Wednesday, October 29, 2014

Foto Reruntuhan dan Puing-Puing

Pada tanggal 21 Desember 1939 Adolf Hitler (Führer und Oberster Befehlshaber der Wehrmacht) mengadakan kunjungan ke semenanjung Westerplatte (Danzig) menggunakan perahu dan berkesempatan menaiki kapal perang Schleswig-Holstein. Setelahnya dia mengadakan kunjungan ke Gotenhafen (Gdynia/Gdingen) dan pulang ke Zoppot di hari yang sama. Foto yang diambil oleh Heinrich Hoffmann ini memperlihatkan saat sang Führer meninjau puing-puing sisa Pertempuran Westerplatte (1-7 September 1939) yang baru berakhir beberapa hari sebelumnya dan yang tercatat sebagai pertempuran pertama dalam Perang Dunia II! Beberapa orang yang bisa saya kenali dari foto ini: 1.Kapitän zur See Gustav Kleikamp (Kommandant Linienschiff "Schleswig-Holstein"), 2.Generaloberst Wilhelm Keitel (Chef der Oberkommando der Wehrmacht), 3.Charakter als Vizeadmiral Lothar von Arnauld de la Perière (Marinebevollmächtigter Danzig), 4.SS-Gruppenführer Dr.jur. Hans Heinrich Lammers (Staatssekretär und Chef der Reichskanzlei), 5.Albert Forster (Gauleiter Danzig), 6.Generalmajor Erwin Rommel (Kommandeur Führer-Begleit-Kommando), 7.SS-Untersturmführer Heinz Linge (Persönlicher Ordonnanzoffizier des Führers), 8.Oberst Rudolf Schmundt (Chefadjutant der Wehrmacht beim Führer und Oberster Befehlshaber der Wehrmacht), 9.Generalmajor Alfred Jodl (Chef des Wehrmachtsführungsamt), 10.Hauptmann im Generalstab Wilhelm "Willy" Deyhle (Adjutant Chef des Wehrmachtsführungsamt), 11.Hauptmann Gerhard Engel (Adjutant des Heeres beim Führer und Oberster Befehlshaber der Wehrmacht), 12.Reichsleiter Martin Bormann (Persönlicher Sekretär bzw. Stabsleiter des Stellvertreters des Führers Rudolf Hess), 13.Hauptmann Nicolaus von Below (Adjutant der Luftwaffe beim Führer und Oberster Befehlshaber der Wehrmacht), 14.Konteradmiral Hubert Schmundt (Befehlshaber der Seestreitkräfte in der Danziger Bucht), 15.Generaloberst Walther von Brauchitsch (Oberbefehlshaber des Heeres), dan 16.Oberst Walter Warlimont (Stellvertreter Chef des Wehrmachtsführungsamt)


Sebuah pos terluar Jerman dalam pertempuran memperebutkan kota Stalingrad, akhir musim panas 1942. Dua orang Landser yang berlindung di Stichgraben (Celah Parit) ini mempersenjatai diri dengan sebuah senapan mesin MG-34, mortir ringan IeGW.36 5cm, dan sebuah senapan mesin ringan MP-40. Kotak amunisi kosong di belakang mereka merupakan bukti dari pertempuran berat yang telah terjadi sebelumnya. Sekarang, setelah kemenangan mulai terlihat jelas oleh 6. Armee, unit-unit Jerman mengadaptasi metode dalam mengalihkan kekuatan pendorong utama mereka antara satu wilayah dengan wilayah lainnya serta menghantam habis satu demi satu blok pertahanan musuh

Tiga buah foto yang memperlihatkan gudang gandum di Stalingrad, salah satu bangunan yang paling dipertahankan secara mati-matian oleh pasukan Rusia di kota tersebut. Di tempat penggilingan gandum raksasa yang terletak di selatan lembah Tsaritsa ini, pertempuran yang terjadi benar-benar tidak mengenal ampun. Kedua belah pihak sama-sama menderita korban besar dalam usaha merebut dan mempertahankan bangunan ini. Selama tiga hari nonstop pasukan dari 24. Panzer-Division membombardir struktur beton masif tersebut dengan artileri, senjata anti-tank, mortir, dan meriam tank, sehingga membuat biji gandum yang tersimpan di dalamnya terbakar hebat. Tentara Soviet yang berlindung di dalamnya menolak untuk menyerah, sehingga pertempuran berlanjut dengan duel satu lawan satu yang menyebar di seluruh ruangan. Pada tanggal 21 September 1942 akhirnya pihak Jerman berhasil mendudukinya. Tapi penderitaan tidak berhenti sampai disini: pertempuran yang sama brutalnya kemudian berlanjut ke Lapangan Merah, pabrik kuku, dan Department Store Univermag


Satu regu Maschinengewehrtrupp bersenjatakan MG 34 bergerak menuju posisi baru mereka melalui jalanan kota Stalingrad yang sudah penuh dengan puing-puing. Grup senapan mesin biasanya membawa satu atau dua buah laras cadangan, yang biasanya dipakai untuk mengganti laras utama setelah 250 peluru ditembakkan secara non-stop. Tujuannya adalah untuk memberi kesempatan laras utama didinginkan sebelum dipakai kembali. Pada fase ini (September 1942), semua prajurit infanteri yang bertempur di kota Stalingrad digolongkan sebagai Alte Hasen (Kelinci Tua, Tangan Tua, Veteran Tempur), yaitu mereka yang mampu bertahan hidup melalui hari demi hari pertempuran brutal tak terperikan!



Tiga buah foto ini memperlihatkan prajurit-prajurit infanteri dari 389. Infanterie-Division dengan penuh kewaspadaan bergerak di antara pabrik traktor "Krasny Oktyabr" (Oktober Merah) yang telah hancur di Stalingrad bulan Oktober 1942. Dalam pertempuran brutal memperebutkan pabrik tersebut, Divisi Senapan Jaga ke-37 Soviet mampu dipukul mundur oleh pasukan Wehrmacht, tapi mereka bertempur dengan luar biasa fanatik sehingga setiap jengkal dan meter wilayah harus dibayar dengan amat mahal oleh pihak penyerang. Granat tangan menjadi senjata "favorit" oleh kedua belah pihak. Pada sore tanggal 4 Oktober 1942, 389. Infanterie-Division baru berhasil menguasai satu blok flat di wilayah blok apartemen pabrik. Tapi tetap pasukan Soviet yang bertahan menolak untuk menyerah. Di waktu malam mereka akan menyerang balik pihak Jerman dengan roket-roket Katyusha yang memekakkan telinga, dan cukup berhasil dalam usahanya. Selama seminggu selanjutnya pertempuran yang sengit terus berlangsung nonstop. Pada tanggal 14 Oktober 1942, yang disebut-sebut sebagai "ofensif terakhir", General der Panzertruppe Friedrich Paulus (Oberbefehlshaber 6. Armee) mengirimkan lima divisi yang didukung oleh pesawat-pesawat Luftwaffe untuk menyerbu Krasny Oktyabr. Di sepanjang hari itu pertempuran berdarah-darah berlangsung di wilayah sekitar pabrik dan juga di dalamnya, dan di hari itu juga pasukan Wehrmacht kehilangan 2.000 orang prajurit terbaiknya yang terbunuh serta 40 tank!


Sarang senapan mesin Jerman di bagian dalam reruntuhan pabrik traktor Stalingrad, pertengahan bulan Oktober 1942. Unteroffizier di sebelah kiri bersenjatakan sebuah senapan Mosin-Nagant M-1898/30 7.62mm hasil rampasan dari Soviet, yang biasa disebut prajurit Jerman sebagai Gewehr 252(r). Puing-puing yang berserakan dan semrawut sama-sama memberikan perlindungan bagi pihak penyerang dan yang bertahan, juga perlindungan dari hujan tembakan artileri yang biasa disindir para Landser sebagai "Post Bekommen" (menerima surat)


Foto yang memperlihatkan kehancuran total salah satu pabrik di Stalingrad setelah pertempuran sengit yang terjadi disana. Selain akibat dari kontak senjata, banyak juga pasukan dari kedua belah pihak yang terluka karena kuku copot, lutut keseleo, pergelangan tangan memar-memar, serta tertimpa oleh puing-puing! Di pertengahan bulan Oktober 1942, saat panzer-panzer Wehrmacht berhasil menembus pertahanan kuat pihak Soviet, pasukan infanteri dari 389. Infanterie-Division bergerak masuk untuk menduduki sisa-sisa reruntuhan bangunan pabrik dan toko yang membentang sepanjang 2,5 kilometer!


Dua orang prajurit Jerman berjalan ke arah bagian pusat kota Stalingrad yang telah dikuasai, Oktober 1942. Reruntuhan ini seakan menjadi saksi dari setiap pertempuran dan duel brutal yang telah terjadi diantara kedua belah pihak yang berseteru, yang tidak jarang berlangsung dari satu blok ke blok lainnya, dan dari satu rumah ke rumah yang lainnya. Pasukan Soviet yang bertahan kemudian merubah taktik mereka dan mulai menggunakan grup serbu berkekuatan kecil tapi bersenjata berat yang melakukan serangan kilat ke bangunan-bangunan dan pertahanan Jerman di medan operasi mereka


Pasukan infanteri Jerman bergerak masuk melintasi puing-puing di pinggiran kota Stalingrad untuk membantu rekan-rekan mereka yang sedang bertempur disana, Oktober 1942. Meskipun wilayah tersebut notabene sudah diduduki, tapi bergerak melintasinya tetaplah berbahaya. Banyak jalan masuk ke kota yang masih ditanami ranjau darat, belum lagi sniper musuh yang tak henti-hentinya menimbulkan korban di kalangan tentara Wehrmacht. Para penanam ranjau Soviet akan menyergap kendaraan lapis baja Jerman yang melintas secara bergerombol dan melemparkan ranjau di depannya, melemparkan bahan peledak di dek mesin, menempelkan ranjau magnetik hasil rampasan di tubuh tank, atau hanya sekedar melontarkan bom molotov. Yang terakhir ini biasa disebut pasukan Rusia sebagai "Butylka s goryuchej smes' yu" (botol dengan bahan mudah terbakar) dan bukannya "Molotov Cocktail" karena menyebut nama pemimpin mereka sebagai bahan sindiran adalah terlarang dan bisa mendapatkan hukuman berat!


Peralatan dan kendaraan perang Wehrmacht yang hancur lebur oleh tembakan artileri Amerika di wilayah Montélimar, Auvergne-Rhône-Alpes (Prancis), bulan Agustus 1944. Dalam pergulatan sengit yang terjadi di sekitar wilayah Montélimar tersebut, pasukan Jerman berusaha menarik mundur pasukannya dari Prancis selatan menuju ke arah utara sungai Drôme. Meskipun penarikan mundur tersebut berjalan dengan sukses dan sebagian besar personil militer Wehrmacht berhasil dievakuasi keluar dari kepungan Sekutu, tapi mereka terpaksa meninggalkan banyak peralatan perang yang merupakan hasil dari delapan hari pertempuran berat melawan tentara Amerika. Tidak kurang dari 2.000-3.000 kendaraan dari berbagai jenis, lebih dari 80 meriam artileri dan 5 artileri rel kelas berat yang musnah atau jatuh ke tangan musuh!


Sumber :
Buku "Der Große Deutsche Feldzug gegen Polen" karya Heinrich Hoffmann
Buku "Stalingrad Inferno: The Infantryman's War" karya Gordon Rottman dan Ronald Volstad
Buku "The War Against Germany and Italy: Mediterranean and Adjacent Areas" karya Kent Roberts Greenfield

No comments: