannya sehingga harus bail-out dan mendarat di wilayah yang dikuasai Jerman. Galland ikut mencetak kemenangan dalam dogfight saat itu, tapi suasana pertempuran yang kacau membuat tidak mungkin untuk menentukan siapa yang menembak jatuh pesawat Bader. Seperti banyak perwira Inggris aristokrat di masa itu, Bader termasuk orang yang memperhatikan pangkat dan kedudukan. Dia sangat ingin tahu siapa yang telah menaklukkannya. Galland meyakinkan dirinya bahwa seorang perwira telah mengurus masalah tersebut, dan kemudian seorang kandidat dipilih untuk berperan sebagai si "penakluk"! Sialnya, saat terjun payung dari pesawatnya yang rusak, Bader telah membuat kaki palsunya rusak. Dia meminta untuk dikirimkan cadangan kaki palsu dari Inggris. Galland meneruskan permintaan tersebut dengan rekomendasi persetujuannya serta jaminan bahwa pesawat yang akan membawa kaki tersebut tidak akan diserang oleh pihak Jerman. Sayangnya, konsep Inggris tentang seorang ksatria ternyata semakin menipis setelah pemboman London, sehingga RAF menjatuhkan kaki palsu cadangan Bader beserta 'bonus' bom-bom yang dijatuhkan di pangkalan udara yang menjadi basis Jagdgeschwader 26 pimpinan Galland!


Tanggal 22 Juni 1941 (hari pertama Operasi Barbarossa), jagoan udara Jerman Hauptmann Heinz 'Pietzsch' Bretnütz menembak jatuh sebuah pesawat pembom bermesin ganda Rusia SB-2. Pesawat Messerschmitt Bf 109 F-2 (W.Nr. 6674) “Chevron Triangle” yang dipilotinya sendiri terkena tembakan dalam pertempuran tersebut sehingga harus mendarat darurat di wilayah yang dikuasai Rusia, antara Erzvilkas dan Nemaksciai. Terluka parah, dia diselamatkan oleh seorang petani Rusia yang menyembunyikannya dari prajurit Rusia yang sedang mundur


Kapten Uboat Jerman Korvettenkapitän Werner Hartenstein terkenal karena dengan berani membawa para awak kapal Laconia yang menjadi korbannya dengan kapalnya sendiri. Kisah lengkapnya bisa anda baca DISINI

 Diambil dari buku "Pegassus Bridge" karya Stephen Ambrose:
Di Afrika Utara, Hans von Luck bertempur dalam satu-satunya perang yang dia nikmati. Dia menjadi komandan dari batalyon pengintai lapis baja yang berlokasi di sayap kanan (selatan) Rommel. Karenanya dia mendapat kebebasan dalam beraksi, begitu juga musuhnya orang Inggris. Kedua komandan yang berseteru setuju untuk berperang secara "beradab". Setiap hari jam lima sore pertempuran berhenti, dan pihak Inggris akan sibuk memanaskan air untuk teh mereka sementara Jerman membuat kopi. Seperempat jam kemudian Von Luck dan komandan Inggris akan saling berkomunikasi melalui radio. "Well," Von Luck mungkin berkata, "Kami menangkap segini dan segini hari ini dan dia sekarang dalam keadaan baik sambil menitipkan pesan sayang buat ibunya di Inggris sana. Dia bilang jangan kuatir sama keadaannya." Satu kali Von Luck mengetahui bahwa pihak Inggris menerima kiriman jatah rokok untuk satu bulan. Dia lalu menawarkan untuk menukarkan seorang perwira Inggris yang ditawan - yang ternyata merupakan ahli waris dari pemilik perusahaan rokok tersebut - dengan satu juta batang rokok! Pihak Inggris menawarnya menjadi 600 ribu. Deal or no deal? Deal! kata Von Luck. Tapi kemudian si ahli waris malah marah-marah sambil mengatakan bahwa tebusannya di bawah standar. Dia bersikeras tidak mau dibebaskan sebelum ditukarkan dengan satu juta batang rokok! Dalam satu kejadian lain di suatu sore seorang Obergefreiter yang kegirangan melaporkan bahwa dia baru saja merebut sebuah truk musuh yang dipenuhi oleh daging kalengan dan makanan mewah lainnya. Von Luck melihat pada jam tangannya: sudah lewat jam enam maghrib. Dia mengatakan pada si Obergefreiter bahwa mau tidak mau truk itu harus dikembalikan karena dia merebutnya selepas jam lima sore! Si Obergefreiter tentu saja protes sambil mengatakan bahwa ini adalah perang dan pasukannya sudah dari tadi mengambil makanan yang diperlukan dari truk tersebut. Von Luck lalu menelepon Rommel, mentornya di akademi militer. Dia mengatakan bahwa dia curiga akan pergerakan pasukan Inggris ke arah selatan dan meminta izin untuk pergi melakukan pengintaian selama dua hari. Dapatkan batalyon lain menggantikan tempatnya selama dia absen? Rommel setuju. Batalyon baru tiba esok paginya. Pada sore harinya selepas jam lima, seperti yang telah Von Luck perkirakan, pihak Inggris melakukan "pembalasan" dengan mencuri dua buah truk suplai!


General der Panzertruppe Fridolin von Senger und Etterlin adalah penganut Katolik taat yang menjadi Komandan-Jenderal XIV.Panzerkorps di Front Italia. Pada tanggal 15 September 1943 dia diperintah oleh Generalfeldmarschall Albert Kesselring (Panglima pasukan Jerman di Italia) untuk mengeksekusi 22 orang tawanan perwira Italia yang dituduh melakukan sabotase. Von Senger menolak untuk melaksanakan perintah ini, dan peristiwa tersebut tercatat sebagai satu-satunya kasus yang diketahui setelah menyerahnya pasukan Italia!


 SS-Unterscharführer Michael Wittmann (depan kiri) dari 1.Sturmgeschütz-Batterie / Abteilung Schönberger / Leibstandarte SS Adolf Hitler (motorisiert) berpose dengan santai di depan Sturmgeschütz III Ausf.A "Buzzard" bersama dengan Gunner andalannya SS-Rottenführer Klinck di hari penganugerahan Eisernes Kreuz II.Klasse, sore tanggal 12 Juli 1941. Dia mendapatkan medali keberanian pertamanya tersebut setelah menghancurkan enam tank T-34 Soviet di pagi dan siang hari , tanggal yang sama! Penasaran kan gimana dongengnya? Di hari itu Wittmann dan tiga orang awaknya (gunner/richtschütze SS-Rottenführer Klinck, loader/ladeschütze SS-Rottenführer Petersen, dan driver/fahrer SS-Rottenführer Koldenhöff) diperintahkan untuk pergi ke dataran tinggi strategis yang dinamakan Point 65,5. Disana dia melihat iring-iringan 18 buah tank T34/76 Rusia dalam dua kelompok. Melihat kesempatan baik, Wittmann menyuruh Koldenhöff untuk memposisikan StuG-nya dalam posisi sergapan di tempat yang tersembunyi. Dalam fase pertama pertempuran, dua T34 menjadi korban dari meriam 75mm KwK StuG Witttmann, yang buru-buru mundur saat tank lainnya menyadari kehadiran mereka. Wittmann balik lagi ke lokasi pertempuran dengan berjalan kaki untuk mengintai posisi musuh saat dia dikagetkan oleh ledakan dua meriam yang disusul oleh hancurnya T34 ketiga, hasil dari tembakan gunner-nya Klinck yang bertindak atas inisiatif sendiri setelah mendapati telah berhadap-hadapan dengan tank musuh! StuG tunggal Jerman ini diuntungkan oleh tembakan-tembakan tank lawannya yang begitu buruknya sehingga melebar kesana kemari! Segera Wittmann memergoki T34 keempat yang berhasil dihancurkannya melalui skill tinggi sang supir StuG Koldenhöff yang selalu memposisikan kendaraan mereka seefisien mungkin (ingat, meriam StuG tidak bisa diputar ke samping, beibeh!). Setelah menyeberangi sebuah sungai kecil, Wittmann melihat tiga T34 yang sebelumnya dia intai sedang berjaga di sebuah bukit dengan mesin menyala. Ketika Koldenhöff membawa StuG-nya sampai sejarak 500 meter, barulah Wittmann menghantam salah satu T34 dan membuatnya terbakar. Sisa dua T34 buru-buru mengarahkan meriam mereka ke StuG biang kerok yang selama ini telah membabat lima tank mereka. Koldenhöff sekali lagi bermanuver dan mengarahkan posisi meriam ke arah musuh. BELEDUGG!! Korban keenam telah dihancurkan. Melihat kengerian yang terpampang di depan mata, satu T34 yang tersisa buru-buru kabur dari lokasi! Saat Wittmann merasa tugas telah selesai, dia melihat kubah T34 kedua yang sebelumnya telah dihancurkannya kini bergerak kembali! Tak mau mengambil resiko, tank Rusia tersebut dihantam peluru penghancur baja untuk kedua kalinya sehingga membuatnya terbakar dan awaknya berloncatan keluar. Dan disinilah hal yang menakjubkan terjadi: bukannya menghabisi mereka, Wittmann memerintahkan salah seorang awaknya untuk buru-buru keluar membawa selimut tebal dan memadamkan api yang membakar ketiga awak T34 Rusia tersebut! Prestasi Wittmann di hari tersebut langsung diganjar oleh komandan LSSAH, SS-Obergruppenführer Sepp Dietrich, dengan Eisernes Kreuz II.Klasse. Ketika ditanya apakah dia punya permintaan khusus, Wittmann meminta supaya tiga orang awak tank Rusia yang terluka tersebut diberikan perawatan medis yang terbaik yang bisa diberikan! LUAR BIASA!!


Salah satu peristiwa unik dalam invasi Jerman ke Negara-Negara Bawah dan Prancis tahun 1940 (Unternehmen Fall Gelb). Tanggal 11 Mei 1940 di dekat kota Dordrecht (Belanda), sekelompok anggota unit artileri Belanda dengan dibantu dua kompi pasukan sepeda bermaksud untuk merebut kembali meriam-meriam mereka yang jatuh ke tangan musuh. Tiba-tiba datang dari udara sekitar 150 orang Fallschirmjäger dari FJ-Ersatz und Ausbildung-Kompanie pimpinan Oberleutnant Moll yang diterjunkan menggunakan parasut. Pihak Belanda langsung balik menyerang bagian samping posisi Fallschirmjäger di bawah pimpinan Vaandrig Marijs dan sekitar dua peleton tentara. Banyak Fallschirmjäger yang terbunuh dan dijadikan tawanan (termasuk Oberleutnant Moll sendiri, Leutnant Tottke dan Arzt Nordheim). Moll mendapat penjagaan dari seorang sersan. Marijs kemudian mendapati bahwa Moll telah dilepaskan oleh sang penjaganya dengan alasan hendak meminta pasukannya menghentikan tembak-menembak. Bisa anda bayangkan betapa marahnya Marijs, sampai dia melihat Moll balik kembali ke posisi pasukan Belanda sambil membawa bendera putih di tangannya! Dia meminta Marijs untuk gencatan senjata demi mengevakuasi dan menolong pasukan yang tewas dan terluka. Marijs sebenarnya tidak setuju tapi tidak punya pilihan lain karena dia dan pasukannya telah kehabisan amunisi. Pihak Jerman dan Belanda kemudian datang bersama-sama ke peternakan De Tongplaat. Mereka membawa bendera palang merah dan saling setuju untuk meletakkan senjata masing-masing. Didapati ternyata kompi Jerman tinggal berjumlah 33 orang! Prajurit yang mati dikuburkan bersama di dekat peternakan, dan kemudian Moll serta Marijs mengucapkan eulogi kepada pasukannya dengan diiringi masing-masing dua orang penjaga kehormatan Jerman dan Belanda yang bersenjata lengkap! Status quo ini tetap dipertahankan sampai pagi keesokan harinya tanggal 12 Mei 1940 ketika pasukan bantuan Jerman datang untuk membebaskan Moll dan anakbuahnya. Marijs tahu bahwa tak ada harapan lagi untuk bertempur karena pasukannya telah kehabisan peluru dan terkepung dari mana-mana sehingga dia pun lalu menyerah. Pihak Jerman memperlakukan Marijs dengan penuh hormat karena aksi yang telah dilakukannya sebelumnya, dan juga karena dia secara pribadi telah menangkap dua orang perwira Jerman (Moll dan Tottke). Para tawanan Belanda kemudian digiring ke Tweede Tol, dan mereka diizinkan untuk membawa senjata mereka! Ketika Oberst Bruno Oswald Bräuer, komandan Fallschirmjäger-Regiment 1, melihat kejadian ini dia langsung murka, sampai Oberleutnant Moll memberitahunya mengenai apa yang telah terjadi. Bräuer kemudian menghampiri Marijs sambil meminta maaf, tapi dia harus tetap melucuti senjata mereka demi menghindari kemungkinan yang tak diinginkan. Marijs sendiri diperbolehkan untuk tetap membawa "kelewang", pedang khas yang dia bawa dari Hindia-Belanda. Berselang beberapa lama ada lagi kejadian dimana seorang Feldwebel memerintahkan anakbuah Marijs untuk mengumpulkan kontainer berisi amunisi yang dijatuhkan dari udara dan kini berserakan di lapangan yang dijaga ketat oleh tentara Belanda yang masih belum menyerah. tawanan Belanda tentu saja menolak dan si Feldwebel menjadi marah. Hal ini lalu dilaporkan oleh seorang sersan Belanda kepada Marijs, dan Marijs meneruskannnya kepada Bräuer. Bräuer lalu menanyakan kepada si Feldwebel apakah hal tersebut benar. Ketika si Feldwebel mengiyakannya, Bräuer langsung menampar wajahnya dan sang Oberst kemudian meminta maaf kepada Marijs! Foto di atas memperlihatkan Marijs (tengah) sebagai tawanan Jerman tanggal 12 Mei 1940, di sebelah kirinya adalah Oberfähnrich Eberlein dan kanannya Oberleutnant Moll


Dalam buku "Das Reich", James Lucas sang pengarang menceritakan tentang kisah sebuah unit SS yang berpapasan dengan unit Amerika dalam ofensif Wacht am Rhein. Malam gelap gulita membuat kedua pihak tidak menyadari siapa yang ada di hadapan mereka. Pihak Jerman membuka suara: "apakah kalian tentara Amerika?" yang kemudian dijawab oleh pihak Amerika: "Yeah!" Pihak Jerman bertanya lagi: "Kalian ingin bertempur?" dan jawabannya adalah "Tidak!" Mereka pun lalu melanjutkan perjalanan ke tujuan masing-masing!

Dalam Pertempuran Hutan Hürtgen tahun 1945, pihak Jerman dan Amerika sepakat untuk menunda sebentar pertumpahan darah yang sedang berlangsung demi mengevakuasi rekan-rekan mereka yang terluka di garis depan! Kalau anda pernah menonton film Stalingrad, pasti tahu suasananya seperti apa!


Begitu pula yang terjadi dalam pertempuran di Arnhem (September 1944). Pasukan parasut Inggris meminta gencatan senjata selama beberapa jam, dan SS-Obergruppenführer Wilhelm Bittrich (komandan pasukan Jerman) menerimanya. Mereka memanfaatkan waktu 'damai' ini dengan bahu-membahu mengevakuasi prajurit yang terluka dan tewas. Dalam pertempuran ini, pasukan parasut Sekutu dan pasukan Waffen-SS Jerman bertempur dengan begitu sengitnya, tapi mereka tetap menaruh respek satu sama lain!


Pihak Italia mempunyai reputasi harum karena memperlakukan musuhnya dengan baik. Setelah serangan Taranto di bulan November 1940, tiga orang penerbang Royal Navy yang ikut berpartisipasi dalam serangan ini tertangkap hidup-hidup setelah pesawat mereka tertembak jatuh. Dahsyatnya, meskipun baru saja kehilangan satu kapal perangnya yang berharga (dan dua lagi rusak), pihak Italia memperlakukan ketiganya dengan begitu baiknya! Selain itu, dalam fase pertama pertempuran di Afrika Utara antara Italia vs Inggris, kedua belah pihak bertempur dengan menampakkan sedikit saja kebencian atas lawannya. Ini karena Jenderal Richard O'Connor (komandan pasukan Inggris) pernah bertempur bahu-membahu bersama Italia melawan Jerman dalam Perang Dunia Pertama, dan bahkan sempat dianugerahi medali keberanian Italia karenanya!


Ketika Marsekal Italo Balbo (Gubernur Italia di Libya) tewas dalam kecelakaan pesawat tahun 1940, sebuah pesawat udara Inggris terbang melintasi perbatasan dan menjatuhkan sebuah surat turut berduka cita!


Salah seorang anggota pasukan katak Italia bernama Luigi Durand de la Penne yang ikut berpartisipasi dalam penyerangan atas pangkalan Angkatan Laut Inggris di Alexandria bulan Desember 1941 (yang membuat Inggris kehilangan kapal perang Valiant dan Queen Elizabeth) mendapat anugerah medali keberanian atas usahanya tersebut oleh pihak Inggris di tahun 1943 setelah Italia berpindah haluan mendukung Sekutu dan gantian berperang melawan Jerman! Sebenarnya De la Penne tertangkap tak lama setelah menempatkan peledak bawah air ke kapal-kapal Inggris (tapi sebelum picunya meledak), tapi dia menolak untuk mengatakan dimana peledaknya. Dia lalu dikurung di ruangan salah satu kapal yang menjadi korban. 10-20 menit sebelum ledakan direncanakan terjadi, De la Penne meminta untuk dipertemukan dengan komandan Inggris. Dia berkata bahwa sebentar lagi ledakan akan terjadi dan menyarankan agar mengumpulkan para pelaut di tempat yang aman (meskipun tetap keukeuh tidak mau mengatakan dimana peledaknya diletakkan!). Akibat sarannya, banyak nyawa pelaut Inggris yang terselamatkan


Komandan kapal selam Italia Salvatore Todaro disegani kawan maupun lawan karena keberanian dan sikap kemanusiaannya. Setelah menenggelamkan sebuah kapal kargo di tengah samudera Atlantik, dia memutuskan untuk membawa awak kapal korbannya yang selamat sampai ke tempat yang aman di kepulauan Canary!


Dalam pertempuran Tali-Ihantala antara Finlandia melawan Uni Soviet tahun 1944, sebuah regu patroli Finlandia sedang berjalan menyusuri jalan ketika tiba-tiba keluarlah dari hutan seorang prajurit Soviet yang membawa prajurit Finlandia yang terluka dan menjatuhkannya di depan regu patroli. Diam. Tak lama seorang prajurit Finlandia berteriak: "tembak dia!", yang langsung disambut oleh todongan senjata Suomi msg dari komandannya sendiri, yang berkata dengan tenang: "Silakan kamu mencobanya, dan kamu akan langsung saya kirim ke alam baka..."


Kisah nyata ini mendapat laporan luas dari radio Swedia sehingga bisa dipastikan kebenarannya. Front Soviet-Finlandia musim panas 1944. Satu batalyon Finlandia mempertahankan sebuah wilayah yang berbatasan dengan danau yang dipenuhi alang-alang tinggi di pinggirnya. Sebelumnya, mereka telah berhasil menghalau semua serangan yang dilancarkan Rusia di musim panas tersebut. Setelah serangan ketiga, mereka memutuskan untuk melakukan patroli di alang-alang demi mencari kemungkinan adanya gerakan musuh. Disini mereka menemukan (kemungkinan di antara prajurit Rusia lain yang terluka dan tewas) seorang prajurit Rusia yang terluka dan bersandar ke perahu. Dia tampaknya terluka setelah serangan awal beberapa minggu sebelumnya, dan bertahan hidup dengan hanya minum air danau saja dengan hampir-hampir tidak makan sama sekali. Dia adalah seorang prajurit biasa, orang tua yang merupakan keturunan Tatar dan tampaknya merupakan hasil rekrutan terakhir saat persediaan sumber daya manusia Soviet semakin menipis. Dia berhasil bertahan hidup selama beberapa minggu adalah sebuah keajaiban, belum lagi luka-luka yang dideritanya. Mungkin karena dia hanyalah orang miskin biasa yang kerap bekerja keras bertahan hidup dalam situasi apapun. Dokter batalyon memutuskan untuk merawatnya, memberikan makanan, rokok, dan mengambil inisiatif bahwa dia ada dalam daftar pertukaran tawanan

 Tentara Inggris dan Jerman berdiri berdampingan selama berlangsungnya gencatan senjata selama 60 jam demi mengevakuasi 20.000 warga sipil Prancis dari wilayah pertempuran di Dunkirk tanggal 4 Oktober 1944


Selama pertempuran Teluk Milne bulan Agustus/September 1942 (dimana Jepang menderita saah satu kekalahan pertamanya), kapal rumah sakit Australia Manunda mampu menaikkan banyak prajurit mereka yang terluka dari pantai dan membawanya pulang di waktu malam persis di depan mata seluruh armada musuh! Kapal penjelajah Jepang Tenryu bahkan 'berbaik hati' menerangi arah jalan keluar buat Manunda dengan lampu sorotnya!


Setelah pesawat-pesawat Jepang berhasil menghancurkan Force Z Inggris dengan menenggelamkan kapal perang Prince of Wales dan Repulse di bulan Desember 1941, beberapa pesawat IJN (Imperial Japanese Navy) kembali dan menjatuhkan karangan bunga di atas perairan dimana kapal Inggris ditenggelamkan sebagai pengakuan atas keberanian para awaknya


Kursk, awal Juli 1943. Seorang prajurit Panzergrenadier Waffen-SS mendatangi dua orang prajurit Rusia dan memberikan minum kepada salah seorang di antaranya yang terluka berat dari kantong airnya, sementara di belakang mereka sebuah tank T-34 model 1943 masih dalam keadaan terbakar sisa dari pertempuran yang baru terjadi. Si Panzergrenadier mengenakan jaket kamuflase "palem" pola awal yang menutupi seragam serta helmnya. Pola ini pertama diperkenalkan tahun 1940. Seperti yang banyak terjadi, terdapat dua versi peristiwa yang terlihat dalam foto ini: versi pertama menyebutkan bahwa ini adalah kejadian nyata yang menunjukkan sikap hormat terhadap musuh yang sudah tak mampu berperang, sementara versi kedua menyebutkan bahwa foto ini telah "diatur" sedemikian rupa sehingga seakan-akan menunjukkan tentang kemanusiawian tentara Jerman yang perkasa, bahkan ketika melawan pihak Rusia yang barbar!


Rangkaian tiga buah foto yang tidak biasa ini memperlihatkan masa-masa tenang diantara kecamuk pertempuran sengit selama berlangsungnya Unternehmen Zitadelle (Pertempuran Kursk) di bulan Juli 1943. Dua orang tawanan Soviet - dengan salah seorang diantaranya terluka - mendapatkan perawatan pertama oleh seorang SS-Scharführer dari salah satu kompi Panzergrenadier Divisi SS Das Reich


Seorang Gebirgsjäger yang memakai pakaian kamuflase musim dingin (perhatikan juga kamuflase putih di bergmütze yang dipakainya!) membagi rokoknya dengan dua orang Tentara Merah yang tertawan. Foto ini diambil di front utara Rusia yang selalu dingin bulan April 1942


Prajurit Fallschirmjäger memperlakukan tawanan Inggris mereka yang terluka dengan baik selama berlangsungnya pertempuran Kreta di tahun 1941

 Seorang perwira Jerman yang terluka, yang ditemukan di gurun Mesir di hari kedua ofensif Inggris di El Alamein, mendapat penjagaan dari seorang tentara Inggris sebelum tiba pertolongan, 13 November 1942. Perang di Afrika Utara memang terkenal akan "kebersihannya". Pilot akan memberi waktu pada prajurit musuh untuk keluar dari kendaraannya sebelum diserang, setelah pertempuran kadang dicapai gencatan senjata demi mengevakuasi prajurit yang terluka, dan Rommel pernah mengembalikan satu truk penuh alkohol yang dirampasnya dari pihak Inggris dengan alasan bahwa "kita bukan pencuri"!


Tawanan Fallschirmjäger Jerman membopong seorang tentara Inggris yang baru saja kehilangan kakinya akibat ranjau, Mei 1944


Petugas medis Amerika memberikan pertolongan pertama terhadap seorang Oberleutnant Luftwaffe yang ditembaki ketika sedang mengendarai kendaraan staffnya. Chartres, 17 Agustus 1944

Petugas medis Amerika menolong prajurit Jerman yang terluka dalam pertempuran di Front Barat (1944-1945)

 Dua orang petugas medis Amerika membantu seorang tawanan tentara Jerman yang terluka dari 77.Infanterie-Division untuk minum


 Prajurit Amerika dan Jerman ini sama-sama berlindung di balik tank dari serangan peluru nyasar dalam fase kampanye Sekutu di Sungai Prüm. Foto ini diambil di Dausfelder Mühle tanggal 28 Februari 1945. Prajurit Jerman berasal dari I.Bataillon/Fallschirmjäger-Regiment 15, sementara penawannya yang dari Amerika berasal dari 22nd Infantry Regiment/4th Infantry Division


Sumber :
Buku "Fallschirmjäger: German Paratrooper 1935-45" karya Bruce Quarrie
Buku "Fighter Aces of the Luftwaffe" karya Col. Raymond T. Toliver dan Trevor J. Constable
Buku "Gebirgsjäger: German Mountain Trooper 1939-45" karya Gordon Williamson
Buku "World War II in Photographs" terbitan Carlton Books
Foto koleksi Bundesarchiv Jerman
Foto koleksi NARA Archives
www.asisbiz.com
www.commons.wikimedia.org
www.fliegerhorst-sandhofen-coleman.de
www.forum.axishistory.com

5 comments:

anindita saktiaji said...

Perang itu hal yang mengerikan, tapi kalau terpaksa dilakukan, lakukanlah dengan semestinya (lupa quotes siapa) tapi dengan sikap kesatria semacam ini, perang mempunyai sisi indah dan positif

Dennis said...

Mantap banget, makasih udah sharing foto2 yg menakjubkan ini. ~!

BELAJAR BAHASA said...

Pada dasarnya NAZI Jerman memiliki nilai-nilai moral dan kesehatan seperti dilarang merokok, mabuk, cabul dan korupsi

Unknown said...

Berperang itu gk ada artinya Hanya Mendatangkan Kesedihan dan Juga Kengerian,Jadi Jgn Mulai Perang Karna Perang Dpt Menhancurkan Dunia Ini!!!

Unknown said...

Berperang itu gk ada artinya Hanya Mendatangkan Kesedihan dan Juga Kengerian,Jadi Jgn Mulai Perang Karna Perang Dpt Menhancurkan Dunia Ini!!!