Thursday, November 20, 2014

Foto Schnelltruppen (Pasukan Cepat) dan Panzergrenadier (Infanteri Bermotor)

 Sebuah kompi Panzergrenadier dalam gerak maju di Rusia. Berdasarkan zoom dari bemper truk Opel Blitz di tengah, diketahui bahwa unitnya adalah Panzergrenadier-Division Großdeutschland, sementara kendaraan-kendaraan yang berhasil teridentifikasi adalah Sd.Kfz.11, Sd.Kfz.10, Steyr 1500, serta tank-tank Panzer III dan IV di latar belakang. Panzergrenadier (disingkat PzGren atau Pzg) adalah sebutan Jerman untuk unit infanteri mekanis atau bermotor, yaitu prajurit infanteri yang rantang-runtung tidak dengan jalan kaki melainkan nebeng ke kendaraan-kendaraan khusus yang dibuat special pake telor kacingcalang untuk perannya. Nama "Panzergrenadier" masih bertahan sampai saat ini, dan digunakan di negara-negara yang berbahasa Jerman seperti Jerman (ya iya lah!), Austria dan Swiss


 Prajurit-prajurit Schnelltruppen (Pasukan Cepat) berhamburan keluar dari Hanomag Mittlere Schutzenpanzerwagen Ausf.D SdKfz 251/10 (latar belakang) dan halftrack SdKfz 251/1 (depan) untuk menyerbu sebuah desa Rusia yang terbakar di hari-hari pertama Unternehmen Barbarossa tanggal 26 Juni 1941. Ranpur SdKfz 251/1, dengan tiga buah senapan mesin MG 34 yang disandangnya, merupakan alat angkut lapis baja standar bagi pasukan infanteri dalam mengikuti cepatnya pasukan Panzer saat bergerak. Anggota Schnelltruppen (nantinya dinamai ulang menjadi Panzergrenadier tahun 1943) dilatih untuk bertempur di dalam kendaraan perang mereka atau setelah keluar darinya. Ranpur SdKfz 251/10 dipersenjatai dengan meriam PaK 36 37mm sebagai sarana anti-tank dan juga artileri ringan pendukung infanteri. Setiap Zug (peleton) Schnelltruppen dilengkapi dengan tiga SdKfz 251/1 dan satu SdKfz 251/10. Setiap SdKfz 251/1 dapat membawa serta 10 prajurit ditambah dengan dua supir/navigator. Saat pertempuran sedang berlangsung, maka kendaraan ini akan disimpan di belakang sebagai cadangan mobil. Saat mencapai sasaran, maka komandannya akan berteriak "Abspringen!" (mampret!) dan ke-10 prajuritnya akan mengambil dua MG 34 untuk membentuk Schützenkette (garis tembak) dengan senapan mesin di tengah dan pemimpin skuadnya mengarahkan di paling pinggir. 16.000 buah Hanomag SdKfz 251 diproduksi antara tahun 1939-1945 dan banyak dari kendaraan ini yang difungsikan secara berbeda seperti sebagai sarana anti serangan udara, peluncur roket atau lampu pijar. Meskipun hal ini menunjukkan dengan jelas bahwa SdKfz 251 adalah sebuah kendaraan perang yang multi-fungsi, tapi dia juga secara tidak langsung mengalihkan fungsi utamanya sebagai kendaraan pengangkut pasukan. Hanya 1/3 Panzergrenadier yang menggunakan SdKfz 251 sebagai sarana saat bergerak, sementara sisanya menggunakan segala kendaraan yang ada, dari mulai truk, mobil ringan sampai ambulans!


Seorang Panzergrenadier berlindung di samping sebuah tank saat unitnya mendapat tembakan gencar pasukan Soviet dalam Pertempuran Stalingrad. Di latar belakang kita juga bisa melihat sebuah Panzerkampfwagen III yang terhenti oleh tembakan yang sama. Sang prajurit membawa sebuah Klappspaten (sekop lipat) yang pertama kali dikeluarkan tahun 1938, meskipun penggunaannya tak pernah benar-benar menggantikan kleines Schanzzeug (alat penggali kecil) yang lebih kaku. Tragbüchse für Gasmaske (kaleng silinder penyimpan masker) tahan air kadang-kadang dipakai untuk menyimpan rokok dan korek apinya sehingga dia disebut juga sebagai Zigarettenbüchse (kaleng rokok)! Tidak hanya itu, seringkali kaos kaki, gaiter atau peralatan tulis-menulis dijejalkan juga ke kaleng masker. Ini tentu saja dilarang, tapi tetap saja prajurit Jerman yang bertempur di front "ngeyel" dan penggunaannya menjadi sebuah hal yang umum terjadi!


 Sekelompok Panzergrenadier ikut menumpang sebuah Sturmgeschütz III 7.5cm tak lama setelah berhasil merebut sebagian wilayah tengah kota Stalingrad dari pasukan Rusia, awal Oktober 1942. Di pinggir jalan para tawanan Soviet digiring ke arah depan untuk membersihkan puing-puing, menguburkan mayat tentara yang terbunuh, serta menyingkirkan ranjau dan jebakan yang masih tersisa. Kota ini tertutupi oleh debu yang berasal dari tanah yang terkoyak oleh ledakan serta sisa reruntuhan gedung yang hancur. Ketika hujan tiba, tanah serupa ini akan berubah menjadi kubangan lumpur yang memberikan kesulitan tambahan bagi kedua belah pihak yang bertempur


Sumber :
Buku "Stalingrad Inferno: The Infantryman's War" karya Gordon Rottman dan Ronald Volstad

No comments: