Tuesday, June 7, 2011

Foto Telepon Lapangan (Feldfernsprecher)

Salah satu aspek terpenting sinkronisasi antar unit-unit militer di masa Perang Dunia II adalah sistem komunikasi yang efektif. Foto yang diambil di Polandia bulan September 1939 ini memperlihatkan seorang anggota Zeni Sandi Pasukan Gunung Jerman (Gebirgs Signal Pionier) sedang membetulkan jaringan telepon sehingga berbagai markas komando Wehrmacht bisa saling berkomunikasi satu sama lain


Pengamat artileri garis depan mencoba untuk menemukan lokasi pertahanan Rusia di sepanjang pinggiran timur sungai Volga, akhir musim panas 1942. Mereka menggunakan Scherenfernrohr Sf.14Z 6x30 (teropong gunting). Tabung panjang horizontal yang dipasang di Scherenfernrohr maksudnya adalah untuk mengeliminasi pantulan cahaya yang mungkin timbul sehingga membongkar keberadaan mereka, tapi alat semacam ini mempunyai kelemahan dalam hal terbatasnya penglihatan bagi orang yang ngintip. Observer garis depan ditempatkan pada setiap baterai artileri dan biasa mendirikan sebuah pos observasi di antara unit-unit infanteri terdepan. Komunikasi yang dijalin antara pos observasi dengan baterai artileri dilakukan menggunakan telepon lapangan. Operator teleponnya biasa dijuluki sebagai Strippenzieher (tukang colok sambungan), dan berbicara melalui telepon lapangan dari jenis Feldfernsprecher 33


Seorang perwira Wehrmacht berbicara melalui telepon di dekat sebuah Befehlswagen (Kendaraan Komando) Sd.Kfz.251/6 Ausf.B milik 16. Panzer-Division di wilayah Kuzmichi, Volgogradskaya Oblast. Pada tanggal 24 Agustus 1942 posisi divisi panzer tersebut dalam keadaan rentan karena Tentara Merah memegang kendali jalan masuk ke wilayah utara kota Stalingrad dan terus menambah jumlah pasukan mereka melalui wilayah Voronezh di utara


Foto ini diambil di dekat Dorpat (Estonia) bulan Agustus 1944 ketika sebagian Sturmbrigade Wallonie berada di bawah komando sang Brigadeführer dalam Kampfgruppe Wagner. Dari kiri ke kanan: SS-Obersturmführer Karl Schäfer (Adjutant 5. SS-Freiwilligen-Sturmbrigade "Wallonien"), SS-Sturmbannführer der Reserve Léon Degrelle (Kommandeur 5. SS-Freiwilligen-Sturmbrigade "Wallonien") dan SS-Brigadeführer und Generalmajor der Waffen-SS Jürgen Wagner (Kommandeur Kampfgruppe Wagner)



Foto yang diambil bulan September 1942 ini memperlihatkan SS-Obersturmführer Hans Juchem (Kompanieführer 5.Kompanie / II.Bataillon / SS-Infanterie-Regiment 9) yang memakai Heeres Splittertarnmuster (splinter-pattern) sisa Materiallager Heer yang memang dibagikan pada beberapa unit Waffen-SS. Bahan ini biasa dikenal sebagai Zeltbahn. Zeltbahn sendiri merupakan bahan kamuflase resmi angkatan darat Jerman sampai tahun 1942, ketika mereka menambahkan Tarnhemd (smock) dan Tarnhelmüberzug (helmet cover), yang keduanya dibuat dari bahan kain kepar ringan herringbone. Di lapangan sendiri bermunculan garmen dan penutup helm tidak resmi yang diproduksi dari hasil modifikasi cepat di lapangan atau pemesanan ke penjahit, dan kebanyakannya terbuat dari bahan zeltbahn. Yang termasuk ke dalam hal ini adalah seragam tugas, jaket penerjun payung, jaket lapangan, tas ransel dan jaket panzer

Kommandierender General IV. SS-Panzerkorps yang juga mantan Kommandeur 5. SS-Panzer-Division "Wiking", SS-Gruppenführer und Generalleutnant der Waffen-SS Herbert-Otto Gille (peraih Ritterkreuz des Eisernen Kreuzes mit Eichenlaub, Schwerter und Brillanten) memberikan perintah upaya penyelamatan terhadap sebuah batalyon Wehrmacht yang terkepung musuh. Dari kiri ke kanan: Asisten Ajudan tak dikenal, SS-Sturmbannführer Paul Kümmel (Kommandeur I.Abteilung / SS-Panzer-Regiment 5 / 5.SS-Panzer-Division "Wiking"), SS-Obersturmbannführer Hans Bünning (mengenakan tropenanzug SS M43 Sahariana, Kommander SS-Panzer-Artillerie-Regiment 5 / 5.SS-Panzer-Division "Wiking"); SS-Gruppenführer Gille, SS-Obersturmbannführer Hans Dorr (Kommandeur SS-Panzergrenadier-Regiment "Germania" / 5.SS-Panzer-Division "Wiking"), dan SS-Sturmbannführer Günther Sitter (Kommandeur II.Bataillon / SS-Panzergrenadier-Regiment "Westland" / 5.SS-Panzer-Division "Wiking")


Major K. Henninger, yang merupakan seorang Nachrichten-Offizier (perwira sandi), berbicara dalam sambungan telepon antara pihak Jerman-Kanada dalam negosiasi penyerahan pasukan Jerman di Wageningen, Belanda, tanggal 5 Mei 1945. Dua orang yang berdiri di sebelah kiri adalah Captain John Henry Osborn dan Sergeant J. Stacy (memunggungi kamera) dari 1st Royal Canadian Corps Signals. Kopral Kanada yang memakai pita lengan putih di sebelah kanan adalah juga berasal dari RCCS (Royal Canadian Corps Signals). Foto oleh Lieutenant J. Ernest DeGuire dari Department of National Defence Kanada dan kini menjadi koleksi Library and Archives Canada no.PA-134408


Skuad kecil telepon Jerman. Tentara di sebelah kiri membawa Feldfernsprecher 33 sementara yang kanan membawa Fernsprechtornister #3 lengkap dengan tiang Drahtgabel. Tangannya menggenggam Abspuler dengan kabeltrommel kecil


Pilot pemburu Luftwaffe berbicara di telepon


Tentara Finlandia menggunakan telepon lapangan, sementara SS Gebirgsjäger memperhatikan di latar belakang. Perhatikan tarnjacken yang mereka kenakan!



Penggunaan Feldfernsprecher di lapangan



Seorang Leutnant Gebirgsjäger menggunakan telepon lapangan di parit batu. Temannya mendengarkan, sementara seorang lagi mengawasi medan lapangan dengan Scherenfernrohr (teropong gunting)

--------------------------------------------------------------------

TOKOH

15 Januari 1935: Sambil tersenyum, Adolf Hitler (Führer und Reichskanzler) melakukan sambungan telepon dengan Josef Bürckel (Gauleiter Saar-Palatinate). Meskipun terlihat santai, dikatakan bahwa mereka sedang membicarakan tentang perebutan kembali wilayah Lembah Saar (Jerman), yang telah dikuasai oleh pasukan pendudukan Prancis dari tahun 1920, tak lama setelah usainya Perang Dunia Pertama. Foto karya fotografer pribadi Hitler, Heinrich Hoffmann, ini pertama kali dipublikasikan dalam buku "Adolf Hitler: Bilder aus dem Leben des Führers" yang terbit pada tahun 1936.


General der Panzertruppe Karl Decker sok imut bergaya ala ABG dengan telepon di tangan. Dia bunuh diri tanggal 21 April 1945 setelah XXXIX. Panzerkorps yang berada di bawah pimpinannya porak poranda dalam pengepungan Sekutu di Kantong Ruhr. Secara anumerta dia dianugerahi medali Ritterkreuz des Eisernen Kreuzes mit Eichenlaub und Schwertern tanggal 26 April 1945


 Jagoan udara Luftwaffe Oberleutnant Anton "Toni" Hafner (204 kemenangan) berpose sambil memegang telepon, entahlah emang beneran atau hanya pura-pura saja untuk konsumsi majalah Kuncung!


General der Infanterie Walter Hoernlein. Dia menjadi komandan Großdeutschland sampai dengan 27 Januari 1944, dan membangun reputasi mentereng sebagai seorang pemimpin yang sangat efisien tapi tetap mempunyai waktu untuk anakbuahnya (sehingga dinamakan "Papa" Hoernlein). Mungkin salah satu kisah paling terkenal yang berkaitan dengan sang jenderal adalah saat dia mengirim telex ke Führerhauptquartier hanya untuk mempertanyakan dengan menyindir apakah divisinya merupakan satu-satunya unit Jerman yang tersisa di Front Timur, karena begitu non-stopnya pertempuran yang harus dijalani oleh anakbuahnya dari satu krisis ke krisis lainnya selama berlangsungnya Pertempuran Rzhev!


 1944: Oberstleutnant Dietrich "Dieter" Hrabak (Geschwaderkommodore JG 52) sedang berbincang serius melalui telepon sambil memperlihatkan medali yang diraihnya: Eichenlaub zum Ritterkreuz des Eisernen Kreuzes (25 November 1943) serta Frontflugspange in Gold mit Anhänger. Di jarinya dia mengenakan cincin Der Siegelring des Kommodores JG 52 yang khusus dipakai oleh para komandan JG 52



Oberst Günther Freiherr von Maltzahn (20 Oktober 1910 - 24 Juni 1953) adalah jagoan udara Luftwaffe yang memperoleh 68 kemenangan udara terkonfirmasi dari 497 misi tempur (33 diantaranya diraih di Front Timur). Dia bertempur di Front Barat, Front Timur dan Mediterania. Setelah Perang Dunia II usai, Von Maltzahn bekerja di bidang agrikultur dan kemudian di "Amt Blank" (yang merupakan cikal-bakal dari Kementerian Pertahanan Jerman Barat), bagian rekonstruksi Angkatan Udara. Dia merupakan kandidat kuat posisi Inspekteur der Bundesluftwaffe, tapi maut keburu menjemputnya di usia 42 tahun pada tanggal 24 Juni 1953 akibat dari Hodgkin lymphoma. Untuk menghormatinya, sebuah jalan di Fürstenfeldbruck dinamai sebagai "Günther-von-Maltzahn-Straße". Medali dan penghargaan yang diterimanya: Flugzeugführerabzeichen; Eisernes Kreuz II.Klasse (7 Oktober 1939); Eisernes Kreuz I.Klasse (10 Mei 1940); Luftwaffe Ehrenpokale für Besondere Leistungen im Luftkrieg (23 Maret 1942); Deutsches Kreuz in Gold #1/140 (23 Desember 1942); serta Ritterkreuz des Eisernen Kreuzes #174 (30 Desember 1940) mit Eichenlaub #29 (24 Juli 1941). Namanya juga disebutkan dalam Wehrmachtbericht edisi 18 November 1940. Biografi singkatnya bisa dilihat DISINI



Joachim Müncheberg di dalam kokpit pesawat Focke-Wulf Fw 190A di Prancis tahun 1942. Di kepalanya bertengger Flieger-Kopfhaube für Sommer mit FT-Gerät. Penutup kepala ini, semuanya disebut sebagai Flieger-Kopfhaube (penutup kepala penerbang). Untuk versi musim panas (für Sommer) dibuat dari kain, sementara yang versi musim dingin (für Winter) terbuat dari kulit. "mit FT-Gerät" berarti bahwa penutup kepala ini telah terintegrasi dengan alat komunikasi. Versi yang tanpa alat komunikasi dinamakan sebagai "ohne FT-Gerät". Uniknya, dalam foto ini jelas-jelas Müncheberg sedang melakukan komunikasi melalui telepon! Emang di pesawat ada telepon umum, Mas?


 SS-Sturmbannführer Josef "Sepp" Niedermayer (22 Mei 1912 - 1975) melakukan sambungan komunikasi melalui feldfernsprecher (telepon lapangan). Niedermayer mengabdi di 7. SS-Freiwilligen-Gebirgs-Division "Prinz Eugen" dari sejak tahun 1943 s/d 1945 dalam berbagai posisi administratif. Ketika Herbert Wachsmann terbunuh di wilayah Nish musim gugur 1944, Niedermayer menggantikan posisinya sebagai Ia Erster Generalstabsoffizier (Führung und Ausbildung) de facto Chef des Stabes sampai dengan akhir perang. Dia mampu lolos dari ekstradisi ke Yugoslavia setelahnya dan meninggal dengan tenang tahun 1975


 Generalingenieur Dipl.Ing. Artur Paul (11 April 1899 - 9 Desember 1968) adalah jenderal insinyur Luftwaffe yang dianugerahi Ritterkreuz des Kriegsverdienstkreuzes mit Schwertern pada tanggal 15 Juli 1944 sebagai Chefingenieur Luftflotte Reich. Dia bertugas sebagai anggota Legion Condor tanggal 1 Februari 1939 sebelum menjadi Divisions-/Korpsingenieur 5. Fliegerdivision/V. Fliegerkorps tanggal 16 April 1939. Seusai Perang Dunia II dia masuk Bundeswehr dari tanggal 16 Agustus 1957 s/d 31 Maret 1963 dan pensiun dengan pangkat Brigadegeneral. Atas jasa-jasanya bagi Jerman Barat, pada tanggal 22 Februari 1963 Paul dianugerahi Großes Verdienstkreuz des Verdienstordens der Bundesrepublik Deutschland


Oberst Gustav Rödel

Hauptmann Hans-Ulrich Rudel setelah melakukan pendaratan darurat di wilayah Jerman. Ia langsung buru-buru menelepon atasannya untuk meminta waktu selama beberapa menit memindahkan unitnya. Masih terlihat ketegangan di wajahnya, dan dia menelepon tanpa merasa perlu untuk sebelumnya membersihkan muka terlebih dahulu!



 Jagoan udara Luftwaffe Leutnant Walter "Sohndel" Schuck (206 kemenangan) bersama rekan seperjuangannya sedang mendengarkan siaran Radio El Shinta, sementara prajurit Luftwaffe di latar belakang memperhatikan sambil hokcay (molohok ngacay). Ingat, Schuck yang jongkok di kanan bukan di kiri!


Oberst Kurt Walter sedang berbicara di telepon di Rusia, Januari 1944, dalam sebuah foto yang diambil oleh Kriegsberichter Wehmeyer dari PK (Propaganda-Kompanie) 697. Disini kita bisa melihat tiga buah medali prestisius yang telah didapatnya: Ritterkreuz des Eisernen Kreuzes (25 September 1942) mit Eichenlaub (5 Desember 1943) serta Deutsches Kreuz in Gold (17 Agustus 1942)


Sumber :
Buku "German Fighter Ace Hans-Joachim Marseille: The Life Story of the Star of Africa" karya Franz Kurowski
Buku "Hitler's Mountain Troops 1939-1945" karya Ian Baxter 
Buku "Stalingrad Inferno: The Infantryman's War" karya Gordon Rottman dan Ronald Volstad
Foto koleksi Bundesarchiv Jerman
Majalah "Der Adler" edisi 9 Januari 1940
www.asisbiz.com
www.bild.bundesarchiv.de

www.en.wikipedia.org 
www.forum.axishistory.com 
www.forum.germandaggers.com
www.gaissmair.net

www.jg52.net
www.life.com
www.norgeslexi.com

No comments: