Saturday, June 25, 2011

Foto Tokoh Nazi Jerman Yang Terluka

LUKA DI KEPALA

 Oberleutnant Wilhelm Batz (Staffelkapitän 5.Staffel / II.Gruppe / Jagdgeschwader 52) dengan perban pembalut luka di pipinya. Pada bulan Februari 1944 Batz jatuh sakit sehingga dilarang terbang selama dua minggu. Setelah kembali bertugas skor kemenangannya menjadi "menggila" dengan rata-rata mencetak 2-3 kemenangan setiap harinya selama musim panas 1944. Pada bulan Januari 1944 skor kemenangannya masih berada di angka 75, tapi di bulan Agustus 1944 skornya telah melonjak menjadi 209 buah!



 Hitler berkumpul bersama dengan para perwiranya di lobi Führerhauptquartier Wolfsschanze (Rastenburg) tak lama setelah upaya pembunuhan yang gagal terhadap dirinya oleh Oberst Claus von Stauffenberg tanggal 20 Juli 1944. Dari kiri ke kanan: General der Panzertruppe Hermann Balck (Kommandierender General XLVIII. Panzerkorps), Generalleutnant Walter Hoernlein (Führerreserve), SS-Gruppenführer und Generalleutnant der Waffen-SS Hermann Fegelein (tertutup oleh Hoernlein, Verbindungsoffizier der Waffen-SS zum Führerhauptquartier), SS-Obergruppenführer Martin Bormann (Stabsleiter im Amt des Stellvertreters des Führers), Adolf Hitler (Führer und Reichskanzler), perwira Kriegsmarine tak dikenal, Generaloberst Alfred Jodl (Chef Wehrmacht-Führungsamt), NSKK-Gruppenführer Albert Bormann (Chef Hauptamt I [Leiter der Privatkanzlei des Führers] in Führerkanzlei), Oberst Nicolaus von Below (Luftwaffen-Adjutant der "Adjutantur der Wehrmacht beim Führer und Reichskanzler"), dan SS-Brigadeführer und Generalmajor der Polizei Hans Baur (Adolf Hitlers Chefpilot und Führer der Flugstaffel "Reichsregierung"). Balck dan Hoernlein hadir dalam kapasitas mereka sebagai mantan komandan Divisi "Großdeutschland" dimana salah satu unitnya bertugas khusus untuk menjaga keamanan Führer (Wach-Regiment "Großdeutschland"). BTW, perhatikan bahwa di rak di kanan telah tersimpan dengan rapi deretan schirmmütze perwira Heer, Luftwaffe dan Kriegsmarine!


Major Walter Koch berbincang-bincang dengan sesama perwira Luftwaffe saat baru tiba di landasan udara Jerman, 21 Juni 1941, tak lama setelah keberhasilan operasi lintas udara Fallschirmjäger dalam usahanya merebut pulau Kreta. Dia terluka di kepala dalam pertempuran tersebut sehingga mengharuskan untuk memakai perban di kepalanya. Foto oleh Kriegsberichter Rauchwetter (PK Lfl. 2)


Major Walter Koch tetap terlihat ceria walaupun mengenakan perban di kepalanya. Dia terluka dalam pertempuran di Tunisia setelah berusaha menyelamatkan dua orang rekan Fallschirmjäger yang terluka dari kemungkinan dibunuh musuh. Dia mengenakan seragam tugas berkantong empat dengan lambang Adler-nya yang menjorok ke saku berasal dari versi awal


Di malam tanggal 7/8 Maret 1945 SS-Obergruppenführer Hanns Albin Rauter terluka parah oleh sergapan gerakan perlawanan bawah tanah Belanda di sebuah desa kecil antara Arnhem dan Apeldoorn yang disebut sebagai "Woeste Hoeve" di Veluwe. Sebagai pembalasan, pasukan Jerman mengeksekusi 117 orang tahanan politik di lokasi terjadinya serangan bersama dengan 50 orang tawanan lainnya di Kamp Amersfoort dan 40 orang masing-masing di Hague dan Rotterdam! Serangan ini sebenarnya tidaklah direncanakan; para pemberontak hanya bermaksud untuk membajak sebuah truk dan menggunakannya untuk pergi ke rumah seorang petani yang biasa menjagal sapi untuk konsumsi pasukan pendudukan Jerman. Bukannya truk yang mereka dapatkan, melainkan sebuah mobil BMW yang kebetulan sedang melintas dan membawa Rauter. Meskipun para pemberontak sudah menyamar dengan mengenakan seragam Wehrmacht, tapi Rauter langsung memerintahkan untuk menghajar para penyetopnya (hanya dua minggu sebelumnya dia mengeluarkan sebuah instruksi bahwa patroli Jerman dilarang untuk menghentikan setiap kendaraan Wehrmacht di luar kota atau desa, dan hal ini tidak diketahui oleh gerakan perlawanan Belanda!). Tembak-menembak segera terjadi. Semua penumpang di mobil tersebut mati, kecuali Rauter yang berpura-pura telah tewas dan karenanya selamat! Dia ditemukan oleh patroli militer Jerman (asli) yang sedang melintas dan kemudian dibawa ke sebuah rumah sakit. Rauter tetap berada dalam perawatan sampai perang berakhir dan dia ditangkap oleh Polisi Militer Inggris. Dia dinyatakan bersalah atas tuduhan kejahatan perang dan dieksekusi oleh regu tembak tanggal 12 Januari 1949 



SS-Obersturmbannführer Max Wünsche (Kommandeur SS-Panzer-Regiment 12/12.SS-Panzer-Division "Hitlerjugend") dalam kunjungan terhadap para anggota III.Zug/15.Kompanie/SS-Panzergrenadier-Regiment 25 yang selamat dari penyerangan yang gagal terhadap 2nd Armoured Brigade Kanada di Norrey-en-Bessin, Normandia, tanggal 9 Juni 1944. Dari kiri ke kanan: SS-Unterscharführer Peter Koslowski,? , SS-Obersturmbannführer Max Wünsche (cuman keliatan punggungnya doang dengan perban di kepala), SS-Oberschütze Klaus  Schuh, SS-Sturmmann Otto Funk (paling belakang) dan SS-Hauptscharführer Wilhelm Boigk. Mengenai cerita bagaimana Wünsche sampai terluka di kepala: Saat dia sedang menyaksikan Panther-Panther dari kompi ke-1 dan ke-4 yang berada di bawah komandonya di Villeneuve de Rot yang baru pulang dari aksi penyerangan di Bretteville tanggal 8/9 Juni 1944, tiba-tiba sebuah granat menghantam bagian depan salah satu Panther. Salah satu pecahan ledakan granat tersebut melukai Wünsche di kepala, dan bahkan sempat membuatnya tidak sadar. Perwira lain yang ada disitu, SS-Obersturmführer Chemnitz, terkena pecahan bom dari kepala sampai kaki, sementara Nehrlich (SS-Untersturmführer dari Stab SS-PzRgt 12) terluka parah dan meninggal dalam perjalanan ke rumah sakit


SS-Hauptsturmführer Rudolf von Ribbentrop (Chef 3.Kompanie / I.Abteilung / SS-Panzer-Regiment 12 / 12.SS-Panzer-Division "Hitlerjugend") sedang dibonceng di bagian sespan BMW R75 oleh Kommandeur SS-Panzer-Regiment 12 / 12.SS-Panzer-Division "Hitlerjugend", SS-Obersturmbannführer Max Wünsche, setelah mengadakan kunjungan terhadap para anggota kompi Ribbentrop (3.Kompanie) dan III.Zug / 15.Kompanie / SS-Panzergrenadier-Regiment 25 yang selamat dari penyerangan yang gagal terhadap 2nd Armoured Brigade Kanada di Norrey-en-Bessin, Normandia, tanggal 9 Juni 1944. Perhatikan bahwa Ribbentrop dan Wünsche sama-sama terluka dalam foto yang diambil oleh SS-Kriegsberichter Siegfried Woscidlo ini! Wünsche mendapatkan lukanya pada tanggal 9 Juni 1944, sementara Ribbentrop dari tanggal 4 Juni 1944, dua hari sebelum D-Day, sehingga tidak bisa ikut serta dalam penyerangan gabungan yang dilakukan oleh kompinya

---------------------------------------------------------------

LUKA DI BADAN

Obergefreiter Kurt Nöbel mendapat anugerah Ritterkreuz tanggal 30 November 1943 di Feldlazarett (rumah sakit lapangan) Wehrmacht. Rupanya setelah pertempuran yang melambungkan namanya (tapi sekaligus membuatnya terluka sehingga harus dirawat di rumah sakit), Nöbel direkomendasikan oleh komandannya untuk mendapatkan Ritterkreuz, dan diterima. Jadilah upacara pemberian medali yang sederhana tapi tetap membanggakan!


Unteroffizier Otto Rodewald mempertunjukkan keberanian yang mengagumkan dalam pertempuran di Tarnopol ketika dia menghancurkan lima tank T-34 Soviet dengan senjata tangan hanya dalam waktu 45 menit, padahal dia hanyalah seorang petugas sandi! Ketika hendak menghancurkan tank keenam, Rodewald terluka oleh pecahan bom. Atas prestasinya ini, dia dianugerahi Ritterkreuz tanggal 24 Maret 1944 yang dikalungkan oleh General der Panzertruppe Erhard Raus (kiri). Lokasinya? Ya di tempat dimana Rodewald menjalani perawatan atas luka-lukanya, yaitu di Feldlazarett (Rumah Sakit Lapangan)!

---------------------------------------------------------------

LUKA DI LENGAN 

 
Oberst der Reserve Kurt Albrecht (24 Februari 1889 – 17 Maret 1959) bergabung dengan ketentaraan tanggal 1 Oktober 1911 dan ikut bertempur dalam Perang Dunia Pertama. Dalam Perang Dunia II dia berjibaku mulai dari Polandia, Prancis, Barbarossa, Smolensk, Moskow, Sebastopol, Leningrad, sampai Niederschlesien. Kepahlawanannya membuatnya direkomendasikan untuk mendapatkan Ritterkreuz tanggal 18 November 1942, tapi ini ditolak oleh OKW (Oberkommando der Wehrmacht). Ini berulang tanggal 9 September 1944, tapi ditolak juga. Perwira satu ini tidak patah arang meskipun hasil jerih payahnya masih dianggap kurang "pantas" untuk dianugerahi medali tertinggi Jerman. Dia tetap menunjukkan keberanian pribadi yang mengesankan dalam memimpin anakbuahnya. Kesempatan itu akhirnya datang: tanggal 24 Januari 1945 di Zator (barat Krakow, Polandia) Albrecht bertempur gila-gilaan menghadang ofensif Soviet yang berusaha menerobos pertahanan unitnya. Berdampingan dengan prajurit biasa dia bahu-membahu membendung serangan sehingga beberapa tank Soviet menjadi korban oleh pasukannya dan dia sendiri pun terluka. Kali ini aksi heroiknya tidak lagi bertepuk sebelah tangan. Oberst der Reserve Albrecht dianugerahi Ritterkreuz des Eisernen Kreuzes tanggal 28 Februari 1945 sebagai Kommandeur Grenadier-Regiment 948 / 359.Infanterie-Division / LIX.Armeekorps / 1.Panzerarmee / Heeresgruppe Mitte, dan medalinya dikalungkan langsung oleh komandan divisi Generalleutnant Karl Arndt. Medali dan penghargaan lain yang diterimanya: 1914 Eisernes Kreuz II.Klasse dan I.Klasse; Ehrenkreuz für Frontkämpfer (1934); 1939 spange zum 1914 Eisernes Kreuz II.Klasse (28 Oktober 1939) dan I.Klasse (16 Juni 1940); Infanterie-Sturmabzeichen; Medaille Winterschlacht im Osten 1941/42 (Ostmedaille); Deutsches Kreuz in Gold (22 November 1941); Anerkennungsurkunde (3 Desember 1942); Verwundetenabzeichen in Silber; serta Ehrenblattspange des Heeres und Waffen-SS (5 Oktober 1944)




 Oberwachtmeister Fritz Amling (17 Januari 1916 - 6 Maret 1994) adalah anak petani yang bergabung dengan Artillerie-Regiment 24 tanggal 1 Oktober 1937 dan ikut serta dalam penyerbuan ke Polandia dan Prancis. Pada saat berlangsungnya Operasi Barbarossa, Amling ditransfer ke Sturmgeschütz-Abteilung 202 yang saat itu berada di bawah komando Major Dr. Hans Marder. Sejak musim gugur 1942 unitnya bertugas membantu unit-unit infanteri Wehrmacht di wilayah Podossinowka-Sherebzowo-Cholm-Taliza. Amling bersama Richtschütze (gunner) Bruno Guskowski mencatat prestasi di luar kewajaran ketika di bulan Desember dia menghancurkan 42 tank Rusia hanya dalam waktu 48 jam di wilayah Kalinin, dengan lima di antaranya dimusnahkan hanya dalam waktu 5 menit! Ketika atasannya merasa tidak percaya akan laporan tersebut, mereka langsung pergi ke front untuk melihat sendiri, hanya untuk menemui sang "Panzerknacker" tetap diam di posnya (yang dikelilingi bangkai tank musuh), terluka tapi bangga karena kekuatan lapis baja Rusia tidak mampu menembus pertahanannya! Tentu saja prestasi seperti tersebut perlu diganjar sepantasnya, dan Amling dianugerahi Ritterkreuz des Eisernen Kreuzes tanggal 11 Desember 1942 sebagai Wachtmeister dan Zugführer 3.Batterie / Sturmgeschütz-Abteilung 202 / 9.Armee / Heeresgruppe Mitte. Yang memberikan Ritterkreuz secara langsung adalah Generaloberst Walter Model (Oberbefehlshaber 9.Armee). Selain itu, keesokan harinya namanya disebutkan pula dalam Wehrmachtbericht meskipun tidak disebutkan secara rinci jumlah tank yang dihancurkannya. Yang paling membanggakan, Adolf Hitler secara pribadi mengirimkan ucapan selamat lewat telegram, yang kemudian dibacakan oleh komandan Amling di hadapan rekan-rekannya! Tak lama setelahnya, tanggal 24 Desember 1942, Amling ditransfer ke Sturmgeschütz-Ersatz-und-Ausbildungs-Abteilung 300 untuk mengajarkan keahliannya kepada para calon awak StuG. Sampai akhir perang, jumlah kill-nya tercatat di angka 56 buah. Medali dan penghargaan lain yang diraihnya: Eisernes Kreuz II.Klasse (26 Januari 1942) dan I.Klasse (7 Desember 1942); Verwundetenabzeichen in Silber; Panzerkampfabzeichen; serta Medaille Winterschlacht im Osten 1941/42 (Ostmedaille). Foto oleh Kriegsberichter Maltry



 SS-Obersturmbannführer Otto Baum (Kommandeur SS-Panzergrenadier-Regiment "Totenkopf" / SS-Panzergrenadier-Division "Totenkopf") dengan tangan terbebat perban setelah terluka di medan pertempuran. Dia tercatat menerima Verwundetenabzeichen in Silber (Medali Luka Perak) tanggal 21 Agustus 1943 untuk luka yang dideritanya di palagan Kursk. Dalam foto ini pula Baum mengenakan armbanduhr (jam tangan) buatan "Record Watch Co. Genf" dengan nomor registrasi D 440838 H. Jam tangan ini sekarang menjadi milik pribadi dari Markus Lippl


SS-Obergruppenführer und General der Waffen-SS Wilhelm Bittrich


Pada tanggal 13 September 1939 Hitler meninggalkan Illnau dan berangkat ke Łódź dengan menggunakan pesawat terbang. Pada siang harinya dia pergi ke Gogolin dimana telah menunggu Führersonderzug "Amerika", kereta api pribadi yang sekaligus juga merupakan markas berjalannya. Di Gogolin Hitler mengadakan kunjungan ke markas Generalleutnant Kurt von Briesen (Kommandeur 30. Infanterie-Division). Panglima Oberkommando der Wehrmacht, Wilhelm Keitel, mengenang: "Di hari itu Führer mengunjungi temanku Jenderal von Briesen dari Divisi Infanteri ke-30, yang selama beberapa hari ini telah mempertahankan dengan mati-matian bagian sayap dari AD ke-8 Blaskowitz yang berkekuatan minim. Dengan hanya satu divisi pimpinannya, dia telah berhasil menggagalkan usaha terobosan besar-besaran dari pasukan Polandia yang terkepung oleh Jerman. Posisi markasnya sendiri cuma bisa ditempuh dengan berjalan kaki dan berada dalam jangkauan senjata artileri musuh. Hanya dengan otoritas langsung dari Führer-lah yang membuat kami akhirnya bisa bertemu dengan von Briesen di markasnya, yang mengambil tempat di sebuah ruangan sekolah. Briesen, yang lengan kanannya terluka parah oleh serpihan bom dalam pertempuran beberapa hari sebelumnya, mendeskripsikan pada Führer pertempuran berat selama berhari-hari yang telah dijalani oleh divisinya. Ketika ditanyakan mengenai lengannya yang terbebat, dia mengaku bahwa luka tersebut didapatkannya saat memimpin langsung batalyon cadangan terakhir yang dipunyainya ke medan perang. Saat kami dalam perjalanan pulang dari markas komandonya, Hitler mengatakan padaku: 'Seperti itulah tipikal jenderal Prusia tulen keluaran sekolah militer kerajaan! Prajurit sejati seperti dia tak banyak jumlahnya, dan dia telah memenangkan hatiku. Sebelum hari ini berakhir, aku ingin dia menjadi komandan divisi pertama yang dianugerahi Ritterkreuz. Dia telah menyelamatkan AD Blaskowitz dengan keberanian dan kegigihannya!" Foto ini sendiri memperlihatkan saat Hitler ngobrol dengan Divisionskommandeur Briesen sementara para prajurit dari 30. Infanterie-Division memberikan salam hormat Nazi. Sedikit tertutup oleh Hitler adalah kepala dari General der Infanterie Johannes Blaskowitz (Oberbefehlshaber 8. Armee), sementara berjalan di belakang diantara Hitler dan Briesen adalah Hauptmann Nicolaus von Below (Adjutant der Luftwaffe beim Führer und Führer und Oberster Befehlshaber der Wehrmacht), yang diikuti oleh Oberst Rudolf Schmundt (Chefadjutant der Wehrmacht beim Führer und Oberster Befehlshaber der Wehrmacht). Foto oleh Heinrich Hoffmann


Leutnant Léon Degrelle bersama dengan kameradnya yang merupakan seorang sanitäter (petugas medis militer) setelah terluka di Front Timur tahun 1942/1943. Selama pergulatan militernya di Front Timur, sang politisi Wallonie tercatat terluka sebanyak empat kali, dengan yang paling serius didapatkannya di Kantong Cherkassy bulan Januari 1944


 Major Emil Gustav Rudolf Fils (16 Desember 1914 - 1 Juni 1944) dilahirkan di Ratingen dari pasangan Gustav Emil Albert Fils dan Anna Katharina Hassenpflug. Dia merupakan Chef 1.Kompanie / Panzergrenadier-Regiment 64 / 16.Panzer-Division yang dianugerahi Deutsches Kreuz in Gold tanggal 6 Juli 1943. Hauptmann Rudolf Fils gugur dalam pertempuran di Jasi (Rumania) sebagai Führer I.Bataillon / Panzergrenadier-Regiment 128 / 23.Panzer-Division dan dikuburkan di H.V.Pl.Iasi Sanko 2/128, Endgrablage: Block 1 Parzelle F Reihe 36 Grab 6. Secara anumerta pangkatnya dinaikkan menjadi Major (15 Agustus 1944). Medali dan penghargaan lain yang diterimanya: Medaille zur Erinnerung an den 1. Oktober 1938 (1 Oktober 1938); Eisernes Kreuz II.Klasse (17 Juni 1940) dan I.Klasse (29 Mei 1942); Panzerkampfabzeichen in Bronze (6 Maret 1942); Medaille Winterschlacht im Osten 1941/42 (26 Mei 1942); Nahkampfspange in Bronze; Verwundetenabzeichen in Schwarz (27 April 1941, setelah luka ke-1 yang dideritanya tanggal 13 Mei 1940), in Silber (6 Juni 1942, setelah luka ke-1 yang dideritanya ternyata lebih parah dari perkiraan sehingga membutuhkan perawatan selama 16 bulan!) dan in Gold (25 Oktober 1942, setelah luka ke-2 tanggal 24 Agustus 1942, ke-3 tanggal 29 Agustus 1942, ke-4 tanggal 16 Oktober 1942 dan ke-5 tanggal 17 Oktober 1942); serta Ehrenblattspange des Heeres und Waffen-SS (28 April 1944). BTW, keempat luka terakhir dideritanya dalam Pertempuran Stalingrad sehingga membuatnya ditarik mundur untuk mendapatkan perawatan, sebuah "bless in disguise" yang menghindarkannya dari neraka lebih lanjut di Stalingrad!


Hauptmann Walter-Christian Müller (Kommandeur Panzerjäger-Abteilung 389) terlihat happy tak lama setelah pengalungan Ritterkreuz dan karangan bunga tanggal 27 Juli 1944 walaupun saat itu notabene sedang dirawat di rumah sakit setelah menderita luka-luka dalam pertempuran. Seusai perang dia bergabung dengan Bundeswehr tahun 1959 dan pensiun pada tanggal 31 Maret 1971 dengan pangkat terakhir Oberstleutnant (pangkat terakhirnya di Wehrmacht adalah Major)


Oberleutnant Walter Ohmsen adalah kepala baterai artileri pantai Kriegsmarine "Marcouf" (Marine-Artillerie-Abteilung 260) di semenanjung Cherbourg ketika pasukan raksasa Sekutu menginvasi wilayah di sekitarnya dan membuatnya terkepung. Pasukan terjun payung lawan mulai merangsek masuk sementara tembakan artileri dari kapal-kapal penjelajah menghantam baterainya tanpa ampun. Tapi Ohmsen tidak menyerah. Dia bahkan sampai memimpin anakbuahnya bertempur dalam pertempuran satu lawan satu! Baru ketika amunisinya sudah habis, persediaan medis menipis, dan dia sendiri terluka, ia dan anakbuahnya yang masih fit meloloskan diri... dan berhasil! Atas prestasinya tersebut, sang perwira Angkatan Laut dianugerahi Ritterkreuz tanggal 14 Juni 1944


Hans-Ulrich Rudel bersama sesama anggota Luftwaffe. Mereka tampaknya sedang bekerja di atas atap atau semacamnya, terlihat dari posisi rumah-rumah yang lebih rendah di latar belakang. Menariknya, dalam foto ini terlihat dua jari tangan kanan Rudel mendapat perban!


Ini adalah SS-Obersturmbannführer Hilmar Wäckerle, komandan 3.Bataillon/SS-Regiment "Der Führer" yang bertanggungjawab atas begitu banyak kejahatan perang yang dilakukan oleh anakbuahnya di Grebbeberg. Foto ini diambil tak lama sesudah satu pertempuran di Belanda tahun 1940 yang membuat Wäckerle terluka dua kali di bagian punggung dan lengan. Foto ini juga memperlihatkan dengan jelas seragamnya yang terciprat oleh darah serta lengan kanannya yang dibebat perban. Di luar dari kejahatan perang yang mereka lakukan, batalyon Wäckerle bertempur dengan gagah berani dan efisien. Mereka menderita banyak korban tapi selalu berhasil meraih tujuannya, berkali-kali! Wäckerle sendiri, meskipun seorang Nazi fanatik dan terkenal kejam, tapi juga luar biasa berani dan tak pernah segan-segan terjun langsung dalam baku tembak di front depan. Prestasi terbesarnya adalah saat dia dan pasukannya menerobos barikade pertahanan Belanda tanggal 12/13 Mei 1940 dan mengambil posisi di pinggir jalan kereta api dimana kehadirannya kemudian menjadi masalah besar yang sangat mengganggu pasukan lokal yang bertahan. Atas prestasinya tersebut dia dianugerahi Eisernes Kreuz II dan I klasse sekaligus setelah pertempuran, sebuah kejadian yang unik! Sebelum perang dia adalah penjaga kamp konsentrasi yang bersama-sama dengan Theodor Eicke (nantinya menjadi komandan 3.SS-Panzer-Division "Totenkopf") merancang metode manajemen kamp yang menekankan ketegasan dan kebrutalan hukuman dalam pelaksanaannya. Dia tidak akan hidup lama. Pada tahun 1941 Wäckerle dipromosikan menjadi SS-Standartenführer dan menjadi komandan SS-Regiment "Westland" (bagian dari divisi "Wiking") yang anggota-anggotanya kebanyakan adalah orang-orang Belanda serta Flemish. Hanya berselang dua minggu setelah resimen baru ini terjun dalam pertempuran, tepatnya tanggal 2 Juli 1941, Wäckerle tewas setelah terkena tembakan sniper Soviet

---------------------------------------------------------------

LUKA DI KAKI

 Pada hari pertama penyerbuan ke Yugoslavia tanggal 6 April 1941, Wilhelm Mohnke (Kommandeur II.Bataillon / Leibstandarte SS Adolf Hitler) terluka parah di bagian kaki akibat serangan udara Sekutu. Dokter yang memeriksanya memutuskan untuk mengamputasi kakinya, tapi Mohnke menolak keras (ingat film "Dances With Wolves"?). Luka-lukanya begitu parah sehingga tetap ada bagian kakinya yang "dihilangkan". Selama delapan bulan masa perawatan ini Mohnke dianugerahi Deutsches Kreuz in Gold tanggal 26 Desember 1941. Foto ini diambil di depan pintu gerbang Finckensteinallee di barak Lichterfelde. Dari kiri ke kanan: SS-Brigadeführer und Generalmajor der Waffen-SS Leo von Jena (Berliner Standortkommandant der Waffen-SS), kemungkinan SS-Hauptsturmführer Wilhelm Kment (Chef 1.Kompanie / SS-Kradschützen-Bataillon 2 / SS-Division [motorisiert] "Reich"), SS-Obersturmbannführer Otto Jungkunz (Kommandeur SS-Abschnitt VIII), kemungkinan SS-Obersturmbannführer Werner Ostendorff (Ia Ernster Generalstabsoffizier SS-Division [motorisiert] "Reich"), SS-Sturmbannführer Wilhelm Mohnke (memakai kruk), dan dua orang ajudan yang tak diketahui namanya


 SS-Sturmbannführer Wilhelm Mohnke (memakai kruk) menemani SS-Brigadeführer und Generalmajor der Waffen-SS Leo von Jena (Berliner Standortkommandant der Waffen-SS) saat menginspeksi pasukan SS di Barak Lichterfelde, akhir tahun 1941. Mohnke baru saja dianugerahi Deutsches Kreuz in Gold tanggal 26 Desember 1941 sebagai penghargaan atas peran sertanya dalam invasi Jerman ke Yugoslavia bulan April 1941, alias delapan bulan sebelumnya. Padahal dalam operasi tersebut Mohnke tidak sempat beraksi karena keburu terluka parah di hari pertama sehingga harus dirawat selama berbulan-bulan! Atas inisiatif dari Komandan Leibstandarte Sepp Dietrich lah maka sang perwira dianugerahi DKiG


Major Wilhelm Weißberg ditemani seorang wanita sambil memegang feldmütze M43. Dia mendapat Ritterkreuz tanggal 24 Oktober 1944 sebagai Hauptmann dan Kommandeur I./Flak-Regiment 25 (mot.) atas prestasinya menghentikan serangan kendaraan lapis baja Soviet selama dua hari berturut-turut (6 dan 7 Oktober 1944) di dekat Gyoma, Front Timur. Dalam aksi ini Weißberg mengalami luka parah sehingga kaki kirinya terpaksa diamputasi. Barisan flak yang dia komandani berhasil menahan serangan Soviet selama 30 jam sehingga memberi waktu untuk pembangunan garis pertahanan di belakang posisinya. Perlu diketahui bahwa semua awak flak tidak hanya bertugas menghalau serangan dari udara, tapi juga dari darat (utamanya serangan lapis baja). Karenanya mereka dibekali dua macam peluru meriam untuk tugas darat dan udara


 Tiga orang perwira Waffen-SS (dua diantaranya adalah DKiGträger) berfoto bersama dengan latar belakang hutan pinus. Dari kiri ke kanan: SS-Obersturmführer Rupert Dangl, SS-Sturmbannführer Wilhelm Kment (Personliche Stab Reichsführer-SS und Verbindungsoffizier beim Oberkommando des Heeres), dan SS-Obersturmbannführer Josef Tiefenbacher (Führer beim Hauptamt Personlicher Stabes Reichsführer-SS). Foto diambil bulan September 1943 oleh Kurt Alber. Dangl dan Kment sama-sama meraih Deutsches Kreuz in Gold tanggal 23 Januari 1942, Dangl sebagai SS-Untersturmführer der Reserve dan Zugführer di 1.Kompanie / SS-Aufklärungs-Abteilung / SS-Division (motorisiert) "Reich", sementara Kment sebagai SS-Hauptsturmführer dan Kommandeur SS-Aufklärungs-Abteilung / SS-Division (motorisiert) “Reich”. Kment sendiri memakai kruk setelah kaki kirinya sampai lutut diamputasi akibat terluka dalam pertempuran yang membuatnya dianugerahi DKiG



Sumber :
Foto koleksi Bundesarchiv Jerman

Foto koleksi pribadi Jacques F.
www.annefrank.org
 
www.audiovis.nac.gov.pl
www.bloggen.be
www.en.wikipedia.org
www.flickr.com
www.norgeslexi.no

www.ritterkreuztraeger-1939-45.de
www.waroverholland.nl
www.wehrmacht-awards.com

No comments: