Wednesday, February 12, 2014

Foto Sturmgeschütz (StuG) III dan IV

Pertempuran di Stalingrad kini terfokus di wilayah stasiun kereta api pusat. Di pagi tanggal 17 September 1942 pasukan Soviet yang bertahan menjadi sasaran dari serangan gabungan infanteri Jerman dibantu oleh 20 buah Panzer dan StuG. Foto ini memperlihatkan sebuah Schützengruppe (Grup Pelindung) yang didukung oleh sebuah Sturmgeschütz III Ausf.F bersenjatakan meriam panjang 75mm (juga dikenal dengan nama Sturmgeschütze 40) sedang menunggu perintah untuk bergerak maju melalui pinggiran rel kereta dan gulungan kabel yang berserakan. Di tengah foto kita bisa melihat seorang tawanan Soviet yang tampaknya dijadikan sebagai penunjuk arah lokasi teman-temannya yang masih bertahan


Satu grup senapan mesin berat melindungi pergerakan pasukan infanteri Jerman saat mereka menginspeksi sebuah artileri-gerak Sturmgeschütz III 75mm yang di-K.O. oleh tembakan pasukan Rusia di Stalingrad, Oktober 1942. Adalah biasa bagi pihak yang berperang untuk menduduki kendaraan tempur yang tak berfungsi atau sudah rusak lalu menjadikannya sebagai benteng pertahanan. Para awak kendaraan lapis baja sendiri biasanya segan untuk maju ke medan yang dipenuhi oleh bangunan kecuali mendapatkan pengawalan dari pasukan infanteri agar bisa terlindungi dari serangan jarak dekat musuh



Oberwachtmeister Fritz Amling (17 Januari 1916 - 6 Maret 1994) adalah anak petani yang bergabung dengan Artillerie-Regiment 24 tanggal 1 Oktober 1937 dan ikut serta dalam penyerbuan ke Polandia dan Prancis. Pada saat berlangsungnya Operasi Barbarossa, Amling ditransfer ke Sturmgeschütz-Abteilung 202 yang saat itu berada di bawah komando Major Dr. Hans Marder. Sejak musim gugur 1942 unitnya bertugas membantu unit-unit infanteri Wehrmacht di wilayah Podossinowka-Sherebzowo-Cholm-Taliza. Amling bersama Richtschütze (gunner) Bruno Guskowski mencatat prestasi di luar kewajaran ketika di bulan Desember dia menghancurkan 42 tank Rusia hanya dalam waktu 48 jam di wilayah Kalinin, dengan lima di antaranya dimusnahkan hanya dalam waktu 5 menit! Ketika atasannya merasa tidak percaya akan laporan tersebut, mereka langsung pergi ke front untuk melihat sendiri, hanya untuk menemui sang "Panzerknacker" tetap diam di posnya (yang dikelilingi bangkai tank musuh), terluka tapi bangga karena kekuatan lapis baja Rusia tidak mampu menembus pertahanannya! Tentu saja prestasi seperti tersebut perlu diganjar sepantasnya, dan Amling dianugerahi Ritterkreuz des Eisernen Kreuzes tanggal 11 Desember 1942 sebagai Wachtmeister dan Zugführer 3.Batterie / Sturmgeschütz-Abteilung 202 / 9.Armee / Heeresgruppe Mitte. Yang memberikan Ritterkreuz secara langsung adalah Generaloberst Walter Model (Oberbefehlshaber 9.Armee). Selain itu, keesokan harinya namanya disebutkan pula dalam Wehrmachtbericht meskipun tidak disebutkan secara rinci jumlah tank yang dihancurkannya. Yang paling membanggakan, Adolf Hitler secara pribadi mengirimkan ucapan selamat lewat telegram, yang kemudian dibacakan oleh komandan Amling di hadapan rekan-rekannya! Tak lama setelahnya, tanggal 24 Desember 1942, Amling ditransfer ke Sturmgeschütz-Ersatz-und-Ausbildungs-Abteilung 300 untuk mengajarkan keahliannya kepada para calon awak StuG. Sampai akhir perang, jumlah kill-nya tercatat di angka 56 buah. Medali dan penghargaan lain yang diraihnya: Eisernes Kreuz II.Klasse (26 Januari 1942) dan I.Klasse (7 Desember 1942); Verwundetenabzeichen in Silber; Panzerkampfabzeichen; serta Medaille Winterschlacht im Osten 1941/42 (Ostmedaille)

 
Eichenlaubträger Oberleutnant Bodo Spranz (Chef 1.Batterie / Sturmgeschütz-Abteilung 237 / 330.Infanterie-Division / IX.Armee-Korps / 4.Armee / Heeresgruppe Mitte) bersama awak dan senjata andalannya, sebuah Sturmgeschütz III Ausf.G model awal dengan 34 baris kemenangan di laras meriam, musim panas tahun 1943. Dalam foto ini Spranz mengenakan medali Deutsches Kreuz in Gold (6 Mei 1942) serta empat buah Panzervernichtungsabzeichen in Silber (27 Agustus 1942). Nantinya dia juga akan mendapat Ritterkreuz des Eisernen Kreuzes #2182 mit Eichenlaub #308. Dia dipromosikan menjadi Hauptmann, juga menerima Ritterkreuz dan Eichenlaub di tanggal yang sama, 3 Oktober 1943, dan menjadi satu-satunya orang yang mendapat keistimewaan seperti itu selain pilot Luftwaffe Wilhelm Crinius!


 SS-Unterscharführer Michael Wittmann (depan kiri) dari 1.Sturmgeschütz-Batterie / Abteilung Schönberger / Leibstandarte SS Adolf Hitler (motorisiert) berpose dengan santai di depan Sturmgeschütz III Ausf.A "Buzzard" bersama dengan Gunner andalannya SS-Rottenführer Klinck di hari penganugerahan Eisernes Kreuz II.Klasse, sore tanggal 12 Juli 1941. Dia mendapatkan medali keberanian pertamanya tersebut setelah menghancurkan enam tank T-34 Soviet di pagi dan siang hari , tanggal yang sama! Penasaran kan gimana dongengnya? Di hari itu Wittmann dan tiga orang awaknya (gunner/richtschütze SS-Rottenführer Klinck, loader/ladeschütze SS-Rottenführer Petersen, dan driver/fahrer SS-Rottenführer Koldenhöff) diperintahkan untuk pergi ke dataran tinggi strategis yang dinamakan Point 65,5. Disana dia melihat iring-iringan 18 buah tank T34/76 Rusia dalam dua kelompok. Melihat kesempatan baik, Wittmann menyuruh Koldenhöff untuk memposisikan StuG-nya dalam posisi sergapan di tempat yang tersembunyi. Dalam fase pertama pertempuran, dua T34 menjadi korban dari meriam 75mm KwK StuG Witttmann, yang buru-buru mundur saat tank lainnya menyadari kehadiran mereka. Wittmann balik lagi ke lokasi pertempuran dengan berjalan kaki untuk mengintai posisi musuh saat dia dikagetkan oleh ledakan dua meriam yang disusul oleh hancurnya T34 ketiga, hasil dari tembakan gunner-nya Klinck yang bertindak atas inisiatif sendiri setelah mendapati telah berhadap-hadapan dengan tank musuh! StuG tunggal Jerman ini diuntungkan oleh tembakan-tembakan tank lawannya yang begitu buruknya sehingga melebar kesana kemari! Segera Wittmann memergoki T34 keempat yang berhasil dihancurkannya melalui skill tinggi sang supir StuG Koldenhöff yang selalu memposisikan kendaraan mereka seefisien mungkin (ingat, meriam StuG tidak bisa diputar ke samping, beibeh!). Setelah menyeberangi sebuah sungai kecil, Wittmann melihat tiga T34 yang sebelumnya dia intai sedang berjaga di sebuah bukit dengan mesin menyala. Ketika Koldenhöff membawa StuG-nya sampai sejarak 500 meter, barulah Wittmann menghantam salah satu T34 dan membuatnya terbakar. Sisa dua T34 buru-buru mengarahkan meriam mereka ke StuG biang kerok yang selama ini telah membabat lima tank mereka. Koldenhöff sekali lagi bermanuver dan mengarahkan posisi meriam ke arah musuh. BELEDUGG!! Korban keenam telah dihancurkan. Melihat kengerian yang terpampang di depan mata, satu T34 yang tersisa buru-buru kabur dari lokasi! Saat Wittmann merasa tugas telah selesai, dia melihat kubah T34 kedua yang sebelumnya telah dihancurkannya kini bergerak kembali! Tak mau mengambil resiko, tank Rusia tersebut dihantam peluru penghancur baja untuk kedua kalinya sehingga membuatnya terbakar dan awaknya berloncatan keluar. Dan disinilah hal yang menakjubkan terjadi: bukannya menghabisi mereka, Wittmann memerintahkan salah seorang awaknya untuk buru-buru keluar membawa selimut tebal dan memadamkan api yang membakar ketiga awak T34 Rusia tersebut! Prestasi Wittmann di hari tersebut langsung diganjar oleh komandan LSSAH, SS-Obergruppenführer Sepp Dietrich, dengan Eisernes Kreuz II.Klasse. Ketika ditanya apakah dia punya permintaan khusus, Wittmann meminta supaya tiga orang awak tank Rusia yang terluka tersebut diberikan perawatan medis yang terbaik yang bisa diberikan! LUAR BIASA!!


Sumber :
Buku "Stalingrad Inferno: The Infantryman's War" karya Gordon Rottman dan Ronald Volstad
www.network54.com
www.panzerace.net
www.wehrmacht-awards.com

No comments: