Saturday, September 15, 2012

Foto Pertempuran Stalingrad

Pada musim panas tahun 1942 Adolf Hitler membagi Heeresgruppe Süd menjadi dua: Heeresgruppe A (Generalfeldmarschall Wilhelm List) diperintahkan untuk bergerak ke selatan menuju Rostov dan Kaukasus, sementara Heeresgruppe B (Generalfeldmarschall Maximilian Freiherr von Weichs) bergerak ke timur melintasi Don menuju Volga - dan Stalingrad. 6. Armee di bawah pimpinan General der Panzertruppe Friedrich Paulus menjadi ujung tombak Heeresgruppe B... menuju ke kehancurannya. Paulus memulai serangan dengan membawahi 23 divisi Jerman dan Rumania, 250.000 orang, 500 tank, 7000 artileri dan mortir, serta 25.000 kuda. Dia sebenarnya adalah seorang jenderal yang kompeten, tapi kurang tegas mengambil keputusan karena terlalu percaya akan kemampuan Hitler sebagai "jenius militer". Tentara Wehrmacht sendiri secara diam-diam menjuluki Hitler sebagai "Gröfaz", yang merupakan kebalikan dari "Größter Feldherr aller Zeiten" (Jenderal Terbesar Sepanjang Masa), berdasarkkan propaganda yang selalu didengung-dengungkan oleh Panglima Angkatan Darat Generalfeldmarschall Wilhelm Keitel





 Oberstabsfeldwebel (Sersan-Mayor) dan Stabsfeldwebel (Sersan-Satu) dari Heer ini berjibaku melawan pasukan Soviet dalam perjalanan menuju kota Stalingrad, 10 Juli 1942. Ofensif Jerman untuk merebut Stalingrad (sekarang bernama Volgograd) dimulai pada tanggal 23 Agustus 1942 dengan menggunakan elemen gabungan dari 6. Armee dan 4. Panzerarmee. Serangan tersebut didukung penuh oleh bombardemen intensif dari pesawat-pesawat Luftwaffe yang membuat sebagian besar kota menjadi puing-puing. Pertempuran terbuka kemudian berkembang menjadi pergulatan sengit dari rumah ke rumah yang menguras tenaga dan memakan banyak korban, dimana kedua belah pihak yang berseteru mengalirkan bantuan manusia dan perlengkapan ke kota yang sudah tak terbentuk lagi

Tiga orang jenderal Jerman di markas besar 6.Armee di Golubinskaya, hari rabu tanggal 29 Juli 1942. Dari kiri ke kanan: General der Artillerie Walter Heitz, Generalmajor Rudolf Schmundt, dan General der Panzertruppe Friedrich Paulus. Paulus sedang menerangkan pada Schmundt bahwa pasukan kekuatan pasukan yang dibebankan padanya demi menyerbu Stalingrad masih terlalu lemah. Heitz (pangkat terakhir Generaloberst) memakai tropenanzug (seragam tropis). Dia adalah Oberbefehlshaber 15.Armee yang ikut tertangkap di Stalingrad tanggal 31 Januari 1943 dan meninggal dalam tahanan Soviet tanggal 9 Februari 1944. Sementara itu, Schmundt (pangkat terakhir General der Infanterie) adalah Adjutant der Wehrmacht bei Hitler (Ajudan Hitler dari Wehrmacht). Dia meninggal tanggal 1 Oktober 1944 akibat dari luka-luka parah yang dideritanya dalam peristiwa pemboman 20 Juli 1944


 Prajurit infanteri Jerman berjuang menyeberangi rawa-rawa yang banyak terdapat di pinggiran sungai Don dalam gerak maju 6. Armee menuju Stalingrad, musim panas tahun 1942. Mereka menggunakan perahu karet (Schlauchboote) kecil yang berukuran tiga meter dan mampu menampung tiga orang, juga dibantu oleh perahu-perahu kayu yang "dipinjam" dari penduduk lokal. Dua orang awak senjata anti-tank terlihat menumpang di salah satu perahu dengan membawa serta Panzerbüchse PzB.39 7,92mm (Büchse biasanya diterjemahkan sebagai "kontainer", tapi dapat pula berarti "senjata api" dalam ejaan lama). Di perahu lainnya ikut mendarat penembak senapan mesin MG-34 7,92mm dan diikuti oleh Gruppenführer-nya (pimpinan tim) yang memegang senapan mesin ringan MP-40 9mm serta terakhir adalah asisten gunner


Di tengah hari tanggal 22 Agustus 1942 pasukan Pionier (Zeni) dari 6. Armee berhasil menyelesaikan jembatan ponton yang melintasi sungai Don. Foto ini memperlihatkan para anggota Panzer-Pionier-Bataillon 16 dari 16. Panzer-Division (Generalleutnant Hans-Valentin Hube) sedang bersantai di atas perahu-perahu karet cadangan. Istirahat singkat semacam ini biasa dinamakan sebagai "Feuerpause" (Berhenti Menembak) dan biasanya menyediakan waktu yang cukup untuk sekedar makan, merokok, atau tidur-tidur ayam. Perahu-perahu ini mempunyai ukuran 5m x 1,8m serta sanggup membawa sampai tujuh orang, meskipun biasanya digunakan sebagai rakit dengan menyatukan satu sampai tiga pasang perahu karet yang serupa. Pioniertruppen sendiri adalah para spesialis yang sangat terlatih dan biasanya digunakan sebagai ujung tombak saat menyeberangi sungai, membersihkan ladang ranjau, menetralisasi kawat berduri dan menyerbu benteng pertahanan. Mereka bertempur bahu-membahu dengan prajurit infanteri biasa. Pasukan Pionier rata-rata dipersenjatai dengan penyembur api, alat peledak, ranjau, detektor ranjau, pencipta asap, dan peralatan khusus yang bermacam-macam. Brückenpioniere adalah unit pembangun jembatan yang dilengkapi dengan perahu-perahu karet, jembatan ponton dan alat penyeberangan lainnya. Setiap divisi biasanya dilengkapi dengan dua peleton semacam ini. Di latar belakang kita bisa melihat sebuah Sd.Kfz.251/3 Funkwagen (kendaraan radio) yang membawa panji komando Panzergruppe di bagian depannya


Di pagi tanggal 23 Agustus 1942 sebuah batalyon dari Panzer-Regiment 2 / 1.Panzer-Division yang dibantu oleh satu kompi Panzergrenadier bergerak maju dari sungai Don menuju Volga dengan tujuan Stalingrad. Foto ini memperlihatkan sebuah halftrack Sd.Kfz.8 yang menyeberangi Don menggunakan jembatan ponton


 
 Salah satu dari sedikit foto yang memperlihatkan penyeberangan sungai Don oleh 2. Panzer-Division dalam gerak maju menuju Volga di akhir Agustus 1942. Tiga foto yang diambil berurutan ini memperlihatkan tipe konstrukis yang dibangun oleh batalyon zeni divisi tersebut, Panzer-Pionier-Bataillon 38. Beberapa mobil cross-country Horch terlihat menyeberangi jembatan, diikuti oleh truk-truk Opel "Blitz", ranpur pembawa personil, dan kendaraan lainnya. Salah satu foto malah memperlihatkan sebuah tank T-34 Soviet hasil rampasan yang terparkir di pinggir kiri jembatan. Balkenkreuz putih telah dilaburkan di bagian samping turetnya


Prajurit infanteri dari tepi barat sungai Don memperhatikan bargas-bargas yang membawa meriam howitzer lapangan ringan IeFH.18 10,5cm ke tepi sungai satunya lagi. Hanya dalam waktu beberapa hari meriam-meriam artileri ini akan langsung digunakan untuk menghancurkan posisi-posisi artileri dan kendaraan Soviet di seberang sungai Volga. Jumlah ponton yang digunakan untuk membuat bargas semacam ini sama banyaknya dengan yang digunakan untuk membuat jembatan apung


Halftrack Schützenpanzerwagen Sd.Kfz.251/1 dalam gerak maju ke Stalingrad, musim panas 1942. Setiap Gruppe (skuad) Panzergrenadier diangkut dalam satu halftrack. Pada saat ini tiap divisi panzer dilengkapi dengan satu resimen Panzergrenadier yang terdiri dari dua batalyon - dengan hanya satu di antaranya yang dilengkapi dengan ranpur pengangkut pasukan (halftrack), sementara batalyon satu lagi kelalang-keliling menggunakan truk cross-country ringan seperti Krupp-Protze. Sd.Kfz.251/1 sendiri dilengkapi dengan dudukan senapan mesin MG 34 7.92mm di bagian depan. Dudukan satu lagi, yang tidak dilengkapi dengan perisai, terletak di bagian belakang yang mudah dibongkar-pasang saat pasukan keluar-masuk. Dudukan semacam ini dapat kita lihat dalam foto di atas, terdapat di halftrack tengah. Gruppe yang "nebeng" tidak memasang senapan mesin di dudukannya karena mungkin akan segera tiba di tempat tujuan atau dianggap lokasinya tidak berbahaya


 Halftrack Schützenpanzerwagen Sd.Kfz.251/1 dari Panzergruppe Kleist dalam gerak maju ke Stalingrad, musim panas 1942. Kendaraan-kendaraan ini kemungkinan besar berasal dari 1. Panzer-Division yang berada di bawah Panzergruppe pimpinan Generalfeldmarschall Ewald von Kleist tersebut. Huruf "K" berwarna putih di bagian belakang kanan menandakan bahwa dia berada di bawah Panzergruppe Kleist, sementara di bagian kirinya adalah marking taktis dari kompi Panzergrenadier. Sebelum gerak maju ke Stalingrad dimulai, Hitler meyakinkan Kleist bahwa Panzergruppen-nya akan diberi prioritas utama dalam mendapatkan suplai minyak bahan bakar dari Kaukasus. Pada kenyataannya gerak maju Kleist banyak terhambat oleh lambatnya pasokan suplai pada unit bermotornya


 Landser (prajurit) dari 2. Panzer-Division bergerak maju dari Don menuju Stalingrad melintasi padang stepa yang kering, panas dan seakan tak berujung. Stepa tersebut dihiasi oleh banyak ladang gandum hasil cocok-tanam petani lokal. Kurangnya "variasi" dalam medan yang ditempuh membuat navigasi menjadi sulit dan kadang unit-unit Jerman tidak mengetahui persis dimana mereka sedang berada!


 Beberapa kilometer pertama setelah melintasi sungai Don (musim panas 1942), unit-unit panzer dan infanteri Jerman hanya menemukan perlawanan yang tidak berarti. Disini para Landser mengikuti sebuah kendaraan artileri-gerak Sturmgeschütz III yang dipersenjatai dengan meriam 75mm. Pasukan Jerman biasa menamainya sebagai "Stug" yang diambil dari singkatan resmi kendaraan tersebut, StuG alias Sturmgeschütz. Landser yang paling dekat dengan kamera membawa kotak alumunium (Patronenkasten 41) yang berisi peluru untuk senapan mesin (cukup untuk menyimpan enam sabuk peluru isi 50 biji atau satu sabuk peluru isi 300 biji, semuanya kaliber 7,92mm). Landser di depannya membawa sebuah Traggestell (frame kit) M39 yang bisa menyimpan sampai 10 biji peluru mortir IeGrW.36 5cm


 Konvoy Panzerkampfwagen III dari Panzergruppe Kleist bergerak menuju Volga di bulan Agustus 1942, yang biasa disebut sebagai "Drang nach Osten" (Bergerak ke Selatan). Tank terdepan adalah Panzer III Ausf.N yang dilengkapi dengan laras meriam 5cm dan tambahan lapisan baja 30mm yang dibaut di depan kompartemen supir. Tambahan lempengan baja semacam ini merupakan pelajaran yang diambil dari medan perang Afrika. Tank-tank ini juga mendapat tambahan lempengan baja tipis di depan, tapi pemasangannya yang menggunakan baut mengindikasikan bahwa dia berasal dari lapisan baja yang lebih tebal


 Satu grup pengendara sepeda motor beristirahat sebentar dalam gerak maju mereka dari Don ke Volga, musim panas 1942. Satu Kradschützen-Gruppe pada dasarnya mempunyai struktur yang sama dengan satu Schützen-Gruppe infanteri. Landser biasa menyebut sepeda motor secara sederhana sebagai "Krad", yang merupakan singkatan dari Kraftrad. Para Kradschützen ini mengenakan Kradmantel, yang merupakan penyederhanaan dari Schutzmantel für Kraftradfahrer (pakaian pelindung untuk pengendara sepeda motor), yang berbentuk terusan dengan bahan karet tahan-air. Tidak seperti pasukan infanteri, para "gang motor" ini mengenakan kaleng gas mereka di depan dan bukannya di belakang. Untuk motor yang digunakan sendiri, tampaknya dalam foto ini mereka memakai Zündapp, meskipun banyak juga yang memakai BMW, NSU, DKW, Triumph, dan Victoria


 Sebuah mobil staff berjenis Opel Super 6 dari 2. Panzer-Division berhenti di dekat Volga. Dari marking yang terletak di fender bagian kanan kita bisa mengetahui bahwa mereka berasal dari unit artileri, dan unit artileri yang dimiliki divisi tersebut adalah Artillerie-Regiment 74 yang dikomandani oleh Oberst Karl Fabiunke. Perhatikan lampu mobil ini yang ditutupi oleh kanvas!


 Beberapa kilometer sebelum Volga tercapai (musim panas 1942), secara tidak terduga tentara Jerman dari 16. Panzer-Division mendapat serangan artileri dari baterai artileri Soviet yang dipimpin oleh seorang wanita muda! Tentara Merah memang mengoperasikan beberapa unit tempur yang anggotanya wanita, dan ini mengindikasikan rasa putus asa mereka. Di balik bukit yang berada di kejauhan terletak sungai Volga yang menjadi destinasi pasukan Jerman dari 6. Armee. Para Landser ini terlihat sedang menghitung posisi baterai artileri Soviet menggunakan teropong. Secara resmi teropong disebut sebagai fernglas atau Doppelfernrohr, tapi tentara Wehrmacht lebih suka menyebutnya sebagai dienstglas


Landser dari Infanterie-Regiment 267 / 94.Infanterie-Division menggunakan sebuah rumah pertanian Rusia yang ditinggalkan oleh penghuninya sebagai pos komando sementara tidak jauh dari Volga, akhir Agustus 1942. Para prajurit Jerman ini mengadaptasi nama Rusia untuk kabin kayu yang mereka tempati, "Isba". Dari sini mereka memperhatikan formasi pesawat terbang Luftwaffe membombardir kota Stalingrad dan dapat melihat jelas gumpalan asap hitam tebal membumbung tinggi menembus hangatnya langit selatan Rusia dari bangunan dan pabrik yang terbakar



Seorang Gefreiter dari 94. Infanterie-Division memanfaatkan waktu istirahatnya yang singkat dengan menikmati sebotol jus apel yang segar. Panas cuaca Rusia di akhir Agustus 1942 begitu menyengat, yang terlihat dari kerah seragam wol sang prajurit yang sengaja dibuka. Kondisi ini akan segera berubah tak lama kemudian ketika hujan musim gugur mulai tiba di sekitar pinggiran sungai Volga. Pasukan di garis belakang hanya diberi jatah tiga deret Patronentasche 11 (kantong peluru) yang berisi 30 butir peluru dan bukannya enam seperti biasanya pasukan di garis depan (Frontsoldat). Dia menggantungkan sebuah Gasplane (kantong kain masker) yang terbuat dari kain berlapis karet berwarna hijau tua kebiru-biruan di strap yang biasa digunakan untuk membawa masker gas (Gasmaske)


Seorang perwira yang kemungkinan merupakan Kompaniechef (kepala kompi) dan dua orang bintara berdiri di tengah jalan yang mengarah ke Volga tanggal 24 Agustus 1942. Ketiganya membekali diri dengan senapan mesin ringan MP-40 sementara sang perwira sendiri membawa Stielhandgranate 24 di balik ikat pinggangnya (dengan kepala ikat pinggang, koppelschloss, prajurit dan bukannya perwira!). Koppelschloss Offizier berbentuk segi empat dengan bagian tengah terbuka sementara Leibriemen (ikat pinggang) nya sendiri berwarna coklat kemerah-merahan dan bukannya hitam seperti prajurit dan bintara. Bintara di kanan berpangkat Unteroffizier, sementara bintara yang ditengah mengenakan schulterklappen-nya dibalik ke dalam dengan alasan keamanan


Einsatzbereit (siap beraksi)! Sebuah halftrack Sd.Kfz.10/4 1-ton yang dipersenjatai dengan Flak 30 20mm dalam posisi siaga, siap untuk menembaki pesawat Soviet yang berkeliaran di sekitar Volga. Senjata anti pesawat udara ini nantinya digantikan oleh Flak 38 hasil pengembangan, meskipun yang lama masih tetap digunakan sampai dengan akhir perang. Untuk pelurunya digunakan magasin yang berisi 20 butir. Selain untuk pertahanan udara, senjata ini juga efektif digunakan untuk melawan kendaraan lapis baja ringan atau ranpur, pertahanan lapangan, bangunan berbenteng serta prajurit infanteri


Panzergrenadier dari 16. Panzer-Division saat baru tiba di pinggiran barat sungai Volga di Rusia, akhir musim panas 1942. Seorang Maschinengewehrschütze (penembak senapan mesin) membawa senapan mesin dari jenis MG-34 7.92mm di atas bahunya serta Ersatzstücketasche 34 (kantong onderdil) di depan kanan ikat pinggangnya. Dia juga dipersenjatai dengan Stielhandgranate 24. Orang Jerman biasa menjuluki penembak senapan mesin sebagai Abzug (pelatuk), yang maksudnya adalah "tukang penarik pelatuk"


Sebuah Flak 18 88mm anti pesawat udara dari 16. Panzer-Division "mengumumkan" siang pertama kehadirannya di pinggiran barat sungai Volga dengan membombardir gunboat dan perahu pengangkut pasukan Soviet yang melintasi sungai itu, akhir musim panas 1942. Dalam beberapa hari selanjutnya mereka tetap menyasar setiap benda bergerak di sungai Volga, sementara unit artileri musuh balik menyasar posisi baterai Jerman. Landser Wehrmacht biasa menjuluki meriam 88mm sebagai "Acht-Acht" (Delapan-Delapan). Perhatikan boks alumunium penyimpan amunisi berwarna abu-abu lapangan di latar depan! Segera kotak penyimpan jenis ini diganti dengan yang berbahan anyam-anyaman tanpa warna dengan bentuk dan ukuran yang sama yang lebih murah serta mudah pembuatannya


Pengamat artileri garis depan mencoba untuk menemukan lokasi pertahanan Rusia di sepanjang pinggiran timur sungai Volga, akhir musim panas 1942. Mereka menggunakan Scherenfernrohr Sf.14Z 6x30 (teropong gunting). Tabung panjang horizontal yang dipasang di Scherenfernrohr maksudnya adalah untuk mengeliminasi pantulan cahaya yang mungkin timbul sehingga membongkar keberadaan mereka, tapi alat semacam ini mempunyai kelemahan dalam hal terbatasnya penglihatan bagi orang yang ngintip. Observer garis depan ditempatkan pada setiap baterai artileri dan biasa mendirikan sebuah pos observasi di antara unit-unit infanteri terdepan. Komunikasi yang dijalin antara pos observasi dengan baterai artileri dilakukan menggunakan telepon lapangan. Operator teleponnya biasa dijuluki sebagai Strippenzieher (tukang colok sambungan), dan berbicara melalui telepon lapangan dari jenis Feldfernsprecher 33


Seorang Landser yang diserahi tanggungjawab sebagai "manajer" dari "Savoy Hotel" ini telah memasang pengumuman bahwa "Wolga Bar" menawarkan acara dansa-dansi pukul lima sore, akhir musim panas 1942. Gruppen- und Halbgruppenunterstände (bunker bermukim grup dan setengah grup) semacam ini biasa dijuluki sebagai "Kleine Häuser" (Rumah Kecil) oleh para Landser (prajurit) Jerman. Keberadaan mereka sangat dibutuhkan saat menghadapi bombardir artileri musuh atau bertahan dalam menghadapi cuaca musim dingin dengan suhu di bawah 0 derajat celcius


Seorang perwira Wehrmacht berbicara melalui telepon di dekat sebuah Befehlswagen (Kendaraan Komando) Sd.Kfz.251/6 Ausf.B milik 16. Panzer-Division di wilayah Kuzmichi, Volgogradskaya Oblast. Pada tanggal 24 Agustus 1942 posisi divisi panzer tersebut dalam keadaan rentan karena Tentara Merah memegang kendali jalan masuk ke wilayah utara kota Stalingrad dan terus menambah jumlah pasukan mereka melalui wilayah Voronezh di utara


Pasukan Wehrmacht ini baru saja mengambil alih sebuah lubang pertahanan Rusia yang berada di jalan menuju Stalingrad, akhir musim panas 1942. Tank T-34 yang sudah tidak berfungsi terlihat teronggok di latar belakang, sementara sebuah meriam howitzer ringan dari jenis IeFH.18 10.5cm terlihat melintas di hadapannya dalam perjalanan menuju ke front depan. Senjata satu ini adalah meriam standar divisi infanteri Jerman dan bukannya meriam Flak 88mm seperti yang banyak digambarkan dalam film, buku novel dan memoar


Serangan pasukan Jerman dari Gruppe Drumpen terhadap posisi pertahanan Soviet di Spartakovka di pagi hari tanggal 24 Agustus 1942 didahului oleh bombardir artileri dari meriam-meriam 88mm serta bom-bom yang dijatuhkan oleh pembom tukik Junkers Ju 87B "Stuka". Deretan Panzerkampfwagen III telah siap untuk bergerak maju begitu tembakan artileri berhenti


Dalam Pertempuran Spartakovka (24 Agustus 1942), sebuah tank berat KV-1 Soviet terbakar hebat setelah mendapat hantaman peluru dari meriam anti-tank Jerman. Meskipun dalam pertempuran ini 16. Panzer-Division mencatat beberapa kesuksesan dalam fase awal, mereka mendapati pertahanan musuh makin menguat, terutama di perbatasan terluar kota Stalingrad. Beberapa tank Soviet yang melakukan serangan balasan bahkan sampai menembus pos komando Panzergrenadier-Regiment 64!


Bagi para prajurit Wehrmacht yang tiba di seberang timur sungai Volga akhir musim panas 1942, kemenangan tampaknya sudah berada di depan mata. Dua foto ini memperlihatkan ribuan tawanan Soviet yang berhasil digaruk dalam gerak maju pasukan Jerman. Mereka digiring menuju kamp penahanan sementara di garis belakang yang hanya beralaskan tanah tanpa atap serta dipagari oleh kawat berduri di sekelilingnya. Hanya sedikit air dan makanan yang disediakan, dan fasilitas sanitasi sama sekali tidak ada sehingga para tawanan malang tersebut buang air besar dan kecil di sembarang tempat! Takdir para prajurit Rusia yang tertangkap ini sudah bisa dipastikan: hampir semuanya akan dipaksa bekerja berat di kamp tawanan atau kelaparan sampai mati, itu pun kalau mereka tidak dieksekusi. Tawanan perempuan sangatlah jarang ditemui. Bertentangan dengan mitos yang populer pada saat itu, tidak ada unit infanteri Soviet yang anggotanya seluruhnya wanita. Sebagian besar wanita Rusia bertugas sebagai operator komunikasi, petugas medis, pengatur lalulintas, dan pegawai administrasi. Hanya sedikit jumlahnya yang bertugas sebagai pasukan tempur, utamanya sebagai sniper serta awak tank dan artileri


Para Panzergrenadier Jerman ini telah mencapai lembah yang berada di atas sungai Volga, akhir musim panas 1942. Gerak maju mereka telah terhambat oleh perlawanan sengit pasukan Rusia yang bertahan mati-matian di kota Krasnoyarmeysk dan Kuporsnoye. Pasukan musuh telah membangun pertahanan yang cukup untuk merongrong pihak Jerman dalam pertempuran habis-habisan sampai mati. Ini memaksa pasukan Panzergrenadier untuk turun dari kendaraan mereka dan bertempur dari rumah ke rumah layaknya infanteri


Dua buah panzer di sebuah desa Rusia yang berada di perbatasan Stalingrad, akhir musim panas 1942. Tank di sebelah kanan dengan marking taktis "523" berasal dari jenis Panzerkampfwagen III Ausf.J yang dilengkapi dengan meriam 50mm, sementara di sebelah kiri yang memanfaatkan perlindungan rumah di sebelahnya adalah Panzerkampfwagen IV dengan meriam pendek 75mm, yang biasa dijuluki sebagai "Stumpf" (Kekar). Banyak tank Jerman yang tertahan dalam pertempuran yang terjadi di desa dan kota yang mengelilingi Stalingrad. Tentara Soviet mengincar mereka dengan senapan dan senapan mesin, membunuh para awak dan Panzergrenadier di sekitarnya yang terekspos keluar. Untuk tanknya sendiri pasukan musuh menggunakan senjata yang lebih besar seperti senapan anti-tank 14,5mm, granat tangan, dinamit, ranjau darat, dan bom molotov


Sebuah Flak 36 88mm memuntahkan peluru demi peluru panas ke perbatasan terluar kota Stalingrad, akhir musim panas 1942. Baterai artileri berat Jerman membombardir posisi pertahanan musuh di wilayah perbatasan dan membuatnya menjadi tumpukan puing-puing yang terbakar. Meriam "Acht Acht" (Delapan Delapan) digunakan untuk tembakan pendukung langsung serta sebagai senjata anti-tank. Tapi laras panjang dan kecepatan peluru tinggi yang dimilikinya membuat senjata seperti ini tidak cocok digunakan untuk tembakan pendukung tidak langsung, sebuah peran yang memang tidak pernah dibebankan kepadanya


Sekelompok prajurit Jerman menginspeksi kerusakan yang terdapat di dua buah pesawat Soviet yang teronggok di utara kota Stalingrad, akhir musim panas 1942. Pesawat yang ada di kiri depan adalah pemburu Polikarpov I-16 yang, karena ketertinggalan zamannya, menjadi bulan-bulanan Luftwaffe di medan perang Rusia. Bagi orang-orang Jerman pesawat ini lebih dikenal dengan nama "Rata" (Tikus) karena tampilannya yang jauh dari kata enak dipandang, terutama dengan adanya penutup mesin radikal berukuran ekstra besar! Pesawat hasil kanibalisasi di latar belakang berasal dari jenis pemburu Polikarpov I-153 yang sama-sama ketinggalan zamannya


Seorang awak senapan mesin dengan santai mencangklong pipa rokok di dalam sebuah Maschinengewehrloch (lubang senapan mesin) sambil mengawasi sungai Volga yang membentang di hadapannya, akhir musim panas 1942. Jenis lubang pertahanan kecil berbentuk bulat ini juga dikenal dengan nama Russisches Loch atau Ruslock (Lubang Rusia). Prajurit ini mempersenjatai diri dengan senapan mesin MG-34 dan sebuah pistol P-38 9mm (tidak terlihat disini) yang biasanya dibawa-bawa menggunakan holster yang dipasang di kiri depan Koppel (ikat pinggang). Yang terakhir ini adalah nama resminya, sementara nama julukan yang biasa disebut oleh para Landser adalah Bauchbinde (emban atau ikat puser)


Foto oleh Kriegsberichter Günther Thiede dari PK (Propaganda-Kompanie) 694 ini memperlihatkan Nachrichtenoffizier (Perwira sandi) Leutnant Heinz Endruweit dari Panzer-Regiment 24/24.Panzer-Division), difoto di atas kupola Panzerkampfwagen IV Ausf.F1 sambil memakai Kopfhörer (headphone) dan Kehlkopfmikrofon (mikrofon tenggorokan), sementara di latar belakang adalah halftrack schützenpanzerwagen Sd.Kfz.251 (dengan insignia kuda loncat simbol 24. Panzer-Division di bagian depan) diikuti oleh dua buah tank intai Panzerkampfwagen II. Foto ini diambil di barat Blinikov, dekat Stalingrad, tanggal 29 atau 30 Agustus 1942. Endruweit bunuh diri tanggal 16 Januari 1943 setelah kehilangan semua harapan untuk lolos dari pengepungan Stalingrad


Istilah "Schützenloch für Maschinengewehr" (Lubang Tembak untuk Senapan Mesin) lebih dikenal oleh para Landser sebagai Maschinengewehrnest (Sarang Senapan Mesin). Lensa optik dari MG-34 di atas terlihat nyempil di antara dua stahlhelm yang dipakai oleh awaknya. Dalam istilah Jerman, kata Maschinengewehre "leichte" (ringan) atau "schwere" (berat) lebih menekankan pada perannya dan bukan ukuran senjatanya karena keduanya sama-sama menggunakan senapan mesin MG-34 7,92mm. Leichte Schützengruppe (Grup Senapan Ringan) dilengkapi dengan satu buah MG-34 yang dilengkapi bipod serta cadangan satu atau dua buah laras senapan, sementara schwere Schützengruppe (Grup Senapan Mesin berat) tetap membawa senapan mesin dengan bipod yang sama, hanya saja dibekali dengan tambahan tripod, lensa optik, serta cadangan laras senapan untuk memampukan awaknya dalam menyediakan tembakan jarak jauh yang berkelanjutan. Foto ini diambil di perbatasan kota Stalingrad bulan September 1942. Di latar belakang tampak dua buah tank T-34 Rusia yang terbakar. Dari banyaknya kotak amunisi kosong yang tercecer di belakang awak senapan mesin, kita bisa mengetahui bahwa tank-tank Soviet tersebut diiringi oleh sejumlah besar pasukan infanteri, yang sebagian besar darinya kini berserakan tak bernyawa di hamparan ladang gandum! Misi sikat habis musuh lebih dikenal dengan nama "Ausradieren" (pemusnahan total infanteri, posisi pertahanan, kendaraan atau instalasi lawan)


Dua orang awak senapan mesin MG-34 menembakkan senjata mereka pada arah yang diduga sebagai lokasi musuh berada di perbatasan kota Stalingrad, awal bulan September 1942. Senapan mesin ini dilengkapi dengan sebuah Gurttrommel 34 (keranjang tromol) yang mampu menampung sabuk peluru kaliber 7,92mm berisi 50 biji. Sebuah Schützengruppe (Grup Senapan) biasa dibagi menjadi lima atau enam orang Schützentrupp (Pasukan Senapan) di bawah komando wakil Gruppenführer (Pimpinan Grup/Skuad), serta satu buah Maschinengewehrtrupp (Pasukan Senapan Mesin) beranggotakan tiga orang, plus satu orang Gruppenführer yang biasanya berpangkat Unteroffizier. Kedua awak senapan mesin di atas mengenakan Gummibänder (ban karet) di stahlhelm mereka yang dipotong dari ban kendaraan dan berfungsi sebagai penyemat kamuflase (daun-daunan)


Sejumlah Panzerkampfwagen III berhenti sebentar untuk meneliti padang stepa yang membentang di hadapan mereka. Asap dari beberapa tank Soviet yang terbakar bisa terlihat di kejauhan. Pada awal bulan September 1942, tank-tank dari 4. Panzerarmee ini mencapai bagian selatan dari kota Stalingrad untuk membantu gerak maju pasukan serang Jerman yang sedang berusaha keras memasuki kota


Tank-tank dari jenis Panzerkampfwagen III bergerak cepat memasuki wilayah selatan kota Stalingrad awal bulan September 1942. Mereka sedang berusaha membersihkan sejumlah tank-tank Soviet yang masih tersisa setelah serangan mematikan dari pesawat-pesawat pembom tukik Luftwaffe. Dalam periode ini pasukan darat Wehrmacht relatif mudah dalam merebut wilayah dari tangan musuh karena unit-unit udara Luftwaffe membantu mereka dalam formasi-formasi besar serta secara non-stop menghantam setiap usaha serangan balik yang dilakukan oleh pihak Soviet


Dua orang Landser (prajurit Jerman) membantu rekan mereka yang terluka untuk menjauh dari medan pertempuran di pinggiran kota Stalingrad, September 1942. Luka di bahunya mendapatkan pertolongan pertama setelah dibalut menggunakan Verbandspäckchen (kasa perban). Kalau dia "beruntung", luka yang diderita si prajurit bisa digolongkan sebagai Heimatschuß (luka rumah) yang membuat dia berhak untuk diterbangkan ke tanah air Jerman demi mendapatkan perawatan lanjutan


Asap membumbung tinggi di kota Stalingrad dari kebakaran hebat yang ditimbulkan oleh serangan udara pesawat-pesawat Stuka Luftwaffe. Pada tanggal 2 September 1942 Luftwaffe melancarkan operasi pemboman yang kesekian kalinya di kota tersebut sehingga membuat Stalingrad menjadi tumpukan puing-puing yang terbakar, dan asap yang keluar darinya bisa terlihat sampai berkilometer jauhnya! Begitu dahsyatnya serangan udara Luftwaffe sehingga dikatakan bahwa Stalingrad tak menyisakan satu biji bangunan pun yang tidak rusak atau terbakar! Tak terpengaruh oleh pemboman terus-menerus serta kehancuran moral yang melanda prajurit mereka, pasukan Soviet dari 62nd Army tak henti-hentinya melancarkan serangan terhadap elemen-elemen dari 4. Panzerarmee demi mencegah mereka bergabung dengan 6. Armee


Dengan dilindungi oleh sebuah Panzerkampfwagen IV Ausf.F2, prajurit infanteri Jerman beristirahat sebentar di parit anti-tank bekas galian warga Stalingrad sebelum meneruskan serangan mereka terhadap posisi pertahanan Soviet, akhir musim panas 1942. Panzer IV Ausf.F mempunyai lapisan baja yang lebih tebal di bagian depan dan samping plus meriam 75mm yang lebih panjang dari versi sebelumnya. Semua kelebihan ini membuatnya lebih mampu menghadapi tank T-34 Rusia dibandingkan tank-tank Jerman versi sebelumnya. Dari penampilan seragamnya, para prajurit ini tampaknya masih fresh dan belum terlalu lama terlibat pertempuran. Tiga orang yang berdiri di latar depan terdiri dari seorang Unteroffizier dan dua orang Gefreiter. Seorang Infanterist (prajurit infanteri) dikenal juga dengan julukan "Fußlappenindianer" (Indian Mokasin), "Sandlatscher" (Perangkak Tanah), atau "Stoppelhopser" (Peloncat Tunggul). Penderitaan para prajurit infanteri serta pengabaian terhadap peran serta mereka dalam pertempuran biasa disindir sebagai "Schütze Arsch" (Pantat Penembak Senapan)


Pada tanggal 3 September 1942, 6. Armee dan 4. Panzerarmee akhirnya bergabung sehingga membuat pasukan Soviet yang bertahan di dalam kota Stalingrad terkepung. Sebuah papan peringatan Jerman di perbatasan kota tersebut berbunyi "Durchfahrt f. Fahrzeuge aller Art verboten, da Feindeinsicht u. Beschuss" (Kendaraan dilarang untuk melewati kota karena bisa terlihat musuh dan pemboman akan mengikuti setelahnya)


Papan pengumuman Jerman lainnya yang terpasang di Stalingrad berbunyi "Betreten der Stadt verboten, Neugierige gefährden ihr Leben sowie das Leben ihrer Kameraden" (Dilarang untuk memasuki kota. Pelancong tidak hanya membahayakan nyawa mereka sendiri tapi juga keselamatan rekan seperjuangan mereka). Ini adalah peringatan untuk pasukan garis belakang (atau "Etappenschweine", Babi Belakang) yang suka penasaran nyelonong ke front pertempuran saat sedang tidak ada kerjaan tanpa menghiraukan kselamatan diri demi "mencari suvenir"! "Umleitung" artinya adalah "Jalan Memutar"


Sebuah pos terluar Jerman dalam pertempuran memperebutkan kota Stalingrad, akhir musim panas 1942. Dua orang Landser yang berlindung di Stichgraben (Celah Parit) ini mempersenjatai diri dengan sebuah senapan mesin MG-34, mortir ringan IeGW.36 5cm, dan sebuah senapan mesin ringan MP-40. Kotak amunisi kosong di belakang mereka merupakan bukti dari pertempuran berat yang telah terjadi sebelumnya. Sekarang, setelah kemenangan mulai terlihat jelas oleh 6. Armee, unit-unit Jerman mengadaptasi metode dalam mengalihkan kekuatan pendorong utama mereka antara satu wilayah dengan wilayah lainnya serta menghantam habis satu demi satu blok pertahanan musuh



Tiga buah foto yang memperlihatkan gudang gandum di Stalingrad, salah satu bangunan yang paling dipertahankan secara mati-matian oleh pasukan Rusia di kota tersebut. Di tempat penggilingan gandum raksasa yang terletak di selatan lembah Tsaritsa ini, pertempuran yang terjadi benar-benar tidak mengenal ampun. Kedua belah pihak sama-sama menderita korban besar dalam usaha merebut dan mempertahankan bangunan ini. Selama tiga hari nonstop pasukan dari 24. Panzer-Division membombardir struktur beton masif tersebut dengan artileri, senjata anti-tank, mortir, dan meriam tank, sehingga membuat biji gandum yang tersimpan di dalamnya terbakar hebat. Tentara Soviet yang berlindung di dalamnya menolak untuk menyerah, sehingga pertempuran berlanjut dengan duel satu lawan satu yang menyebar di seluruh ruangan. Pada tanggal 21 September 1942 akhirnya pihak Jerman berhasil mendudukinya. Tapi penderitaan tidak berhenti sampai disini: pertempuran yang sama brutalnya kemudian berlanjut ke Lapangan Merah, pabrik kuku, dan Department Store Univermag


Pertempuran di Stalingrad kini terfokus di wilayah stasiun kereta api pusat. Di pagi tanggal 17 September 1942 pasukan Soviet yang bertahan menjadi sasaran dari serangan gabungan infanteri Jerman dibantu oleh 20 buah Panzer dan StuG. Foto ini memperlihatkan sebuah Schützengruppe (Grup Pelindung) yang didukung oleh sebuah Sturmgeschütz III Ausf.F bersenjatakan meriam panjang 75mm (juga dikenal dengan nama Sturmgeschütze 40) sedang menunggu perintah untuk bergerak maju melalui pinggiran rel kereta dan gulungan kabel yang berserakan. Di tengah foto kita bisa melihat seorang tawanan Soviet yang tampaknya dijadikan sebagai penunjuk arah lokasi teman-temannya yang masih bertahan


Satu regu Maschinengewehrtrupp bersenjatakan MG 34 bergerak menuju posisi baru mereka melalui jalanan kota Stalingrad yang sudah penuh dengan puing-puing. Grup senapan mesin biasanya membawa satu atau dua buah laras cadangan, yang biasanya dipakai untuk mengganti laras utama setelah 250 peluru ditembakkan secara non-stop. Tujuannya adalah untuk memberi kesempatan laras utama didinginkan sebelum dipakai kembali. Pada fase ini (September 1942), semua prajurit infanteri yang bertempur di kota Stalingrad digolongkan sebagai Alte Hasen (Kelinci Tua, Tangan Tua, Veteran Tempur), yaitu mereka yang mampu bertahan hidup melalui hari demi hari pertempuran brutal tak terperikan!


Para Frontkameraden beristirahat di sela-sela pertempuran di Stalingrad bulan September 1942. Kameradschaft (ikatan persahabatan) mempunyai makna yang dalam dan serius di tubuh Heer sehingga membentuk ikatan kuat antar prajurit yang bertempur bersama. Frontgemeinschaft (Komunitas Front) memperlihatkan solidaritas antar Frontkameraden, yang nilai lebihnya tidak terletak pada perbedaan kelas melainkan pada kemampuan yang diperlihatkan di medan tempur serta keinginan untuk berkorban membela rekannya demi kepentingan yang lebih besar. Ini adalah faktor utama yang dibutuhkan dalam mempertahankan Kampfgeist (Semangat Tempur), yang berarti bahwa si prajurit tak pernah lekang dalam mematuhi perintah dan menjalankan kewajibannya - apapun yang terjadi - sekaligus mempertahankan moral tinggi dalam pertempuran


Satu leichter Maschinengewehrtrupp (pasukan senapan mesin ringan) bergerak maju dengan penuh kewaspadaan sementara tim senapan mesin dan penembak senapan kedua melindungi mereka dari belakang (pada saat ini banyak grup senapan dipersenjatai dengan dua senapan mesin untuk menambah kekuatan pendobrak). Seorang Funker (operator radio) mengoperasikan sebuah radio panggul Torn.Fu Bl di ujung parit, lengkap dengan kotak baterainya yang berada di sebelah kiri. Set radio ini tidak dapat dioperasikan pada saat pasukan sedang bergerak, karenanya ini kemungkinan adalah pos komando kompi. Foto diambil di Stalingrad akhir musim panas 1942


Satu schwerer Maschinengewehrtrupp (pasukan senapan mesin berat) bergerak melalui tanah tak bertuan di utara kota Stalingrad, akhir musim panas 1942. Mereka membawa kontainer amunisi serta kontainer yang berisi cadangan laras senapan mesin MG 34. Prajurit yang berada paling belakang di baris kanan di kejauhan membawa tripod senapan mesin berat di punggungnya menggunakan dua tali bahu dan bantalan khusus. Unit ini telah dengan sengaja membalurkan lumpur ke stahlhelm mereka untuk kepentingan kamuflase


Seorang Landser mengarahkan senapannya pada target yang berada di dekat blok apartemen yang telah runtuh di Stalingrad, akhir musim panas 1942. Dia dipersenjatai dengan sebuah senapan semi-otomatis G.41(W) 7.92mm yang mempunyai magasin bawaan berisi 10 butir peluru serta diisi menggunakan kantung pemisah per lima peluru seperti yang terdapat dalam senapan larik Kar98k. Permintaan untuk senapan jenis ini meningkat setelah pasukan Jerman mendapati bahwa pihak Soviet menggunakan senjata semi-otomatis yang sama. Sayangnya, distribusi Selbstladegewehr ini tidak sebanyak senapan resmi K98k


Prajurit Jerman menembaki jalanan di luar kota Stalingrad dari sarang senapan mesin mereka, akhir musim panas 1942. Penembak senapan mesin di sebelah kanan membawa perlengkapan infanteri standar seperti tali pengikat ("Y" Straps), kaleng masker gas beserta kantong pembungkus masker yang diikatkan di luarnya, kanvas kamuflase Zeltbahn yang digulung, kantong roti, botol air, peralatan menggali, serta Stielhandgranate Stg.24. Kontras dengannya adalah asisten senapan mesin di sebelah kiri yang telah melepaskan semua perlengkapannya. Dua buah kaitan metal pendukung ikat pinggang di seragamnya jelas terlihat


Di wilayah terluar kota Stalingrad, awak dari senjata anti-tank PaK38 50mm ini menggerakkan meriam mereka lebih maju lagi ke depan. Meskipun kurang efektif saat harus menghadapi tank medium Soviet T-34, senjata satu ini cukup bisa diandalkan ketika harus melawan tank yang lebih ringan dan bangunan berbenteng. Celah di antara dua lapisan Perisai bajanya jelas terlihat. Hal ini memberikan perlindungan yang lebih baik dari tembakan senjata ringan dan pecahan artileri, sementara tetap membuat senjatanya lebih ringan dibandingkan harus memasang perisai solid yang lebih tebal. Selain itu, perisai larasnya juga telah dipasangi dedaunan sebagai kamuflase. PaK 38 disuplai dengan peluru-peluru pembobol baja, pembobol baja improvisasi, serta peledak tinggi. Para awaknya menggunakan kain kanvas kamuflase di stahlhelm yang mereka kenakan


 Awak meriam anti-tank PaK 38 50mm yang bercokol di bawah tangga bangunan teater musik Stalingrad ini sebagiannya diambil dari personil Luftwaffe, apa yang para Landser biasa namakan sebagai "Ersatz-Landser" (Prajurit Pengganti). Kamuflase yang digunakannya tidak biasa karena memanfaatkan rongsokan sekitar dan bukannya rerumputan seperti standar. Ini hal yang wajar karena Stalingrad adalah pertempuran kota dan bukannya pertempuran di hutan, desa atau stepa seperti biasanya terjadi di Front Timur. Kita bisa melihat lempengan besi, kotak kayu dan potongan keranjang yang tidak terpakai dalam foto ini, semuanya memberi kombinasi pengkamuflasean yang sulit dikenali dari jarak jauh!


General der Panzertruppe Friedrich Paulus (kiri) bersama dengan Ante Pavelić (tengah) di Golubinskaya, dekat Stalingrad, tanggal 24 September 1942. Pavelić adalah Poglavnik (pemimpin besar) negara independen Fasis Kroasia yang bersekutu dengan Jerman dalam Perang Dunia II. Dia mengirimkan unit sukarelawan Kroasia yang tergabung dalam Verstärktes Kroatisches Infanterie-Regiment 369 (Resimen Infanteri Pengganti ke-369 Kroasia) untuk bertempur di medan Stalingrad. Para anggota legiun ini lebih dikenal sebagai "Hrvatska Legija" dan bertempur dengan gagah berani di Front Timur


Panglima 6.Armee, Friedrich Paulus (tengah), sedang mendiskusikan situasi militer di dan sekitar Stalingrad di markas 76. Infanterie-Division, 1942. Di sebelah kiri adalah Perwira Operasi (Ia) dari 76. Infanterie-Division, Oberst i.G. Günther Breithaupt, sementara di kanan adalah Kommandeur 76. Infanterie-Division, Generalleutnant Carl Rodenburg. Orang yang nongkrong sendirian di belakang adalah Major d.R. August Ullrich(KommandantStabs Hauptquartier A.O.K.6)


 Peta kota Stalingrad memperlihatkan bahwa, meskipun tidak terlalu lebar dari timur ke barat, tapi dia cukup panjang dari utara ke selatan dengan jarak yang membentang sejauh 40 kilometer. Kondisi semacam ini menguntungkan pihak yang bertahan dan membuat pasukan Jerman harus memperjuangkan setiap blok dan rumah yang mereka kuasai. Tiga target utama pihak Wehrmacht di dalam kota Stalingrad adalah pabrik traktor Dzhershinzky di utara serta pabrik pengecoran senjata Krasnaya Barrikady (Barikade Merah) dan pabrik pengerjaan metal Krasny Oktyabr (Oktober Merah) jauh ke selatannya


 Peta pabrik traktor Dzhershinzky di utara kota Stalingrad yang diambil di hari-hari pertama bulan September 1942: 1.Bengkel produksi, 2.Depot bahan bakar, 3.Tangki bahan bakar yang hancur, 4.Tempat penyimpanan kayu gelondongan, 5.Posisi Flak, 6.Jembatan yang sudah hancur setengahnya, 7.Tangki-tangki yang sudah terisi setengahnya, 8.Rakit kayu, 9.Akibat dari ledakan bom, 10.Posisi Flak, dan 11.Hasil dari kebocoran minyak


Dua foto ini memperlihatkan meriam artileri FlaK 18 88mm sedang menghantarkan "perawatan" (die Behandlung) dengan membombardir sebuah pabrik di wilayah tengah kota Stalingrad bulan September 1942. 9. Flak-Division Luftwaffe berada di bawah komando 6. Armee dan senjata-senjatanya kebanyakan digunakan untuk memberikan tembakan pendukung langsung, sementara di lain pihak pasukan artileri Soviet lebih memilih pola pemboman ketinggian karena jauhnya jarak mereka dengan pasukan darat yang terpisahkan oleh sungai Volga. FlaK ringan 20mm dan 37mm milik 9. Flak-Division lebih berguna untuk menghadapi pesawat musuh yang terbang rendah. Perhatikan lima buah Abschußringe (cincin jumlah korban) di laras meriamnya! Dengan Stalingrad sekarang terbelah dua, meriam-meriam artileri Jerman kini bisa mengarahkan senjata mereka dari satu sisi ke sisi terluar lainnya lagi. Penembak meriam mengatur target tembakan dan penghalang jalan di ujung barat dan lalu merangsek ke ujung lainnya. Sembilan persepuluh kota Stalingrad telah berada di tangan pasukan Wehrmacht di akhir bulan September 1942 sehingga pasukan bantuan Soviet yang menyeberangi sungai Volga kini dikirim ke wilayah sekitar distrik pabrik Krasny Oktyabr yang menjadi pusat pertempuran


 Foto hasil karya Kriegsberichter Rothkopf (Propaganda-Kompanie Luftflotte 4) ini pertama kali dipublikasikan tanggal 22 Oktober 1942 dan memperlihatkan para anggota Luftwaffe sedang menyisir wilayah terluar Minina, Stalingrad, yang baru saja ditinggalkan oleh pasukan Soviet yang bertahan, 19 September 1942. Perhatikan bahwa perwira di latar depan bertempur dengan mengenakan dasi yang masih rapi terpasang di kerahnya, tanpa bersenjata apapun selain sebuah senapan mesin MP 40 (Maschinenpistole 40), sebuah hal yang tidak biasa di tengah kecamuk pertempuran! Buku "Angriff: The Attack on Stalingrad in Photos" karya Jason D. Mark halaman 192 mengidentifikasi si perwira sebagai Oberleutnant der Reserve Helmut Wilhelm Schnatz, Chef of 3.Batterie/Flak-Regiment 25. Schnatz lahir tanggal 9 Desember 1915 dan memulai karirnya di RAD (Reichsarbeitsdienst) sebelum menjadi anggota unit Flak (artileri anti pesawat udara) Luftwaffe. Dia dinyatakan gugur dalam pertempuran di tenggara Peschanka (Stalingrad) tanggal 19 September 1942. Jadi, di hari foto ini diambil, tak lama kemudian sang perwira Flak terbunuh! Pada saat itu bahkan anggota unit Flak pun bertempur sebagai pasukan infanteri demi memusnahkan kantong-kantong perlawanan Rusia yang bertempur dengan gigih


"So machen wir's: 1. Zug link, 2. Zug rechts!" Oberleutnant Friedrich Winkler (pangkat terakhir Hauptmann) dari 6.Kompanie / Infanterie-Regiment 577 / 305.Infanterie-Division memberi perintah kepada para Gruppenführer dari batalyonnya yang berkumpul di dekat pabrik senjata "Barrikady", sektor utara Stalingrad, tanggal 16 Oktober 1942 selama berlangsungnya Unternehmen Hubertus. Foto oleh Kriegsberichter Heine. Di foto atas, perhatikan bahwa perwira di kiri (memakai stahlhelm dengan pola kamuflase Amoeba M38 Soviet sebagai covernya) membawa senapan mesin PPSh-41 (Pistolet-Pulemyot Shpagina) hasil rampasan dari tangan Soviet. Dalam foto ini Winkler mengenakan fernglas (teropong) 6x30 dengan cover pelindung mata yang terbuat dari bahan kulit, juga "Y" strap pendukung ikat pinggang yang mulai digunakan dari bulan November 1939. Di seragamnya juga tercantol "blech" (timah) atau "Lametta" (bling-bling murahan) - seperti yang biasa disebut oleh Landser - yang terdiri dari Infanterie-Sturmabzeichen, Verwundetenabzeichen in Schwarz (bagian hitamnya sudah banyak terkelupas) dan Eisernes Kreuz I.Klasse (yang sebagiannya patah). BTW, prajurit Wehrmacht yang memakai pita medali segambreng dan penghargaan lainnya biasa diolok-olok sebagai "Bandhändler" (Penjual Pita)!


Sekarang kita melihat perwira yang sama yang ada di foto sebelumnya (bersama dengan Oberleutnant Friedrich Winkler), yang difoto bersama dengan senapan mesin PPSh-41 (Pistolet-Pulemyot Shpagina) buatan Rusia di tangannya. Foto yang diambil oleh Kriegsberichter Heine ini kemungkinan besar diambil di waktu yang sama atau tidak berjauhan, yang terlihat dari samanya pula helm yang dikenakan oleh si perwira, yang memakai cover pola kamuflase Amoeba M38 Soviet. Dia adalah Hauptmnn Dipl.-Ing. Wilhelm Traub, Kommandeur Pionier-Bataillon 305/305.Infanterie-Division


Hauptmnn Dipl.-Ing. Wilhelm Traub (Kommandeur Pionier-Bataillon 305 / 305.Infanterie-Division) berfoto di dekat pabrik senjata "Barrikady", sektor utara Stalingrad, tanggal 16 Oktober 1942 selama berlangsungnya Unternehmen Hubertus. Sebuah stern (pip) telah hilang di schulterklappen (tanda pangkat bahu) kanannya. Dia juga mempersenjatai diri dengan senapan mesin ringan PPSh-41 7.62mm hasil rampasan dengan magasin berisi 71 peluru. Pasukan Soviet biasa menyebutnya sebagai "Finka", yang berarti "wanita" dalam bahasa Finlandia, dan kadang-kadang tentara Jerman pun menggunakan julukan yang sama meskipun bahasa resmi Wehrmacht-nya adalah MP.717(r). Senjata satu ini digunakan oleh pasukan Hitler karena dianggap mempunyai kualitas yang lebih baik dibandingkan dengan senjata Jerman dari jenis yang sama dalam hal kehandalannya, tahan banting, dan kapasitas magasin yang lebih besar. Kelemahannya berada pada daya penetrasinya yang lemah bila dihadapkan dengan pintu atau dinding tebal. Alasan utama penggunaannya adalah menambah tembakan otomatis menjadi lebih lama dengan lebih banyak peluru


Seorang Panzergrenadier berlindung di samping sebuah tank saat unitnya mendapat tembakan gencar pasukan Soviet dalam Pertempuran Stalingrad. Di latar belakang kita juga bisa melihat sebuah Panzerkampfwagen III yang terhenti oleh tembakan yang sama. Sang prajurit membawa sebuah Klappspaten (sekop lipat) yang pertama kali dikeluarkan tahun 1938, meskipun penggunaannya tak pernah benar-benar menggantikan kleines Schanzzeug (alat penggali kecil) yang lebih kaku. Tragbüchse für Gasmaske (kaleng silinder penyimpan masker) tahan air kadang-kadang dipakai untuk menyimpan rokok dan korek apinya sehingga dia disebut juga sebagai Zigarettenbüchse (kaleng rokok)! Tidak hanya itu, seringkali kaos kaki, gaiter atau peralatan tulis-menulis dijejalkan juga ke kaleng masker. Ini tentu saja dilarang, tapi tetap saja prajurit Jerman yang bertempur di front "ngeyel" dan penggunaannya menjadi sebuah hal yang umum terjadi!


Seorang prajurit infanteri berlari ke depan sambil membawa kotak amunisi senapan mesin ekstra untuk rekan-rekannya. Berlari demi menghindari tembakan biasa dinamakan sebagai "hinrotzen" yang secara harfiah berarti "menghindari ingus"! Dia membawa serta perlengkapan infanteri standar seperti kantong peluru ganda (masing-masing tiga buah) di ikat pinggang yang berisi 30 butir, bayonet S.84/98, peralatan menggali, dan granat tongkat Stg.24. Yang terakhir biasa dinamakan sebagai Türklopfer (Pengetuk Pintu), sebuah julukan yang sama dengan yang digunakan oleh pasukan Soviet, "Kolotushka"! Si prajurit juga membawa dua buah senapan, yang kemungkinan salah satunya diambil dari kamerad yang telah gugur - yang dia bawa demi mencegahnya jatuh ke tangan pasukan Rusia yang memang kekurangan senjata. Kadang-kadang senjata cadangan juga dibawa serta untuk mengganti senjata yang rusak atau tidak berfungsi


Hauptmann Friedrich Konrad Winkler dilahirkan tanggal 22 Agustus 1909 di Worms (salah satu kota tertua Jerman yang berada di pinggir sungai Rhine). Dia adalah seorang prajurit profesional yang telah 12 tahun bertugas di AD Jerman (biasanya diberi julukan sebagai "Zwölfender"). Winkler dipromosikan menjadi Oberleutnant tanggal 1 November 1941, dan disusul dengan Hauptmann tanggal 1 Desember 1942. Pada pertengahan tahun 1942, dia ditransfer ke 305. Infanterie-Division dari unit sebelumnya, Infanterie-Regiment 56. Pada awalnya dia bertugas di Stabskompanie dari Infanterie-Regiment 577 (diganti menjadi Grenadier-Regiment 577 mulai 15 Oktober 1942), tapi kemudian Winkler dikasih tanggungjawab sebagai Chef 6.Kompanie di resimennya dalam pertempuran di pabrik senjata Barrikady yang berada di utara Stalingrad. Grenadier-Regiment 577 hancur lebur di kota tersebut bulan Januari 1943, dan Winkler ditangkap sebulan kemudian. Tak lama setelahnya dia meninggal dalam tahanan Soviet di kamp Beketowka tanggal 8 Februari 1943 di usia 34 tahun. Dari foto ini pula kita bisa melihat medali-medali yang telah diraihnya: Infanterie Sturmabzeichen in Silber, Eisernes Kreuz I klasse, Eisernes Kreuz II klasse (meskipun tidak terlihat dalam foto ini, tapi sudah menjadi kewajiban bagi seorang prajurit Jerman yang dianugerahi EK I klasse untuk mendapatkan II klasse-nya terlebih dahulu), Verwundetenabzeichen in Silber, Ostmedaille, dan Kriegsverdienstkreuz II klasse (dua yang terakhir diwakili oleh baris pita di atas saku). Seperti yang bisa anda lihat, Infanterie Sturmabzeichen-nya patah. Ternyata pula, mematahkan Infanterie Sturmabzeichen biasa dilakukan oleh para veteran Stalingrad sebagai indikasi (sekaligus kebanggaan) bahwa mendapatkan medali tersebut di Stalingrad mempunyai level yang jauh lebih tinggi daripada mendapatkannya di tempat lain!


Awak senapan mesin MG-34 Jerman memuntahkan peluru mereka ke bangunan pabrik di kejauhan untuk menghabisi sniper Soviet yang diduga bersembunyi disana, Stalingrad 1942. "Klotzen" alias tembak apa saja yang ada di sasaran merupakan salah satu cara yang dipakai oleh pihak Wehrmacht demi menangkal infiltrasi sniper-sniper komunis yang keberadaannya cukup membuat resah karena telah menimbulkan korban yang signifikan di kalangan pasukan reguler Jerman. Tidak hanya itu, unit Rusia yang kecil tapi efektif ini telah membuat disiagakannya pengamanan selama terus-menerus, memaksa dialihkannya sebagian pasukan demi memburu mereka, dan - ini yang paling fatal - menurunkan moral bertempur! "Läuse und Scharfschützen" (Lintah dan Sniper) adalah ungkapan yang biasa diucapkan oleh para Landser saat mendeskripsikan seperti apa Front Timur itu, dan merupakan kata umum yang digunakan untuk menggambarkan segala hal yang bersifat mengganggu. BTW, penembak senapan dalam foto ini mengenakan kantung ransel berbahan kasar yang tidak umum di punggungnya


 Stalingrad 1942: Dua foto yang diambil secara berurutan pada waktu yang sama ini memperlihatkan Gruppe mortir berat sGrW.34 8cm (tepatnya 81mm) mengendap-endap di belakang kompi senapan yang gerak majunya mereka berikan perlindungan. Seorang diantaranya membawa sebuah mortir ringan IeGrW.36 50mm di bahunya. Sebuah kompi senapan mesin dari batalyon infanteri Wehrmacht biasanya dilengkapi dengan satu peleton pendukung khusus bersenjatakan delapan buah mortir sGrW.34. Peleton mortir semacam ini akan "memepet" pergerakan pasukan utama di belakang dan dengan cepat akan membombardir pertahanan musuh yang dipertahankan dengan kuat atau menahan serangan balik mereka manakala dibutuhkan. Orang-orang ini juga dilengkapi dengan granat tangan yang akan digunakan untuk membersihkan lubang-lubang pertahanan yang dilewati oleh pasukan utama


"Ich hatt' einen Kameraden" (Saya punya Rekan Seperjuangan) adalah sebuah lagu sendu yang berasal dari tahun 1809 dan biasanya dinyanyikan di upacara pemakaman. Lagu ini masih dinyanyikan oleh Angkatan Bersenjata Jerman sampai saat ini. Bekas perban dan kain yang berserakan menunjukkan bahwa sebelumnya telah dilakukan upaya untuk menyelamatkan nyawa si prajurit malang, tapi... dran sein (waktunya telah tiba). Di dekatnya sekelompok prajurit dari 389. Infanterie-Division sedang menunggu perintah untuk bergerak. Di akhir bulan September 1942, 6. Armee telah kehilangan 7.700 orang prajuritnya yang terbunuh dan 31.000 lainnya luka-luka. Paulus telah kehilangan 10% dari anakbuahnya, dan tetap dia masih belum bisa menyingkirkan secara tuntas perlawanan gigih pasukan Rusia yang terkepung di Stalingrad. Padahal yang terburuk belum lagi dimulai: perebutan distrik industri di kota tersebut


 Serangan terhadap pabrik traktor Dzershinzky yang dilancarkan oleh tank-tank dari Panzer-Regiment 24 / 24.Panzer-Division tak lama setelah usainya bombardir oleh pesawat-pesawat Stuka yang meninggalkan bekas asap di kejauhan. Di sebelah kanan adalah Panzerkampfwagen III (turmnummer 133) dari 1.Kompanie yang melindungi serangan tersebut, sementara sebuah kendaraan tempur terlihat di sebelah kirinya. Pada sekitar pukul 07:30 pagi tanggal 14 Oktober 1942, tembakan berat artileri membuka serangan pasukan Jerman yang disusul oleh bombardir pesawat-pesawat Stuka yang datang tak lama kemudian. Mereka terbang melewati kepala-kepala Panzergrenadier dan awak panzer yang menunggu dan langsung menukik menuju Dzershinzky. Pertempuran merebut pabrik traktor tersebut nantinya berkobar dari tanggal 14 s/d 16 Oktober 1942. General der Artillerie Walther von Seydlitz-Kurzbach memberi sedikit gambaran tentangnya: "Di bagian utara kota, kita sekarang menghadapi pekerjaan terberat: demi untuk mencapai tepian sungai Volga, kita wajib mengambil alih tiga pabrik besar dari tangan pasukan musuh: pabrik traktor Dzhershinzky, pabrik pengerjaan metal Krasny Oktyabr (Oktober Merah), dan pabrik pengecoran senjata Krasnaya Barrikady (Barikade Merah). Rencana serangan adalah untuk merebut Dzhershinzky terlebih dahulu lalu menduduki dua pabrik lainnya sebelum menggulung tangki-tangki minyak dan sisa bagian tengah kota Stalingrad dari arah utara ke selatan."


Dengan mendapat perlindungan dari sebuah senjata serang StuG III 75mm, pasukan infanteri dari 389. Infanterie-Division bergerak menuju distrik pabrik yang merupakan pusat perlawanan pasukan Soviet di Stalingrad. Pada tanggal 3 Oktober 1942 pihak Jerman menyerbu Pabrik Traktor "Krasny Oktyabr" (Oktober Merah) menggunakan tiga divisi infanteri dan dua divisi panzer dalam front sepanjang lima kilometer. Keesokan harinya pabrik traktor tersebut diserang kembali secara habis-habisan oleh pasukan gabungan dari 15. Panzer-Division, 60. Infanterie-Division (motorisiert) dan 389. Infanterie-Division



Tiga buah foto ini memperlihatkan prajurit-prajurit infanteri dari 389. Infanterie-Division dengan penuh kewaspadaan bergerak di antara pabrik traktor "Krasny Oktyabr" (Oktober Merah) yang telah hancur di Stalingrad bulan Oktober 1942. Dalam pertempuran brutal memperebutkan pabrik tersebut, Divisi Senapan Jaga ke-37 Soviet mampu dipukul mundur oleh pasukan Wehrmacht, tapi mereka bertempur dengan luar biasa fanatik sehingga setiap jengkal dan meter wilayah harus dibayar dengan amat mahal oleh pihak penyerang. Granat tangan menjadi senjata "favorit" oleh kedua belah pihak. Pada sore tanggal 4 Oktober 1942, 389. Infanterie-Division baru berhasil menguasai satu blok flat di wilayah blok apartemen pabrik. Tapi tetap pasukan Soviet yang bertahan menolak untuk menyerah. Di waktu malam mereka akan menyerang balik pihak Jerman dengan roket-roket Katyusha yang memekakkan telinga, dan cukup berhasil dalam usahanya. Selama seminggu selanjutnya pertempuran yang sengit terus berlangsung nonstop. Pada tanggal 14 Oktober 1942, yang disebut-sebut sebagai "ofensif terakhir", General der Panzertruppe Friedrich Paulus (Oberbefehlshaber 6. Armee) mengirimkan lima divisi yang didukung oleh pesawat-pesawat Luftwaffe untuk menyerbu Krasny Oktyabr. Di sepanjang hari itu pertempuran berdarah-darah berlangsung di wilayah sekitar pabrik dan juga di dalamnya, dan di hari itu juga pasukan Wehrmacht kehilangan 2.000 orang prajurit terbaiknya yang terbunuh serta 40 tank!


Sarang senapan mesin Jerman di bagian dalam reruntuhan pabrik traktor Stalingrad, pertengahan bulan Oktober 1942. Unteroffizier di sebelah kiri bersenjatakan sebuah senapan Mosin-Nagant M-1898/30 7.62mm hasil rampasan dari Soviet, yang biasa disebut prajurit Jerman sebagai Gewehr 252(r). Puing-puing yang berserakan dan semrawut sama-sama memberikan perlindungan bagi pihak penyerang dan yang bertahan, juga perlindungan dari hujan tembakan artileri yang biasa disindir para Landser sebagai "Post Bekommen" (menerima surat)


Foto yang memperlihatkan kehancuran total salah satu pabrik di Stalingrad setelah pertempuran sengit yang terjadi disana. Selain akibat dari kontak senjata, banyak juga pasukan dari kedua belah pihak yang terluka karena kuku copot, lutut keseleo, pergelangan tangan memar-memar, serta tertimpa oleh puing-puing! Di pertengahan bulan Oktober 1942, saat panzer-panzer Wehrmacht berhasil menembus pertahanan kuat pihak Soviet, pasukan infanteri dari 389. Infanterie-Division bergerak masuk untuk menduduki sisa-sisa reruntuhan bangunan pabrik dan toko yang membentang sepanjang 2,5 kilometer!


Setelah pertempuran berat yang berlangsung di bulan Oktober 1942, 305. Infanterie-Division mampu menguasai blok-blok perumahan yang berada di sisi barat-laut Pabrik Traktor "Krasny Oktyabr" (Oktober Merah) dan, dalam gerak maju lanjutan ke arah barat, blok-blok di wilayah grid area 96d. Dari titik ini, divisi tersebut melakukan serangannya ke arah barat


 Selama berlangsungnya pertempuran untuk memperebutkan bagian utara kota Stalingrad, Rudolf Freigang mengambil beberapa buah foto yang memperlihatkan serangan 305. Infanterie-Division terhadap Pabrik Traktor "Krasny Oktyabr" (Oktober Merah). Foto ini memperlihatkan saat prajurit-prajurit dari divisi tersebut bergerak maju melalui jalanan diantara blok-blok perumahan (grid area 94) yang berdampingan dengan pabrik


 Seorang perwira (kanan, membelakangi kamera), yang kemungkinan adalah Kompaniechef, dari 389. Infanterie-Division sedang memberikan perintah pada anakbuahnya selama berlangsungnya jeda dalam pertempuran memperebutkan Pabrik Traktor "Krasny Oktyabr" (Oktober Merah), bulan Oktober 1942. Dengan begitu tingginya angka korban di kalangan perwira, maka tidak aneh bila di kancah Stalingrad seorang bintara menjadi komandan kompi atau prajurit memimpin peleton! Dalam foto ini, bintara di tengah memegang sebuah senapan mesin MP 40 9mm (yang biasa dipanggil oleh Landser sebagai "Kugelspritze" alias penyemprot peluru), sementara prajurit di kiri depan membawa senapan semi otomatis SVT-40 7.62mm buatan Soviet - dengan nama Jerman Selbstladegewehr 259(r). Perhatikan muka-muka mereka yang super butek!


Pasukan infanteri Jerman bersiap untuk menggerakkan sebuah senjata pendukung ringan leichtes Infanteriegeschütz 18 75mm (7,5 cm le.IG 18) maju ke arah depan selama berlangsungnya kontak senjata berat melawan pasukan Rusia di Stalingrad bulan Oktober 1942. Kompi senjata sebuah resimen infanteri biasanya dilengkapi dengan empat buah senjata 75mm dan satu 150mm. Perhatikan pinggiran perisainya yang bergelombang yang membantu pendistorsian bentuknya apabila dilihat dari kejauhan sehingga lebih sulit untuk dideteksi! Awak leichtes Infanteriegeschütz 18 dalam foto ini memakai pembungkus stahlhelm bercorak kamuflase dari bahan Zeltbahn sisa. Awak yang sudah berpengalaman biasanya mampu menembakkan 8 sampai 12 peluru per menit


Satu grup senapan mesin berat melindungi pergerakan pasukan infanteri Jerman saat mereka menginspeksi sebuah artileri-gerak Sturmgeschütz III 75mm yang di-K.O. oleh tembakan pasukan Rusia di Stalingrad, Oktober 1942. Adalah biasa bagi pihak yang berperang untuk menduduki kendaraan tempur yang tak berfungsi atau sudah rusak lalu menjadikannya sebagai benteng pertahanan. Para awak kendaraan lapis baja sendiri biasanya segan untuk maju ke medan yang dipenuhi oleh bangunan kecuali mendapatkan pengawalan dari pasukan infanteri agar bisa terlindungi dari serangan jarak dekat musuh


Seorang prajurit Heer menembakkan senapan mesin MG-34 di wilayah terluar kota Stalingrad sementara di latar belakang adalah deretan bekas rumah tinggal para pekerja Rusia, Oktober 1942. Di dekatnya tergeletak sebuah mitraliur ringan PPSh-41 hasil rampasan dari tangan Rusia serta sebuah senapan Mauser Kar.98k 7,92mm yang merupakan senjata infanteri standar Wehrmacht. Meskipun notabene berjenis karabin, para Landser tetap menyebutnya sebagai "Gewehr" (senapan), "Mauser Büchse" (Büchse=kontainer, meskipun bisa juga berarti senjata api dalam penyebutan kuno), "Mauser Karabiner", "Flint" (penyebutan umum untuk shotgun), atau "Knarre" (penyebutan umum untuk senapan)


Awak senapan mesin berat MG-34 Heer beraksi di pinggiran kota Stalingrad, Oktober 1942. Kompi senapan mesin batalyon infanteri Wehrmacht dilengkapi dengan dua peleton senapan mesin berat, yang masing-masingnya dipersenjatai dengan empat senapan mesin. Di wilayah terbuka mereka bertugas untuk melindungi bagian samping kompi senapan yang bergerak maju dengan cara menempatkan barisan senjata mereka ke arah lubang yang tercipta di antara unit lainnya atau ke tempat-tempat yang diduga menjadi arah datangnya serangan musuh. Peran mereka sedikit berbeda di wilayah dengan banyak bangunan dimana mereka akan bergerak paling depan bersama dengan peleton senapan dan kadangkala menjadi grup senapan mesin ringan yang hanya dilengkapi dengan bipod penunjang. Senjata andalan mereka tetaplah senapan mesin berdaya jangkau tinggi yang mampu menyemburkan tembakan secara akurat dan rapat


 Sekelompok Panzergrenadier ikut menumpang sebuah Sturmgeschütz III 7.5cm tak lama setelah berhasil merebut sebagian wilayah tengah kota Stalingrad dari pasukan Rusia, awal Oktober 1942. Di pinggir jalan para tawanan Soviet digiring ke arah depan untuk membersihkan puing-puing, menguburkan mayat tentara yang terbunuh, serta menyingkirkan ranjau dan jebakan yang masih tersisa. Kota ini tertutupi oleh debu yang berasal dari tanah yang terkoyak oleh ledakan serta sisa reruntuhan gedung yang hancur. Ketika hujan tiba, tanah serupa ini akan berubah menjadi kubangan lumpur yang memberikan kesulitan tambahan bagi kedua belah pihak yang bertempur


Dua orang prajurit Jerman berjalan ke arah bagian pusat kota Stalingrad yang telah dikuasai, Oktober 1942. Reruntuhan ini seakan menjadi saksi dari setiap pertempuran dan duel brutal yang telah terjadi diantara kedua belah pihak yang berseteru, yang tidak jarang berlangsung dari satu blok ke blok lainnya, dan dari satu rumah ke rumah yang lainnya. Pasukan Soviet yang bertahan kemudian merubah taktik mereka dan mulai menggunakan grup serbu berkekuatan kecil tapi bersenjata berat yang melakukan serangan kilat ke bangunan-bangunan dan pertahanan Jerman di medan operasi mereka


Sebuah meriam anti-tank 5cm PaK 38 Wehrmacht diposisikan untuk meng-cover jalanan di depannya demi mengantisipasi serangan balasan pihak Soviet di Stalingrad, Oktober 1942. Secara resmi posisi seperti tersebut dinamakan sebagai Panzerabwehrkanonenest (sarang senjata anti-tank), meskipun para Landser sendiri biasa menyederhanakannya dengan nama "Paknest". Kompi anti-tank sebuah resimen infanteri biasanya berkekuatan tiga peleton yang dilengkapi dengan empat PaK masing-masingnya. Senjata anti-tank dari jenis 3.7cm PaK 35/36 pada umumnya telah digantikan dengan 5cm PaK 38 yang berkaliber lebih besar karena terbukti tidak efektif dalam menghadapi tank-tank medium (T-34) dan berat (KV-1) Rusia


Di dalam sebuah bangunan di Stalingrad yang telah menjadi puing-puing, seorang awak senapan mesin Jerman yang tersembunyi menembakkan senjatanya ke arah posisi pasukan Rusia di seberang jalan, Oktober 1942. Pasukan Jerman kadangkala menghabiskan seharian hanya untuk membersihkan jalanan dari pasukan Soviet, dari satu ujung ke ujung lainnya, hanya untuk mendapati bahwa musuh nantinya menguasai kembali bangunan yang telah "bersih" tersebut ketika malam menjelang! Pertempuran jarak dekat yang membuat frustasi seperti ini - yang berlangsung di sela-sela reruntuhan rumah, bangunan apartemen, pabrik, ruang bawah tanah dan gorong-gorong - nantinya dengan sinis dinamakan para Landser sebagai "Rattenkrieg" (Perang Tikus)


Satu tim MG-34 Jerman bersiap-siap untuk keluar dari tempat perlindungan mereka dan pindah ke posisi pertahanan lainnya selama berlangsungnya pertempuran sengit di Stalingrad bulan Oktober 1942. Bayonet yang nampang dalam foto ini berasal dari jenis S.84/98, meskipun orang-orang di lapangan lebih sering menyebutnya sebagai Seitengewehr (sidearm). Dalam bahasa Inggris, istilah ini merujuk pada pistol dan senjata ringan genggam tangan lainnya, sementara dalam kosakata Wehrmacht dia hanya terbatas pada bayonet. Dalam bahasa Jerman pula, senjata genggam tangan biasa disebut sebagai Handwaffen (senjata tangan) atau Handfeuerwaffen (senjata api tangan)


 Sebuah tank KV-1 (Klimenti Voroshilov) Soviet yang telah KO teronggok di belakang sebuah parit kecil di perbatasan terluar kota Stalingrad, Oktober 1942. Beberapa tank berat dari jenis ini diterjunkan dalam Pertempuran sengit di kota tersebut. Bersenjatakan meriam 76,2mm dan tiga senapan mesin 7,62mm, mereka menjelma menjadi sebuah mesin perang yang menakutkan dan efektif. Meskipun begitu, tank-tank berat semacam ini tetap tak berdaya bila harus dihadapkan dengan tembakan meriam anti-tank 5cm PaK 38 dalam jarak dekat. Para Landser biasa menyebut parit (yang mempunyai nama resmi Schützenloch atau lubang menembak) sebagai Wolfgrabhügel (timbunan serigala) yang merupakan analogi dari lubang serigala


Dataran tinggi yang menghadap sungai Volga di Stalingrad dihiasi oleh banyak kelokan dan jurang berbahaya. Para Landser mengadopsi istilah Rusia "Balka" untuk menggambarkannya. Untungnya, tanah yang cukup lunak memudahkan prajurit-prajurit Jerman dalam hal pembuatan Unterschlupfe (lubang perlindungan) di pinggirannya, sesuatu yang biasa disebut Wohnbunker (bunker hunian) oleh mereka. Foto ini memperlihatkan sebagian awak senapan mesin berat Jerman sedang melihat aksi pertempuran yang terjadi di kejauhan sementara di dekat mereka terlipat sebuah Lafatte 34 (Dudukan Tripod 34). Foto kemungkinan besar diambil bulan Oktober 1942


Pasukan infanteri Jerman bergerak masuk melintasi puing-puing di pinggiran kota Stalingrad untuk membantu rekan-rekan mereka yang sedang bertempur disana, Oktober 1942. Meskipun wilayah tersebut notabene sudah diduduki, tapi bergerak melintasinya tetaplah berbahaya. Banyak jalan masuk ke kota yang masih ditanami ranjau darat, belum lagi sniper musuh yang tak henti-hentinya menimbulkan korban di kalangan tentara Wehrmacht. Para penanam ranjau Soviet akan menyergap kendaraan lapis baja Jerman yang melintas secara bergerombol dan melemparkan ranjau di depannya, melemparkan bahan peledak di dek mesin, menempelkan ranjau magnetik hasil rampasan di tubuh tank, atau hanya sekedar melontarkan bom molotov. Yang terakhir ini biasa disebut pasukan Rusia sebagai "Butylka s goryuchej smes' yu" (botol dengan bahan mudah terbakar) dan bukannya "Molotov Cocktail" karena menyebut nama pemimpin mereka sebagai bahan sindiran adalah terlarang dan bisa mendapatkan hukuman berat!


Bangunan-bangunan di kota Stalingrad terbakar hebat di malam hari setelah mendapat gempuran bomber-bomber Soviet di akhir bulan Oktober 1942. Pesawat-pesawat Rusia kini mendominasi langit malam di atas kota Stalingrad, suatu fakta yang cukup membuat terkejut pihak Jerman. Serangan-serangan udara yang berlangsung konstan ini membuat pasukan Jerman tidak dapat beristirahat dengan tenang. Akibatnya, jumlah korban yang diderita mulai naik secara drastis diiringi oleh kasus-kasus kelelahan mental, sementara moral di kalangan Landser mencapai titik terendah di sepanjang pertempuran. Pihak Jerman menyebut kelelahan mental akibat bertempur sebagai "Kriegsneurose" (Saraf Perang), sementara Landser yang menderita shock semacam ini biasa dijuluki sebagai "Hirnverletzt" (tersentuh di kepala)


Sebuah kendaraan pelopor lapis baja Sd.Kfz.231 bersenjatakan kanon terhenti di depan sebuah barikade yang dibuat secara terburu-buru oleh pasukan Soviet di salah satu jalan sempit yang mengarah ke bagian dalam kota Stalingrad, akhir Oktober 1942. Ranpur satu ini mendapat sentuhan cat dasar abu-abu gelap yang dilapisi oleh pola kamuflase kuning tua di sekujur tubuhnya. Kendaraan semacam ini biasa diberikan kepada batalyon pelopor atau divisi panzer dan infanteri bermotor


General der Panzertruppe Friedrich Paulus (Oberbefehlshaber 6.Armee) berbincang-bincang dengan dua orang komandan sturm-artillerie yang berada di bawah komandonya. Di sebelah kiri adalah Major Paul Gloger (Kommandeur Sturmgeschütz-Abteilung 244), sementara di kanan adalah Major Hans Zielesch (Kommandeur Sturmgeschütz-Abteilung 245). Foto ini diambil tanggal 21 atau 22 Oktober 1942 saat rancangan final telah dibuat untuk penyerbuan Pabrik Krasny Oktyabr oleh 79.Infanterie-Division yang akan dilakukan esok harinya (23 Oktober 1942)


Tiga foto yang diambil pada waktu berurutan ini memperlihatkan seorang perwira Heer (berkacamata dan mengkamuflase tanda pangkat di bahunya dengan menggunakan penutup kain) bersama dengan grup serbu infanteri pimpinannya yang berlindung di balik tembok bangunan pabrik di bagian utara kota Stalingrad, akhir bulan Oktober 1942. Kita bisa melihat wajah-wajah tegang dan penuh kewaspadaan dari mereka, dimana mereka mencari tanda keberadaan musuh sebelum bergerak ke tempat yang lebih terbuka. Mereka dipersenjatai dengan senjata-senjata standar sebuah regu senapan infanteri Wehrmacht: Karabin Kar.98k 7.92mm, senapan mesin MG-34 7.92mm, senapan mesin ringan MP-40 9mm, dan granat tangan Stg.24. Stahlhelm (helm besi) M35 yang mereka kenakan - beberapa diantaranya dilapisi dengan kain kamuflase - mendapat banyak sebutan di kalangan para Landser (prajurit), seperti Helm (helm), Blechhut (topi seng), Hurratüte, dan Parteihut (dua yang disebut terakhir sama-sama bermakna topi pesta)


Barisan tawanan perang Jerman yang ditangkap di medan perang Stalingrad di awal bulan November 1942 berjalan menuju tempat penahanan mereka dengan melintasi beberapa warga Rusia yang menonton di pinggir jalan. Pada periode pertempuran di bulan ini, pasukan Soviet dengan lambat tapi pasti mulai menutup cengkeraman raksasas mereka di sekeliling kota Stalingrad. 6. Armee dan sekutunya kini berkubang di lautan darah dan peluru


Akhir bulan Oktober 1942: Para prajurit dari 113. Infanterie-Division berlarian keluar dari lubang perlindungan mereka untuk menyerbu musuh dengan senjata ringan mereka. Menggali parit pertahanan dengan bermodalkan sekop lipat pendek yang mereka miliki adalah sebuah hal yang teramat sulit di sekitar kota Stalingrad yang dipenuhi oleh bangunan, puing-puing dan tanah keras. Pertempuran yang konstan, kekurangan pasokan amunisi dan kelelahan luar biasa menjadi makanan sehari-hari para Landser malang ini


Dua orang prajurit Jerman di reruntuhan puing kota Stalingrad, akhir bulan Oktober 1942. Yang satu (depan) bersenjatakan senapan mesin ringan MP-40, sementara rekannya cukup bermodalkan senapan Kar.98k ditambah dengan dua buah Stielhandgranate 24 yang diselipkan di balik ikat pinggang serta peralatan penggali. Stahlhelm prajurit di belakang diberi tambahan kawat untuk mengikat dedaunan dan kamuflase lainnya. Di akhir bulan Oktober tersebut cuaca masih terasa hangat dengan hujan yang kerapkali terjadi, tapi kemudian - di hari-hari terakhir bulan Oktober - temperatur mulai turun drastis sampai di bawah 0º Celcius. Hujan musim gugur juga membawa serta rasputitza (bahasa Rusia untuk menyebut "lumpur besar"). Meskipun kedua prajurit di atas masih memakai pakaian musim panas mereka, tapi tak lama lagi mereka akan menggantikannya dengan pakaian yang lebih hangat yang disediakan oleh Reich melalui jalur perbekalan yang membentang ribuan kilometer dari Soviet, Polandia, sampai ke Jerman


Perwira-perwira tinggi Wehrmacht berdiri di depan pos komando mereka yang dibangun di sebuah terowongan yang menghadap pinggir sungai Volga yang membeku, akhir bulan Oktober 1942. Para petinggi militer ini biasa disebut oleh Landser sebagai "Bronzen" (Perunggu), yang biasa terdiri dari komandan dan staffnya. Beberapa bulan sebelumnya bisa jadi pos komando yang sama digunakan oleh pasukan Soviet yang tersingkir. Cuaca yang bertambah dingin terlihat dari berbagai rupa pakaian hangat yang mereka kenakan, dari kiri ke kanan: jaket penahan angin pasukan gunung, mantel kulit berlapis bulu, seragam standar, dan mantel standar


 Foto yang memperlihatkan dampak kehancuran dari sebuah bangunan yang direbut oleh 389. Infanterie-Division dari tangan pasukan Rusia di akhir bulan Oktober 1942. Pada awal bulan November 1942 kota Stalingrad telah benar-benar hancur lebur akibat dari pertempuran brutal yang berkepanjangan. Meskipun pasukan Rusia telah terdesak habis sampai tinggal beberapa kantong pertahanan yang masih tersisa, tapi mereka masih ngotot bertempur tak mau menyerah dan bahkan tetap rutin mengirim prajurit-prajurit baru ke dalam Kessel (kantong pertahanan) menggunakan jalur terowongan bawah tanah


General der Panzertruppe Friedrich Paulus (kanan) dan General der Artillerie Walther von Seydlitz-Kurzbach (Kommandierender-General LI.Armee-Korps) di sebelah utara Stalingrad, November 1942. Paulus meneropong situasi di front pertempuran melalui Scherenfernrohr, atau yang lebih populer disebut sebagai "teropong gunting". Foto oleh Kriegsberichter Jesse dari PK (Propaganda-Kompanie) 690


 Di tengah puing-puing sebuah pabrik besar di Stalingrad, seorang Feldwebel dari unit Grenadier menyiapkan roti bakarnya di sebuah tungku sederhana sambil mengoleskan selai/mentega sebagai penambah rasa. Di sakunya tercantol medali Eisernes Kreuz I.Klasse dan Infanterie-Sturmabzeichen. Beberapa saat sebelumnya unitnya menduduki tempat tersebut dan untuk sementara tidak ada baku tembak yang terjadi. Foto ini dibuat oleh Kriegsberichter Herber dan pertama kali dipublikasikan bulan November 1942


 General der Panzertruppe (Kommandierender General LVII. Panzerkorps) memerintahkan 6. Panzer-Division untuk melanjutkan gerak majunya dari Vasiljevka ke Stalingrad, tapi Oberst Walther von Hünersdorff (Kommandeur Panzer-Regiment 11 / 6.Panzer-Division) meminta atasannya tersebut untuk datang langsung ke jembatan penghubung disana dan melihat sendiri sebesar apa jumlah pasukan Rusia yang menghadangnya. Setelah Kirchner turun langsung, dia akhirnya insyaf bahwa gerak maju untuk menyelamatkan 6. Armee di kantong Stalingrad hampir mustahil dilaksanakan. Disini terlihat jenderal Kirchner (memakai feldmütze) sedang mendapat keterangan dari Oberst Hünersdorff, sementara di belakang mereka yang memakai topi bulu Rumania adalah Oberst Martin Unrein (Kommandeur Panzergrenadier-Regiment 4 / 6.Panzer-Division)



 Pada tanggal 26 Januari 1943 pasukan Jerman di Stalingrad terbelah menjadi dua kantung pertahanan: kantung utara berpusat di bekas pabrik traktor, sementara kantung selatan yang lebih kecil berpusat di wilayah tengah kota. Pada tanggal 31 Januari 1943 kantung selatan yang dipimpin oleh Generalfeldmarschall Friedrich Paulus menyerah, sementara kantung utara (yang dipimpin oleh Generaloberst Walter Heitz) melakukan hal yang sama dua hari kemudian (2 Februari 1943). Dengan ini nasib ratusan ribu tentara Poros dari 6. Armee yang terkepung di Stalingrad sudah berakhir


Generalfeldmarschall Friedrich Paulus (memakai schirmmütze) di hari penyerahan dirinya tanggal 31 Januari 1943. Pria bercambang memakai ushanka adalah Generalleutnant Arthur Schmidt (Chef des Generalstabes 6.Armee), sementara yang memakai jaket bulu adalah ajudan Paulus, Oberst Wilhelm Adam. Mereka sedang berangkat untuk menemui Mikhail Shumilov, komandan 64th Army Soviet, di Beketovka. Foto oleh Georgi Lipskerov


Generalfeldmarschall Friedrich Paulus dan Generalleutnant Arthur Schmidt (Chef des Generalstabes 6.Armee) di hari penyerahan dirinya. Hubungan sang Marsekal dan kepala staff-nya begitu dekat. Sebelum Paulus diinterogasi oleh Soviet dia bertanya kepada Schmidt bagaimana dia harus bersikap. Schmidt menjawab, "Ingat bahwa kau adalah Marsekal AD Jerman". Disini, berdasarkan kesaksian interogator Soviet, Schmidt menggunakan kata "du" (kau) untuk memanggil Paulus dan bukannya "Herr Feldmarschall" seperti layaknya bawahan kepada atasan!


Generalfeldmarschall Friedrich Paulus dan Oberst Wilhelm Adam (Adjudant AOK 6.Armee). Sang ajudan meraih Ritterkreuz tanggal 17 Desember 1942. Seusai perang dia berkarir di Kasernierte Volkspolizei Jerman Timur dan pensiun dengan pangkat Generalmajor. Sebelumnya dia adalah Nasional-Sosialis tulen yang ikut serta dalam kudeta Hitler yang gagal di Münich tahun 1923


Generalfeldmarschall Friedrich Paulus bersiap untuk menjalani interogasi pertamanya sebagai tawanan perang Rusia tanggal 31 Januari 1943, di hari yang sama dengan penyerahan 6.Armee di kantong Stalingrad. Kita bisa melihat di foto ini, foto sebelum dan sesudahnya bagaimana depresi dan kesedihan luar biasa begitu tampak di wajahnya!


Para komandan korps Wehrmacht yang menyerah di Stalingrad. Baris depan dari kiri ke kanan: General der Infanterie Karl Strecker (Kommandierender General XI. Armeekorps), General der Artillerie Walther von Seydlitz-Kurzbach (Kommandierender General LI. Armeekorps), Generaloberst Walter Heitz (Kommandierender General VIII. Armeekorps), dan General der Artillerie Max Pfeffer (Kommandierender General IV. Armeekorps). Semuanya menyerah pada tanggal 31 Januari 1943 kecuali Strecker yang menyerah pada tanggal 2 Februari 1943


Para perwira tinggi Wehrmacht yang menyerah di Stalingrad tanggal 2 Februari 1943. Yang memakai ushanka putih (topi bulu khas Rusia) adalah Generalleutnant Arno von Lenski (Kommandeur 24. Panzer-Division), sementara di sebelah kanannya adalah Generalmajor Martin Lattmann (Kommandeur 389. Infanterie-Division). Komandan "asli" 389. Infanterie-Division sebenarnya adalah Generalmajor Erich Magnus (Kommandeur 389. Infanterie-Division), tapi karena dia menderita sakit maka dari sejak tanggal 19 Januari 1943 tampuk kepemimpinan dipegang untuk sementara oleh Lattmann walaupun, di dalam kertas, jabatan resmi Magnus masih sebagai komandan divisi infanteri tersebut


Para perwira tinggi 6. Armee yang menyerah di Stalingrad. Dari kiri ke kanan: Mayor Jenderal Romulus Dimitrescu (Komandan Divisi Infanteri Rumania ke-20 pengganti Mayor Jenderal Nicolae Tataranu. Menyerah tanggal 2 Februari 1943), Generalleutnant Alexander Edler von Daniels (Kommandeur 376. Infanterie-Division. Menyerah tanggal 29 Januari 1943), Generalleutnant Helmuth Schlömer (Kommandierender General XIV. Panzerkorps. Menyerah tanggal 29 Januari 1943), Generalstabsarzt Prof. Dr. Otto Renoldi (Armeearzt 6. Armee. Menyerah tanggal 24 Januari 1943), dan Generalmajor Moritz von Drebber (Kommandeur 297. Infanterie-Division. Menyerah tanggal 25 Januari 1943)


 Para perwira tinggi 6. Armee yang menyerah di Stalingrad. Dari kiri ke kanan: Mayor Jenderal Romulus Dimitrescu (Komandan Divisi Infanteri Rumania ke-20 pengganti Mayor Jenderal Nicolae Tataranu. Menyerah tanggal 2 Februari 1943), Generalleutnant Alexander Edler von Daniels (Kommandeur 376. Infanterie-Division. Menyerah tanggal 29 Januari 1943), Generalleutnant Helmuth Schlömer (Kommandierender General XIV. Panzerkorps. Menyerah tanggal 29 Januari 1943), Generalmajor Moritz von Drebber (Kommandeur 297. Infanterie-Division. Menyerah tanggal 25 Januari 1943), dan Generalstabsarzt Prof. Dr. Otto Renoldi (Armeearzt 6. Armee. Menyerah tanggal 24 Januari 1943)

Para perwira tinggi Wehrmacht yang menyerah di Stalingrad. Dari kiri ke kanan: Generalleutnant Carl Rodenburg (Kommandeur 76. Infanterie-Division. Menyerah tanggal 31 Januari 1943), Generalmajor Martin Lattmann (Kommandeur 389. Infanterie-Division. Menyerah tanggal 2 Februari 1943), Generalleutnant Werner Sanne (Kommandeur 100. Jäger-Division. Menyerah tanggal 31 Januari 1943), dan General der Infanterie Karl Strecker (Kommandierender General XI. Armeekorps. Menyerah tanggal 2 Februari 1943)



Para perwira tinggi Wehrmacht yang menyerah di Stalingrad. Dari kiri ke kanan: Generalleutnant Werner Sanne (Kommandeur 100. Jäger-Division. Menyerah tanggal 31 Januari 1943), Generalmajor Ulrich Vassoll (Artillerie-Kommandeur 144 / IV.Armeekorps. Menyerah tanggal 31 Januari 1943), General der Infanterie Karl Strecker (Kommandierender General XI. Armeekorps. Menyerah tanggal 2 Februari 1943), perwira Heer tak dikenal (membelakangi kamera), Generalmajor Erich Magnus (Kommandeur 389. Infanterie-Division. Menyerah tanggal 2 Februari 1943), dan Generalleutnant Carl Rodenburg (Kommandeur 76. Infanterie-Division. Menyerah tanggal 31 Januari 1943)


 Para perwira tinggi Wehrmacht yang menyerah di Stalingrad. Dari kiri ke kanan: General der Infanterie Karl Strecker (Kommandierender General XI. Armeekorps), Generalleutnant Werner Sanne (Kommandeur 100. Jäger-Division), Generalmajor Erich Magnus (Kommandeur 389. Infanterie-Division), perwira Heer tak dikenal (membelakangi kamera), dan Generalleutnant Carl Rodenburg (Kommandeur 76. Infanterie-Division)



Para perwira Wehrmacht yang menyerah di Stalingrad tanggal 2 Februari 1943. Yang memakai monokel di tengah adalah Oberst Dr.-ing. Albrecht Czimatis yang merupakan Führer 305. Infanterie-Division setelah komandan aslinya, Oberst im Generalstab Bernhard Steinmetz, terluka dalam pertempuran tanggal 3 Januari 1943. Deutsches Kreuz in Gold yang tertempel di dadanya didapatkannya tanggal 2 Juli 1942 sebagai Kommandeur Artillerie-regiment 83 / 100.Jäger-Division. Disini kita juga bisa melihat Oberst im Generalstab Bernd Leonid von Pezold (memakai seragam hitam Panzertruppen) yang merupakan Ia Erster Generalstabsoffizier (Führung und Ausbildung) dari 14. Panzer-Division; serta Generalmajor Hans-Adolf von Arenstorff (memakai ushanka di belakang Czimatis) yang merupakan Kommandeur 60. Infanterie-Division (motorisiert)


Generalfeldmarschall Friedrich Paulus bertemu dengan jenderal-jenderal Jerman lainnya yang ditawan di Stalingrad, 4 Februari 1943. 1.Generalleutnant Alexander Edler von Daniels (Kommandeur 376.Infanterie-Division). 2.Generalleutnant Hans-Heinrich Sixt von Armin (Kommandeur 113.Infanterie-Division). 3.Generaloberst Walter Heitz (Oberbefehlshaber 15.Armee). 4.Oberst Wilhelm Adam (Adjudant AOK 6.Armee). 5.Generalfeldmarschall Friedrich Paulus (Oberbefehlshaber 6.Armee)


Generalfeldmarschall Friedrich Paulus diwawancarai oleh wartawan Soviet setelah menyerah. Di sebelah kirinya adalah Generalleutnant Arthur Schmidt (Chef des Generalstabes 6.Armee). Schmidt lah yang secara de facto menjadi komandan 6.Armee di hari-hari terakhir pertempuran Stalingrad ketika Paulus menderita depresi berat akibat kepungan Rusia


Interogasi terhadap Generalfeldmarschall Friedrich Paulus yang dilaksanakan di Markas besar Front Don Tentara Merah. Dari kiri ke kanan: General-Polkovnik (Kolonel Jenderal) Konstantin Rokossovskiy; Marshal roda voisk (Marsekal Artileri) Konstantin Nikolay Voronov; penterjemah Kapten Nikolay Dyatlenko; dan Marsekal Paulus. Paulus sendiri menyerahkan diri pada pasukan 64th Army di bawah komando Mikhail Shumilov


Friedrich Paulus di markas besar Tentara Merah di Stalingrad sedang menunggu untuk diinterogasi tanggal 1 Maret 1943. Dia adalah Marsekal pertama Jerman yang menjadi tawanan perang, dan membuyarkan harapan Hitler bahwa dia akan bertempur sampai mati (atau mengambil hidupnya dalam kekalahan). Yang ada malahan, dia menjadi vokal terhadap Nazi selama dalam tahanan Soviet, dan kemudian menjadi saksi yang memberatkan terdakwa dalam persidangan Nürnberg periode 1945-1946!


Para perwira tinggi 6.Armee dalam tawanan Soviet, dari kiri ke kanan: Generalleutnant Arthur Schmidt (Chef des Generalstabes 6.Armee); Generalfeldmarschall Friedrich Paulus (Oberbefehlshaber 6.Armee); Oberst Wilhelm Adam (Adjudant AOK 6.Armee); dan General der Artillerie Walther von Seydlitz-Kurzbach (Kommandierender-General LI.Armee-Korps). Disini Paulus mengenakan kragenspiegel (tanda pangkat kerah) Generalfeldmarschall. Pada tanggal 25 Februari 1943 sang Marsekal meminta pihak berwenang Rusia di kamp Krasnogorsk untuk mengizinkan dirinya mengontak atase militer Jerman di Turki, Generalleutnant Hans Rohde. Dia kemudian meminta enam pasang insignia Generalfeldmarschall agar bisa mengenakannya di masa depan. Perlu diingat bahwa Paulus dipromosikan sebagai Marsekal di hari terakhir penyerahan dirinya di Stalingrad, jadi pada saat itu dia masih memakai insignia Generaloberst. Yang jelas, jahitan kragenspiegel-nya sendiri tampak tidak terlalu rapi!


Foto-foto Friedrich Paulus sebagai tahanan Soviet bersama dengan Generalleutnant Arthur Schmidt. Pada awalnya dia menolak tawaran kerjasama dari pihak musuh, namun kemudian setelah Plot 20 Juli 1944 Paulus menjadi pengkritik yang sangat vokal terhadap rezim Nazi Jerman. Dia lalu bergabung dengan Nationalkomitee Freies Deutschland (Komite Nasional untuk Jerman Merdeka) yang disponsori Rusia dan secara terang-terangan meminta negaranya untuk menyerah. Tidak heran dia lalu dianggap oleh Hitler sebagai pengkhianat dan keluarganya pun ditangkap


Para jenderal Wehrmacht di Stalingrad yang difoto di musim semi/panas 1943 saat telah menjadi tawanan Rusia: 1.Generalmajor Dr.rer.pol. Otto Korfes (Kommandeur 295.Infanterie-Division); 2.Generalleutnant Arno von Lenski (Kommandeur 24.Panzer-Division); 3.Oberst i.G. Wilhelm Adam (Adjudant AOK 6.Armee); 4.Generalfeldmarschall Friedrich Paulus (Oberbefehlshaber 6.Armee); 5.Generaloberst Walter Heitz (Oberbefehlshaber 15.Armee); 6.Generalstabsarzt Prof.Dr. Otto Renoldi (Armeearzt 6.Armee); 7.susah dilihat mukanya!; dan 8.Generalleutnant Carl Rodenburg (Kommandeur 76. Infanterie-Division)


 Jenderal-jenderal Axis yang ditawan oleh Soviet di akhir Pertempuran Stalingrad tanggal 14 Februari 1943. Dari kiri ke kanan: General de Brigada Romulus Dimitriu (Komandan Divisi Infanteri Rumania ke-20), Generalmajor Alexander Edler von Daniels (Kommandeur 376. Infanterie-Division), Generalleutnant Helmuth Schlömer (Kommandierender General XIV. Panzerkorps), Generalmajor Moritz von Drebber (Kommandeur 297. Infanterie-Division), dan Generalstabsarzt Dr. Otto Renoldi (Armeearzt 6. Armee)


Mayat-mayat tentara Jerman yang tewas dalam neraka di Stalingrad. Pertempuran Stalingrad, yang terjadi pada 23 Agustus 1942 hingga 2 Februari 1943, merupakan pertempuran sengit antara Jerman dan sekutunya melawan Uni Soviet, memperebutkan kota Stalingrad (yang sekarang bernama Volgograd). Pertempuran ini dianggap sebagai titik balik Perang Dunia II, dan sebagai pertempuran paling berdarah sepanjang sejarah, dimana 1,5 juta orang lebih terbunuh dari kedua pihak! Kedua pihak bertempur dengan brutal dan tidak memperdulikan korban warga sipil. Pertempuran ini terdiri dari beberapa fase, yaitu pengepungan Jerman terhadap Stalingrad, pertempuran dalam kota, serangan balik Soviet, serta pengepungan serta penghancuran kekuatan-kekuatan Poros di sekitar Stalingrad, yang ditulangpunggungi oleh 6. Armee Jerman pimpinan Generalfeldmarschall Friedrich Paulus


Ekspresi kematian seorang Obergefreiter dari Wehrmacht yang tewas membeku di Stalingrad bulan Februari 1943. Foto oleh Sergey Strunnikov yang diambil dari album “Stalingrad. February-March 1943“. Mayat-mayat pasukan yang gugur dalam Pertempuran Stalingrad, baik pihak Jerman maupun Rusia, kebanyakan tidak dikuburkan. Mereka ditumpukkan di sebuah lubang untuk kemudian dibakar dengan menggunakan bensin demi mencegah tersebarnya penyakit menular



Sumber :
Buku "Island Of Fire: The Battle For the Barrikady Gun Factory In Stalingrad November 1942 - February 1943" karya Jason D. Mark
Buku "Stalingrad Inferno: The Infantryman's War" karya Gordon Rottman dan Ronald Volstad
Buku "The 6th Panzer Division: 1937-45" karya Oberst a.D. Helmut Ritgen
Buku "Winter Storm: The Battle for Stalingrad and the Operation to Rescue 6th Army" karya Hans Wijers
Foto koleksi Bundesarchiv Jerman
Foto koleksi pribadi Otto Bauer
Foto koleksi pribadi Richard Kimmel
www.albumwar2.com
www.bildarchivaustria.at
www.en.wikipedia.org
www.flickr.com
www.forum.axishistory.com
www.geocities.com
www.incredibleimages4u.blogspot.com 
www.luftwaffe.cz 
www.ritterkreuztraeger-1939-45.de
www.stalingrad.net
www.warrelics.eu
www.wehrmacht-awards.com
www.zalizyaka.livejournal.com

No comments: