Friday, September 9, 2011

Perlombaan Pembuatan Senjata Nuklir Sekutu dan Jerman: Hancurnya Fasilitas Nuklir Jerman


Artikel sumbangan pembaca blog : Arundito Widikusumo


Perlombaan Pembuatan Senjata Nuklir

Salah satu faktor berakhirnya World War II (WW II) adalah dijatuhkannya bom nuklir pada kota Hiroshima dan Nagasaki oleh Amerika Serikat (AS). Sampai saat inipun senjata nuklir dijadikan bahan diplomasi militer yang terpenting bagi pemiliknya. Setelah perang besar yang pertama (WW I) beberapa ahli fisika mengemukakan kemungkinan adanya reaksi fusi nuklir pada zat radioaktif semacam uranium. Ilmuwan terkenal Jerman Albert Einstein dan ilmuwan Inggris seperti Eddington telah mengetahuinya. Pada tahun 1939 para ahli mempunyai keyakinan bahwa reaksi fusi nuklir ini dapat dijadikan bahan bom dengan kekuatan mahadahsyat. Inggris, AS, dan Jerman adalah negara-negara yang sedang melakukan riset nuklir. Beberapa sumber intelijen sekutu mempercayai bahwa Jerman telah mengetahui kegunaan nuklir sebagai senjata. Untuk itu negara sekutu harus mendahului Jerman dalam perlombaan pembuatan senjata nuklir ini.

Setelah berbagai riset kecil nuklir pada tahun 1939 oleh P. Abelson, dan E. Fermi di Washington dan New York, maka pada 9 Oktober 1941 Presiden AS Roosevelt bersama Perdana Menteri (PM) Inggris Winston Churchil melakukan kerjasama pembuatan senjata nuklir, dibantu oleh Kanada. Proyek nuklir ini dikenal dengan nama Manhattan Project pimpinan Julius R. Oppenheimer yang dilakukan di pusat fasilitas nuklir Los Alamos, Hanford, dan Oak Ridge. Fasilitas nuklir ini yang akan melahirkan bom Little Boy dan Fat Man yang dijatuhkan di Jepang pada awal Agustus 1945.

Pada suatu pertemuan, PM Churchil mengungkapkan kekhawatirannya bahwa proyek senjata nuklir Jerman lebih maju daripada sekutu. Intelijen Inggris melaporkan bahwa Jerman telah membangun fasilitas heavy water (suatu tahap awal pembuatan nuklir sebagai senjata). Heavy water adalah air yang mengandung isotop hidrogen H-2 (deuterium). Berat air ini 2 kali lipat berat air biasa. Heavy water dibuat dari air biasa dengan bantuan energi listrik bertenaga besar. Heavy water ini kemudian dijadikan bahan pemecah uranium. Inggris menemukan salah satu fasilitas nuklir terbesar Jerman, yaitu Norsk Hydro yang berlokasi di lembah Rukjan, Norwegia. PM Churchil memutuskan untuk menghancurkan fasilitas nuklir ini. Satu regu resistance Norwegia pimpinan Skinnerland yang telah dilatih di dataran Inggris disusupkan ke lembah Rukjan untuk mempersiapkan penghancuran Norsk Hydro.

Penghancuran Fasilitas Nuklir Jerman

Intelijen Inggris menerima laporan bahwa Jerman telah berhasil membuat heavy water sehingga Jerman tinggal selangkah lagi untuk membuat senjata nuklir. Keadaan ini membuat Jerman dapat menjadi pemenang dalam perlombaan pembuatan senjata nuklir. Kabinet Perang Inggris sangat resah.

Norsk Hydro dilindungi oleh regimen flak Jerman, sehingga pemboman langsung oleh Royal Air Force (RAF) akan sangat sulit. Apalagi di Norwegia sedang musim salju. PM Churchil kemudian menugaskan 50 pasukan komando untuk menghancurkan Norsk Hydro pada bulan November 1942. Pasukan komando didaratkan di lembah Rukjan dengan glinder yang ditarik 2 bomber Halifax. Sebuah Halifax dan 1 glinder berisi 25 pasukan komando hancur. Satu glinder lagi dapat didaratkan, sedangkan penariknya yaitu 1 Halifax pulang ke tanah Inggris dengan 1 mesin mati. Sisa pasukan komando sebanyak 25 orang harus menemui ajalnya oleh pasukan schutzstaffel (SS). Insiden penyusupan komando Inggris ini membuat Jerman memperkuat pengamanan lembah Rukjan dengan kekuatan lebih dari satu brigade SS. Regu Skinnerland aman dari pasukan SS dengan sembunyi di puncak Rukjan dengan menyamar sebagai penduduk biasa.

Dua bulan kemudian Inggris mengirimkan lagi pasukan dari unsur Norwegia yang dipimpin oleh Leutnant Ronnenberg. Pertimbangan pengiriman pasukan Norwegia agar lebih mudah bekerjasama dengan Skinnerland dan lebih mengenal keadaan alam negaranya sendiri. Tugas pasukan ini adalah menghancurkan Norsk Hydro, sehingga mereka dibekali bom dan pakaian hangat kamuflase putih. Gabungan tentara dan resistance ini dapat masuk ke fasilitas Norsk Hydro melewati saluran air dan kabel dengan dibantu orang-orang Norwegia yang bekerja di fasilitas nuklir tersebut. Mereka berhasil menanamkan bom waktu dan menghilang di lembah Rukjan. Bom akhirnya meledak. Kalandria (bak raksasa penampung heavy water) berisi 3000 pon heavy water hancur disertai beberapa mesin konsentrat. Norsk Hydro berhenti beroperasi.

Jerman memang luar biasa. Dalam waktu tak sampai 1 tahun, fasilitas ini kembali berfungsi. Atas insiden tersebut pengamanan fasilitas oleh SS diperkuat lagi. Inggris tak mungkin melakukan penyerangan lagi dengan cara seperti sebelumnya. Pada bulan November 1943 PM Churchil memutuskan jalan terakhir penghancuran Norsk Hydro adalah pengeboman dari udara. Tugas ini diserahkan kepada 8th Bomber Command RAF. Pesawat pengebom ini harus berhadapan dengan flak Jerman di sekitar Norsk Hydro. Sekali raid Inggris menurunkan belasan sampai puluhan pengebom, namun karena kuatnya pertahanan Norsk Hydro, Inggris harus banyak pula kehilangan Halifax dan Avro Lancaster. Namun demikian kerusakan Norsk Hydro juga tidak ringan. Berulang kali diperbaiki, berulang kali pula dibom. Keadaan ini membuat Hitler berpikir untuk memindahkan fasilitas ini ke dataran Jerman.

Hancurnya Fasilitas Nuklir Jerman

Norsk Hydro dipindahkan pada bulan Februari 1944, diurai dan diangkut dengan kereta api. Kesibukan ini diketahui oleh intelijen Inggris, maka diputuskan untuk mengebom Norsk Hydro dalam perjalanannya ke Jerman. Tugas ini diserahkan ke komandan resistance Norwegia bernama Haukelid. Rombongan kereta api ini akan melewati danau Tinsju untuk diangkut dengan kapal besar. Penjagaan kereta api ini sangat-sangat ketat. Haukelid dan regunya tidak mungkin memasangkan bom pada kereta api atau relnya sampai danau Tinsju.

Penjagaan super ketat ini ternyata tetap memiliki kelemahan. Jerman kurang memperhatikan pengamanan kapal yang akan mengangkut kereta api tersebut. Haukelid dapat memasuki area kapal, tentu saja dengan bantuan orang Norwegia yang bekerja di kapal. Bom dipasang dan timer bom di-set pada jam 10.45. Haukelid dan regunya menunggu apa yang terjadi dipersembunyiannya di tepi danau. Kereta api bersama Norsk Hydro telah masuk kapal dan berangkat mengarungi danau yang luas itu. Tepat jam 10.45 tak terjadi apa-apa dengan kapal. Haukelid putus asa. Beberapa menit merenungi keputus asaannya tiba-tiba Haukelid dikejutkan oleh suara ledakan. Bom!!! Kapal Norsk Hydro meledak, kapal miring dan lama-kelamaan tenggelam bersama fasilitas nuklir Norsk Hydro yang telah diurai. Haukelid melapor ke London. Misi sukses besar.

Jerman tidak mungkin membuat lagi fasilitas nuklir tersebut dari nol. Membutuhkan waktu yang lama. Akhirnya Jerman kalah dalam perlombaan pembuatan senjata nuklir, salah satu senjata yang dapat merubah hasil akhir dari peperangan besar ini. Pihak yang berjasa besar dalam menghalangi Jerman menjadi negara bersenjata nuklir pertama di dunia tentu saja adalah para pahlawan gerakan bawah tanah Norwegia, para resistance.

Sumber:

1. Manhattan Project [internet] 2011 Available from: http://www.id.wikipedia.org

2. Ojong PK. Perang Eropa Jilid 1. Jakarta: Penerbit Buku Kompas; 2008




2 comments:

realsifocopypaste said...

lihat ini om :D

http://www.youtube.com/watch?v=nzT2yyP_q24

Damai Indah said...

Kumpulan ebook referensi ilmu fisika Nuklir lengkap kunjungi DVD Referensi Teknologi Nuklir hanya di AnekaCD.com