Thursday, May 15, 2014

Foto Berwarna Pesawat Luftwaffe

FIESELER FI 156 "STORCH"

 
Pesawat transport ringan Fieseler Fi 156 "Storch" ini digunakan oleh Jenderal Erwin Rommel di Afrika Utara. Sang Rubah Gurun mempunyai kebiasaan untuk naik ke pesawatnya dan kemudian terbang ke front pertempuran untuk dapat lebih melihat situasi dengan mata dan kepala sendiri. Foto ini diambil oleh Erwin Rommel sendiri dalam kampanyenya di tahun 1941


Pesawat penghubung sangat dibutuhkan untuk memelihara kontak langsung antara markas dengan prajurit di front depan. Tanpa pesawat ini maka akan mustahil bagi para komandan senior untuk bertemu dengan bawahannya dalam jangka waktu sebentar demi mendiskusikan perkembangan situasi atau sekedar melakukan inspeksi singkat di front. Karena biasanya pos komando dan markas front berada di wilayah hutan lebat, tertutup oleh kamuflase atau di desa-desa terpencil, maka kadangkala tak ada landasan udara standar terdekat yang menjangkaunya. Atas alasan ini maka Fieseler Fi 156 Storch, dengan kemampuan take-off dan landingnya di landasan sempit, menjadi pilihan utama para komandan staff senior. Pesawat ini bahkan bisa mendarat di atas permukaan yang kasar atau berlumpur. Foto di atas memperlihatkan sebuah desa kecil Rusia yang dikelilingi oleh hutan. Panji yang terpasang di depan sebuah rumah di sebelah kiri menandakan bahwa lokasi itu telah dijadikan sebagai markas sebuah Armee-Korps. Di latar belakang terparkir sebuah Storch, yang kemungkinan dipakai untuk menerbangkan sang komandan korps dalam kunjungan ke front depan atau membawa para komandan divisinya ke tempat ini


Seorang komandan bersiap-siap untuk terbang bersama dengan dua orang staffnya. Peta dan kertas-kertas yang dibawa menandakan bahwa mereka baru saja menghadiri sebuah rapat militer. Pesawat yang digunakan adalah sebuah Fieseler Fi 156 C “GK+M?” yang mempunyai strip kuning di badannya, suatu praktek yang biasa dilakukan oleh pesawat-pesawat Luftwaffe di Front Timur. Salah seorang staff yang membelakangi kamera mengenakan celana kavaleri yang dilengkapi lapisan kulit. Foto ini sendiri diambil di Rusia di musim panas 1941 atau 1942



Seorang perwira menaiki sebuah Fieseler Fi 156 C “?F+YF”. Mesin pesawatnya sudah menyala sebagai persiapan untuk tinggal-landas melintasi lapangan rumput tempat gembala kuda di depannya. Konfigurasi kokpitnya yang dilengkapi dengan dudukan senapan mesin MG 15 berbahan kaca lapis baja menandakan bahwa Fi 156 satu ini berasal dari varian seri C

------------------------------------------------------------------------ 

FOCKE-WULF FW 189 "UHU"

Foto ini, yang tampaknya telah disetting dengan baik, kemungkinan dibuat untuk kepentingan propaganda Jerman. Seorang prajurit Luftwaffe berdiri sambil membaca surat yang datang dari tanah air di depan sepeda motor Zündapp Ks 600 bersespan, sementara di latar belakang mengudara sebuah pesawat Focke-Wulf Fw 189 "Uhu" (Burung Hantu). Pesawat bermesin ganda dan berkursi tiga ini terutama sekali dibuat untuk kepentingan pengintaian. Dibandingkan dengan pesawat yang umum diproduksi di masa itu, Fw 189 terlihat aneh karena mempunyai dua "badan". Pada awalnya kemampuannya diragukan, tapi kemudian medan udara Front Timur membuktikan kemampuan Fw 189 yang jauh melebihi harapan para pembuatnya! Pesawat ini dijuluki sebagai "matanya Luftwaffe" dan ketangguhannya terbukti dengan beberapa kali dia mampu pulang ke pangkalannya dengan sebagian ekornya copot atau rusak parah! Keberadaannya tidak diketahui oleh pihak Sekutu sampai dengan tahun 1941, walaupun prototipe pesawat ini sudah berseliweran dari masa sebelum perang. Total produksinya sampai dengan perang berakhir adalah 849 buah

------------------------------------------------------------------------ 

FOCKE-WULF FW 190 "WÜRGER"


 Dua foto dari Focke-Wulf Fw 190 A-2 (Werknummer 20209) milik Hauptmann Joachim Müncheberg yang pada saat itu menjadi Kommandeur dari II.Gruppe / Jagdgeschwader 26 (JG 26). Foto ini pastinya diambil antara tanggal 4 s/d 10 April 1942 di Abbeville-Drucat, karena baris kemenangan terakhir (ke-66 dan ke-67) diraih tanggal 4 April sementara yang selanjutnya tanggal 10 April. Sampai dengan kematiannya tanggal 23 Maret 1943, Hauptmann Müncheberg mencetak total 153 kemenangan udara, dengan 101 di antaranya diraih di Barat. Pada pagi tanggal 23 Maret dia bertabrakan dengan sisa-sisa Spitfire Inggris yang baru dia tembak jatuh dan merupakan kemenangan terakhirnya. Müncheberg tewas seketika saat pesawatnya jatuh di dekat Gafsa, Tunisia. Pada saat itu dia berpangkat Major dan merupakan Geschwaderkommodore dari Jagdgeschwader 77 (JG 77). Pesawat pemburu Fw 190 A-2 ini diterbangkan oleh Müncheberg antara bulan Desember 1942 sampai awal Mei 1942, dan mungkin juga sampai kepindahannya ke Jagdgeschwader 51 (JG 51) pertengahan Juli 1942. Foto dengan ekor bertuliskan Werknummer (nomor produksi) dalam dua baris menunjukkan pesawat yang sama. Kemungkinan besar Werknummer tersebut dicat dalam satu baris setelah perbaikan bagian ekornya (perhatikan warna yang lebih gelap). Pada tanggal 13 November 1944 pesawat ini dinyatakan hilang saat pilotnya, Fähnrich Armin Rössel dari 2.Staffel / Jagdgeschwader 110 (JG 110), jatuh di dekat Laufenhain. Pola kamuflasenya adalah RLM 74/75/76


Pesawat Focke-Wulf Fw 190 A-2 “Blaue 4” yang kinclong abis ini diabadikan saat bertugas di Jagdfliegerschule 2 atau 4. Kedua sekolah pelatihan pilot pemburu Luftwaffe ini menggunakan lambang yang serupa, yaitu sebuah ‘panah berburu’ di atas perisai merah. Lambang tersebut bisa kita lihat terpampang di bagian badan persis di depan kokpit. Angka 4 berwarna biru menunjukkan bahwa pesawat ini adalah anggota 4.Staffel, persisnya 4/JFS 4. Dari sini kita bisa berkesimpulan bahwa foto ini diambil setidaknya di musim panas tahun 1942, karena pada bulan April 1943 JFS 4 berganti nama menjadi JG 104 dan penggunaan lambang lamanya pun tidak dilanjutkan lagi. Fakta bahwa pesawat ini sedang diparkirkan di depan hanggar perawatan pesawat semakin menguatkan waktu pengambilan foto yang sudah disebutkan sebelumnya. Untuk kamuflasenya, pesawat ini menggunakan RLM 74/75/76 bawaan pabrik dengan warna bagian atas memanjang sampai ke bagian pinggir. Seperti yang diperlihatkan dalam foto ini, batas terbawah warna gelapnya berada di dekat bagian dasar dari nomor “4”, dan perhatikan pula spinner biru-hitam serta warna kuning di bagian bawah penutup mesin depan. Dalam foto yang memperlihatkan bagian depan pesawat ini, kita bisa melihat sebuah lingkaran merah kecil dengan lingkaran hitam di dalamnya. Maksud penggunaan marking ini tidak diketahui. Selain itu, juga tampak kabel merah terurai antara bagian kaki badan kiri bawah dengan penopang mundur. Kabel ini sendiri fungsinya adalah untuk memundurkan roda ekor




Sebuah foto berwarna yang memperlihatkan ‘penampakan’ Focke-Wulf Fw 190 A-5/U8 yang cukup langka. Fw 190 A-5 diproduksi bulan November 1942 sampai dengan Agustus 1943. Versi U8-nya adalah pesawat pemburu-bomber jarak jauh (jabo-Ret). Di bawah kedua sayap terpasang tangki bahan bakar berkapasitas 300 liter yang tergantung pada apa yang dinamakan sebagai “Rak Ju 87”. Tangki jenis ini tidak bisa dilontarkan saat sedang kosong sehingga berperan besar mengurangi kecepatan maksimum pesawat, dan karena itulah rak jenis ini tidak sampai masuk proses produksi. Di bawah badan pesawat terdapat sebuah ETC 501 yang dapat menampung sebuah bom atau tangki bahan bakar tambahan. Ketika rak ini dipasangkan, maka biasanya juga bagian fairing (penutup) roda utama sedikit dipanjangkan sehingga bisa menggantikan fungsi roda pintu yang dihilangkan. Kanon MG FF yang biasanya terpasang di bagian terluar sayap serta senapan mesin MG 17 di bagian badan pesawat kini tak dipakai lagi. Persenjataannya hanya terbatas pada dua buah kanon MG 151 di akar sayap. Perhatikan pula lapisan warna merah yang tidak biasa di bagian bawah penutup mesin depan! Foto ini diambil pada musim panas tahun 1943, sementara unit asal pesawat ini tidak diketahui. Yang jelas, dia mempunyai balutan skema kamuflase utama RLM 74/75/76 yang orsinil dari pabriknya, ditambah dengan tambalan pola kamuflase 74/75 di bagian pinggir badan pesawat

------------------------------------------------------------------------

 HEINKEL HE 111

 Biasa menjadi pilot pembom, kali ini Major Werner Baumbach (kiri, Gruppenkommandeur III.Gruppe / Kampfgeschwader 30 "Adler") mencoba berganti peran sebagai "Fluggast" (tamu penerbangan alias penumpang) dan ikut memperhatikan suasana di dalam kokpit pesawat Heinkel He 111. Sebagai pilotnya kemungkinan besar adalah Leutnant der Reserve Herbert Kuntz (Flugzeugführer di 3.Staffel / I.Gruppe / Kampfgeschwader 100 "Wiking"). Foto diambil oleh Michael Sobotta pada tahun 1942





Foto yang diambil di musim semi 1942 ini memperlihatkan sebuah Heinkel He 111 P-2 CA+NA (Werknummer 2471) yang merupakan bagian dari “Fliegerstaffel des Führers” (Skuadron Udara Führer). Foto ini sendiri diambil saat kunjungan Adolf Hitler di sebuah lapangan udara di sektor selatan Front Timur. Nomor serinya tampak jelas di bagian sirip. Perhatikan pula pita kuning khas pesawat-pesawat Front Timur yang terdapat di bagian badan serta tampilan ‘bercahaya’ yang tidak biasa dari huruf kode pesawat dan Balkenkreuz!


Foto yang diambil di musim semi 1942 ini memperlihatkan sebuah Heinkel He 111 P-2 CA+NA (Werknummer 2471) yang merupakan bagian dari “Fliegerstaffel des Führers” (Skuadron Udara Führer). Pada musim semi 1942, CA+NA telah bertugas selama beberapa tahun. Penerbangan kelayakan pesawat (sebagai D-ADNH) dilakukan pada tanggal 21 Oktober 1938. Tanggal 10 September 1939 pesawat ini mengalami kerusakan sebesar 20% dalam sebuah pendaratan darurat di Schweidnitz. Pada saat itu dia digunakan oleh Regierungsstaffel (Skuadron Pemerintah) dan menjadi pesawatnya Generaloberst Erhard Milch. Tak lama kemudian, di musim gugur 1939, unit ini dinamai ulang sebagai “Fliegerstaffel des Führers” (F.d.F.)


Foto yang diambil di musim semi 1942 ini memperlihatkan sebuah Heinkel He 111 P-2 CA+NA (Werknummer 2471) yang merupakan bagian dari “Fliegerstaffel des Führers” (Skuadron Udara Führer). Pada bulan Februari 1941 marking pesawatnya dirubah dari D-ADNH menjadi CA+NA. Dia tetap bertugas di Staffel lamanya seperti yang dibuktikan oleh banyaknya entri di logbook. Salah satu dari entri tersebut menyebutkan bahwa pada tanggal 29 April 1941 dia menjalani pemeriksaan menyeluruh di pabrik Heinkel di Rostock-Marienebe. Pada tahun 1942 diketahui bahwa pesawat ini melakukan beberapa penerbangan dari Imola, Finlandia, ke Stalino di sektor selatan Front Timur. Informasi terakhir mengenai pesawat ini tercantum dalam logbook lapangan udara Malmi di Finlandia, yang menyebutkan bahwa dia tinggal landas dengan tujuan Rastenburg di Prusia Timur (Markas Hitler) tanggal 5 Agustus 1944. Takdir terakhir pesawat ini sendiri tidak diketahui



Heinkel He 111 H-3 Nr.27 milik Aeronautica Regală Română (ARR, Angkatan Udara Kerajaan Rumania), yang terparkir di sebuah lapangan udara di Bessarabia musim panas 1941 ini, nantinya mengalami kerusakan parah di Stalino tanggal 24 Januari 1943, sehingga ditinggalkan ketika pangkalan udaranya dipindahkan ke front lain. Berdasarkan kontrak militer Jerman-Rumania yang ditandatangani awal tahun 1939, Rumania akan menerima sejumlah persenjataan yang signifikan, di antaranya adalah pesawat tempur. Di antara pesawat-pesawat yang dikirimkan ke ARR tak lama setelahnya adalah 32 buah Heinkel He 111H keluaran terbaru (meskipun Werknummer yang terdapat pada set pertama ini berada di bilangan antara dua set H-5, tapi entah kenapa semua dokumen Rumania merujuknya sebagai H-3!). Kontraknya diselesaikan pada awal tahun 1940, dan bomber-bomber tersebut kemudian dimasukkan ke Grupul 5 bombardament (Grup Pembom ke-5) yang berpangkalan di Brasov (Kronstadt), di sebelah tenggara Transylvania. Grup ini terdiri dari tiga skuadron yang dinamakan sebagai Escadrile bombardament 78, 79 dan 80. Grupul 5 bombardament sendiri merupakan sebuah unit bomber élite dari ARR dalam dua kampanye militer pertama Angkatan Darat Rumania, yaitu “Pertempuran Bessarabia dan Odessa” di musim panas dan gugur 1941, serta “Pertempuran Stalingrad” di musim dingin 1942/1943. Diterjunkan di tengah-tengah sengitnya pertempuran, grup He 111 tersebut menderita banyak korban meskipun bisa dibilang merupakan tipe bomber ARR paling modern pada saat itu (sebelum digantikan oleh Junkers Ju 88 yang berkualitas lebih baik). Pesawat yang menjadi korban kemudian digantikan oleh 15 buah He 111 H-6 bekas pakai yang dimasukkan ke Escadrila 78 bombardament maritime yang baru dibentuk kembali. Meskipun namanya berbau-bau laut, pesawat-pesawat H-6 ini tidak dilengkapi oleh torpedo seperti rencana sebelumnya, tapi malah berperan sebagai pembom biasa untuk menghajar sasaran darat dan bukannya laut! Mereka bertempur di musim semi dan panas 1944 dalam pertempuran untuk mempertahankan Moldavia. Ironisnya, aksi pertempuran terakhir dari Heinkel He 111 Rumania terjadi melawan pasukan Jerman dan Hungaria, tak lama setelah Rumania beralih pihak dan bergabung dengan Sekutu di akhir bulan Agustus 1944! Pada tanggal 20 Desember 1944, beberapa Heinkel He 111 H yang masih tersisa ikut ambil bagian dalam misi terakhir mereka: serangan pembom besar-besaran yang diarahkan pada target-target yang berada di Hungaria utara (saat ini menjadi Lučenec di Slovakia). Setelah perang usai, pesawat He 111 H terakhir yang masih tersisa – yang ternyata merupakan H-20 bekas Luftwaffe yang dirampas akhir bulan Agustus 1944 – ditarik dari tugas aktif dan dipreteli untuk dijadikan besi tua dan dijual ke tukang lek-dut tahun 1956. Heinkel He 111 H-3 Rumania dinomori secara berurutan dari 1 sampai 32 dan diwarnai putih di siripnya. Mereka menggunakan skema kamuflase serpih (splinter) dari masa sebelum perang, yang terdiri dari RLM 61 (Coklat Gelap), RLM 62 (Hijau) dan RLM 63 (Abu-Abu Cerah) di atas RLM 65 (Biru Cerah). Karena pesawat-pesawat Heinkel He 111 H-6 ini merupakan bekas Luftwaffe, maka mereka pun tetap memajang pola kamuflase asli  RLM 71 (Hijau Gelap) dan RLM 70 (Hitam Hijau) di atas RLM 65 (Biru Cerah). Mereka dinomori dari 47 ke 60, dengan nomornya dicat putih di bagian sirip


Dua buah foto yang memperlihatkan pesawat pembom Heinkel He 111 H-3 Nr.5 milik Aeronautica Regală Română (ARR, Angkatan Udara Kerajaan Rumania), yang teronggok di sebuah landasan udara tak dikenal di Bessarabia. Pesawat ini jatuh karena cuaca buruk selama berlangsungnya misi malam hari di bulan Juli 1942, tak jauh dari pangkalan udara Popesti-Leordene di dekat Bukharest, ibukota Rumania. Empat orang terbunuh dalam peristiwa ini (termasuk seorang Leutnant Luftwaffe), sementara seorang lagi selamat meskipun menderita luka-luka

 ------------------------------------------------------------------------\

JUNKERS JU 88

 Junkers Ju 88 “T5+BU” (kemungkinan tipe A-4) dari 1.Staffel / ObdL (Oberbefehlshaber der Luftwaffe). Foto ini diambil di lapangan udara Bad Zwischenahn pada bulan Maret atau April 1941. Staffel tersebut pindah ke Bad Zwischenahn di akhir bulan Januari, saat masih dilengkapi dengan pesawat-pesawat Heinkel He 111. Dalam tiga minggu pertama bulan Maret, mereka beralih ke Ju 88. Staffel ini mempunyai kekuatan standar sebanyak 9 pesawat. Untuk dapat memungkinkan melakukan perjalanan jauh melintasi Laut Utara atau Laut Arktik, maka jangkauannya pun harus ditambah. Hal ini dilakukan dengan mengorbankan bagian ventral gondola bersama dengan dudukan MG di bagian belakang. Ketiadaan senjata defensif di bagian ekor serta bawah ini membuat 1. Staffel harus kehilangan beberapa pesawatnya, yang menjadi korban keganasan pesawat-pesawat pemburu Inggris. Perhatikan lambang Westa 1./ObdL serta huruf tunggal pesawat “B”, yang dicat hitam di bagian badan pesawat serta hijau di bagian atas sayap. Kode unit “T5+...U” digunakan oleh Staffel ini sampai dengan pertengahan bulan Januari 1942, sebelum diganti menjadi “D7+...H”. Perhatikan pula bahwa di latar belakang sedang berlangsung proses kamuflase di sekeliling bandara Bad Zwischenahn, demi untuk menyamarkannya dari bomber-bomber Sekutu. Dinding untuk melindungi pesawat dari pecahan bom serta frame untuk menahan jaring kamuflase telah selesai dibuat, sementara jaringnya sendiri belum lagi dipasang

 ------------------------------------------------------------------------

MESSERSCHMITT BF 109

Dua foto yang memperlihatkan pesawat Messerschmitt Bf 109 C-1 atau D-1 dari unit Luftwaffe tidak dikenal. Karena pesawat-pesawat ini telah dilengkapi dengan belahan ventilasi di belakang tempat pembuangan asap - serta adanya ciri-ciri tertentu di bagian sayap - maka bisa dipastikan bahwa dia bukan berasal dari tipe Bf 109 B. Perhatikan pula cekungan besar di bagian tengah baling-baling metal VDM, yang dimaksudkan sebagai tempat untuk menyimpan senapan mesin MG 17. Model Balkenkreuz-nya mengindikasikan bahwa foto ini kemungkinan besar diambil selama musim dingin tahun 1940/41. Kebanyakan dari pesawat yang ada dalam foto ini juga menggunakan pola kamuflase khas tahun 1940


  Sebuah pesawat pemburu Messerschmitt Bf 109 E "Weiß 11" dari II.Gruppe / Jagdgeschwader 54 (JG 54), yang dipindahtangankan ke unit pelatihan setelah pesawat-pesawat pengganti dari jenis Bf 109 F tiba di medan perang Rusia. Karena permukaan tanah di lapangan udara terdepan mempunyai warna berbeda, maka warna kamuflase awal dari pesawat tersebut dicat ulang untuk kemudian diganti dengan pola warna belang yang lebih gelap, demi untuk memberikan kesempatan selamat yang lebih besar manakala pesawat-pesawat Uni Soviet datang menyerang pangkalan udara Jerman 


  Pesawat pemburu Messerschmitt Bf 109 F-4 dalam foto ini biasa beroperasi di sektor utara Front Timur, dan pada tahun 1941 menjadi bagian dari 7.Staffel / III.Gruppe / Jagdgeschwader 54 (JG 54) "Grünherz" (Hati Hijau). Selama Unternehmen Barbarossa atau penyerbuan ke Uni Soviet, JG 54 berada di bawah komando I. Fliegerkorps / Luftflotte 1, dan berpangkalan di wilayah Kowno, Dünaburg serta Ostrov. Pada bulan Agustus 1941, sebagian kekuatannya dipindahkan ke sekitar wilayah Leningrad (St. Petersburg), untuk membantu pasukan Jerman yang mengepung kota tersebut


 Foto ini diambil pada musim dingin tahun 1941/42, dan memperlihatkan "Weiß 2", sebuah pesawat pemburu Messerschmitt Bf 109F-2 kepunyaan 7.Staffel / III.Gruppe / Jagdgeschwader 53 (JG 53) "Pik-As", yang terparkir di lapangan udara yang dipenuhi oleh salju. Masalah salju yang begitu hebat di Front Timur membuat banyak pesawat-pesawat Bf 109 (model E, F dan G) yang mengalami kerusakan saat tinggal landas atau mendarat, sehingga menambah kesulitan yang dihadapi oleh Luftwaffe dalam mengganti pesawat yang menjadi korban di medan peperangan


 Dua orang teknisi dari I.Gruppe / Jagdgeschwader 52 (JG 52) sedang bekerja memperbaiki mesin piston dari pesawat pemburu Messerschmitt Bf 109G-6 milik unit mereka, di sebuah tempat di Front Timur yang tidak diketahui. Perawatan secara rutin sangat vital bagi keberlangsungan unit-unit udara Luftwaffe, karena dapat memampukan sebanyak mungkin pesawat yang operasional demi melawan kekuatan udara Rusia yang terus bertambah dari waktu ke waktu


 Para pilot Luftwaffe dari I.Gruppe / Jagdgeschwader 27 (JG 27) sedang asyik bermain kartu remi di padang pasir Afrika Utara tahun 1942, sementara di belakang mereka terparkir sebuah Messerschmitt Bf 109 E-4 Trop "Schwarze 3". Mereka semua bertelanjang dada sambil mengenakan tropenhelm untuk melindungi diri dari panas yang menyengat


  Oberfeldwebel Franz Dietrich Fadenau terlihat sedang menambahkan satu buah Abschußbalken (baris kemenangan) di ekor pesawat Messerschmitt Bf 109F-2 yang dipilotinya. Foto ini diambil di Front Timur tahun 1942. Sejauh ini terlihat sudah 12 buah abschußbalken yang didapatnya: 8 di Front Timur (yang berbintang merah), sementara yang lainnya adalah pesawat Inggris atau Prancis yang dihancurkan di Front Barat. Nantinya pesawat Fadenau ditembak jatuh saat dalam perjalanan pulang dari sebuah misi. Jenazahnya tak pernah ditemukan. Foto ini sendiri pertama kali dipublikasikan tahun 1942 dalam buku "Fliegende Front" karya Hauptmann Walter Eberhard Freiherr von Medem


Angkatan Udara Rumania dilengkapi dengan 50 buah pesawat Messerschmitt Bf 109E, 12 buah Bf 109G, dan beberapa IAR 80 serta pemburu PZL. Dari jumlah ini, lebih dari 60% menjadi korban pertempuran di wilayah udara Rusia dan Rumania. Secara total, Corpul Aerian (Komando Udara Rumania) mencakup pula Flotila 2 vanataori, dimana terdapat delapan unit pemburu (masing-masing dilengkapi oleh 10-12 pesawat). Tiga dari unit ini - yaitu Escadrile 56, 57 dan 58 - mendapat alokasi Bf 109E seperti yang ada dalam foto ini, yang diambil di sebuah lapangan udara di sekitar Stalingrad pada tahun 1942. Pesawat Rumania satu ini, Bf 109E-7, No 64, WNr704 "Nella", adalah bekas Luftwaffe yang sebelumnya bertugas di Erganzungstaffel  JG 52. Sebagai pilotnya adalah Adjutantul aviator Tiberiu Vinca. Sebagai penanda pribadi, dia memasang tulisan  'BUCURESTI-MOSCOVA' (Bukharest-Moskow) di bagian bawah kokpit. Selain itu, terdapat pula monogram 'Nella' yang terlihat di bagian kuning dari pesawat, yang merupakan nama kekasih tercintanya. Pada saat foto ini dibuat, Vinca baru mencatat lima kemenangan udara. Dia akan menambah beberapa lagi sampai total 15 kemenangan, sebelum gugur tanggal 13 Maret 1944 di atas wilayah udara Rumania. Ironisnya, pesawatnya ditembak bukan oleh pesawat musuh, melainkan oleh gunner Heinkel He 111 Luftwaffe yang menyangkanya sebagai pilot Rusia!


Pada bulan Mei 1943, I./JG 3 mulai menerima pasokan pesawat pemburu Messerschmitt Bf 109 G-6 untuk menggantikan pesawat yang selama ini biasa digunakan yaitu Bf 109 G-2 dan G-4. Konversi ke tipe baru ini memakan waktu sepanjang musim panas 1943. Seperti G-2 dan G-4, G-6 bisa dipersenjatai dengan dua kanon 20mm di bawah sayap melalui penggunaan Rüstsatz R6. Banyak pilot pemburu yang tidak menyukai alat ini karena berakibat hilangnya kecepatan. Foto di atas memperlihatkan “senjata perahu” (julukan sinis para pilot) semacam itu setelah pengiriman ke I./JG 3 di salah satu landasan udara di Jerman. Untuk misi tugasnya di Reich dan Belanda, I.Gruppe menggunakan landasan udara di München-Gladbach dan Bönninghardt. Pesawat ini menggunakan skema kamuflase abu-abu standar dengan totol-totol berwarna sama di bagian badan. Spinnernya sendiri di-cat empat macam warna. Di belakang bagian ujung berwarna merah adalah warna hitam-hijau dan segmen full hitam yang menghiasi hampir 2/3 spinner. Bagian yang tersisa diwarnai putih dengan garis hitam-hijau keren. Bf 109 di latar belakang sendiri mempunyai ujung spinner berwarna kuning. Juga perhatikan jari-jari pelek rodanya, yang jarang terlihat untuk pesawat dari jenis G-6. (pesawat kedua di belakang juga mempunyai jari-jari pelek semacam ini). Produksi standar G-6 biasanya dilengkapi dengan pelek berbentuk cakram. Tiang antena panjang di atas kokpit membuat kita mengetahui bahwa pesawat ini merupakan salah satu seri G-6 keluaran pertama yang diproduksi di musim semi dan panas tahun 1943 dengan cetakan Werknummer 15200, 16300, 18000 dan 19000


Pada musim panas tahun 1940, III./JG 26 pimpinan Major Adolf Galland berpangkalan di lapangan udara Caffiers yang berlokasi di sebelah timur Calais dan dari sanalah mereka biasa melakukan penyerangan ke wilayah udara Inggris. Seorang perwira teknisi dari III./JG 26 yaitu Hauptmann Rolf Schödter ternyata merupakan seorang penggila fotografi, dan dia banyak mengambil foto-foto berwarna unit tersebut, yang beberapa di antaranya adalah foto di atas dan foto-foto setelahnya. Foto ini memperlihatkan Bf 109 E-4 "Weiß 13" yang diterbangkan oleh Leutnant Walter Blume dari 7.Staffel. Bagian penutup mesinnya telah dipindahkan, sementara bekas lubang tembakan tampak di penutup senapan mesin yang telah diletakkan di atas tanah. Ini menandakan bahwa pesawat tersebut terkena kerusakan dalam pertempuran, dan seorang teknisi terlihat sedang mendata seberapa parah kerusakan tersebut


Messerschmitt Bf 109 yang diterbangkan oleh Leutnant Walter Blume dari 7 Staffel. Empat buah palang kemenangan hitam di bagian sayap kemudi belakang mengindikasikan bahwa foto ini diambil antara tanggal 25 Juli 1940 (kemenangan keempat yang diraih Blume) dan 15 Agustus 1940 (ketika dia tertangkap). Juga kelihatan disini adanya penanda identitas berwarna kuning yang diperkenalkan oleh Luftflotte 2 di awal bulan Agustus 1940. Penanda berwarna tokay ini dibalurkan di sekitar ujung sayap, bagian luar stabiliser horizontal dan, dalam beberapa kasus, di bagian atas sayap kemudi belakang. Adanya marking kuning ini mengindikasikan bahwa foto di atas diambil di dua minggu pertama bulan Agustus 1940. Marking kuning ini kelihatannya tidak dibalurkan dengan profesional. Sebagai contoh, cat kuning berbentuk segitiga di bagian atas sayap kemudi belakang sedikit meluber ke sekitar stabiliser vertikal. Juga ada sedikit perbedaan antara warna kuning segitiga di sayap kemudi belakang (lebih berwarna oranye) dengan warna kuning di bagian lainnya (kuning thok). Untuk foto berwarna seperti di atas memang tidak menjadi masalah karena kelihatan dengan jelas, tapi masalahnya kalau yang tersedia adalah foto hitam putih! Yang ada adalah kesalahan identifikasi dalam penerbitan buku-buku tentang Luftwaffe di masa lalu, karena di foto hitam-putih warna kuning kemerah-merahan tersebut lebih serupa dengan warna merah. Perhatikan pula nomor taktis yang berukuran lebih kecil dari biasanya, yang merupakan tipikal dari III./JG 26, juga lambang hati dari 7 Staffel yang terdapat di lapisan penutup mesin yang tergeletak ‘ngaceng’ di bawah ujung sayap. Seperti telah dijelaskan sebelumnya, di bagian sayap kemudi belakang kita bisa melihat empat palang kemenangan (dua pertama berwarna merah, dua selanjutnya hitam). Hal ini cukup mengejutkan, karena keempat kemenangan Blume diraih saat melawan RAF di Front Barat. Marking di bagian atas palang tidak berbentuk lencana seperti umumnya, tapi berbentuk bulat dengan keterangan tanggal setiap kemenangan di dalamnya. Pesawat Bf 109 ini menggunakan pola kamuflase standar tahun 1940. Disini kita juga bisa melihat usaha setengah hati untuk menyamarkan lambang Balkenkreuz di bagian sayap dengan menggunakan jerami. Keberadaan jerami sisanya di tanah mengindikasikan bahwa ini merupakan suatu hal yang biasa dilakukan. Di latar belakang terdapat pesawat Klemm 35 Gruppe yang juga sudah dipoles dengan jerami. Pada tanggal 18 September 1940, hanya beberapa hari setelah foto ini diambil, pesawat Bf 109 yang dipiloti Leutnant Walter Blume tertembak jatuh oleh Hurricane dari No.32 Squadron di dekat Canterbury selama berlangsungnya misi penyerangan ke Inggris. Dia terluka parah dalam usaha pendaratan darurat, sementara pesawatnya sendiri hancur. Blume kembali ke Jerman dalam pertukaran tawanan Jerman-Inggris tahun 1943 dan aktif kembali terbang. Dia mencatat 14 kemenangan lagi sampai perang berakhir


Setelah perbaikan selesai, seorang awak darat Luftwaffe mengisi tangki glikol dari "Weiß 13". Perhatikan instruksi komposisi pengisian berwarna merah yang ditulis menggunakan tangan di bawah lubang tangki: "Pengisian... 50% air, 50% glikol, 1,5% cairan pengawet". Lubang bekas peluru terlihat jelas di lapisan pelindung senapan mesin yang disimpan di latar depan. Bentuk lubangnya menunjukkan bahwa tembakan datang dari belakang. Perhatikan juga lambang Geschwader dari JG 26 serta spinner hitam. Cukup aneh bahwa pekerjaan mengisi tangki ini mendapat pengawasan dari seorang sipil berpakaian terusan!



Lapangan udara Petsamo (Finlandia), bulan Agustus 1943. Oberleutnant Theodor "Theo" Weissenberger (Staffelkapitän 7.Staffel / III.Gruppe / Jagdgeschwader 5 "Eismeer") menunjukkan pada kamera gambar medali Eichenlaub zum Ritterkreuz des Eisernen Kreuzes yang telah diperolehnya sebagai penghargaan atas 112 kemenangan terkonfirmasi yang diraihnya sampai sejauh ini. Abschußbalken (baris kemenangan) bersama dengan medali kebangaannya terlukis di bagian sayap ekor pesawat Messerschmitt Bf 109 G-2 (Werknummer 13912) yang biasa diterbangkan oleh Weissenberger. Sebuah jam tangan Chronograph Hanhart yang biasa dipakai oleh pilot pemburu Luftwaffe dengan jelas terlihat melingkar di pergelangan lengannya. Jumlah akhir kemenangan sang pilot jagoan sendiri adalah 208 buah yang diperolehnya dari 500 misi tempur. 175 dari kemenangannya diperoleh di Front Timur sementara 33 sisanya di Front Barat (dengan 25 kemenangan diperoleh di Front Normandia, termasuk 7 pesawat pembom dan 8 menggunakan pesawat jet Messerschmitt Me 262)


  Foto ini pertama kali dipublikasikan dalam majalah "Die Wehrmacht" edisi No.11 tanggal 27 Mei 1942 dan memperlihatkan seorang pilot Luftwaffe yang tak dikenal sedang duduk di atas kokpit pesawat pemburu Messerschmitt Bf 109 sambil bersiap-siap untuk memakai kelengkapan terbang dengan dibantu oleh seorang awak darat. Dia mengenakan salah satu dari beberapa jenis pakaian udara yang biasa digunakan oleh pilot-pilot pemburu Jerman dalam Perang Dunia II. Pakaian "windbreaker" (anti-angin) dengan warna cerah semacam ini biasa dipakai pada saat musim panas berlangsung atau di wilayah-wilayah yang beriklim tropis, dan sangat populer di setengah tahun pertama peperangan. Kadang-kadang para pilot ini memakai juga jaket kulit yang dibeli sendiri atau yang merupakan hasil penjatahan dari depot. Yang terakhir biasa dinamakan sebagai "Jaket Hartmann", yang merujuk pada nama pilot pemburu dengan pencapaian terbesar sepanjang sejarah penerbangan, Erich Hartmann. BTW, Waffenfarbe di topi dan kerah yang berwarna merah cerah menunjukkan bahwa sang "pilot" berasal dari unit Flak-Artillerie, tapi tampaknya warna tersebut merupakan efek dari kondisi foto atau mungkin hasil editan belaka

------------------------------------------------------------------------

MESSERSCHMITT BF 110

Tiga buah Messerschmitt Bf 110 F-1 sedang mengudara di atas awan. Dikembangkan oleh perancang pesawat terkemuka Jerman Willy Messerschmitt sebagai tanggapan terhadap permintaan Reichsluftfahrtministerium (RLM, cikal bakal Luftwaffe) di tahun 1934 untuk membuat pesawat yang mempunyai spesifikasi Kampfzerstörer (fighter-bomber). Bf 110 pertama diterbangkan tanggal 12 Mei 1936 oleh Rudolf Opitz


Waktu subuh di pangkalan 7.(F)/LG 2 di Yunani bulan Mei 1941. Operasi sudah dimulai walaupun matahari baru nampak sepenggalan. Di latar belakang sebuah Junkers Ju 52 tinggal landas. Para awak darat pastinya telah bangun pagi-pagi sekali demi mempersiapkan pesawat ini beroperasi di pagi buta seperti itu! Di latar depan adalah siluet pesawat pengintai Messerschmitt Bf 110 milik 7.(F)/LG 2

------------------------------------------------------------------------

MESSERSCHMITT ME 323

   Sebuah pesawat transport berat Messerschmitt Me 323D "Gigant" (Raksasa) sedang diparkir di sebuah landasan udara yang tidak diketahui di Mediterania tahun 1943. Di belakangnya kita bisa melihat beberapa pesawat pembom medium Heinkel He 111. Unit pertama yang dilengkapi dengan Me 323 adalah I./KG.zbV (I.Gruppe / Kampfgeschwader zur besonderen Verwendung) yang dibentuk pada bulan November 1942. Unit ini dilengkapi dengan sembilan buah pesawat dan operasional di wilayah Timur Tengah dimana kemudian unit keduanya, II./KG.zbV 323, dibentuk bulan Maret 1943. Gruppe ke-1 dan ke-2 beroperasi di wilayah antara Afrika Utara dan Trapani, Sisilia, dalam tugas mereka untuk mensuplai Afrikakorps-nya Erwin Rommel. Pada tanggal 22 April 1943 terdapat bencana besar ketika 21 buah Me 323 ditembak jatuh oleh pesawat-pesawat Sekutu!


Sumber :
Buku "Luftwaffe at War: Fighters over Russia" karya Manfred Griehl 
Majalah "Luftwaffe im Focus" No.1 terbitan tahun 2002
Majalah "Luftwaffe im Focus Spezial" edisi No.1 terbitan tahun 2003

No comments: