Saturday, March 10, 2012

Foto Upacara Pemakaman Erwin Rommel



Sterbebild (Kartu Kematian) Generalfeldmarschall Erwin Rommel. Disana disebutkan bahwa dia meninggal dalam usia 53 tahun tanggal 14 Oktober 1944 akibat dari luka-luka yang dideritanya dari sejak tanggal 17 Juli 1944. Yang berduka cita disini adalah Frau Lucie-Maria Rommel (istri) dan Manfred Rommel (anak)


Telegram pernyataan dukacita atas meninggalnya Rommel yang datang dari Adolf Hitler. Telegram ini tertanggal 16 Oktober 1944 dan ditujukan kepada Frau Lucie Rommel. Hitler dan para "paladinnya" tidak menghadiri upacara pemakaman sang Marsekal karena menganggap dia sebagai pengkhianat yang terlibat dalam peristiwa bom 20 Juli 1944




Jenazah Generalfeldmarschall Erwin Rommel terbaring di peti matinya bersama dengan medali Ritterkreuz des Eisernen Kreuzes mit Eichenlaub, Schwerter und Brillanten yang diraihnya tanggal 11 Maret 1943. Dia tidak dikuburkan bersama semua medalinya karena semua itu telah dilepaskan terlebih dahulu sebelum dikremasi. Upacara penguburan yang sesungguhnya memperlihatkan seorang perwira Wehrmacht membawa guci berisi abu jenazah Rommel ke lokasi penguburan sehari sesudah upacara yang dihadiri oleh Rundstedt di atas


 Generalfeldmarschall Gerd von Rundstedt (Oberbefehlshaber West) mengacungkan Interimstab-nya di posisi "Stab grüßend" (hormat tongkat) dalam upacara pemakaman Generalfeldmarschall Erwin Rommel yang diadakan di Rathaus (Aula kota) Ulm, Baden-Württemberg, pada tanggal 18 Oktober 1944. Seorang perwira Heer terlihat membawa sebuah Ordenskissen yang berisikan medali dan penghargaan yang telah diraih oleh mendiang selama karir militernya yang cemerlang



Generalfeldmarschall Gerd von Rundstedt (Oberbefehlshaber West) memberikan eulogi mewakili Hitler dalam upacara pemakaman Erwin Rommel yang diadakan di Aula kota Ulm, Baden-Württemberg, tanggal 18 Oktober 1944. Seorang perwira terlihat membawa sebuah Ordenskissen yang berisikan medali dan penghargaan yang telah diraih oleh mendiang selama karir militernya yang cemerlang, sementara karangan bunga besar di sebelah kanan merupakan kiriman dari Führer sebagai tanda ucapan dukacita

 Karangan bunga besar dari Hitler sedang dikeluarkan dari aula kota Ulm


Jenazah Erwin Rommel dibawa keluar dari Aula Kota Ulm untuk diletakkan di kereta penarik artileri howitzer 10,5 cm le.F.H. 18 yang akan membawanya pergi. "kereta" yang membawanya adalah sebuah SdKfz 6 dengan Pionieraufbau



Upacara pemakaman Generalfeldmarschall Erwin Rommel yang diselenggarakan di kota kelahirannya, Ulm (Württemberg), tanggal 18 Oktober 1944. Beberapa pejabat penting pemerintah serta jenderal-jenderal Wehrmacht ikut hadir dalam acara ini, sementara puluhan ribu penduduk sekitar berjajar di tepi jalan untuk memberikan hormat terakhir kepada sang Serigala Padang Pasir. Jenazah Rommel dibawa dari tempat persemayaman di Aula Kota Ulm menuju lokasi krematorium untuk dikremasi sebelum abunya dikuburkan di kompleks pemakaman Heerlingen


 Upacara pemakaman Generalfeldmarschall Erwin Rommel yang diselenggarakan di kota kelahirannya, Ulm (Württemberg), hari rabu siang tanggal 18 Oktober 1944. Peti matinya diletakkan di ekor meriam howitzer ringan 10.5 cm leFH (leichte FeldHaubitze) 18, sementara Marschallstab dipajang di atas peti mati. Salam hormat "Hitlergrüsse" diwajibkan untuk seluruh anggota militer dan juga warga sipil selepas peristiwa percobaan pembunuhan terhadap Hitler tanggal 20 Juli 1944. Foto oleh Kriegsberichter Hoffmann


Janda serta putra satu-satunya mendiang menerima ucapan duka cita dari para pelayat yang membanjir. Sebelah kiri Manfred Rommel adalah Hauptmann Helmuth Lang (ajudan Rommel) sementara sebelah kanan Frau Rommel adalah Generalfeldmarschall Gerd von Rundstedt (Oberbefehlshaber West)


Tempat peristirahatan terakhir Erwin Rommel yang terletak di Herrlingen, Blaustein, Baden-Württemberg, Jerman (sebelah barat Ulm)


Topeng kematian Erwin Rommel. Beberapa pengamat mengklaim bahwa wajah terakhir Rommel memperlihatkan ekspresi kelelahan, kecewa dan frustasi, sementara anaknya Manfred menyebutkan bahwa ekspresi ayahnya lebih menunjukkan rasa jijik dan merendahkan (terhadap rezim Nazi dan Hitler)


Sumber :
Buku "Field Marshal: The Life and Death of Erwin Rommel" karya Daniel Allen Butler
Foto koleksi Bundesarchiv Jerman
www.commons.wikimedia.org
www.forum.axishistory.com
www.iwm.org.uk

2 comments:

fadhli rahim said...

setelah menonton film "ROMMELL", dan membaca artikelini beserta beberapa buku yg berlatar belakang PDII, maka sejarah mmg cendrung berulang, dmana para pelayan negara yg loyal dan jujur akan digilas oleh politik

go..go..icinema3satu said...

setuju bro