Thursday, April 30, 2009

Adolf Hitler Demagog

Gambar ini saya buat dari buku "World Wor II Greatest Battles" yang saya punyai, menggambarkan Hitler ketika sedang berpidato dengan gaya khasnya yang meledak-ledak. Gambar ini saya buat di sampul buku TTS...

Wednesday, April 29, 2009

Kolaborator Asing dan Sukarelawan Wehrmacht/Waffen-SS

  1. Foto sukarelawan asing non kulit putih Nazi Jerman
  2. Foto sukarelawan Arab dalam tubuh Wehrmacht
  3. Foto sukarelawan Armenia dalam tubuh Wehrmacht
  4. Foto sukarelawan Azerbaijan dalam tubuh Wehrmacht
  5. Foto sukarelawan Cossack dalam tubuh Wehrmacht
  6. Foto sukarelawan Estonia dalam tubuh Wehrmacht
  7. Foto sukarelawan Georgia dalam tubuh Wehrmacht
  8. Foto sukarelawan India dalam tubuh Wehrmacht
  9. Foto sukarelawan Kroasia dalam tubuh Wehrmacht
  10. Foto sukarelawan Latvia dalam tubuh Wehrmacht
  11. Foto sukarelawan Prancis dalam tubuh Wehrmacht
  12. Foto sukarelawan Rusia dalam tubuh Wehrmacht
  13. Foto sukarelawan Serbia dalam tubuh Wehrmacht
  14. Foto sukarelawan Spanyol dalam tubuh Wehrmacht
  15. Foto sukarelawan Tatar dalam tubuh Wehrmacht
  16. Foto sukarelawan Thailand dalam tubuh Wehrmacht
  17. Foto sukarelawan Turkistan dalam tubuh Wehrmacht
  18. Foto sukarelawan Ukraina dalam tubuh Wehrmacht
  19. Foto sukarelawan Wallonie dalam tubuh Wehrmacht
  20. Foto sukarelawan Belanda dalam tubuh SS
  21. Foto sukarelawan Denmark dalam tubuh SS
  22. Foto sukarelawan Finlandia dalam tubuh SS
  23. Foto sukarelawan Flemish dalam tubuh SS
  24. Foto sukarelawan Inggris dalam tubuh SS
  25. Foto sukarelawan Norwegia dalam tubuh SS
  26. Foto sukarelawan Swedia dalam tubuh SS
  27. Foto 369. (Kroatische) Infanterie-Division "Teufels-Division"
  28. Foto Hiwi (Hilfswilliger)
  29. Lambang, insignia dan lencana sukarelawan asing Nazi Jerman
  30. Profil sukarelawan asal Estonia: Harald Nugiseks
  31. Profil sukarelawan asal Hungaria: László Almásy
  32. Profil sukarelawan asal Latvia: Miervaldis Ādamsons
  33. Volksdeutsche (keturunan Jerman di luar negeri)

Adolf Hitler Lari Dan Mati Di Indonesia?

"Penampakan-penampakan" Adolf Hitler di dunia modern


Gambar imajiner Adolf Hitler, masih tetap dengan seragam kebesarannya!


Wajah imajiner Hitler yang lain lagi...


Oleh : Alif Rafik Khan


Jika saja ada yang rajin menyimpan klipingan artikel harian “Pikiran Rakyat” sekitar tahun 1983, tentu akan menemukan tulisan dokter Sosrohusodo mengenai pengalamannya bertemu dengan seorang dokter tua asal Jerman bernama Poch di pulau Sumbawa Besar pada tahun 1960. Dokter tua itu kebetulan memimpin sebuah rumah sakit besar di pulau tersebut.


Tapi bukan karena mengupas kerja dokter Poch, jika kemudian artikel itu menarik perhatian banyak orang, bahkan komentar sinis dan cacian! Namun kesimpulan akhir artikel itulah yang membuat banyak orang mengerutkan kening. Sebab dengan beraninya Sosro mengatakan bahwa dokter tua asal Jerman yang pernah berbincang-bincang dengannya, tidak lain adalah Adolf Hitler, mantan diktator Jerman yang super terkenal karena telah membawa dunia pada Perang Dunia II!


Beberapa “bukti” diajukannya, antara lain dokter Jerman tersebut cara berjalannya sudah tidak normal lagi, kaki kirinya diseret. Tangan kirinya selalu gemetar. Kumisnya dipotong persis seperti gaya aktor Charlie Chaplin, dengan kepala plontos. Kondisi itu memang menjadi ciri khas Hitler pada masa tuanya, seperti dapat dilihat sendiri pada buku-buku yang menceritakan tentang biografi Adolf Hitler (terutama saat-saat terakhir kejayaannya), atau pengakuan Sturmbannführer Heinz Linge, bekas salah seorang pembantu dekat sang Führer. Dan masih banyak “bukti” lain yang dikemukakan oleh dokter Sosro untuk mendukung dugaannya.


Keyakinan Sosro yang dibangunnya dari sejak tahun 1990-an itu hingga kini tetap tidak berubah. Bahkan ia merasa semakin kuat setelah mendapatkan bukti lain yang mendukung ‘penemuannya’. “Semakin saya ditentang, akan semakin keras saya bekerja untuk menemukan bukti-bukti lain,” kata lelaki yang lahir pada tahun 1929 di Gundih, Jawa Tengah ini ketika ditemui di kediamannya di Bandung.


Andai saja benar dr. Poch dan istrinya adalah Hitler yang tengah melakukan pelarian bersama Eva Braun, maka ketika Sosro berbincang dengannya, pemimpin Nazi itu sudah berusia 71 tahun, sebab sejarah mencatat bahwa Adolf Hitler dilahirkan tanggal 20 April 1889. “Dokter Poch itu amat misterius. Ia tidak memiliki ijazah kedokteran secuilpun, dan sepertinya tidak menguasai masalah medis,” kata Sosro, lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia yang sempat bertugas di pulau Sumbawa Besar ketika masih menjadi petugas kapal rumah sakit Hope.


Sebenarnya, tumbuhnya keyakinan pada diri Sosro mengenai Hitler di pulau Sumbawa Besar bersama istrinya Eva Braun, tidaklah suatu kesengajaan. Ketika bertugas di pulau tersebut dan bertemu dengan seorang dokter tua asal Jerman, yang ada pada benak Sosro baru tahap kecurigaan saja.


Meskipun begitu, ia menyimpan beberapa catatan mengenai sejumlah “kunci” yang ternyata banyak membantu. Perhatiannya terhadap literatur tentang Hitler pun menjadi kian besar, dan setiap melihat potret tokoh tersebut, semakin yakin Sosro bahwa dialah orang tua itu, orang tua yang sama yang bertemu dengannya di sebuah pulau kecil d Indonesia!


Ketidaksengajaan itu terjadi pada tahun 1960, berarti sudah dua puluh tahun lebih ia meninggalkan pulau Sumbawa Besar.


Suatu saat, seorang keponakannya membawa majalah Zaman edisi no.15 tahun 1980. Di majalah itu terdapat artikel yang ditulis oleh Heinz Linge, bekas pembantu dekat Hitler, yang berjudul “Kisah Nyata Dari Hari-Hari Terakhir Seorang Diktator”, yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Try Budi Satria.


Pada halaman 59, Linge mula-mula menceritakan mengenai bunuh diri Hitler dan Eva Braun, serta cara-cara membakar diri yang kurang masuk di akal. Kemudian Linge membeberkan keadaan Hitler pada waktu itu.


“Beberapa alinea dalam tulisan itu membuat jantung saya berdetak keras, seperti menyadarkan saya kembali. Sebab di situ ada ciri-ciri Hitler yang juga saya temukan pada diri si dokter tua Jerman. Apalagi setelah saya membaca buku biografi ‘Hitler’. Semuanya ada kesamaan,” ungkap ayah empat anak ini.


Heinz Linge menulis, “beberapa orang di Jerman mengetahui bahwa Führer sejak saat itu kalau berjalan maka dia menyeret kakinya, yaitu kaki kiri. Penglihatannya pun sudah mulai kurang terang serta rambutnya hampir sama sekali tidak tumbuh... kemudian, ketika perang semakin menghebat dan Jerman mulai terdesak, Hitler menderita kejang urat.”


Linge melanjutkan, “di samping itu, tangan kirinya pun mulai gemetar pada waktu kira-kira pertempuran di Stalingrad (1942-1943) yang tidak membawa keberuntungan bagi bangsa Jerman, dan ia mendapat kesukaran untuk mengatasi tangannya yang gemetar itu.” Pada akhir artikel, Linge menulis, “tetapi aku bersyukur bahwa mayat dan kuburan Hitler tidak pernah ditemukan.”


Lalu Sosro mengenang kembali beberapa dialog dia dengan “Hitler”, saat Sosro berkunjung ke rumah dr. Poch. Saat ditanya tentang pemerintahan Hitler, kata Sosro, dokter tua itu memujinya. Demikian pula dia menganggap bahwa tidak ada apa-apa di kamp Auschwitz, tempat ‘pembantaian’ orang-orang Yahudi yang terkenal karena banyak film propaganda Amerika yang menyebutkannya.


“Ketika saya tanya tentang kematian Hitler, dia menjawab bahwa dia tidak tahu sebab pada waktu itu seluruh kota Berlin dalam keadaan kacau balau, dan setiap orang berusaha untuk lari menyelamatkan diri masing-masing,” tutur Sosrohusodo.


Di sela-sela obrolan, dr. Poch mengeluh tentang tangannya yang gemetar. Kemudian Sosro memeriksa saraf ulnarisnya. Ternyata tidak ada kelainan, demikian pula tenggorokannya. Ketika itu, ia berkesimpulan bahwa kemungkinan “Hitler” hanya menderita parkisonisme saja, melihat usianya yang sudah lanjut.


Yang membuat Sosro terkejut, dugaannya bahwa sang dokter mungkin terkena trauma psikis ternyata diiyakan oleh dr. Poch! Ketika disusul dengan pertanyaan sejak kapan penyakit itu bersarang, Poch malah bertanya kepada istrinya dalam bahasa Jerman.


“Itu kan terjadi sewaktu tentara Jerman kalah perang di Moskow. Ketika itu Goebbels memberi tahu kamu, dan kamu memukul-mukul meja,” ucap istrinya seperti ditirukan oleh Sosro. Apakah yang dimaksud dengan Goebbels adalah Joseph Goebbels, Menteri Propaganda Jerman yang terkenal setia dan dekat dengan Hitler? Istrinya juga beberapa kali memanggil dr. Poch dengan sebutan “Dolf”, yang mungkin merupakan kependekan dari Adolf!


Setelah memperoleh cemoohan sana-sini sehubungan dengan artikelnya, tekad Sosrohusodo untuk menuntaskan masalah ini semakin menggebu. Ia mengaku bahwa kemudian memperoleh informasi dari pulau Sumbawa Besar bahwa Poch sudah meninggal di Surabaya. Beberapa waktu sebelum meninggal, istrinya pulang ke Jerman. Poch sendiri konon menikah lagi dengan nyonya S, wanita Sunda asal Bandung, karyawan di kantor pemerintahan di pulau Sumbawa Besar!


Untuk menemukan alamat nyonya S yang sudah kembali lagi ke Bandung, Sosro mengakui bukanlah hal yang mudah. Namun akhirnya ada juga orang yang memberitahu. Ternyata, ia tinggal di kawasan Babakan Ciamis! Semula nyonya S tidak begitu terbuka tentang persoalan ini. Namun karena terus dibujuk, sedikit demi sedikit mau juga nyonya S berterus terang.


Begitu juga dengan dokumen-dokumen tertulis peninggalan suaminya kemudian diserahkan kepada Sosrohusodo, termasuk foto saat pernikahan mereka, plus rebewes (SIM) milik dr. Poch yang ada cap jempolnya. Dari nyonya S diketahui bahwa dr. Poch meninggal tanggal 15 Januari 1970 pukul 19.30 pada usia 81 tahun di Rumah Sakit Karang Menjangan Surabaya akibat serangan jantung. Keesokan harinya dia dimakamkan di desa Ngagel.


Dalam salah satu dokumen tertulis, diakuinya bahwa ada yang amat menarik dan mendukung keyakinannya selama ini. Pada buku catatan ukuran saku yang sudah lusuh itu, terdapat alamat ratusan orang-orang asing yang tinggal di berbagai negara di dunia, juga coretan-coretan yang sulit dibaca. Di bagian lainnya, terdapat tulisan steno. Semuanya berbahasa Jerman. Meskipun tidak ada nama yang menunjukkan kepemilikan, tapi diyakini kalau buku itu milik suami nyonya S.


Di sampul dalam terdapat kode J.R. KepaD no.35637 dan 35638, dengan masing-masing nomor itu ditandai dengan lambang biologis laki-laki dan wanita. “Jadi kemungkinan besar, buku itu milik kedua orang tersebut, yang saya yakini sebagai Hitler dan Eva Braun,” tegasnya dengan suara yang agak parau.


Negara yang tertulis pada alamat ratusan orang itu antara lain Pakistan, Tibet, Argentina, Afrika Selatan, dan Italia. Salah satu halamannya ada tulisan yang kalau diterjemahkan berarti : Organisasi Pelarian. Tuan Oppenheim pengganti nyonya Krüger. Roma, Jl. Sardegna 79a/1. Ongkos-ongkos untuk perjalanan ke Amerika Selatan (Argentina).


Lalu, ada pula satu nama dalam buku saku tersebut yang sering disebut-sebut dalam sejarah pelarian orang-orang Nazi, yaitu Prof. Dr. Draganowitch, atau ditulis pula Draganovic. Di bawah nama Draganovic tertulis Delegation Argentina da imigration Europa – Genua val albaro 38. secara terpisah di bawahnya lagi tertera tulisan Vatikan. Di halaman lain disebutkan, Draganovic Kroasia, Roma via Tomacelli 132.


Majalah Intisari terbitan bulan Oktober 1983, ketika membahas Klaus Barbie alias Klaus Altmann bekas polisi rahasia Jerman zaman Nazi, menyebutkan alamat tentang Val Albaro. Disebutkan pula bahwa Draganovic memang memiliki hubungan dekat dengan Vatikan Roma. Profesor inilah yang membantu pelarian Klaus Barbie dari Jerman ke Argentina. Pada tahun 1983 Klaus diekstradisi dari Bolivia ke Prancis, negara yang menjatuhkan hukuman mati terhadapnya pada tahun 1947.


“Masih banyak alamat dalam buku ini, yang belum seluruhnya saya ketahui relevansinya dengan gerakan Nazi. Saya juga sangat berhati-hati tentang hal ini, sebab menyangkut negara-negara lain. Saya masih harus bekerja keras menemukan semuanya. Saya yakin kalau nama-nama yang tertera dalam buku kecil ini adalah para pelarian Nazi!” tandasnya.


Mengenai tulisan steno, diakuinya kalau ia menghadapi kesulitan dalam menterjemahkannya ke dalam bahasa atau tulisan biasa. Ketika meminta bantuan ke penerbit buku steno di Jerman, diperoleh jawaban bahwa steno yang dilampirkan dalam surat itu adalah steno Jerman “kuno” sistem Gabelsberger dan sudah lebih dari 60 tahun tidak digunakan lagi sehingga sulit untuk diterjemahkan.


Tetapi penerbit berjanji akan mencarikan orang yang ahli pada steno Gabelsberger. Beberapa waktu lamanya, datang jawaban dari Jerman dengan terjemahan steno ke dalam bahasa Jerman. Sosrohusodo menterjemahkannya kembali ke dalam bahasa Indonesia. Judul catatan dalam bentuk steno itu, kurang lebih berarti “keterangan singkat tentang pengejaran perorangan oleh Sekutu dan penguasa setempat pada tahun 1946 di Salzburg”. Kota ini terdapat di Austria.


Di dalamnya berkisah tentang “kami berdua, istri saya dan saya pada tahun 1945 di Salzburg”. Tidak disebutkan siapakah ‘kami berdua’ di situ. Dua insan tersebut, kata catatan itu, dikejar-kejar antara lain oleh CIC (dinas rahasia Amerika Serikat). Pada pokoknya, menggambarkan penderitaan sepasang manusia yang dikejar-kejar oleh pihak keamanan.


Di dalamnya juga terdapat singkatan-singkatan yang ditulis oleh huruf besar, yang kalau diurut akan menunjukkan rute pelarian keduanya, yaitu B, S, G, J, B, S, R. “Cara menyingkat seperti ini merupakan kebiasaan Hitler dalam membuat catatan, seperti yang pernah saya baca dalam literatur yang lainnya,” Sosrohusodo memberikan alasan.


Dari singkatan-singkatan itu, lalu Sosro mencoba untuk mengartikannya, yang kemudian dikaitkan dengan rute pelarian. Pelarian dimulai dari B yang berarti Berlin, lalu S (Salzburg), G (Graz), J (Jugoslavia), B (Beograd), S (Sarajevo) dan R (Roma). Tentang Roma, Sosro menjelaskan bahwa itu adalah kota terakhir di Eropa yang menjadi tempat pelariannya. Setelah itu mereka keluar dari benua tersebut menuju ke suatu tempat, yang tidak lain tidak bukan adalah pulau Sumbawa Besar di Nusantara tercinta!


Ia mengutip salah satu tulisan dalam steno tadi : “Pada hari pertama di bulan Desember, kami harus pergi ke R untuk menerima suatu surat paspor, dan kemudian kami berhasil meninggalkan Eropa”. Ini, kata Sosro, sesuai dengan data pada paspor dr. Poch yang menyebutkan bahwa paspor bernomor 2624/51 diberikan di Rom (tanpa huruf akhir A)”. Di buku catatan berisi ratusan alamat itu, nama Dragonic dikaitkan dengan Roma, begitulah Sosro memberikan alasan lainnya.


Lalu mengenai Berlin dan Salzburg, diterangkannya dengan mengutip majalah Zaman edisi 14 Mei 1984. Dikatakan bahwa sejarah telah mencatat peristiwa jatuhnya pesawat yang membawa surat-surat rahasia Hitler yang jatuh di sekitar Jerman Timur pada tahun 1945. “Ini juga menunjukkan rute pelarian mereka,” katanya lagi.


Lalu bagaimana komentar nyonya S yang disebut-sebut Sosro sebagai istri kedua dr. Poch? Konon ia pernah berterus terang kepada Sosro. Suatu hari suaminya mencukur kumis mirip kumis Hitler, kemudian nyonya S mempertanyakannya, yang kemudian diiyakan bahwa dirinya adalah Hitler. “Tapi jangan bilang sama siapa-siapa,” begitu Sosro mengutip ucapan nyonya S.


Membaca dan menyimak ulasan dr. Sosrohusodo, sekilas seperti ada saling kait mengkait antara satu dengan yang lainnya. Namun masih banyak pertanyaan yang harus diajukan kepada Sosro, dengan tidak bermaksud meremehkan pendapat pribadinya berkaitan dengan Hitler, sebab mengemukakan pendapat adalah hak setiap warga negara.


Bahkan Sosrohusodo sudah membuat semacam diktat yang memaparkan pendapatnya tentang Hitler, dilengkapi dengan sejumlah foto yang didapatnya dari nyonya S. Selain itu, isinya juga mengisahkan tentang pengalaman sejak dia lulus dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia hingga bertugas di Bima, Kupang, dan Sumbawa Besar. Ia juga telah mengajukan hasil karyanya ke berbagai pihak, namun belum ada tanggapan. “Padahal tidak ada maksud apa-apa di balik kerja saya ini, hanya ingin menunjukkan bahwa Hitler mati di Indonesia,” katanya mantap.


Bukan hanya Sosro yang mempunyai teori tentang pelarian Hitler dari Jerman ke tempat lain, tapi beberapa orang di dunia ini pernah mengungkapkannya dalam media massa. Peluang untuk berteori seperti itu memang ada, sebab ketika pemimpin Nazi tersebut diduga mati bersama Eva Braun tahun 1945, tidak ditemukan bukti utama berupa jenazah!


Adalah tugas para pakar dalam bidang ini untuk mencoba mengungkap segala sesuatunya, termasuk keabsahan dokumen yang dimiliki oleh Sosrohusodo, nyonya S, atau makam di Ngagel yang disebut sebagai tempat bersemayamnya dr. Poch.


Mungkin para ahli forensik dapat menjelaskannya lewat penelitian terhadap tulang-tulang jenazahnya. Semua itu tentu berpulang pada kemauan baik semua pihak...


Sedikit tambahan yang saya kutip dari Vivanews:


Adolf Hitler, diktator Jerman dan orang yang diyakini bertanggung jawab atas pembantaian bangsa Yahudi, diduga menghabiskan akhir hayatnya di Indonesia -- sebagai dr Poch, dokter tua asal Jerman.

Menurut mantan pasiennya, Ahmad Zuhri Muhtar (55), dr Poch tinggal di rumah dinas dokter di Kompleks Rumah Sakit Sumbawa bersama istrinya yang asal Jerman.

Ketika istrinya itu kembali ke negeri asalnya, Poch lalu kesepian. "Dia menyendiri lalu kawin lagi dengan istinya yang asal [Pulau] Jawa, saya tidak tahu persisnya, mungkin Garut," kata Ahmad kepada VIVAnews, Senin 22 Februari 2010.

Ada lagi fakta menarik soal dr Poch yang diungkap Ahmad. Kata dia, dr Poch bahkan masuk Islam karena menikah dengan perempuan muslim.

"Dinikahkan secara Islam, resepsinya di pendapa kabupaten. Ceritanya seperti itu," tambah Ahmad.

dr Poch lalu pindah ke Surabaya, ke tempat istri barunya.

Keterangan Ahmad bersesuaian dengan kisah yang diungkap dr Sosrohusodo -- dokter lulusan Universitas Indonesia yang pernah bertemu Poch di Sumbawa.

Kata Sosro, setelah istrinya yang asal Jerman, diduga Eva Braun, meninggalkannya, Poch yang diduga sebagai Hitler menikah lagi dengan wanita Sunda asal Bandung berinisial 'S'. Terakhir 'S' diketahui tinggal di Babakan Ciamis.

Awalnya 'S' menutup mulut, namun akhirnya kepada Sosro, dia menyerahkan sejumlah dokumen milik suaminya, termasuk foto perkawinan, surat izin mengemudi lengkap dengan sidik jari Poch.

Ada juga buku catatan berisi nama-nama orang Jerman yang tinggal di beberapa negara, seperti Argentina, Italia, Pakistan, Afrika Selatan, dan Tibet. Juga beberapa tulisan tangan steno dalan bahasa Jerman

Buku catatan Poch berisi dua kode, J.R. KepaD No.35637 dan 35638, kode simbol lelaki dan perempuan.

"Ada kemungkinan buku catatatan dimiliki dua orang, Hitler dan Eva Braun," kata Sosro.

Ada juga tulisan yang diduga rute pelarian Hitler -- yakni B (Berlin), S (Salzburg), G (Graz), J (Jugoslavia), B (Belgrade), S (Sarajevo), R (Rome), sebelum dia ke Sumbawa Besar.

Istri kedua Poch, 'S' juga menceritakan suatu hari dia melihat suaminya mencukur kumis dengan gaya mirip Hitler. Ketika dia bertanya, suaminya menjawab, "jangan bilang siapa-siapa."

Poch yang diduga adalah Hitler meninggal pada 15 Januari 1970 pukul 19.30 di Rumah Sakit Karang Menjangan Surabaya karena serangan jantung, dalam usia 81 tahun.

Sebuah makam di Ngagel jadi pintu masuk untuk menyelidiki kebenaran cerita akhir hayat 'sang Fuhrer'.

Apakah Hitler benar tewas bunuh diri di bunker di Berlin pada 30 April 1945, atau apakah mati dalam usia tua di Argentina, Brazil, Amerika Selatan, atau Indonesia -- masih harus dikaji kebenarannya.




Sumber :

Harian “Pikiran Rakyat” edisi 24 Februari 1994

Majalah “Zaman” edisi No.15 tahun 1980

Majalah “Zaman” edisi 14 Mei tahun 1984

Majalah “Intisari” edisi bulan Oktober tahun 1983

www.photobucket.com

www.en.wikipedia.org


Album Foto Sepeda Nazi Jerman

Petugas polisi Ukraina masa pendudukan Jerman dengan kendaraan operasional mereka. Pita lengan "GENERALGOUVERNEMENT" dikenakan oleh orang di sebelah kiri. Foto ini berasal dari tahun 1942


Hitlerjugend memanfaatkan waktu istirahat dengan makan dan minum



Sumber :
Foto koleksi pribadi Askold
Foto koleksi pribadi Bill C. (12thPanzer)
www.wehrmacht-awards.com

Monday, April 27, 2009

Führer Adolf Hitler


Saya lupa lagi kapan gambar ini dibuat dan sumbernya. Yang jelas, gambar ini dibuat di sampul belakang buku TTS! Maklum, saat itu lagi senang-senangnya mengisi TTS! Hehehe...

Keponakan Hitler Mendalami Agama Yahudi Jadi Pendukung Zionis!


Tel Aviv, Kanal televisi Mesir al-Ula (25/4) melansir, salah seorang kerabat tokoh legendaris Nazi-Jerman Adolf Hitler dikabarkan tinggal di Israel dan tengah mendalami agama Yahudi.

Berita ini cukup membuat tanda tanya, karena seperti kita ketahui Hitler sendiri sangat anti dengan Yahudi tetapi malah keponakannya sendiri mendalami Talmud dan tinggal di Israel.

Mungkin teori konspirasi yang menyatakan bahwa ada korelasi dan skenario dari pembantaian Yahudi oleh Hitler benar adanya. Dalam teori tersebut dinyatakan bahwa Hitler dan Yahudi bekerja sama dalam membantai yahudi dan bisa jadi Hitler sendiri adalah Yahudi.

Kerabat dekat Hitler ini, yang tidak disebutkan namanya, lahir di Frankfurt, Jerman, pada tahun 1952. Kakeknya adalah saudara tiri Hitler yang konon sangat bangga berkerabat dengan pemimpin bertangan besi itu.

Pada mulanya, keponakan Hitler itu pergi ke Israel untuk belajar ilmu-ilmu keagamaan, dan kini tengah mendalami agama Yahudi.

Bahkan, ia kini mengajar beberapa mahasiswa Israel mata kuliah Talmud. Ia mengaku kecewa ketika membaca buku Hitler yang berjudul "Mein Kampf", bahkan menyebut penulis buku tersebut adalah seorang yang "dungu".

Lelaki berpostur tinggi jangkung dan mambu berbicara dalam bahasa Inggris, Jerman, dan Ibrani itu tampak tak suka ketika diajak berbicara tentang Palestina.


Sumber : www.eramuslim.com

Sunday, April 26, 2009

Daftar Peraih Deutsches Kreuz in Silber (German Cross in Silver)



HEER

Oberst Hans-Günther van Hooven (27 Oktober 1896 - 7 September 1964) berasal dari keluarga pegawai negeri yang kemudian bergabung dengan militer Jerman sebagai sukarelawan pada awal Perang Dunia I. Di akhir perang (1918), Oberleutnant Hooven memutuskan untuk berkarir di bidang ekspedisi barang dan melanjutkan pendidikannya di universitas. Pada tahun 1935 dia bergabung kembali dengan Wehrmacht sebagai Hauptmann. Pada tanggal 28 Desember 1942 Oberst Hooven diangkat sebagai Nachrichtenführer 6. Armee yang saat itu sedang bertempur mati-matian melawan Tentara Merah di Stalingrad. Untuk menghargai jasa-jasanya sebagai Kepala Sandi dan Intelijen, Hooven dianugerahi Deutsches Kreuz in Silber pada tanggal 25 Januari 1943. Bersama dengan puluhan ribu prajurit Jerman lainnya yang terperangkap di Stalingrad, Hooven menyerahkan diri pada pasukan Rusia pada tanggal 31 Januari 1943. Kemarahannya pada strategi Hitler dalam masalah Stalingrad yang dianggapnya sebagai blunder membuat dia, dan beberapa perwira tinggi Wehrmacht lainnya, membentuk "Bundes deutscher Offiziere" (Persatuan Perwira Jerman) pada bulan September 1943 yang merupakan organisasi anti-Nazi yang anggota-anggotanya diambil dari tawanan Jerman di kamp Soviet. Seusai perang Hooven tinggal di Jerman Timur sampai dengan akhir hayatnya. Medali dan penghargaan lain yang diterimanya: 1914 Eisernes Kreuz II.Klasse und I.Klasse; Ehrenkreuz für Frontkämpfer 1914/1918; Verwundetenabzeichen; Medaille Winterschlacht im Osten 1941/42 (1942); serta Kriegsverdienstkreuz II.Klasse und I.Klasse mit Schwertern

------------------------------------------------------------

LUFTWAFFE


Generaloberstabsarzt (Luftwaffe) Prof.Dr.med. Oskar Schröder. Dia meraih Deutsches Kreuz in Silber tanggal 20 Maret 1944 sebagai Generaloberstabsarzt dan Sanitätsinspekteur der Luftwaffe, dilanjutkan dengan Ritterkreuz des Kriegsverdienstkreuzes mit Schwertern yang diraihnya tanggal 1 Februari 1945 sebagai Generaloberstabsarzt dan Sanitätsinspekteur der Luftwaffe

------------------------------------------------------------

WAFFEN-SS

 SS-Obergruppenführer und General der Waffen-SS Karl-Maria Demelhuber (26 Mei 1896 - 18 Maret 1988) tercatat sebagai perwira terakhir yang berpangkat SS-Obergruppenführer saat dia meninggal tahun 1988. Selama karir militernya, dia pernah menjadi komandan SS-Standarte Germania, 6. SS-Gebirgs-Division Nord, XII. SS-Armeekorps dan XVI. SS-Armeekorps. Dia juga merupakan peraih Deutsches Kreuz in Silber (9 November 1943) dan Vapaudenristin Ritarikunta (Order of the Cross of Liberty) Finlandia (1 Desember 1941). Mengenai dirinya, General der Kavallerie Siegfried Westphal pernah berkomentar sinis: "Kalau di Angkatan Darat, dia hanya akan menjadi pengurus kuda!" yang menunjukkan sikap memandang rendah yang masih dimiliki oleh sebagian perwira Heer terhadap rekan seperjuangan mereka dari Waffen-SS!


Sumber :
Buku "Die Uniformen der Panzertruppe und Gepanzerten Verbände 1934-1945" oleh Werner Horn
Buku "Hell's Gate: The Battle of the Cherkassy Pocket, January-February 1944" karya Douglas E. Nash
Foto koleksi Bundesarchiv Jerman
Foto Koleksi NARA Amerika Serikat
Foto koleksi pribadi Andrew Harris
Foto koleksi pribadi Jan Hendrik
Foto koleksi pribadi John M. Donovan
Foto koleksi pribadi Mark C. Yerger
www.audiovis.nac.gov.pl
www.de.wikipedia.org
www.forum.axishistory.com
www.forum.panzer-archiv.de
 
www.gmic.co.uk
www.grevenbroekmuseum.be
www.rommel-lebt.com
 
www.snyderstreasures.com
www.wehrmacht-awards.com
www.ww2awards.com

Kucing-Kucing Hitler!














Kisah Tiga Serdadu Dan Kumis Hitler


Alkisah dalam sebuah mikrolet ada tiga serdadu dari tiga kebangsaan berbeda, yaitu Amerika, Inggris dan Jerman. Tak lama kemudian ada seorang cewek memakai pakaian seksi plus rok supermini.

Karena gede rasa, si cewek berusaha menutupi celana dalam dengan memangku kaki. Namun tiba-tiba serdadu Amerika yang duduk di sebelah kanan memberi hormat.

Maka bertanyalah dua serdadu di sebelahnya mengapa ia memberi hormat. “Lihat! Paha kirinya ada tato bendera Amerika!” teriak serdadu itu.

Jengah karena perbuatan serdadu itu, perempuan itu berganti kaki. Kali ini serdadu Inggris di sebelah kiri yang memberi hormat. Dua serdadu lainnya bertanya ke serdadu Inggris ini. Namun jawabnya,

“Lihat! Paha kanannya ada tato bendera Inggris!”

Karena sebel, perempuan ini langsung membuka pahanya lebar-lebar. Tiba-tiba serdadu Jerman yang duduk di tengah memberi hormat khas ala Nazi. Dua serdadu lainnya langsung heran dan bertanya apa maksudnya ikut-ikutan memberi hormat.

Serdadu Jerman itu menjawab, “Lihat! …. ada kumis Hitler!”


Wednesday, April 22, 2009

Abdul Aziz Myatt, Neo-Nazi Yang Menjadi Pemeluk Islam!

David Myatt alias Abdul Aziz Myatt


Abdul Aziz Myatt dengan baju gamis khas muslim


Sebagai seorang aktivis kelompok sayap kiri dan pendukung Neo-Nazi, lelaki asal Inggris ini menempuh perjalanan panjang dan berliku sebelum akhirnya memutuskan untuk memeluk agama Islam. Ego sebagai bagian dari masyarakat Barat yang modern dan maju, menghalanginya untuk menemukan cahaya Islam. Namun ia yakin Allah swt telah membimbing dan memberikannya hidayah, hingga ia masuk ke sebuah masjid, mengucapkan dua kalimat syahadat dan menjadi seorang Muslim dengan nama Abdul Aziz Myatt.

Perkenalan Myatt dengan Islam berawal ketika ia berlibur ke Mesir. Di negeri Piramida itu ia berkunjung ke sebuah masjid dan hatinya tersentuh dengan keindahan suara adzan yang dilantunkan dari masjid itu meski ia belum mengerti apa itu adzan. Sejak itu, Myatt mulai ingin tahu tentang Islam dan setiap berlibur ke Mesir, ia mencari kesempatan untuk berbincang-bincang dengan Muslim Mesir dan menanyakan tentang agama mereka.

Myatt juga membeli sebuah al-Quran, membacanya sedikit demi sedikit hingga ia berkesimpulan ajaran al-Quran adalah ajaran yang masuk akal dan makin membuatnya kagum dengan Islam dan umat Islam. "Semakin banyak saya bertemu dengan Muslim, saya semakin mengagumi mereka," kata Myatt.

Ketika itu, Myatt tidak langsung berpikiran untuk masuk Islam. Ia masih dikuasai oleh egonya, cara hidupnya sebagai orang Barat dan dua hal yang membuatnya menahan diri untuk tidak mengapresiasi Islam secara penuh dan mempelajarinya lebih jauh lagi.

Dua hal itu adalah, pertama, karena keyakinannya yang tertanam sejak lama pada alam semesta. Keyakinan bahwa umat manusia adalah milik dari seorang "ibu" yaitu "bumi". Kedua, karena budaya bangsanya yang membuatnya merasa lebih mulia dan superior dibandingkan bangsa lainnya. Selama puluhan tahu, Myatt terombang-ambing dalam keyakinan itu, yang ia pikir sebagai sumber dari zat yang suci. Belum lagi posisinya sebagai aktivis kelompok sayap kiri dan Neo-Nazi yang membuat banyak orang termasuk para wartawan yang menilainya sebagai politisi yang jahat.

"Ketika itu saya masih bersikap arogan, yang hanya percaya dengan keyakinan saya sendiri dan dalam memahami apa yang telah saya raih," imbuh Myatt.

Hatinya tergerak kembali untuk mulai serius mempelajari Islam ketika ia beralih profesi, mengelola sebuah peternakan. Ia bisa bekerja selama berjam-jam seorang diri. Kedekatannya dengan alam, mengetuk jiwa dan rasa kemanusiaannya. Ia mulai menyadari kesatuan alam semesta dan bagaimana ia menjadi bagian dari semua itu yang ciptakan oleh Tuhan.

Jauh di dasar hatinya, Myatt mengakui bahwa alam semesta ini tidak terjadi secara kebetulan tapi memang diciptakan. Terkadang keyakinan dan ego lamanya muncul. Ia merasakannya seperti berperang dengan godaan setan. Namun ia makin meyakini di dalam hatinya tentang satu-satunya Sang Maha Pencipta.

"Untuk pertama kalinya saya merasa diri saya begitu kecil. Kemudian tanpa sengaja saya mengambil al-Quran dari rak buku, al-Quran yang saya beli waktu berkunjung ke Mesir. Saya mulai membacanya dengan seksama. Sebelumnya, saya hanya membolak-balik lembarannya dan membaca sepintas lalu beberapa ayat," tutur Myatt.

"Apa yang saya temukan di al-Quran adalah hal-hal yang logis, alasan, kebenaran, keadilan, kemanusiaan dan keindahan," sambungnya.

Myatt makin tertarik untuk lebih mendalami agama Islam. Ia pun mencari informasi tentang Islam lewat internet dan membaca banyak artikel tentang agama Islam di situs-situs Islam. Dengan melepaskan semua prasangka dan arogansinya, Myatt harus mengakui kalau agama Islam adalah agama yang mulia.

"Saya merasakan menemukan ajaran tentang kemuliaan, rasa hormat, rasa saling percaya, keadilan, kebenaran, kemasyarakatan, mengingat Tuhan setiap hari, disiplin diri, penyikapan terhadap materi dari sisi spiritual dan pengakuan bahwa kita adalah hamba yang harus mengabdi pada Tuhan," papar Myatt.

Ia juga mempelajari sosok Nabi Muhammad saw dan kehidupannya. Bagaimana Rasulullah menyebarkan agama Islam dan membentuk sebuah peradaban manusia, yang membuat Myatt terkagum-kagum. "Bagi saya, ia (Rasulullah) adalah manusia sempurna dan contoh sempurna yang harus kita tiru," tukas Myatt.

Ia melanjutkan, "Semakin banyak saya tahu tentang Islam, semakin banyak keraguan dan pertanyaan dalam diri saya yang terjawab selama hampir 13 tahun belakangan ini. Saya benar-benar merasa bahwa saya akhirnya 'pulang ke rumah', menemukan jati diri saya. Rasanya seperti ketika saya pertama kali tiba di Mesir dan berkeliling kota Kairo dengan menara-menara masjid dan suara adzannya."

Myatt merasa bahwa hijrahnya ke agama Islam bukan sebuah pertanyaan lagi, tapi sebuah tugas yang harus dilakukan. Karena saya telah menemukan kebenaran bahwa Tiada Tuhan Selain Allah dan Nabi Muhammad adalah utusanNYa.

Myatt kemudian mendatangi sebuah masjid dan menyatakan ingin menjadi seorang Muslim. Ia diterima oleh jamaah masjid dengan hangat dan penuh rasa persaudaraan, yang membuatnya terharu dan meneteskan air mata. Ia bersyukur Allah swt telah menunjukannya jalan yang benar.


Sumber : www.mualaf.com