Wednesday, August 3, 2011

Fakta-Fakta Menarik Dari Hans-Joachim Marseille


Untuk biografi Hans-Joachim Marseille bisa dilihat DISINI

Untuk foto-foto terbaik Hans-Joachim Marseille bisa dilihat DISINI

Untuk kisah luar biasa Hans-Joachim Marseille saat tersesat di Afrika bisa dilihat DISINI


Oleh : Alif Rafik Khan

Saya rangkum fakta-fakta mesum yang sayang untuk dilewatkan ini dari buku “German Fighter Ace Hans-Joachim Marseille; The Life Story of the Star of Africa” karya Franz Kurowski. Sangat disarankan untuk dibaca, dan anda bisa membelinya di pabrik lekdut terdekat. OK beibeh, kita mulai:

1. Nenek moyang Hans-Joachim Marseille merupakan orang-orang Huguenot Prancis yang terusir dari negaranya pada abad ke-17 dan ke-18 karena keyakinannya yang dianggap “sesat”. Ini menjelaskan nama ‘Marseille’ yang melekat pada diri dan keluarganya.

2. Satu jam sebelum kelahirannya, sebuah gantungan dinding di kamar sebelah di rumahnya terlepas dan menimpa sebuah rak kaca berisi jambangan Kristal, mangkuk dan barang pecah-belah lainnya. Akibatnya, isinya jatuh ke lantai dan pecah berserakan. Anehnya, sang calon ibu (Frau Charlotte Marseille) melihatnya sebagai pertanda baik, dan yakin bahwa “piring yang berserakan membawa keberuntungan”!

3. Waktu kecilnya Hans-Joachim Marseille adalah seorang anak yang lemah, dan bahkan hampir meninggal karena penyakit influenza yang parah. Dia juga baru bisa berjalan setelah usia tiga tahun!

4. Satu ketika, saat keluarga Marseille pindah ke apartemen yang lebih besar dan indah, Charlotte membawanya di pangkuannya sambil berdiri di pintu masuk untuk memberi arahan barang-barang yang harus ditempatkan. Bayi Jochen (panggilan Hans-Joachim) tiba-tiba berteriak begitu kencangnya. Salah seorang pembawa barang, yang saat itu membawa lemari di punggungnya, nyeletuk sambil melintas, “Bocah ini mempunyai suara keras seperti Fritz Ebert. Dia akan menjadi orang besar saat dewasa nanti.” Friedrich Ebert sendiri adalah Kanselir Jerman yang ditunjuk oleh Reichskanzler Prinz Max von Baden tanggal 9 November 1918 saat Kekaisaran Jerman jatuh di akhir Perang Dunia I. dia kemudian menjadi Reichspresident pro tern tanggal 2 Februari 1919.

5. Sewaktu sekolah Jochen terkenal sebagai seorang anak yang nakal dan susah diatur. Guru-gurunya sudah pusing dengan kelakuannya, juga orangtuanya yang hampir setiap saat mendapat komplain dari pihak sekolah. Seorang gurunya yang bernama Dr.Paetzold rupanya bisa mengerti bahwa di balik kelakuan yang ble’e-ble’e ini terdapat suatu potensi besar dalam diri Jochen. Suatu waktu Paetzold mengatakan kepadanya, “Dengarkan aku, anak muda. Seperti yang bisa kamu temukan dimanapun di dunia ini, di sekolah ini kamu juga bisa menemukan dua tipe manusia: orang baik-baik dan orang yang tidak berguna. Orang tidak berguna adalah orang yang menghindari masalah hanya dengan melalui tongkat atau hukuman indisipliner lainnya. Di lain pihak, orang baik-baik dapat berubah menjadi orang yang berguna dan laki-laki sejati melalui prestasi dan penghargaan. Aku telah banyak mendengar tentang diri dan kelakuanmu. Di masa mendatang aku hanya ingin mendengar kata-kata pujian tentangmu, dan itu itu pun hanya bila aku memintanya.” Rupanya kata-kata ini berkesan dalam diri Jochen. Setelah itu dia memang tidak langsung menjadi seorang pelajar teladan, tapi setidaknya Jochen tidak lagi menjadi masalah di kelasnya. Dia bahkan kemudian menjadi salah seorang lulusan termuda di sekolahnya!

6. Ketika baru masuk ke Luftwaffe, tubuhnya yang lemah dan kecil membuatnya diberi kompensasi untuk tidak melakukan beberapa pekerjaan yang ‘berat-berat’. Bukannya senang, hal ini malah membuatnya marah dan dianggapnya sebagai sebuah penghinaan pribadi. dia menuntut untuk disamakan dengan yang lainnya, dan tidak berhenti sampai dengan dia diberikan tugas tersebut. Hal ini membuat teman-temannya tambah suka kepadanya, karena Jochen tidak sok dan mentang-mentang dengan adanya ayahnya (Siegfried Marseille, pangkat terakhir Generalleutnant) yang merupakan orang berpangkat di Luftwaffe.

7. Jochen juga mempunyai bakat sulap yang mengagumkan, dan sering memukau teman-teman, pacar dan keluarganya dengan kemampuannya tersebut.

8. Tidak ada keraguan di setiap orang yang membaca kisahnya bahwa bakat terbesar seorang Hans-Joachim Marseille adalah menerbangkan pesawat tempur. Baru beberapa minggu saja diajar di Luftwaffe, dia sudah menerbangkan pesawatnya layaknya seorang veteran! Saking kagumnya, salah seorang rekan kadetnya sampai berucap, “berikan Jochen sepasang sayap, dan dia akan langsung terbang saat itu juga dengannya!”

9. Suatu saat dia melakukan penerbangan cross-country yang kedua. Ketika melintasi Autobahn (jalan tol) di bawahnya yang terlihat lengang, Jochen tergoda untuk mendaratkan pesawatnya disana, dan itu lalu dilakukannya! Sekelompok petani berhamburan ke arahnya untuk melakukan pertolongan pertama karena menyangka dia mendarat secara darurat. Yang ada adalah, Jochen melambaikan tangan kepada mereka, lalu mengudara kembali! Keesokan paginya berita ini telah tersebar kemana-mana, dan bahkan kepala sekolah penerbangannya pun mengetahuinya. Tentu saja Jochen lalu mendapatkan hukuman sekaligus catatan merah di buku prajuritnya!

10. Suatu saat dia menerbangkan pesawat bareng teman-temannya. Tiba-tiba dia langsung bertingkah layaknya sedang bertempur di udara, dan pesawatnya berputar-putar layaknya pemain acrobat dengan gaya menenun hanya beberapa meter dari landasan! Tentu saja ini merupakan pelanggaran peraturan yang serius, dan akibatnya promosi pangkat Jochen ditunda!

11. Tingkah Jochen yang sulit diatur dan seenaknya berlanjut bahkan setelah dia menjadi seorang prajurit. Pada musim dingin 1941 dia masih berpangkat Oberfähnrich, sementara rekan-rekan seangkatannya sudah banyak yang menjadi perwira muda. Satu-satunya alasan yang membuat dia tidak dipecat adalah karena ayahnya yang berpangkat itu.

12. Dalam misi tempur pertamanya di hari pertama dia diterjunkan ke dalam pertempuran (di Selat Dover), Jochen berhasil menembak jatuh lawannya yang merupakan pilot Inggris berpengalaman. Di hari kelimanya dalam pertempuran dia sudah menghancurkan empat pesawat lawan sehingga dianugerahi Eiserne Kreuz I klasse!

13. Bukannya senang, para atasannya malah sebel pada Jochen karena satu hal: setiap kali dia pulang dari misi, pesawatnya hampir pasti bolong-bolong bekas tembakan. Satu kali malah dia ditembak begitu parahnya sampai harus melakukan pendaratan darurat di pantai! Ini karena keberanian Jochen yang luar biasa, yang selalu ingin bertempur dan bertempur, sementara pengalamannya masih minim dan tidak dibarengi dengan kematangan berpikir.

14. Suatu ketika, ketika dia kembali harus mendaratkan pesawatnya secara darurat di Cap Gris Nez (Prancis), seorang staff dokter senior yang bertugas di wilayah penyelamatan laut-udara di tempat tersebut (yang telah merawat Jochen di tempat yang sama tiga kali sebelumnya karena alasan yang sama), mengatakan dengan sinis bahwa kalau lain kali dia mendarat darurat lagi, dia harus menghubungi sang dokter di muka! Jochen diselimuti oleh kemarahan lalu mandi, pulang ke markas, minum Topi Miring, meminjam sepeda motor Staffelkapitännya, dan pergi. Sialnya lagi, motor pinjaman itu kemudian malah menabrak pohon sehingga Jochen kena hukuman dari atasannya! Apeeessss….

15. Suatu kali dia ditugaskan sebagai wingman. Seperti semua wingman lainnya, tugas utamanya adalah untuk melindungi pilot lain dan bukan bertempur. Dasar bandel, ketika melihat puluhan pesawat Inggris datang dan wing leadernya memutuskan untuk balik lagi ke markas, Jochen malah maju untuk memburu sebuah Hurricane yang menyasar ke wing leadernya. Pesawat musuh langsung nyungseb dan nyawa wing leadernya pun terselamatkan. Jochen tidak mengharapkan apa-apa dari tindakan ini selain ucapan selamat kecil semacam “bagus, Jochen!”, itu saja. Tapi ketika mendarat, dia dipanggil oleh sang Staffelkapitän, Oberleutnant Johannes Steinhoff, dan dihukum tiga hari tidak mengudara karena telah melanggar perintah!

16. Beberapa hari setelah tindakan “indisipliner” ini, unitnya mendapat kunjungan dari jenderal Luftwaffe. Karena sudah terkenal sebagai tukang akrobat, Jochen lah yang ditugaskan untuk menghibur sang jenderal dan tamu lainnya dengan kemampuannya mengudara. Aksi pertama mengundang decak kagum dari penonton, terutama sang jenderal yang tidak menyangka bahwa ada Fähnrich (rekrutan baru) muda yang punya kemampuan sebegitu bagusnya. Padahal kenyataannya Jochen sudah bukan rekrutan lagi, hanya saja dia mendapat penundaan kenaikan pangkat seperti telah diceritakan sebelumnya! Aksi kedua lalu dilakukan. Jochen mengarahkan pesawatnya begitu rendahnya (kurang dari dua meter dari tanah!) dan sayap pesawatnya menyentuh sebuah sapu tangan yang diletakkan di ujung sebuah tiang bambu. Ini adalah tindakan yang luar biasa berbahaya dan berani. Untuk aksi yang membuat para penonton ternganga ini, lalu apa yang didapatkan oleh Jochen? Hukuman (lagi) untuk tidak mengudara selama lima hari karena melakukan aksi tidak masuk akal yang membahayakan pesawat dan nyawanya!

17. Sang Staffelkapitän Steinhoff, yang dipusingkan oleh ulah Jochen, lalu merancang cara agar anakbuahnya yang ‘mbalelo’ ini dipindahkan dari unitnya. Akhirnya kesempatan itu datang dan Jochen pun ditransfer ke Jagdgeschwader 27 yang bermarkas di Afrika. Kata-kata dari Steinhoff (yang juga adalah seorang jagoan udara terkemuka Luftwaffe) tentang Jochen: “Marseille adalah seorang pemuda yang luar biasa tampan. Dia juga mempunyai bakat sebagai seorang pilot tempur yang tidak main-main. Tapi sayangnya, dia tidak dapat diandalkan. Pacarnya berserakan dimana-mana, dan kadang-kadang urusan ini begitu menyita waktu dan tenaganya sehingga dia terlalu lelah untuk mengudara. Sikapnya yang tidak bertanggungjawab akan tugas inilah yang merupakan alasan utama kenapa aku memindahkannya. Tapi satu yang jelas, dia mempunyai daya tarik yang besar kepada siapapun yang berdekatan dengannya, baik oleh fisik maupun tingkahnya yang selalu ceria dan penuh humor.”

18. Di Front Barat Jochen mencetak tujuh kemenangan udara, tapi hanya tiga yang disertai konfirmasi oleh saksi-mata. Ini menjelaskan kebiasaannya sebagai seorang “penyendiri” yang tidak suka beraksi beramai-ramai dan main keroyokan. Dahsyatnya. Enam kali Jochen dipaksa harus mendarat darurat, dan entahlah berapa kali dia pulang ke markas dengan pesawat bolong oleh lubang peluru!

19. Kebiasaannya adalah selalu memakai saputangan di leher saat mengudara. Pada saat pertama hal ini menjadi bahan tertawaan yang tidak habis-habisnya oleh rekan sejawatnya. Tapi ketika namanya mulai menanjak dan dia menjadi pahlawan Jerman, maka saputangannya ini menjadi salah satu ciri khas Jochen yang paling mudah dikenali.

20. Suatu saat Jochen harus mendaratkan pesawatnya secara darurat (kembali), sementara unitnya dalam perjalanan ke pangkalan yang baru di Afrika Utara. Sebagai hukuman, Gruppenkommandeur Homuth memerintahkan Jochen untuk menyusul dengan kendaraan darat. Pengalamannya saat mencoba balik kembali ke pangkalannya ini bisa anda baca DISINI.

21. Jochen dan rekan-rekan pilotnya memanggil para pilot musuh mereka sebagai “Indian” (orang-orang India, yang notabene adalah negara jajahan Inggris yang terbesar). Inggris sendiri memang mengirimkan prajurit kolonial Indianya ke medan perang Afrika.

22. Jochen mencatatkan diri sebagai peraih kemenangan udara pertama Staffel-nya di Afrika. Ini dilakukannya di pagi hari tanggal 23 April 1941 di atas Tobruk. Korbannya adalah sebuah pesawat Hurricane dari 73 Squadron Inggris.

23. Di hari yang sama (sore harinya), Jochen hampir kehilangan nyawanya dalam pertempuran udara melawan pilot Prancis Sous-lieutenant Denis dan dua pesawat musuh lainnya. Dia berhasil lolos dari sergapan mereka dan kembali ke pangkalannya dengan pesawat bolong-bolong bekas lubang peluru. Ketika satu orang awak darat menghitung jumlah bolongnya, ternyata ada 30 lebih!

24. Jochen Marseille mempunyai penglihatan luar biasa tajam dan dia selalu melihat lebih dulu pesawat musuh dibandingkan dengan rekan-rekannya (dan musuhnya sendiri!). Hal ini membuatnya selalu dalam posisi menguntungkan dalam ber-dogfight, karena Jochen bisa menempatkan pesawatnya di arah yang diinginkan.

25. Kebiasaan Jochen adalah menyerang dan menyerang tanpa memperhitungkan berapa banyak jumlah musuhnya atau apakah dia seorang diri atau bersama rekan-rekannya. Inilah yang membuat pesawatnya selalu pulang dalam keadaan bolong-bolong atau mendarat darurat di medan tak bertuan (beruntunglah dia nyawanya selalu selamat setiap kalinya!). berkali-kali dia diperingatkan oleh para atasannya agar jangan gegabah dan bertindak sesuai perhitungan, tapi Jochen tetaplah Jochen. Justru dari sini dia bisa mempelajari teknik baru yang TIDAK ADA SATUPUN PILOT DI LUFTWAFFE DAN SELURUH DUNIA YANG MAMPU MELAKUKANNYA. Itu adalah menyerang formasi SEMPURNA musuhnya (yang biasa dinamakan dengan ‘Lufbery Circle’), menghancurkan musuh dari dalam dan kemudian keluar tanpa tersentuh! Formasi ini bisa terdiri dari empat pesawat atau lebih, dan dikatakan bahwa luar biasa sulit untuk memecahkannya. Dengan mengandalkan penglihatannya yang tajam dan kemampuannya berakrobat, Jochen selalu berhasil masuk ke tengah formasi dari atas atau bawah dan dari sini mengobrak-abrik susunan pesawat yang sudah dipasangkan begitu rapi!

26. Ini adalah hasil dari pembelajarannya yang tanpa henti dan latihan yang tak putus-putus. Anda pernah mendengar tentang kisah pemain-pemain bola terkenal semacam David Beckham atau Lionel Messi, bagaimana mereka selalu datang latihan paling awal dan pulang paling akhir? Bagaimana mereka selalu berlatih lebih banyak dan lebih keras dibandingkan dengan rekan-rekannya yang lain? Begitu juga yang terjadi dengan Hans-Joachim Marseille. Oh, dan BTW, dalam proses latihan dan “learning by doing” itu, begitu banyak pesawat yang dipilotinya yang menjadi korban (bolong-bolong, mendarat darurat dsb.) sehingga semua rekannya meminta Jochen untuk menghentikan saja eksperimen gilanya tersebut! Kita sendiri tahu bahwa hanya karena keyakinan diri yang begitu besar dan keinginan untuk mencapai hasil yang terbaiklah yang membuat Jochen tidak menyerah.

27. Salah satu faktor keberhasilan Jochen adalah komandannya, Gruppenkommandeur (dan kemudian Geschwaderkommodore) Eduard “Edu” Neumann. Tidak seperti mantan-mantan atasannya yang lain, Neumann bersifat sangat kebapakan dan mengerti bahwa dibalik sifat Jochen yang urakan dan susah diatur, terdapat suatu kekuatan dahsyat yang tersembunyi. Dia sering berbicara hati ke hati dengan Jochen, dan dari sinilah timbul ikatan yang kuat di antara mereka berdua. Sifat Jochen mulai melunak, dan skillnyapun meningkat dengan drastis. Karakter Neumann yang mengagumkan terangkum dalam ucapan Stefan Fröhlich, Fliegerführer Afrika: “Neumann benar-benar bagaikan raksasa di tengah pertempuran. Dia jarang terbang langsung, tapi menjadi contoh bagi semua orang. Karakternya jauh melampaui orang-orang di sekitarnya. Dia dilahirkan sebagai seorang pemimpin, baik di masa perang maupun di masa damai.”

28. Jochen sangat menyenangi musik jazz, dan musik ini bisa dibilang merupakan jenis yang “tabu” di masa Third Reich (karena dianggap bertentangan dengan musik yang dianjurkan oleh negara), sama halnya dengan musik barat yang dianggap musik “ngak-ngik-ngok” zaman Soekarno dulu.

29. Dalam sebuah dogfight, Jochen akan memacu kemampuan pesawatnya sampai batas terjauh. Dia biasa menukik dengan kecepatan luar biasa tinggi sehingga tekanan G-force yang menderanya berkekuatan enam kali berat gravitasi normal. Beratnya tidak lagi 56 kg, melainkan 336 kg! Sebagai gambaran, tekanan seberat ini akan membuat si pilot terkena “black-out” atau kehilangan kesadaran untuk sementara. Dahsyatnya, Jochen sama sekali tidak terpengaruh masalah ini!

30. Di pertengahan Agustus 1941, Jochen mengalami kejadian yang hampir saja merenggut nyawanya. Bukan, bukan akibat serangan musuh melainkan oleh kekuatan alam. Dia mendapat perintah untuk membawa sebuah pesawat dari Ain el Gazala ke Tripoli melalui Benghazi. Saat dia tinggal landas, perasaannya sudah tidak enak demi melihat kabut tebal di kejauhan yang merupakan pertanda adanya ghibli (badai gurun). Benar saja, saat pesawatnya masih melayang di udara, badai tersebut tiba-tiba mengurungnya, membuat pemandangan tertutup oleh debu pasir tebal berwarna abu-abu. Selama beberapa menit Jochen berusaha sekuat tenaga mengendalikan pesawatnya yang bergoyang keras, sambil menjaga ketinggian dan arah pesawat. Akhirnya dia melihat sebuah landasan dari jarak 100 meter dan langsung mendarat disana. Ketika dia turun dari pesawatnya, semua orang yang berada di landasan bengong karena tidak menyangka ada pilot gila yang berani melakukan pendaratan di tengah badai pasir hebat!

31. Ketika I/JG 27 merayakan ulang tahun sang komandan (Neumann) pada tanggal 4 Juni 1941, mereka menghadiahkan seekor keledai jantan bernama “Ivan”. Ivan dan pasangannya, keledai betina dari Staffel ke-2 kemudian menjadi momok bagi para tukang masak JG 27, sampai suatu hari keduanya diberitakan “menghilang tanpa jejak di pasang pasir”.

32. Ada lagi kisah tentang binatang (kok jadi Flora dan Fauna gini!). Saat II/JG 27 tiba di Afrika akhir September 1941, mereka membawa sepasang singa muda bernama Simba dan Caesar yang merupakan pemberian dari Kebun Binatang Berlin. Setelah hanya beberapa bulan, mereka diterbangkan kembali ke Jerman. Alasannya? Adanya ketakutan bahwa kurangnya persediaan daging akan membuat singa-singa ini memangsa salah satu pilot!

33. Adalah hal yang umum manakala Jochen dan skuadronnya berpapasan dengan musuh, maka Jochen yang kemudian maju “ke depan panggung” seorang diri dan mengobrak-abrik musuhnya, berapapun jumlah mereka! Yang lainnya akan menjadi penonton sambil menjaga agar tidak ada yang membokong Jochen dari belakang.

34. Jochen adalah pilot pertama di Afrika yang dianugerahi Deutsches Kreuz in Gold, tepatnya tanggal 1 Desember 1941. uniknya, baru 14 hari sebelumnya medali jenis ini diperkenalkan ke muka publik! Sekedar informasi, DkiG adalah medali yang dibuat untuk menjembatani antara Eisernes Kreuz I klasse dan Ritterkreuz.

35. Akhir tahun 1941/awal 1942 adalah salah satu masa terburuk bagi JG 27. Bukan, bukan karena serangan musuh makin menggila, melainkan faktor lain: kritisnya persediaan peralatan dan spare-part pesawat; baterai gramofon yang selama ini menjadi penghibur para awak telah habis sehingga tak ada lagi lagu-lagu merdu yang berkumandang setiap waktu; terhentinya kiriman minuman beralkohol dan bir dari Jerman sehingga benar-benar membuat gundah para pilot yang, seperti orang Jerman lainnya, adalah para pengkonsumsi kopday (kopi dayat) nomor wahid; air bah yang melanda tenda-tenda JG 27 setelah hujan deras sepanjang hari (percayakah anda, banjir di gurun?)!

36. Saya benar-benar muak kalau membaca di beberapa forum luar negeri ada yang meragukan prestasi Hans-Joachim Marseille, hanya karena apa yang telah dilakukannya dianggap terlalu “mustahil” untuk dipercayai! Mereka yang kerjaannya hanya duduk di depan komputer sepanjang hari sambil nonton www.sukatoro.com ini tidak pernah “menganggap” berjibun laporan saksi-mata, baik dari pihak Poros maupun Sekutu. Baiklah, tak ada yang lebih mampu menjawab semua ini selain musuhnya sendiri: Inggris. Beberapa hari setelah Jochen dianugerahi Eichenlaub, Komando Tinggi Inggris di Afrika mengeluarkan peringatan untuk para pilotnya: “Marseille adalah yang terbaik yang Jerman punya disini. Seperti yang lainnya, dia juga menerbangkan Bf 109, tapi dia terbang JAUH LEBIH BAIK dibandingkan dengan rekan-rekannya. DIA HANYA BISA DIKALAHKAN OLEH GABUNGAN BEBERAPA PESAWAT DI WAKTU YANG BERSAMAAN (dalam kata lain: dikeroyok!). Itupun dengan satu syarat: Kalian harus memastikan untuk menyerangnya dari depan atau dari pinggir sebelum dia mempunyai kesempatan untuk bermanuver!” Bulu kuduk saya merinding membaca penghargaan luar biasa yang secara tidak langsung telah dikeluarkan oleh pihak yang notabene menjadi lawan Jochen Marseille di Afrika!

37. Suatu sore saat para pilot sedang duduk-duduk di sekitar landasan, tiba-tiba datang bomber-bomber Inggris. Mereka tidak terdeteksi oleh radar karena terbang rendah, dan kini kehadirannya benar-benar membuat terkejut semua yang hadir. Pesawat-pesawat pembom ini ternyata hanya melintas saja. Jochen Marseille, Pöttgen (wingmannya), dan para pilot lain yang sedang bertugas jaga langsung berhamburan menuju pesawat masing-masing. Saat para awak darat menghidupkan pesawat Bf 109, Pöttgen melihat bomber-bomber Inggris berbalik dan menuju ke arah landasan tempat mereka. “Jochen, keluar!” dia memberitahu kawannya. Jochen langsung meninggalkan pesawatnya, dan bersama Pöttgen mereka langsung berlari secara tegak lurus paralel dengan arah datangnya bomber, dan tidak berhenti sampai menjatuhkan diri di sebuah parit. Bom-bom berjatuhan di sekitar landasan, dan salah satunya jatuh di dekat pesawat Bf 109 punya Jochen. Setelah musuh menghilang, mereka kembali lagi ke pesawatnya. Kepala mekanis memperlihatkan bolong besar di kokpit pesawat Jochen, yang sudah pasti akan membunuhnya kalau saja Jochen masih nongkrong disana. “Tampaknya Herr Leutnant dapat merayakan ulangtahunnya malam ini,” katanya. Jochen mengangguk penuh arti, dan beberapa saat kemudian menjabat tangan Pöttgen tanpa mengatakan apa-apa. Seperti yang terjadi berkali-kali sebelumnya di udara, Pöttgen kini telah menyelamatkan nyawanya pula di darat...

38. Pada bulan Desember 1941 Jochen mendapat perawatan di rumah sakit militer Athena (Yunani) setelah menderita sakit. Disinilah dia mendapat kabar dari ibunya melalui telegram bahwa adik perempuan yang sangat disayanginya telah dibunuh oleh kekasihnya yang cemburu di Berlin sana. Jochen tenggelam dalam kesedihan. Karakternya berubah selamanya, dan dia menjadi lebih serius. Jochen berusaha untuk menutupi perasaan kehilangannya ini dari teman-temannya dengan tetap bersikap gembira, tapi teman-temannya tahu bahwa ini adalah kegembiraan yang dipaksakan. Mereka berusaha sebisa mungkin untuk meredakan perasaan gundah Jochen dan mengembalikan semangat bertempurnya.

39. Tanggal 8 Februari 1942 jam 07.45 pagi. Jochen baru saja mau mendarat setelah melaksanakan misi pengawalan. Tiba-tiba datang satu skuadron yang terdiri dari tujuh pesawat Curtiss Hurricane Inggris menyatroni landasan udara Jerman. Mereka berada di belakang Jochen, dan saat itu tak ada satu pun pesawat Jerman yang sedang mengudara. Bayangkan di benak anda: dikejar-kejar oleh tujuh pesawat musuh di belakang, dan kali ini tanpa ada wingman yang membantu! Selanjutnya adalah sejarah: Para awak darat dan pilot yang tak sempat mengudara memperhatikan dengan luar biasa kagum manakala Jochen membuat ketidakberuntungan posisi ini menjadi keberuntungannya (saya tidak akan membeberkan secara luas seperti apa hal ini, yang jelas kalau mau cerita lengkapnya bisa dilihat di buku “German Fighter Ace Hans-Joachim Marseille; The Life Story of the Star of Africa” langsung!). Sementara itu, Edu Neumann sibuk mengirimkan permintaan tolong ke Gruppe yang berdekatan, karena sangat khawatir akan keselamatan anakbuah tersayangnya. Ketika akhirnya bantuan datang, mereka mendapati bahwa Jochen telah membantai ketiga penyerangnya, sementara empat lagi melarikan diri! Ketika sang maestro akhirnya mendarat (kali ini tanpa gangguan), tentu saja dia disambut dengan gegap gempita, terutama oleh Neumann.

40. Jam 14.20 siang di hari yang sama (8 Februari 1942), Jochen mencatat satu lagi kemenangan sehingga skornya di hari itu adalah empat. Dengan ini secara total dia telah mengemas 40 kemenangan udara dan menjadi pilot Jerman di Afrika dengan pencapaian tertinggi. Memang keesokan harinya skornya sempat disamai oleh Oberleutnant Gerhard Homuth, tapi setelah itu tak ada lagi yang bisa menandingi jumlah kemenangan udara Jochen Marseille!

41. Di sore tanggal 22 Februari 1942, I/JG 27 mendapat panggilan telepon dari Generalfeldmarschall Albert Kesselring. Dia bersikeras untuk berbicara langsung dengan Leutnant Marseille. Ketika Jochen akhirnya melapor, ternyata dia mendapat kabar gembira bahwa dia telah dianugerahi medali Ritterkreuz setelah kemenangannya yang ke-50. Upacaranya dilaksanakan tanggal 24 Februari 1942, dan itulah untuk kali pertama Jochen memperlihatkan seringai senyumnya yang menawan setelah sekian lama! Dia segera mengirimkan sebuah telegram sederhana ke orangtuanya : “Ayah-Ibu. Sedikit kabar: Menerima Ritterkreuz kemarin. Sangat bangga. Dengan cinta, Jochenmu”.

42. Suatu saat Jochen curhat ke Rottenflieger Josef “Jost” Schlang tentang mimpi buruk yang baru saja dialaminya semalam: “Aku terbang, kemudian tiba-tiba semuanya gelap di sekitarku. Aku tahu aku terjatuh, tapi aku tak merasakan apa-apa. Dan sebelum aku menghantam tanah, semuanya telah berakhir bagiku”. Mimpi ini kemudian menjadi kenyataan bagi Jochen...

43. Jochen mencatat kemenangan udara ke-100-nya tanggal 17 Juni 1942, dimana di hari itu dia menembak jatuh enam pesawat Inggris (kemenangan ke-96 s/d 101). Keesokan harinya dia dipulangkan ke Jerman, dan di hari itu pula menerima berita bahwa dia mendapat medali Schwerter yang akan diserahkan langsung dari tangan Hitler. Saat menunggu penerbangan ke Napoli di bandar udara Benghazi, dia membaca sebuah surat kabar dengan kepala berita: “Marseille Sang Pahlawan – Pemenang Dalam 100 Dogfight”. Membacanya, Jochen malah tertawa! Tanggapannya? “Aku dianggap pahlawan? Aku, pahlawan?” Ini semata karena kerendahhatiannya yang luar biasa, yang masih menganggap bahwa dia adalah seorang ‘pembuat masalah’ yang bukan siapa-siapa, dan sama sekali tidak mengetahui bahwa di luaran sana namanya telah begitu harumnya, dan setiap pertempurannya diikuti dengan seksama!

44. BTW, penganugerahan Schwerter atas Jochen hanya berselang 12 hari dari saat pengumuman dia menerima Eichenlaub! Ini menunjukkan betapa dalam rentang waktu sesingkat itu dia telah begitu “menggila” di atas langit Afrika!

45. Saat dia tiba di Berlin, penyambutannya begitu meriah. Koran-koran dan kru film mengabadikan turunnya dia dari pesawat, dan sebuah komite penyambutan dipersiapkan khusus untuknya dengan membawa cover majalah bertuliskan “BERLIN BANGGA DENGANNYA!” Di sepanjang jalan orang-orang melambaikan tangan dan mengelu-elukan namanya.

46. Di Berlin, saat Jochen turun dari sebuah taksi dan mencoba membayar, si supir mengenalinya dan menolak uang pemberiannya. Jadinya Jochen memberikan sebungkus rokok sebagai gantinya!

47. Suatu kali Jochen menyempatkan diri untuk nonton bioskop bersama ibu tercinta. Dia berpakaian sipil sehingga tidak banyak orang yang mengenalinya. Seperti biasa, film dibuka oleh berita perang dari berbagai front (Die Deutsche Wochenschau), dan kali ini menampilkan pertempuran udara di atas Selat Inggris. Saat sebuah pesawat Jerman terlihat berada di belakang pesawat Inggris dan memuntahkan peluru, Jochen terbawa suasana dan tiba-tiba bangkit dari tempat duduknya sambil berteriak, “tahan tembakanmu! Tahan tembakanmu!” seorang penonton di depannya berbalik dan menimpali, “Memangnya kamu tahu apa, anak muda? Kamu bukanlah seorang Marseille!” Bukannya mengaku dengan menepuk dada debahwa dialah sang maestro udara terkenal itu, Jochen malah duduk kembali dengan tenang, lalu tersenyum simpul pada ibunya. Dengan penuh kasih sayang dan kebanggaan luar biasa, ibunya menggenggam tangan Jochen dengan erat. Oooh... so sweet!

48. Sesudah acara penganugerahan Schwerter oleh Hitler di Rastenburg, Jochen berkesempatan makan bersama dengan Führer-nya. Dia begitu kaget ketika mendapati betapa Hitler mengetahui semua seluk-beluk peperangan di Afrika, bahkan sampai ke hal-hal kecilnya. Mereka bertukar cerita bersama bagaikan kawan lama, dan pertemuan ini kemudian membekas di hati Jochen.

49. Di akhir masa istirahatnya di Berlin, Jochen beraudiensi dengan para remaja dan anak-anak Berliner-Flieger Hitlerjugend. Dia menceritakan masa-masa tinggalnya di Afrika, dan tokoh-tokoh terkemuka semacam Rommel, Neumann, Stahlschmidt dan Schulz. Seperti yang terjadi saat ini di acara temu selebritis, acara ditutup dengan pembubuhan tandatangan di poster dan cenderamata lainnya. Selalu, Jochen membubuhkan tandatangannya dengan tambahan tulisan penyemangat: “JANGAN PERNAH BERBALIK DAN SELALU MELIHAT KE DEPAN”.

50. Tanggal 6 Agustus 1942 Jochen mendapat berita bahwa dia telah dianugerahi Medaglia d’Oro – medali keberanian tertinggi Italia. Dalam sertifikat pengiringnya, tertulis: “Dia adalah pilot dengan kemampuan yang besar dan pengalaman tak terbandingkan; pilot dengan keberanian yang menonjol, ketenangan yang dingin dan mengagumkan dalam pertempuran, juga mempunyai semangat yang tinggi untuk mempertunjukkan keahliannya di angkasa Mediterania dan Afrika”

51. Penganugerahan Medaglia d’Oro dilaksanakan di Roma, Italia, dan diserahkan langsung oleh Il Duce Benito Mussolini. Setelah acara usai, Mussolini mengungkapkan kesannya tentang Jochen Marseille: “Dia menciumku di kedua pipi, sesuatu yang tidak aku suka karena dia bercukur dengan buruknya.”

52. Jochen kembali ke Afrika tanggal 23 Agustus 1942, dan disana dia mendapati tenda tempat tinggalnya kini telah mendapat tambahan bar kecil, gramofon, dan tiga buah meja. Sebuah kemewahan di tengah padang pasir! Rupanya kini Jochen telah menjadi selebriti, bahkan di tengah-tengah rekan seperjuangannya...

53. Dia diberikan seorang pria kulit hitam sebagai pelayan bernama Corporal Mathew Letulu. Uniknya, Letulu adalah mantan tawanan berkebangsaan Afrika Selatan yang diambil dari pertempuran Tobruk. Dia mendapat panggilan ‘Mathias’, dan terbukti merupakan seorang pelayan yang setia. Setelah kematian Jochen Marseille, dia menjadi pelayan Ludwig Franzisket dan terus mendampinginya di Tunisia, Sisilia, dan kemudian Yunani. Pada tahun 1944 situasi kritis dihadapi oleh pasukan Jerman disana, dan sebuah rencana dirancang agar Mathias dapat diselundupkan ke sebuah kamp tawanan terdekat agar dia bisa “dibebaskan” kemudian oleh Inggris disana. Rencana berjalan dengan lancarnya tanpa Inggris pernah mengetahui apa yang sebenarnya terjadi, dan Mathias pulang ke Afrika Selatan seusai perang. Bertahun-tahun berlalu, dan secara kebetulan para veteran mantan anggota JG 27 mengetahui bahwa Mathias masih hidup. Mereka langsung mengiriminya undangan dan membayar semua ongkos keberangkatan dan biaya lainnya selama di Jerman. Dalam acara reuni Deutsches Afrikakorps 27 ke-10 di tahun 1984, Mathias akhirnya bersua kembali dengan mantan rekan-rekan lamanya di JG 27. Tak terbayang keharuan dan kegembiraan yang hadir saat itu, dan tak lama begitu banyak undangan tambahan membanjiri Mathias. Ketika diminta untuk mengungkapkan kesan-kesannya tentang Hans-Joachim Marseille, Mathias berkata, “Hauptmann Marseille adalah orang besar dan selalu siap menolong rekan-rekannya yang membutuhkan bantuan. Dia orang yang sangat humoris dan bersahabat. Dan: dia sangat baik kepadaku.”

54. Lagu favorit yang sering diputar Jochen di gramofonnya adalah “Rhumba Azul”.

55. Di hari-hari terakhir bulan Agustus 1942 tidak ada aktivitas berarti dari musuh. Jochen lumayan frustasi tapi menanggapinya dengan humor: “Kalau tetap tidak ada yang terjadi dalam beberapa hari ke depan, mungkin aku harus menembak jatuh diriku sendiri!”

56. Aksi pertama Jochen dimulai tanggal 31 Agustus 1942. Seakan ingin membalas dendam atas tidak adanya pertempuran buat dirinya selama beberapa lama, ia langsung “menggila”: 12 pesawat takluk di tangan Jochen dalam 2 misi (4 di misi pertama, dan 8 di misi kedua)! Di akhir hari itu, dia begitu lelahnya sehingga tidur pulas bagaikan bayi di tendanya, dengan pelayan setia Mathias menjaga di luar dan mengusir dengan halus setiap pilot yang berkunjung untuk mengucapkan selamat.

57. Malam itu juga rekan-rekan Italia Jochen “menculik” mobil komandonya dan mencat bagian pinggirnya dengan tulisan “OTTO” (yang berarti ‘delapan’ dalam bahasa Italia) untuk memperingati jumlah kemenangan yang dicetak Jochen dalam misi keduanya.

58. Dasar capcus, keesokan harinya hal pertama yang dilakukan Jochen adalah: mengerjai Hans-Arnold Stahlschmidt! Dia menelepon sahabatnya yang sedang kebagian tugas jaga, dan berpura-pura sebagai pilot Finkelhuber dari Austria yang tersesat di Afrika dalam perjalanan ke unit barunya di 3./JG 27, dan meminta Stahlschmidt menjemputnya di Eahna. Tentu saja Stahlschmidt ngedumel berat menerimanya. Ketika telepon akhirnya ditutup, seluruh anggota Staffel ke-3 yang mengawasi dagelan ini tertawa terbahak-bahak melihat ekspresi dari Jochen Marseille dan Stahlschmidt yang jauh berbeda!

59. Di hari ini juga (1 September 1942), Jochen mengudara kembali. Seakan belum cukup dengan apa yang telah dipertunjukan sehari sebelumnya, dia mencatat prestasi yang amit-amit mengesankan: menembak jatuh lima pesawat dalam waktu hanya enam menit! Oh iya, itu baru dari satu pertempuran udara, brow! Secara total, di hari itu dia membukukan 17 kemenangan udara dalam tiga misi! DAHSYAAAAAT!!!! Bahkan rekan-rekannya (yang mendengarkan dengan tegang jalannya pertempuran dari laporan wingman Jochen melalui radio) tak dapat berkata-kata saking kagumnya menerima fakta yang sulit untuk dipercaya ini: pesawat Jochen berseliweran mengobrak-abrik musuhnya, pilot-pilot Inggris yang berpengalaman dengan pesawat berkualitas bagus dan jumlah lebih banyak, lalu keluar darinya tanpa terserempet satu peluru pun! Dan... hmmm, jumlah peluru yang dikeluarkannya adalah selalu yang “terhemat” dibandingkan dengan pilot lain di SEMUA pihak dalam Perang Dunia II!

60. Ketika Jochen pulang dari misi yang bersejarahnya ini, tentu saja semua awak JG 27 berlari menyambutnya termasuk “Edu” Neumann. Dia mengatakan kepada Jochen dengan yakin: “Ini akan membuatmu mendapatkan Brillanten, Seile (panggilan sayang dari Neumann kepada Marseille).” Dan benar saja, tidak usah menunggu lama, keesokan harinya (2 September 1942) datang pengumuman bahwa Hans-Joachim Marseille menjadi orang keempat yang menerima Ritterkreuz des Eisernen Kreuzes mit Eichenlaub, Schwerter und Brillanten setelah Werner Mölders, Adolf Galland dan Gordon Gollob. Penerima kelima nantinya juga adalah pilot Luftwaffe, Hermann Graf, sebelum nantinya Rommel dari Heer menjadi penerima selanjutnya dari medali super bergengsi ini (yang hanya diberikan kepada 27 orang terpilih sampai dengan berakhirnya perang!).

61. Pengumumannya datang pada malam harinya, saat Jochen sedang menghabiskan waktu dengan menonton bersama rekan-rekannya di bioskop ‘misbar’ (gerimis bubar) MARABU milik JG 27. Film yang diputar saat itu adalah “Dansa Dengan Kaiser”, dan belum lagi Jochen menonton setengahnya, dia diberitahu untuk berangkat ke pos komando karena ada panggilan telepon penting. Itu adalah Generalfeldmarschall Albert Kesselring yang memberitahukan kabar gembira tersebut. Kesselring kagum ketika diberitahu bahwa di hari itu pesawat musuh yang ditembak jatuh berjumlah 26 buah, berarti lebih dari setengahnya (17) dibukukan oleh Jochen Marseille seorang!

62. Tanggal 4 September 1942 keluar pengumuman dari Wehrmachtsbericht: “Oberleutnant Marseille, Staffelkapitän di sebuah Jagdgeschwader, mencetak kemenangan udara ke-125 tanggal 2 September setelah mengalahkan 16 lawannya dalam pertempuran di hari sebelumnya.” (skornya kemudian dikoreksi menjadi 17!)

63. Tanggal 7 September 1942 merupakan salah satu hari paling menyedihkan bagi Jochen. Di hari itu sahabat terdekatnya Hans-Arnold Stahlschmidt menjadi korban gurun pasir Afrika. Dia bertempur melawan pesawat-pesawat Spitfire di atas El Alamein dan lalu menghilang. Sejak saat itu nasibnya tidak diketahui sampai saat ini. Jochen mengetahui kabar hilangnya Stahlschmidt melalui telepon, dan dari sejak saat itu dia berusaha keras untuk mencaritahu keberadaan sahabatnya, bahkan sampai hendak melakukan patroli udara seorang diri! Untunglah Neumann berhasil mencegah niat gilanya tersebut. Di hari yang sama malam harinya dia mendapat rentetan telegram dari dedengkot-dedengkot Nazi: Hermann Göring, Joseph Goebbels, Joachim von Ribbentrop, dan Erhard Milch, yang semuanya memberi selamat atas prestasinya dan atas penganugerahan Brillanten yang telah diraih beberapa hari sebelumnya (meskipun yang paling menenangkannya adalah yang datang dari panglimanya, Erwin Rommel).

64. Salah satu ucapan selamat yang paling “jujur” datang dari Oberstleutnant Walter Sigel, Kommodore Stukageschwader 3 (yang juga baru saja menerima Eichenlaub tanggal 2 September). Dia menulis: “Ucapan selamat dan terimakasih yang dihaturkan oleh Geschwaderku benar-benar datang dari hati yang terdalam, dear Marseille, karena engkau telah meraih banyak kemenangan saat sedang bertugas melindungi Stuka-stukaku. Tanpa adanya ‘perisai’ yang disediakan oleh Jagdgeschwader 27, maka misi-misi Stuka kami tidak akan pernah berjalan dengan sukses. Semoga kegembiraan kami ini dapat menjadi tambahan dari kegembiraan dirimu sendiri atas diraihnya medali yang memang layak engkau dapatkan, dan kesadaran bahwa kini engkau telah mencapai puncak prestasi tertinggi yang bisa diraih oleh seorang pilot pemburu. Semoga penerbangan-penerbangan kawalanmu di masa selanjutnya tetap menjadi pelindung yang terbaik bagi kami seperti di masa-masa yang telah lalu, dan semoga ucapan selamat kami menjadi pengantar kepada kejayaan dan kemasyhuran yang lebih besar untuk dirimu.”

65. Hans-Joachim Marseille telah berada di puncak kejayaannya. Tapi pertempuran hidup-mati non-stop di masa beberapa bulan sebelumnya kini telah mulai menampakkan bekasnya dalam diri Jochen. Wajahnya tambah cekung, dan dua kerutan yang menggurat dari mulut ke lubang hidungnya kini semakin kentara terlihat. Satu demi satu teman-teman terdekatnya menghilang, baik karena tewas atau tertawan, sementara dari waktu ke waktu jumlah pesawat-pesawat Inggris semakin kolosal (kini sudah bukan hal yang aneh lagi kalau Jochen terjun ke tengah-tengah lebih dari 10 pesawat musuh!). Hanya semangat bertempur menyala-nyala dan keinginan untuk memberikan yang terbaiklah yang membuatnya terus dan terus bertempur. Kini sudah jarang terlihat ia tersenyum, dan dalam pertempuran dia semakin serius. Hanya sekali dia wajah kerasnya terhapus oleh senyum di fase ini, dan peristiwa langka ini patut saya ketengahkan di nomor selanjutnya.

66. Seorang pilot Inggris melihat temannya, yang hanya berjarak beberapa meter darinya, berjuang untuk menstabilkan pesawatnya yang kehilangan salah satu bagian mesin setelah terkena rentetan tembakan Jochen Marseille. Satu tembakan lagi maka dia akan “out of order”. Tapi apa yang terjadi? Jochen hanya melambai kepadanya sambil memberi isyarat bahwa dia mau tidak mau harus mendarat darurat di wilayah yang diduduki Jerman! Dan, ketika dia berbalik, dia sempat melihat Jochen menampakkan senyum di bibirnya. Sang pilot Inggris lalu menuruti saran dari musuhnya, dan mendarat dengan selamat...

67. Dalam pertempuran udara tanggal 15 September 1942 yang melibatkan 43 pesawat JG 27 melawan 36 Kittyhawk Inggris, Jochen menembak jatuh tujuh pesawat musuhnya hanya dalam tempo enam menit! Dengan kemenangan ini, skornya bertambah menjadi total 151 buah. Kini Hans-Joachim Marseille berada di urutan ke-3 pilot dengan jumlah kemenangan terbanyak setelah Gordon Gollob dan Hermann Graf!

68. Prestasi Jochen tentunya mendapat perhatian juga dari sang “Serigala Padang Pasir” Erwin Rommel. Sang Marsekal mengundang pilot terbaiknya untuk mengunjungi markasnya, dan Jochen pun datang dengan diiringi oleh enam orang rekannya. Kedua manusia terbaik Jerman ini saling berbincang-bincang layaknya seorang sahabat, dan tidak tampak kesan seorang jenderal besar dalam diri Rommel. Ketika Rommel kemudian dipanggil kembali ke pos komando, seorang perwira yang hadir disana kemudian mengatakan kepada Jochen bahwa sang Marsekal sebenarnya baru saja kembali dari front depan beberapa menit sebelumnya! “Untuk menghormatimu, Marseille, dia sengaja mengenakan seragamnya yang terbaik. Ini hanya terjadi sekali sebelumnya, saat dia menerima seorang Oberleutnant Panzer yang telah menerima banyak penghargaan, yang bersikeras untuk kembali ke Afrika setelah mengalami luka-luka parah dalam pertempuran.”

69. Hari rabu tanggal 16 September 1942. Unteroffizier Hermann dari Kraftfahrtabteilung (pool motor) menyambut Jochen dengan kata-kata ini: “Saya minta izin untuk menyampaikan ucapan selamat, Herr Oberleutnant!” Jochen terhenyak. “Untuk apa Hermann?” tanyanya. Hermann menjawab, “Untuk itu saya tidak diperkenankan untuk ngomong, Herr Hauptmann.” Dan dengan itu Jochen mengetahui bahwa dia telah mendapat promosi dari Oberleutnant (Letnan Satu) menjadi Hauptmann (Kapten)! Untuk merayakannya, Jochen mengadakan pesta sederhana di tendanya dengan lagu “Rhumba Azul” favoritnya sebagai pengiring dan Mathias sang pelayan kulit hitam sebagai bertender.

70. Kemenangan ke-158 Jochen (sekaligus terakhirnya) terjadi tanggal 26 September 1942. Secara kebetulan, pilot Spitfire yang dihadapinya kali ini merupakan lawan yang paling tangguh yang pernah dia jumpai. Dogfight berlangsung lebih lama dari biasanya, dengan kedua seteru saling mengeluarkan kemampuan terbaik. Akhirnya Jochen yang keluar sebagai pemenangnya, dan sang pilot Inggris terbunuh bersama pesawatnya yang jatuh ke bumi. Setelah Jochen pulang kembali ke pangkalannya, teman-temannya masih melihat ketegangan yang kentara dari wajah pucatnya, bahkan tangannya bergetar saat menyundut sebatang rokok! Ketika disuruh untuk menceritakan apa yang telah terjadi, dia berkata, “Seorang musuh yang sangat berpengalaman dan ngotot. Tak pernah ada sebelumnya musuh yang bertempur seperti dirinya. Aku tak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya.”

71. Tanggal 28 September 1942 Jochen menerima telepon dari Markas Besar Panzerarmee Afrika. Yang menelepon adalah Rommel sendiri! Sang Marsekal meminta Jochen datang ke Berlin bersamanya untuk ikut hadir dalam pidato Hitler di Berliner Sportpalast. Rencananya Rommel akan duduk di kiri Hitler sementara Jochen di kanannya, dan ini merupakan sebuah kehormatan yang sangat besar bagi mereka! Tapi dengan sopan Jochen menolak undangan tersebut, dengan alasan bahwa tenaganya masih sangat dibutuhkan di Afrika, dan dia tidak mau terlalu banyak mengambil cuti. Semuanya tidak diterima oleh Rommel.Ttapi ketika Jochen berkata bahwa dia berencana untuk pulang pada saat Natal demi melangsungkan pernikahan dengan tunangannya, Hanneliese Küppers, yang berprofesi sebagai guru, Rommel langsung tertegun. Dia merasakan kekaguman luar biasa kepada anak muda ini: Inilah dia! Pilot terhebat dalam sejarah, yang lebih memilih tunangannya seorang wanita “biasa” dibandingkan dengan Führer-nya sendiri! Akhirnya Rommel mengalah dan Jochen tetap di Afrika.

72. Tanggal 30 September 1942 merupakan hari pamungkas Hans-Joachim Marseille di dunia. Dia dalam perjalanan pulang dari misi mengawal skuadron Stuka, ketika mesin pesawat Messerschmitt Bf 109 G (pesawat baru yang pertama kali dipakainya saat itu!) mengeluarkan asap yang semakin tebal dari waktu ke waktu. Jochen terlihat panik karena dia tidak bisa melihat keadaan di luar sama sekali. Rekan-rekannya berusaha memberikan arahan kepada Jochen, tapi ketika asap hitam semakin tebal dan membuat sesak nafas, Jochen memutuskan untuk melompat menggunakan parasut. “Aku harus keluar sekarang. Aku tak tahan lagi!” Inilah kata-kata terakhir yang dikeluarkannya. Sayangnya, kondisi gelap karena asap membuat dia tidak menyadari bahwa pesawatnya dalam posisi menukik dan bukannya datar, sehingga ketika kokpit terbuka dan ia keluar, dia langsung terhempas ke besi ekor pesawat dengan keras dan membuatnya kehilangan kesadaran. Inilah yang membuatnya jatuh dengan kepala di bawah dari ketinggian sekitar 200 meter tanpa sempat membuka parasut. Teman-temannya berteriak saat melihat rekan kesayangannya menukik secara horizontal ke atas tanah, dan kemudian tangis Jost Schlang, wingmannyaa saat itu, membahana: “Jochen tewas!”

73. Orang pertama yang datang ke lokasi jatuhnya Jochen adalah Oberarzt Dr. Bick yang merupakan dokter Resimen dari Panzergrenadier-Regiment 115. Dia melihat seorang pilot terhunjam ke bumi dan buru-buru menuju TKP mengunakan mobil staff. Inilah laporan yang dikeluarkannya untuk Panzerarmee Afrika: “Sang pilot terbaring di atas perutnya seakan-akan sedang tertidur. Tangannya tersembunyi di balik tubuhnya. Ketika aku mendekat, aku melihat genangan darah yang keluar dari bagian samping tengkorak kepalanya yang pecah: bagian-bagian otak juga keluar darinya. Aku lalu memperhatikan sebuah luka terbuka di bagian pinggul. Aku langsung tahu bahwa luka ini bukan akibat dari jatuhnya dia. Sang pilot tentunya terbentur dengan keras sebelum dia jatuh ke bumi. Parasutnya sendiri tergeletak beberapa meter di sebelahnya, dengan isinya sebagian keluar sekitar 40 cm di sampingnya. Handle parasut terkubur oleh pasir di sebelah kanan mayat, dan dia masih dalam keadaan ‘safe’. Secara hati-hati aku lalu membalik mayat sang pilot muda agar dia terlentang. Aku masih bisa melihat betapa tampannya manusia satu ini, dan tampak bagaikan seorang anak kecil yang lelah. Aku membuka ritsleting jaket terbangnya, dan kemudian aku bisa melihat medali Ritterkreuz des Eisernen Kreuzes mit Eichenlaub und Schwerter yang terpasang di lehernya. Saat itulah aku tahu siapa dia. Soldbuch yang dibawanya juga memberiku informasi: di depanku terbaring Hauptmann Marseille. Aku melihat jam tangan yang dikenakannya, dan dia berhenti di pukul 11.42. aku lalu pergi untuk mencari pertolongan supaya mayatnya bisa dievakuasi segera. Ketika aku kembali lagi dengan beberapa insinyur Italia, dua orang kamerad si pilot malang telah berada di lokasi kejadian (keduanya adalah Stabsarzt Dr. Winkelmann dan Hauptmann Ludwig Franzisket).”

74. Jenazah Jochen dibawa kembali ke pos komando Geschwader dengan menggunakan mobil di bawah pangkuan Franzisket. Entri terakhir di Soldbuchnya berbunyi: “388 misi tempur dengan 158 kemenangan. Nomor penerbangan ini: 482. Waktu penerbangan: 54 menit. Waktu pendaratan: - . Menggunakan parasut 7 km selatan Sidi Abd el Rahman”.

75. Jenazah Jochen lalu disemayamkan di bangsal sakit Staffel. Rekan seperjuangannya berdatangan untuk memberikan penghormatan terakhir, sementara Rottenflieger Jost Schlang memutarkan lagu favorit Jochen: “Rhumba Azul”. Oberleutnant der Propagandatruppe Fritz Dettmann dan Mathias, sang pelayan setia, terlihat menangis. Yang lainnya telah menjadi, seperti kata-kata Major Franzisket, “Begitu kerasnya tertempa oleh perang sehingga mereka menerima kematian Marseille tanpa menampakkan tanda-tanda berduka. Tapi itu tak menutupi perasaan yang tak terbantahkan bahwa hidup kami sudah berakhir dengan kepergiannya.”

76. Dalam upacara pemakamannya, Generalfeldmarschall Albert Kesselring memberikan kata-kata terakhir yang membuat terharu siapapun yang hadir: “Hauptmann Marseille telah gugur. Tak terkalahkan. Dengan kepergiannya, seorang individu yang heroik, seorang teman yang mengagumkan, seorang seniman di udara dan pilot tempur terbaik di dunia telah menghilang dari tengah-tengah kita untuk selamanya.”

77. Major Eduard Neumann, Geschwaderkommodore dari Geschwader gurun, mengenang sang pilot dengan cara istimewa: “Perintah hari ini. Tanggal 30 September 1942 Hauptmann Marseille menemui kematian sebagai seorang pilot tanpa pernah terkalahkan oleh musuh. Sungguh sulit bagi kita untuk menerima bahwa pilot yang selalu ceria dan begitu berani ini kini tak lagi bersama kita. Kemenangan-kemenangannya atas musuh terkuat kita – Inggris – adalah sesuatu yang istimewa, tak ada duanya. Kita harus bangga dan gembira bahwa dia berada di pihak kita. Kata-kata indah ini tak akan pernah bisa menggambarkan kehilangan yang kita alami. Dia telah meninggalkan bagi kita sebuah tugas yang berat, untuk mengikuti jejaknya sebagai seorang prajurit dan juga manusia. Semangatnya akan selamanya menjadi panutan bagi Geschwader ini. Geschwaderkommodore, Neumann, Major.”

78. Tanggal 1 Oktober 1942 Oberkommando der Wehrmacht mengumumkan: “Kamis, 1 Oktober 1942. Hauptmann Hans-Joachim Marseille, pemegang penghargaan tertinggi Jerman untuk keberanian, menemui kematian sebagai seorang pilot di Afrika Utara tanpa pernah terkalahkan oleh musuh. Perwira muda ini, dengan semangatnya yang begitu tinggi, telah memusnahkan 158 musuhnya orang Inggris dalam pertempuran udara. Seluruh Wehrmacht berkabung atas hilangnya sang pejuang yang begitu heroik.”

79. Kata-kata dari Rainer Pöttgen, dalam surat yang ditujukan ke ibunya: “Marseille dapat menembak layaknya seorang dewa muda. Dia dapat melakukan sesuatu yang hanya sedikit orang yang mampu melakukannya: menembak secara akurat dan sempurna saat berbelok. Saat kami mencoba menirunya, maka tembakan kami selalu melenceng dari sasaran. Marseille memperlihatkan bakat yang luar biasa dalam hal menembak saat berbelok/berputar. Bagaimana dia dapat melakukannya, dengan membidik sebegitu akuratnya dalam hitungan seperseratus detik, dia sendiri bahkan tak dapat menjelaskannya! Sebagai akibatnya, dia tak dapat mengungkapkan rahasia ini kepada kawan-kawannya.”

80. Kata-kata dari Frau Charlotte Marseille (ibunda Jochen) tak lama setelah kematian anaknya adalah: “Karakternya teraktualisasikan melalui moto yang selalu diucapkannya: ‘selalu melihat ke depan, jangan pernah melihat ke belakang’. Aku telah dan akan selalu bangga akan anakku, yang sudah jauh melebihi harapanku saat aku menggendongnya sebagai seorang bayi kecil. Berani, jujur dan setia, itulah Jochenku yang kukenal…”

81. Adalah orang-orang Italia yang membangun monumen peringatan dari batu berbentuk piramid di lokasi jatuhnya Hans-Joachim Marseille.

82. Ibu tercinta Jochen mengunjungi kuburannya di Tobruk pada tahun 1954.

83. Selain dari tempat peringatan di Tobruk, para pilot terkemuka JG 27 yang gugur di Afrika juga dimakamkan di aula peringatan monumen di Alexandria. Mereka adalah: Werner Boden, Wolfgang Burger, Cay Carstensen, Friedrich Hoffmann, Karl Kugelbauer, Heinrich Müller, Heinrich Prien, Erwin Sawallisch, Eberhard Schmidt, Hans Schirmer, Hermann Tangerding, Hans Würschinger dan Günther Zahn.

84. Pada tanggal 24 Oktober 1975 Barak Uetersen Bundesluftwaffe di Jerman Barat berganti nama menjadi Barak Marseille. Rekomendasi untuk pergantian nama ini datang dari Oberst (purnawirawan) Eduard Neumann, mantan Kommodore Geschwader gurun 27.

85. Pada tanggal 21 Oktober 1989 diadakan peresmian sebuah tugu peringatan berbentuk piramid di El Alamein, Mesir. Hadir dalam acara ini mantan pilot-pilot dan anggota JG 27 lainnya yang masih hidup, di antaranya adalah : Eduard Neumann, Emil Clade, Fritz Keller, Friedrich Körner, Franz Elles, Günter Bode, Sighart Dinkel, Gustav Holderle, George Rauwolf dan Willi Risse. Juga hadir Wolfgang Ewald dari JG 53 dan Ulrich Walk dari JG 77 yang pernah sama-sama bertugas di Afrika.

Sebagai penutup, saya akan mempersembahkan kata-kata dari atasan Jochen di JG 27, Eduard “Edu” Neumann:

“Marseille hanya dapat menjadi satu jenis manusia: apakah tukang jebol disiplin atau seorang pilot tempur yang hebat. Pada awalnya kekeraskepalaan dan kurangnya disiplin membuatnya dijauhi oleh teman-temannya sendiri. Tapi sekali mereka mengetahui ketulusan hatinya, kesetiakawanannya, bakatnya yang luar biasa sebagai pilot pemburu dan kemenangan-kemenangan yang mulai dibukukannya, mereka menjadi menyukainya dan merasa yakin bahwa dalam diri manusia satu ini terdapat jiwa kepemimpinan dan kharisma yang besar. Pada akhirnya mereka melihat dia sebagai pilot yang tidak ada tandingannya.”

“Aku tidak terus-terusan memberikan hukuman atas setiap tindakan indisipliner yang dilakukannya karena aku yakin bahwa bila sekali saja aku mendapatkan perhatian dan kepercayaannya, maka aku dapat membentuknya menjadi dia yang terbaik.”

“Bahkan dalam dogfight pertama yang dilakukannya, dia telah mempertunjukkan gaya bertempur yang luar biasa berani. Dia menyerang dalam kondisi yang bisa dikatakan sangat tidak menguntungkan.”

“Saat pilot-pilot musuh membentuk sebuah lingkaran pertahanan – yang selalu menjadi menjadi andalan mereka saat Marseille datang di Afrika – maka akan sangat berbahaya bagi pilot Jerman untuk menyerang formasi semacam ini, karena bila salah satu pesawat yang melingkar ini diserang maka rekan yang berada di belakangnya akan balik memburu sang penyerang. Jadinya, si pemburu menjadi yang diburu.”

“Tapi Marseille adalah seorang pemburu yang begitu menakjubkan dengan ketepatan tembakan tak ada banding sehingga hal ini bagi dia bukanlah masalah yang berarti. Dia akan memulai serangannya dengan menukik dari atas atau dari bawah, lalu mensejajarkan diri dengan salah satu buruannya, menembakkan rentetan peluru dalam waktu hanya dua detik dalam posisi sambil berbalik menukik kembali keluar dari lingkaran. Percayalah, hal ini tampak mudah diucapkan tapi sesungguhnya hampir mustahil bagi pilot biasa untuk melakukannya (terbukti dalam sejarahnya tidak ada pilot lain yang mempunyai kemampuan sebaik Marseille dalam melakukan hal semacam ini!).”

“Dalam beberapa kesempatan dia bahkan terbang seakan-akan menjadi bagian dari lingkaran Lufbery, atau bergabung dengan formasi musuh, dimana dia akan terbang bareng tanpa teridentifikasi selama beberapa waktu (maksimal lima menit).”

Bila musuh membentuk formasi baji penjepit, maka dia akan menyerang dari belakang dan akan menahan diri untuk tidak menembak pesawat yang berada di kiri dan kanannya demi merusak formasi musuh dengan jalan menghancurkan pesawat yang memimpin di tengah. Ini semua dilakukannya dengan tanpa keraguan dan dalam waktu yang singkat sehingga menghindarkannya dari balasan tembakan dua pesawat di samping. Semua korbannya ditembak jatuh dengan hanya beberapa tembakan saja, sehingga setiap waktu kami selalu kagum demi mendapati magasin senapan mesinnya hampir terisi penuh sementara dia pulang dengan membawa kemenangan.”

“Kunci dari kesuksesan Marseille adalah ketepatan menembak yang sempurna tanpa cela. Dia mencetak kemenangan udaranya dengan menghabiskan amunisi seminimum mungkin. Kemampuan khususnya adalah menembak saat berbelok atau berputar, baik saat melakukan serangan menukik dari atas atau menanjak dari bawah. Dia terus-menerus melatih kemampuannya ini sehingga pada waktunya mampu menciptakan sebuah kondisi dimana dia hanya akan menembak apabila pesawat musuh yang terbang di hadapannya telah hilang di bawah hidung pesawatnya.”

“Setelah beberapa rentetan tembakan maka dia tak akan mempedulikan korbannya lagi, melainkan berkonsentrasi ke pesawat selanjutnya yang berada di dalam lingkaran di depannya.”

“Hanya dalam waktu setahun keberadaannya di Afrika, dia telah membukukan 150 kemenangan udara dan ditahbiskan sebagai pilot Jerman dengan kemenangan terbanyak melawan pilot-pilot Barat dalam perang Dunia II! Dan seperti yang anda tahu, pilot-pilot Sekutu umumnya terlatih baik dengan pesawat yang lebih mumpuni dibandingkan dengan rekannya pilot Soviet. Hal ini sendiri menambah nilai lebih kemenangan yang telah dicapai oleh Marseille.”

“Satu lagi. Dia mempunyai penglihatan yang luar biasa, sehingga selalu mampu melihat keberadaan musuh jauh sebelum dia sendiri dilihat sehingga kemudian bisa mengambil posisi yang menguntungkan dalam pertempuran. Dia bisa melihat satu titik kecil pesawat bahkan dari jarak 40 km!”

“Di setiap Negara di bumi ini, termasuk juga Jerman, Hans-Joachim Marseille akan masuk ke dalam salah satu jajaran teratas para pahlawan abadi yang tak terlupakan di masanya.” (kutipan dari buku “Fighter Aces of the Luftwaffe” karya Toliver/Constable).

No comments: